Bagaimana Memahami Sifat-Sifat Allah yang Digambarkan dengan Bahasa Manusia, seperti Marah, Menyesal, atau Berjalan?

Ilustrasi tentang sifat-sifat Allah yang digambarkan dengan bahasa manusia dalam Alkitab, seperti marah, menyesal, atau berjalan, dengan Alkitab terbuka dan suasana yang melambangkan penyataan Allah kepada manusia.

Pendahuluan

Alkitab menggunakan banyak cara untuk berbicara tentang Allah. Dalam satu bagian, Allah digambarkan sebagai kasih, kudus, adil, benar, dan penuh belas kasihan. Dalam bagian lain, Alkitab mengatakan bahwa Allah marah terhadap kejahatan, menyesal karena suatu tindakan manusia, atau bahkan digambarkan seolah-olah berjalan, melihat, turun, berbicara, dan mendengar seperti manusia. Cara penggambaran seperti ini dapat ditemukan di berbagai bagian Alkitab dan merupakan bagian penting dari cara Alkitab menyampaikan kebenaran tentang Allah kepada manusia. Namun, ketika ungkapan tersebut dibaca tanpa memperhatikan cara bahasa Alkitab bekerja, pembaca dapat menghadapi pertanyaan yang sangat serius: apakah Allah benar-benar mengalami kemarahan seperti manusia, pernah menyesali keputusan-Nya karena sebelumnya salah mengambil keputusan, atau secara harfiah berjalan dari satu tempat ke tempat lain?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan mengenai pilihan kata dalam Alkitab. Di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana manusia dapat memahami Allah yang tidak terbatas melalui bahasa manusia yang terbatas. Manusia mengenal dunia melalui pengalaman, pengamatan, bahasa, dan berbagai konsep yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, ketika Alkitab berbicara mengenai Allah, bahasa yang digunakan harus dapat dipahami oleh manusia, tetapi objek yang dibicarakan melampaui kemampuan manusia untuk memahami secara sempurna. Di sinilah muncul kebutuhan untuk memahami dengan hati-hati bagaimana bahasa Alkitab menggambarkan Allah tanpa menyimpulkan bahwa Allah harus memiliki segala sesuatu persis seperti manusia memilikinya.

Sebagai contoh, Alkitab berulang kali berbicara tentang Allah yang “melihat” manusia, “mendengar” doa, “mengingat” perjanjian, atau “turun” untuk melihat keadaan manusia. Dalam Kejadian 18:21, Allah berfirman bahwa Ia akan turun untuk melihat apakah keadaan Sodom dan Gomora benar-benar seperti yang didengar-Nya. Dalam Keluaran 3:7, Allah berkata bahwa Ia telah memperhatikan kesengsaraan umat-Nya di Mesir, mendengar seruan mereka, mengetahui penderitaan mereka, dan turun untuk melepaskan mereka. Jika semua ungkapan tersebut dipahami dengan cara yang sama seperti ketika manusia melihat, mendengar, berpindah tempat, atau memperoleh informasi baru, pembaca dapat memperoleh gambaran tentang Allah yang seolah-olah terbatas oleh ruang, waktu, dan pengetahuan sebagaimana manusia. Padahal, kesaksian Alkitab yang lebih luas juga menyatakan bahwa Allah mengetahui manusia secara mendalam dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan makhluk ciptaan.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika Alkitab menggunakan bahasa yang menggambarkan perubahan emosi atau respons Allah. Kejadian 6:6, misalnya, mengatakan bahwa Tuhan menyesal telah menjadikan manusia di bumi dan bahwa hal itu memilukan hati-Nya. Ungkapan tersebut dapat membuat pembaca bertanya apakah Allah sebelumnya mengambil keputusan yang keliru sehingga kemudian menyadari kesalahan-Nya. Pertanyaan yang serupa muncul ketika Alkitab berbicara tentang Allah yang marah, seperti dalam Keluaran 32:10 ketika murka Allah menyala terhadap Israel setelah mereka membuat anak lembu emas. Jika kemarahan Allah dipahami persis seperti ledakan emosi manusia yang kehilangan pengendalian diri, muncul persoalan tentang kesempurnaan dan kekudusan Allah. Akan tetapi, jika ungkapan tentang kemarahan Allah langsung dianggap tidak memiliki makna nyata, persoalan lain muncul karena Alkitab dengan jelas menggunakannya untuk menjelaskan sikap Allah terhadap dosa dan ketidaksetiaan manusia.

Karena itu, pembaca tidak dapat menyelesaikan persoalan ini hanya dengan mengatakan bahwa bahasa tersebut “sekadar kiasan”. Istilah kiasan sendiri perlu dijelaskan dengan hati-hati. Kiasan adalah cara menggunakan suatu ungkapan untuk menyampaikan suatu kenyataan melalui gambaran atau bahasa yang tidak harus dipahami secara harfiah dalam seluruh unsurnya. Namun, mengatakan bahwa suatu ungkapan bersifat kiasan tidak berarti bahwa ungkapan tersebut tidak benar atau tidak menyatakan sesuatu yang nyata tentang Allah. Ketika Alkitab berbicara tentang “murka Allah”, misalnya, hal itu tidak berarti bahwa manusia sedang berhadapan dengan kata-kata kosong, tetapi menyatakan bahwa Allah sungguh menentang dosa dan memberikan respons yang benar terhadap kejahatan, meskipun cara keberadaan dan tindakan Allah tidak identik dengan cara manusia mengalami kemarahan.

Di sinilah pentingnya memahami konsep bahasa manusia ketika digunakan untuk berbicara tentang Allah. Bahasa manusia memiliki keterbatasan karena manusia adalah makhluk yang terbatas. Manusia tidak memiliki bahasa yang secara langsung dapat menggambarkan seluruh keberadaan Allah sebagaimana adanya dalam diri-Nya sendiri. Namun, keterbatasan bahasa manusia tidak berarti bahwa manusia sama sekali tidak dapat mengetahui Allah. Alkitab justru menunjukkan bahwa Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia dengan cara yang dapat dipahami, sehingga manusia dapat mengenal siapa Dia, apa yang dikehendaki-Nya, bagaimana hubungan-Nya dengan ciptaan, dan bagaimana manusia seharusnya hidup di hadapan-Nya.

Hal ini dapat dilihat dalam Yesaya 55:8–9, ketika Allah menyatakan bahwa rancangan-Nya bukanlah rancangan manusia dan jalan-Nya bukanlah jalan manusia. Ayat tersebut menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara Allah dan manusia. Namun, perbedaan itu tidak membuat pengetahuan tentang Allah menjadi mustahil. Sebaliknya, manusia dapat mengetahui sesuatu yang benar tentang Allah karena Allah sendiri berkenan menyatakan diri-Nya. Dengan demikian, masalah utama bukanlah apakah Alkitab dapat berbicara secara benar tentang Allah, melainkan bagaimana manusia harus memahami bahasa yang digunakan Alkitab ketika menggambarkan Allah yang melampaui pengalaman manusia.

Persoalan tersebut semakin penting karena Alkitab tidak menggunakan satu bentuk bahasa saja ketika berbicara tentang Allah. Ada pernyataan yang menggambarkan sifat Allah secara langsung, ada narasi yang menceritakan tindakan Allah dalam sejarah, ada puisi yang menggunakan gambaran yang sangat kuat, ada nubuat yang menggunakan simbol, dan ada ungkapan manusia yang berbicara kepada Allah dalam situasi tertentu. Mazmur, misalnya, sangat kaya dengan bahasa puitis mengenai Allah. Mazmur 91:4 menggambarkan Allah dengan gambaran “sayap” dan “kepak”, sedangkan Mazmur 18:11 menggambarkan Allah seolah-olah mengendarai kerub dan melayang di atas sayap angin. Jika seluruh gambaran tersebut dipahami sebagai deskripsi fisik secara harfiah, pembaca akan memperoleh gambaran tentang Allah sebagai makhluk yang memiliki tubuh seperti makhluk ciptaan. Namun, maksud puisi tersebut bukanlah memberikan gambaran biologis tentang tubuh Allah, melainkan menyampaikan kenyataan tentang perlindungan, kehadiran, dan kuasa-Nya melalui bahasa yang dapat dibayangkan manusia.

Demikian pula, ketika Alkitab berbicara tentang tangan Allah, mata Allah, telinga Allah, wajah Allah, atau kaki Allah, pembaca perlu memperhatikan cara ungkapan tersebut digunakan. Mazmur 34:16 mengatakan bahwa mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong. Secara manusiawi, mata berfungsi untuk melihat dan telinga berfungsi untuk mendengar. Namun, ketika bahasa tersebut diterapkan kepada Allah, maksud utamanya bukanlah menyatakan bahwa Allah memiliki organ tubuh secara biologis seperti manusia, melainkan bahwa Allah mengetahui keadaan umat-Nya dan memperhatikan seruan mereka. Dengan demikian, bahasa tubuh manusia digunakan untuk menyampaikan kenyataan ilahi yang dapat dipahami manusia.

Cara berbicara seperti itu sering disebut sebagai bahasa antropomorfis. Antropomorfis berasal dari kata yang berarti menggambarkan sesuatu yang bukan manusia dengan karakteristik atau tindakan manusia. Dalam pembicaraan tentang Allah, istilah ini digunakan untuk menjelaskan ungkapan yang menggambarkan Allah melalui ciri, tindakan, pengalaman, atau bentuk yang dikenal manusia. Contohnya adalah ketika Alkitab mengatakan bahwa tangan Allah menyelamatkan, mata Allah melihat, telinga Allah mendengar, atau Allah berjalan. Penggunaan istilah tersebut membantu pembaca memahami bahwa bahasa Alkitab dapat menggunakan pengalaman manusia sebagai sarana untuk menyampaikan sesuatu yang benar tentang Allah tanpa harus menyimpulkan bahwa Allah memiliki tubuh dan keterbatasan yang sama dengan manusia.

Akan tetapi, istilah antropomorfis juga tidak boleh digunakan secara sembarangan untuk menghapus semua ketegangan dalam teks Alkitab. Tidak setiap pernyataan
mengenai Allah dapat begitu saja dianggap sebagai bahasa figuratif hanya karena pernyataan tersebut sulit dipahami. Ada tindakan Allah yang sungguh-sungguh dinyatakan terjadi dalam sejarah, ada relasi Allah dengan manusia yang sungguh-sungguh nyata, dan ada respons Allah terhadap dosa yang tidak boleh direduksi menjadi sekadar simbol tanpa makna. Karena itu, pembahasan mengenai bahasa manusia tentang Allah membutuhkan keseimbangan. Di satu sisi, manusia tidak boleh memaksakan semua gambaran manusiawi tentang Allah secara harfiah; di sisi lain, manusia juga tidak boleh mengosongkan bahasa Alkitab dari makna nyata yang hendak disampaikan.

Persoalan ini dapat dilihat dengan jelas dalam istilah “marah”. Dalam pengalaman manusia, kemarahan dapat muncul karena seseorang merasa dirugikan, dihina, kehilangan kendali, atau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Kemarahan manusia juga dapat berubah menjadi tindakan yang tidak adil karena manusia sering bereaksi berdasarkan informasi yang tidak lengkap atau emosi yang tidak terkendali. Ketika Alkitab berbicara tentang murka Allah, pembaca tidak boleh secara otomatis memasukkan seluruh kelemahan kemarahan manusia ke dalam pengertian tentang Allah. Sebaliknya, pembaca perlu meneliti bagaimana Alkitab menjelaskan murka Allah, apa yang menjadi penyebabnya, bagaimana murka itu berhubungan dengan kekudusan dan keadilan-Nya, serta bagaimana murka tersebut muncul dalam keseluruhan hubungan Allah dengan manusia.

Hal yang sama berlaku terhadap kata “menyesal”. Dalam kehidupan manusia, penyesalan biasanya terjadi ketika seseorang menyadari bahwa keputusan yang telah dibuat ternyata salah atau menghasilkan akibat yang tidak diinginkan. Karena manusia tidak mengetahui masa depan secara sempurna, seseorang dapat membuat keputusan berdasarkan informasi yang terbatas lalu kemudian menyesalinya. Namun, ketika Kejadian 6:6 mengatakan bahwa Tuhan menyesal telah menjadikan manusia, pembaca harus memperhatikan keseluruhan kesaksian Alkitab sebelum menyimpulkan bahwa Allah mengalami kesalahan pengetahuan seperti manusia. Bilangan 23:19, misalnya, menyatakan bahwa Allah bukanlah manusia sehingga Ia berdusta atau berubah pikiran seperti manusia, sedangkan 1 Samuel 15:29 menyatakan bahwa Yang Mahamulia dari Israel tidak berdusta dan tidak menyesal karena Ia bukan manusia yang perlu menyesal. Ketegangan antara teks-teks tersebut justru menunjukkan bahwa masalahnya harus dibahas secara serius, bukan diselesaikan dengan mengabaikan salah satu kelompok ayat.

Ungkapan tentang Allah “berjalan” juga menghadirkan persoalan yang menarik. Dalam Kejadian 3:8, Adam dan Hawa mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan-jalan dalam taman pada waktu mereka mendengar bunyi angin sepoi-sepoi. Jika kalimat tersebut langsung dipahami sebagai gambaran bahwa Allah secara fisik berjalan seperti manusia, pembaca harus menjelaskan bagaimana pemahaman tersebut sesuai dengan kesaksian Alkitab mengenai Allah yang tidak dibatasi oleh ruang. Sebaliknya, jika seluruh narasi tersebut langsung dianggap tidak memiliki arti tentang kehadiran Allah, pembaca dapat kehilangan pesan penting mengenai hubungan Allah dengan manusia di dalam kisah tersebut. Karena itu, teks perlu dibaca dengan memperhatikan genre, konteks narasi, tujuan penulis, dan cara bahasa digunakan dalam keseluruhan Alkitab.

Masalah yang sama muncul ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah “turun”. Dalam Kejadian 11:5 dikatakan bahwa Tuhan turun untuk melihat kota dan menara yang dibangun manusia. Dalam Keluaran 19:20 dikatakan bahwa Tuhan turun ke atas gunung Sinai. Bahasa tersebut dapat memberikan kesan bahwa Allah berada jauh di suatu tempat lalu berpindah secara fisik menuju tempat tertentu. Namun, pembaca perlu membedakan antara bahasa yang menggambarkan manifestasi kehadiran Allah dan pernyataan bahwa keberadaan Allah secara keseluruhan dibatasi oleh lokasi tertentu. Manifestasi kehadiran Allah berarti cara Allah menyatakan kehadiran dan tindakan-Nya secara nyata dalam suatu tempat atau peristiwa, bukan berarti keberadaan Allah harus dipahami sama seperti tubuh manusia yang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Dengan demikian, pertanyaan tentang bagaimana memahami sifat-sifat Allah yang digambarkan menggunakan bahasa manusia sebenarnya berada pada pertemuan beberapa bidang penting dalam studi Alkitab. Pertanyaan ini berkaitan dengan cara membaca teks, pemahaman tentang Allah, sifat bahasa manusia, konteks sastra, hubungan antara berbagai kitab dalam Alkitab, dan cara manusia memahami keterbatasan dirinya ketika berbicara tentang Sang Pencipta. Karena itu, pembahasan ini tidak cukup apabila hanya memberikan definisi singkat mengenai antropomorfisme. Kita perlu melihat contoh-contoh konkret dari Alkitab dan membandingkannya dengan bagian-bagian lain yang memberikan kesaksian mengenai sifat Allah.

Hal yang sangat penting adalah bahwa pembaca tidak boleh membangun doktrin tentang Allah hanya berdasarkan satu ungkapan yang berdiri sendiri. Doktrin adalah pengajaran yang dirumuskan dari kesaksian Alkitab mengenai suatu pokok tertentu. Karena Alkitab terdiri atas banyak kitab, genre, penulis, zaman, dan konteks sejarah, suatu ayat perlu dibaca dalam hubungan dengan keseluruhan kesaksian Alkitab. Prinsip ini tidak berarti bahwa setiap ayat kehilangan makna apabila berdiri sendiri, tetapi berarti bahwa makna suatu pernyataan tentang Allah perlu ditempatkan dalam keseluruhan gambaran yang diberikan Alkitab. Dengan pendekatan tersebut, pembaca dapat menghindari dua kesalahan yang berlawanan, yaitu menjadikan Allah terlalu mirip dengan manusia atau menganggap bahasa Alkitab tentang Allah tidak benar-benar berarti.

Mazmur 50:21 memberikan contoh penting mengenai bahaya memproyeksikan sifat manusia kepada Allah secara tidak tepat. Dalam ayat tersebut Allah menegur manusia karena mereka mengira bahwa Allah sama seperti dirinya. Teguran ini sangat relevan dalam pembahasan mengenai bahasa manusia tentang Allah. Manusia memang menggunakan konsep yang dikenal dari pengalaman mereka untuk berbicara tentang Allah, tetapi manusia tidak boleh menganggap bahwa Allah hanyalah versi yang lebih besar dari manusia. Jika manusia marah karena ego terluka, bukan berarti murka Allah berasal dari ego yang terluka; jika manusia menyesal karena kurang mengetahui masa depan, bukan berarti penyesalan yang disebut dalam teks tentang Allah harus memiliki penyebab yang sama; dan jika manusia berjalan dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bukan berarti setiap ungkapan tentang Allah yang berjalan harus menggambarkan perpindahan fisik dengan cara yang sama.

Pada saat yang sama, pendekatan yang terlalu jauh ke arah sebaliknya juga perlu dihindari. Jika setiap bahasa manusia tentang Allah dianggap tidak dapat menyampaikan kenyataan apa pun, maka hampir seluruh bahasa Alkitab tentang Allah menjadi tidak bermakna. Ketika Alkitab menyatakan bahwa Allah mengasihi, menghakimi, menyelamatkan, mendengar, melihat, mengingat, atau murka, pernyataan tersebut tetap memiliki maksud yang nyata. Persoalannya bukan apakah bahasa tersebut benar atau salah, melainkan bagaimana kebenaran yang disampaikan melalui bahasa manusia itu harus dipahami ketika objek pembicaraannya adalah Allah yang melampaui manusia. Dengan kata lain, bahasa manusia tentang Allah dapat benar tanpa harus berarti bahwa Allah memiliki keterbatasan manusiawi yang sama.

Prinsip tersebut sangat penting bagi pembaca masa kini karena cara seseorang memahami bahasa tentang Allah akan memengaruhi cara ia memahami karakter Allah secara keseluruhan. Jika “Allah marah” dipahami sebagai kemarahan yang tidak terkendali, Allah dapat terlihat seperti penguasa yang mudah tersinggung. Jika “Allah menyesal” dipahami sebagai pengakuan bahwa Allah membuat kesalahan, kesempurnaan dan pengetahuan Allah dapat dipertanyakan. Jika “Allah berjalan” dipahami secara sederhana sebagai perpindahan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, keberadaan Allah dapat dipahami seolah-olah dibatasi oleh ruang. Sebaliknya, jika semua istilah tersebut dianggap sekadar gaya bahasa tanpa makna nyata, pembaca dapat kehilangan gambaran Alkitab mengenai Allah yang benar-benar bertindak, berelasi, menilai dosa, mengasihi manusia, dan menyatakan diri-Nya dalam sejarah.

Oleh karena itu, artikel ini akan berusaha memahami bahasa manusia yang digunakan Alkitab untuk menggambarkan Allah dengan memperhatikan dua kenyataan sekaligus. Pertama, Allah sungguh menyatakan diri-Nya kepada manusia sehingga manusia dapat mengenal-Nya melalui kesaksian Alkitab. Kedua, Allah tidak identik dengan manusia sehingga setiap gambaran manusiawi tentang Allah harus dipahami sesuai konteks dan tidak boleh langsung dipindahkan kepada Allah dalam seluruh pengertian manusiawinya. Kedua kenyataan tersebut bukan musuh satu sama lain, melainkan menjadi dasar bagi pembacaan yang lebih hati-hati terhadap teks Alkitab. Dengan mempertahankan keduanya, pembaca dapat menghargai bahasa Alkitab tanpa menjadikan Allah sekadar manusia yang diperbesar.

Pertanyaan yang akan kita telusuri bukan hanya “Apakah Allah benar-benar marah, menyesal, atau berjalan?”, tetapi juga “Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Alkitab ketika menggunakan bahasa tersebut?” Pertanyaan kedua lebih mendasar karena mengarahkan pembaca untuk mencari maksud teks, bukan sekadar bereaksi terhadap bentuk kata-katanya. Kita akan melihat bagaimana narasi, puisi, antropomorfisme, metafora, konteks sejarah, dan keseluruhan kesaksian Alkitab membantu manusia memahami pernyataan-pernyataan tentang Allah. Kita juga akan mempertimbangkan bagaimana sifat-sifat Allah seperti kekudusan, keadilan, kasih, kemahatahuan, kekekalan, dan ketidakberubahan berhubungan dengan bahasa Alkitab yang tampaknya menggambarkan perubahan atau pengalaman manusiawi dalam diri Allah.

Pada akhirnya, tujuan pembahasan ini bukan untuk mengurangi kekuatan bahasa Alkitab, melainkan untuk membacanya dengan lebih bertanggung jawab. Alkitab tidak memberikan manusia izin untuk membentuk Allah menurut pengalaman manusia, tetapi Alkitab juga tidak menutup kemungkinan manusia mengenal Allah. Justru melalui bahasa yang dapat dipahami manusia, Allah menyatakan sesuatu yang benar mengenai diri-Nya, tindakan-Nya, sikap-Nya terhadap dosa, hubungan-Nya dengan manusia, dan karya-Nya dalam sejarah. Tantangan bagi pembaca adalah belajar membedakan antara bentuk bahasa yang digunakan dan kenyataan ilahi yang hendak disampaikan melalui bahasa tersebut.

Dengan demikian, pembahasan mengenai Allah yang “marah”, “menyesal”, “berjalan”, “turun”, “melihat”, atau “mendengar” bukanlah persoalan kecil yang hanya berkaitan dengan gaya penulisan Alkitab. Persoalan ini menyentuh salah satu pertanyaan paling mendasar dalam studi tentang Allah, yaitu bagaimana manusia yang terbatas dapat berbicara dengan benar tentang Allah yang tidak terbatas. Pemahaman yang tepat akan menolong pembaca membaca teks-teks sulit dengan lebih teliti, menghindari kesimpulan yang tergesa-gesa, dan melihat hubungan antara ayat yang tampaknya bertentangan secara lebih utuh. Dari titik inilah pembahasan selanjutnya dapat dimulai: mengapa pertanyaan tentang bahasa manusia untuk menggambarkan Allah begitu penting bagi iman, penafsiran Alkitab, dan pemahaman yang benar tentang siapa Allah menurut kesaksian Kitab Suci.

Mengapa Pertanyaan Ini Penting?

Pertanyaan tentang bagaimana memahami sifat-sifat Allah yang digambarkan dengan bahasa manusia penting karena cara seseorang membaca bahasa Alkitab akan memengaruhi cara ia memahami Allah. Ketika sebuah ungkapan mengenai Allah dibaca tanpa memperhatikan maksud dan konteksnya, pembaca dapat membangun pemahaman yang tidak sesuai dengan keseluruhan kesaksian Kitab Suci. Sebaliknya, ketika setiap ungkapan langsung dianggap sebagai simbol tanpa makna nyata, pembaca juga dapat kehilangan apa yang sebenarnya hendak dinyatakan Alkitab mengenai Allah. Karena itu, persoalan ini bukan hanya menyangkut teknik penafsiran, melainkan menyentuh dasar bagaimana manusia mengenal Allah melalui wahyu-Nya.

Karena Cara Membaca Bahasa Alkitab Menentukan Cara Kita Memahami Allah

Alkitab bukan hanya berisi pernyataan doktrinal yang ditulis dalam bentuk definisi. Sebagian besar kesaksian Alkitab mengenai Allah disampaikan melalui kisah, puisi, hukum, nubuat, hikmat, doa, surat, dan berbagai bentuk sastra lainnya. Setiap bentuk tersebut memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan makna. Oleh sebab itu, memahami sebuah pernyataan tentang Allah membutuhkan perhatian terhadap jenis teks tempat pernyataan itu ditemukan, konteks sebelum dan sesudahnya, serta tujuan penulisannya. Hal ini menjadi sangat penting ketika bahasa yang digunakan tampak menggambarkan Allah melalui pengalaman yang biasa ditemukan dalam kehidupan manusia.

Penafsiran adalah proses memahami maksud suatu teks berdasarkan kata-kata, konteks, tujuan, dan hubungannya dengan keseluruhan tulisan. Penafsiran yang bertanggung jawab tidak hanya bertanya, “Apa yang tertulis?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dimaksud oleh apa yang tertulis?” Kedua pertanyaan tersebut perlu dibedakan karena bentuk sebuah kalimat tidak selalu menjelaskan seluruh maksudnya secara langsung. Dalam studi Alkitab, perbedaan ini sangat penting karena satu kata atau ungkapan dapat memperoleh makna tertentu berdasarkan konteks penggunaannya.

Misalnya, ketika sebuah teks mengatakan bahwa Allah “mengingat”, pembaca perlu memperhatikan apakah ungkapan tersebut dimaksudkan untuk mengatakan bahwa sebelumnya Allah lupa terhadap sesuatu. Dalam banyak konteks Alkitab, “mengingat” berkaitan dengan tindakan Allah terhadap seseorang atau janji yang telah diberikan-Nya. Dengan demikian, perhatian terhadap konteks membantu pembaca memahami bahwa suatu istilah dapat menggambarkan tindakan Allah yang dinyatakan pada suatu saat tertentu tanpa harus menyimpulkan bahwa Allah sebelumnya tidak mengetahui fakta tersebut. Prinsip seperti ini akan menjadi sangat penting ketika kita memasuki pembahasan teks-teks yang menggunakan bahasa manusia untuk menggambarkan tindakan dan respons Allah.

Karena Pemahaman yang Keliru Dapat Menghasilkan Gambaran yang Keliru tentang Karakter Allah

Pertanyaan ini juga penting karena bahasa tentang Allah berkaitan langsung dengan karakter-Nya. Karakter Allah adalah keseluruhan sifat dan kualitas yang dinyatakan Alkitab mengenai siapa Allah dan bagaimana Ia bertindak. Jika suatu ungkapan manusiawi tentang Allah dipahami secara tidak tepat, gambaran yang terbentuk tentang Allah juga dapat berubah. Kesalahan kecil dalam memahami sebuah istilah dapat berkembang menjadi pemahaman yang lebih luas mengenai Allah yang tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab.

Hal ini sangat jelas ketika pembaca membandingkan sifat-sifat Allah yang berbeda dalam Kitab Suci. Alkitab berbicara mengenai Allah sebagai kudus, benar, adil, penuh kasih, panjang sabar, dan setia. Pada saat yang sama, Alkitab juga berbicara mengenai murka Allah terhadap dosa dan tindakan penghakiman-Nya. Jika murka Allah disamakan begitu saja dengan kemarahan manusia yang tidak terkendali, pembaca dapat mengabaikan hubungan antara murka Allah dan keadilan-Nya. Sebaliknya, jika murka Allah dianggap tidak memiliki makna nyata, pembaca dapat kehilangan keseriusan Alkitab dalam menggambarkan sikap Allah terhadap dosa.

Karena itu, memahami bahasa manusia tentang Allah bukan usaha untuk membuat Allah tampak lebih lembut atau lebih mudah diterima oleh manusia. Tujuannya adalah memahami apa yang benar-benar dikatakan Alkitab. Jika teks menyatakan bahwa Allah menentang kejahatan, pembaca perlu menerima kenyataan tersebut sebagai bagian dari kesaksian Kitab Suci. Namun, pembaca juga perlu memahami sifat penentangan Allah terhadap kejahatan berdasarkan keseluruhan karakter-Nya, bukan berdasarkan pengalaman manusia tentang kemarahan. Dengan pendekatan tersebut, berbagai sifat Allah dapat dipahami secara terpadu, bukan dipertentangkan secara tidak perlu.

Karena Pertanyaan Ini Berhubungan dengan Doktrin tentang Allah

Pertanyaan ini memiliki arti penting bagi teologi karena menyentuh doktrin tentang Allah. Teologi adalah usaha yang teratur untuk memahami dan menjelaskan kebenaran tentang Allah berdasarkan sumber-sumber yang menjadi dasar iman, dan dalam konteks artikel ini dasar utama yang digunakan adalah kesaksian Alkitab. Doktrin tentang Allah tidak dibangun hanya dari satu ayat, melainkan dari berbagai kesaksian Kitab Suci yang dibaca secara menyeluruh. Karena itu, teks yang menggambarkan Allah dengan bahasa manusia perlu ditempatkan dalam hubungan dengan ayat-ayat lain yang berbicara tentang keberadaan dan sifat Allah.

Beberapa sifat Allah sangat berkaitan dengan persoalan ini. Kemahatahuan berarti Allah mengetahui segala sesuatu secara sempurna; kekekalan berarti keberadaan Allah tidak dibatasi oleh awal dan akhir seperti makhluk ciptaan; kemahakuasaan berarti Allah memiliki kuasa yang tidak terbatas oleh kelemahan makhluk; kekudusan berarti Allah sepenuhnya murni dan terpisah dari dosa; sedangkan ketidakberubahan berarti Allah tidak mengalami perubahan dalam keberadaan, karakter, dan kesetiaan-Nya seperti manusia yang dapat berubah karena keterbatasan atau keadaan. Istilah-istilah tersebut tidak boleh digunakan sekadar sebagai istilah akademis, tetapi harus dipahami berdasarkan kesaksian Alkitab yang mendukungnya. Ketika sifat-sifat tersebut dibandingkan dengan ungkapan bahwa Allah marah, menyesal, turun, atau berjalan, pembaca akan melihat mengapa diperlukan pembacaan yang lebih teliti.

Di sinilah muncul salah satu persoalan teologis yang penting. Jika Allah Mahatahu, bagaimana kita memahami teks yang mengatakan bahwa Allah seolah-olah mengetahui sesuatu setelah melakukan pengamatan? Jika Allah sempurna, bagaimana memahami teks yang menggunakan istilah “menyesal”? Jika Allah tidak dibatasi oleh ruang seperti manusia, bagaimana memahami bahasa yang menggambarkan Allah berjalan atau turun? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak seharusnya diselesaikan dengan mengabaikan salah satu kelompok teks. Sebaliknya, pertanyaan tersebut mengharuskan kita membaca seluruh kesaksian Alkitab dan mencari cara memahami berbagai pernyataan tersebut dalam hubungan satu sama lain.

Karena Pertanyaan Ini Membantu Kita Membedakan Allah dari Manusia

Ada bahaya yang disebut antropomorfisme secara berlebihan, yaitu kecenderungan memperlakukan gambaran manusia tentang Allah seolah-olah seluruh sifat manusia tersebut melekat pada Allah dengan cara yang sama. Antropomorfisme dalam konteks ini berarti penggambaran Allah menggunakan karakteristik, tindakan, atau pengalaman yang dikenal manusia. Bahasa seperti itu dapat membantu manusia memahami tindakan Allah, tetapi dapat menjadi masalah jika seluruh unsur pengalaman manusia dimasukkan ke dalam pemahaman tentang Allah tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Manusia dapat marah karena tersinggung, takut karena merasa terancam, menyesal karena melakukan kesalahan, atau berubah pikiran karena memperoleh informasi baru. Allah tidak dapat dipahami secara otomatis dengan pola yang sama. Jika manusia menggunakan pola tersebut untuk menjelaskan setiap pernyataan mengenai Allah, manusia sebenarnya sedang membentuk Allah menurut ukuran dirinya sendiri. Mazmur 50:21 bahkan memperingatkan manusia terhadap kecenderungan menganggap Allah sama seperti dirinya. Ayat tersebut memberikan dasar penting bahwa Allah tidak boleh dipahami hanya dengan memperbesar pengalaman manusia lalu menerapkannya kepada Allah.

Namun, membedakan Allah dari manusia tidak berarti memutus hubungan antara bahasa manusia dan pengetahuan tentang Allah. Justru karena manusia tidak dapat memahami Allah secara penuh dengan kemampuan alamiahnya, Allah menyatakan diri-Nya dengan cara yang dapat dipahami manusia. Dengan kata lain, terdapat perbedaan antara mengatakan bahwa bahasa manusia tentang Allah terbatas dan mengatakan bahwa bahasa tersebut tidak benar. Bahasa tersebut dapat benar dalam apa yang hendak disampaikannya, meskipun tidak menggambarkan seluruh realitas Allah secara lengkap. Perbedaan inilah yang perlu diperhatikan agar pembaca tidak jatuh ke dalam dua ekstrem yang sama-sama bermasalah.

Karena Pertanyaan Ini Menolong Kita Memahami Hubungan antara Allah yang Transenden dan Allah yang Menyatakan Diri

Istilah transenden berarti melampaui ciptaan dan tidak dapat disamakan dengan dunia yang diciptakan-Nya. Allah tidak termasuk bagian dari alam semesta sebagaimana manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda lainnya merupakan bagian dari ciptaan. Namun, Alkitab juga menunjukkan bahwa Allah tidak tinggal jauh tanpa hubungan dengan ciptaan. Ia menciptakan, berbicara, memanggil, memerintah, menghakimi, menyelamatkan, dan berelasi dengan manusia di dalam sejarah.

Dua kenyataan ini sangat penting. Allah melampaui ciptaan, tetapi Ia juga menyatakan diri kepada ciptaan. Wahyu adalah tindakan Allah menyatakan sesuatu mengenai diri-Nya sehingga manusia dapat mengenal-Nya. Tanpa wahyu, manusia tidak dapat menjadikan pikirannya sendiri sebagai sumber pengetahuan yang memadai tentang Allah, tetapi melalui wahyu Allah memberikan dasar bagi manusia untuk mengenal-Nya.

Karena itu, bahasa manusia dalam Alkitab dapat dipahami sebagai bagian dari cara Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Allah tidak berbicara kepada manusia dengan bahasa yang sama sekali tidak dapat dimengerti manusia. Ia menggunakan kata-kata, kisah, gambaran, tindakan, perintah, janji, dan berbagai bentuk komunikasi yang dapat diterima oleh manusia. Persoalan yang harus dipelajari adalah bagaimana bentuk komunikasi tersebut menyampaikan kebenaran tentang Allah tanpa mengharuskan kita menyimpulkan bahwa Allah memiliki keterbatasan yang sama dengan manusia.

Karena Banyak Teks Alkitab yang Sulit Justru Berkaitan dengan Pertanyaan Ini

Pembahasan ini juga penting karena beberapa teks yang paling sering dipertanyakan dalam studi Alkitab berkaitan dengan cara Alkitab menggambarkan Allah. Kejadian 6:6 berbicara tentang Tuhan yang menyesal telah menjadikan manusia. Keluaran 32 menggambarkan murka Allah terhadap Israel setelah mereka menyembah anak lembu emas. Kejadian 3 menggunakan gambaran tentang Tuhan yang berjalan di taman. Kejadian 11 menggambarkan Tuhan turun untuk melihat kota dan menara yang dibangun manusia.

Teks-teks tersebut sering menimbulkan pertanyaan karena pada pembacaan awal tampaknya terdapat perubahan dalam pengetahuan, keputusan, lokasi, atau emosi Allah. Namun, teks yang sulit tidak otomatis berarti teks yang bertentangan. Kesulitan dapat muncul karena pembaca membawa asumsi tertentu mengenai bagaimana Allah harus digambarkan, sementara teks menggunakan cara komunikasi yang berbeda. Oleh sebab itu, teks-teks tersebut perlu diteliti berdasarkan konteks masing-masing dan kemudian dibandingkan dengan kesaksian Alkitab yang lebih luas.

Hal ini juga menunjukkan pentingnya membedakan antara kontradiksi dan ketegangan. Kontradiksi terjadi apabila dua pernyataan tidak mungkin benar secara bersamaan dalam pengertian yang sama dan dalam keadaan yang sama. Ketegangan terjadi ketika dua pernyataan tampaknya menarik ke arah yang berbeda, tetapi masih mungkin dipahami secara konsisten apabila konteks, makna istilah, atau sudut pandangnya diperhatikan. Dalam studi Alkitab, pembedaan ini sangat penting karena tidak setiap perbedaan cara menggambarkan Allah merupakan kontradiksi terhadap sifat Allah.

Karena Bahasa tentang Allah Berkaitan dengan Cara Alkitab Menyampaikan Relasi-Nya dengan Manusia

Alkitab tidak hanya berbicara tentang apa yang Allah miliki atau bagaimana Allah ada, tetapi juga tentang bagaimana Allah berhubungan dengan manusia. Relasi adalah hubungan yang nyata antara dua pihak yang melibatkan tindakan, respons, komunikasi, dan tanggung jawab. Ketika Alkitab menggambarkan Allah berbicara, mendengar, melihat, mengingat, mengasihi, memperingatkan, menghakimi, atau menyelamatkan, bahasa tersebut menunjukkan bahwa hubungan Allah dengan manusia bukanlah gagasan abstrak. Allah digambarkan sebagai Pribadi yang berhubungan dengan ciptaan-Nya.

Hal ini penting karena manusia sering memahami suatu hubungan melalui bahasa yang bersifat personal. Kita mengatakan bahwa seseorang mendengarkan kita ketika ia memberikan perhatian kepada perkataan kita. Kita mengatakan bahwa seseorang mengingat kita ketika ia bertindak berdasarkan hubungan atau janji yang telah ada. Kita mengatakan bahwa seseorang marah ketika ia memberikan respons terhadap sesuatu yang dianggap salah. Bahasa seperti ini memungkinkan Alkitab menyampaikan bahwa Allah bukanlah kekuatan impersonal yang tidak peduli terhadap manusia, melainkan Allah yang bertindak dan berelasi.

Karena itu, pembaca perlu berhati-hati agar upaya menjelaskan bahasa antropomorfis tidak menghilangkan sifat personal Allah. Jika setiap bahasa mengenai respons Allah dianggap semata-mata sebagai simbol tanpa hubungan dengan tindakan nyata Allah, maka relasi antara Allah dan manusia dapat dipahami secara terlalu abstrak. Alkitab justru menunjukkan bahwa Allah bertindak dalam sejarah dan bahwa tindakan tersebut memiliki hubungan dengan keadaan manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana tindakan dan respons tersebut harus dipahami ketika subjeknya adalah Allah, bukan manusia.

Karena Hal Ini Membantu Menghindari Cara Membaca Alkitab yang Terlalu Sederhana

Ada kecenderungan untuk membaca Alkitab dengan satu aturan yang diterapkan kepada semua jenis pernyataan. Salah satu bentuknya adalah menganggap semua kalimat harus dipahami secara harfiah dalam pengertian yang sama. Bentuk lainnya adalah menganggap semua ungkapan yang sulit sebagai simbol sehingga tidak perlu diteliti lebih jauh. Kedua pendekatan tersebut terlalu sederhana untuk menangani keragaman bahasa dan bentuk sastra yang terdapat dalam Alkitab.

Pembacaan yang bertanggung jawab membutuhkan perhatian terhadap konteks. Konteks berarti lingkungan informasi yang mengelilingi suatu pernyataan dan membantu menjelaskan maksudnya. Konteks dapat mencakup ayat-ayat di sekitarnya, keseluruhan pasal, kitab tempat teks berada, situasi sejarah, jenis sastra, dan hubungan dengan bagian Alkitab lainnya. Semakin sulit suatu teks, semakin penting pembaca memperhatikan konteks tersebut sebelum menarik kesimpulan teologis.

Dalam konteks pertanyaan mengenai bahasa manusia untuk menggambarkan Allah, prinsip ini menjadi sangat penting. Kata “menyesal”, misalnya, tidak dapat ditafsirkan hanya berdasarkan definisi yang biasa digunakan manusia dalam percakapan sehari-hari. Demikian pula kata “marah”, “berjalan”, “turun”, “melihat”, dan “mengingat” perlu diperiksa berdasarkan bagaimana kata-kata tersebut digunakan dalam konteks tertentu. Setelah itu, hasil penafsiran perlu dibandingkan dengan kesaksian Alkitab mengenai Allah secara keseluruhan.

Karena Pertanyaan Ini Mengajarkan Kerendahan Hati dalam Studi Alkitab

Studi Alkitab yang serius membutuhkan kerendahan hati intelektual. Kerendahan hati intelektual berarti kesediaan untuk mengakui bahwa kemampuan manusia memahami teks memiliki keterbatasan dan bahwa tidak semua pertanyaan dapat diselesaikan dengan jawaban sederhana. Sikap tersebut berbeda dari keraguan yang tidak mau menerima apa pun, karena kerendahan hati tetap bersedia menerima kesaksian Alkitab sambil mengakui bahwa pemahaman manusia dapat berkembang melalui penelitian yang lebih teliti. Sikap ini sangat penting terutama ketika berhadapan dengan teks yang telah diperdebatkan selama berabad-abad.

Kerendahan hati juga berarti tidak memaksakan kesimpulan hanya karena suatu penafsiran terasa mudah. Terkadang pembaca ingin segera mengatakan bahwa sebuah teks pasti harfiah atau pasti kiasan agar ketegangan segera hilang. Namun, studi yang bertanggung jawab tidak selalu menghasilkan jawaban yang sederhana. Ada teks yang dapat dijelaskan dengan cukup jelas, tetapi ada pula teks yang membutuhkan pengamatan terhadap berbagai kemungkinan makna dan hubungan antarteks.

Bagi semua kalangan pembaca, termasuk mahasiswa Teologi, persoalan ini memberikan latihan penting dalam membaca Alkitab secara teliti. Mahasiswa Teologi perlu belajar membedakan antara apa yang secara langsung dikatakan teks, apa yang merupakan kesimpulan dari beberapa teks, dan apa yang merupakan interpretasi teologis. Pembaca umum juga mendapatkan manfaat yang sama karena kemampuan tersebut membantu seseorang tidak mudah menerima atau menolak suatu kesimpulan hanya berdasarkan satu kalimat yang terdengar meyakinkan. Dengan demikian, pembahasan mengenai bahasa manusia tentang Allah juga menjadi latihan dalam membangun kebiasaan membaca Kitab Suci secara bertanggung jawab.

Karena Pemahaman yang Tepat Menolong Kita Menghadapi Teks yang Tampaknya Bertentangan

Salah satu alasan terpenting mengapa pertanyaan ini perlu dibahas adalah adanya teks-teks Alkitab yang jika dibaca sekilas tampaknya memberikan gambaran berbeda mengenai Allah. Di satu sisi, terdapat ayat yang menegaskan bahwa Allah tidak berubah seperti manusia. Di sisi lain, terdapat narasi yang menggambarkan Allah menanggapi tindakan manusia dengan cara yang berbeda pada waktu yang berbeda. Perbedaan seperti ini tidak boleh disembunyikan karena justru merupakan bagian dari persoalan yang harus dipahami pembaca.

Contoh yang sangat jelas terdapat dalam hubungan antara 1 Samuel 15:11 dan 1 Samuel 15:29. Pada ayat 11, Tuhan menyatakan bahwa Ia menyesal telah mengangkat Saul menjadi raja karena Saul tidak mengikuti perintah-Nya. Namun, pada ayat 29 dikatakan bahwa Yang Mahamulia dari Israel tidak berdusta dan tidak menyesal karena Ia bukan manusia yang harus menyesal. Jika kedua ayat tersebut dibaca tanpa memperhatikan konteks dan makna istilah, pembaca dapat menganggap bahwa Alkitab sedang menyampaikan dua pernyataan yang saling bertentangan. Akan tetapi, justru di sinilah penelitian lebih mendalam diperlukan untuk memahami apa yang dimaksud dengan “menyesal” dalam masing-masing konteks dan bagaimana narasi tersebut menggambarkan tindakan Allah terhadap Saul.

Persoalan seperti ini menunjukkan bahwa studi Alkitab tidak cukup dilakukan dengan mencari satu ayat yang tampaknya menyelesaikan pertanyaan. Pembaca perlu menelusuri istilah, konteks, alur narasi, hubungan antarteks, dan tujuan penulis. Dengan cara itu, teks yang pada awalnya tampak bermasalah dapat menjadi kesempatan untuk memahami cara Alkitab berbicara tentang Allah secara lebih mendalam. Ketelitian semacam ini juga mencegah pembaca memilih ayat tertentu hanya karena ayat tersebut sesuai dengan kesimpulan yang sudah dibentuk sebelumnya.

Karena Hal Ini Menjaga Keseimbangan antara Kesederhanaan dan Kedalaman

Referensi studi Alkitab harus dapat dibaca oleh semua kalangan, tetapi dapat diakses oleh pembaca yang membutuhkan pembahasan lebih serius. Karena itu, penjelasan mengenai bahasa manusia tentang Allah perlu memiliki dua kualitas sekaligus, yaitu jelas dan mendalam. Jelas berarti pembaca tidak dipaksa memahami istilah teknis tanpa penjelasan. Mendalam berarti persoalan tidak disederhanakan sampai kehilangan unsur penting yang diperlukan untuk memahami teks.

Keseimbangan tersebut sangat penting dalam pembahasan tentang sifat-sifat Allah. Pembaca awam mungkin bertanya dengan sederhana, “Apakah Allah benar-benar marah?” Mahasiswa Teologi mungkin mengajukan pertanyaan yang lebih teknis tentang hubungan antara bahasa antropomorfis, sifat Allah, ketidakberubahan Allah, dan tindakan-Nya dalam sejarah. Walaupun bentuk pertanyaannya berbeda, keduanya berhadapan dengan persoalan yang sama, yaitu bagaimana memahami pernyataan Alkitab tentang Allah secara tepat. Karena itu, pembahasan yang baik harus mampu menjelaskan persoalan mendasar dengan bahasa yang dapat dipahami sekaligus menyediakan kedalaman yang memadai untuk penelitian lebih lanjut.

Pendekatan seperti ini juga membantu mencegah kesalahan yang sering terjadi dalam studi Alkitab populer, yaitu memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi tidak menunjukkan bagaimana kesimpulan tersebut diperoleh. Sebuah jawaban yang baik seharusnya memperlihatkan hubungan antara teks dan kesimpulan. Pembaca perlu mengetahui bukan hanya apa jawabannya, tetapi juga mengapa jawaban tersebut dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan kesaksian Alkitab. Dengan demikian, artikel ini tidak dimaksudkan sekadar memberikan jawaban siap pakai, melainkan membantu pembaca membangun cara berpikir yang dapat digunakan ketika menghadapi teks-teks Alkitab lainnya.

Karena Pemahaman tentang Bahasa Allah Berkaitan dengan Kepercayaan terhadap Kesaksian Alkitab

Pada akhirnya, pertanyaan ini juga berkaitan dengan bagaimana manusia memandang Alkitab sebagai kesaksian tentang Allah. Jika setiap bahasa manusiawi dianggap sebagai bukti bahwa Alkitab tidak dapat berbicara dengan benar tentang Allah, pembaca dapat kehilangan kepercayaan terhadap kesaksian Kitab Suci. Sebaliknya, jika setiap ungkapan dipaksakan ke dalam pengertian harfiah manusia tanpa memperhatikan konteks, pembaca dapat membentuk gambaran tentang Allah yang tidak konsisten dengan banyak bagian Alkitab lainnya. Kedua kemungkinan tersebut menunjukkan pentingnya memahami bagaimana Alkitab menggunakan bahasa manusia untuk menyampaikan kebenaran mengenai Allah.
2 Timotius 3:16 menyatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Ayat ini penting dalam kerangka pembahasan karena menunjukkan fungsi Kitab Suci dalam membentuk pemahaman dan kehidupan umat Allah. Namun, menerima Kitab Suci sebagai firman yang diilhamkan tidak berarti membaca setiap bentuk bahasa dengan cara yang sama. Justru karena Kitab Suci menggunakan berbagai bentuk sastra dan cara komunikasi, pembaca perlu mempelajari bagaimana masing-masing bentuk menyampaikan maksudnya.

Mazmur 119:160 juga menyatakan bahwa keseluruhan firman Allah adalah kebenaran. Pernyataan tersebut memberi dasar bagi pembaca untuk mendekati teks-teks yang sulit bukan dengan kecurigaan yang tergesa-gesa, melainkan dengan keinginan untuk memahami maksudnya secara benar. Ketika dua pernyataan tampaknya menimbulkan ketegangan, langkah pertama bukanlah langsung menyimpulkan bahwa salah satunya harus dibuang. Langkah pertama adalah memeriksa apakah kita telah memahami istilah, konteks, dan maksud kedua pernyataan tersebut dengan tepat.

Karena Pertanyaan Ini Membentuk Cara Kita Membaca Teks-Teks tentang Allah di Masa Mendatang

Pembahasan mengenai bahasa manusia untuk menggambarkan Allah memiliki manfaat yang melampaui beberapa ayat yang sedang kita teliti. Setelah memahami prinsip-prinsip dasarnya, pembaca akan memiliki kerangka untuk membaca banyak bagian Alkitab lainnya. Ungkapan tentang tangan Allah, wajah Allah, mata Allah, telinga Allah, lengan Allah, atau langkah Allah tidak lagi harus segera diperlakukan sebagai persoalan yang membingungkan. Pembaca dapat bertanya lebih dahulu mengenai fungsi ungkapan tersebut dalam konteksnya dan kenyataan apa yang hendak disampaikan melalui bahasa tersebut.

Kerangka ini juga dapat diterapkan ketika membaca kitab-kitab puitis dan naratif. Bahasa puisi sering menggunakan gambaran yang kuat untuk menyampaikan kebenaran, sedangkan narasi dapat menggambarkan tindakan Allah dari sudut pandang manusia yang mengalami peristiwa tersebut. Memahami hal ini tidak berarti mengurangi nilai historis atau teologis teks, tetapi membantu pembaca memperhatikan cara teks menyampaikan pesan. Dengan demikian, pembaca tidak hanya memperoleh jawaban terhadap satu pertanyaan, tetapi juga memperoleh kemampuan membaca yang dapat digunakan dalam penelitian Alkitab selanjutnya.

Lebih jauh lagi, kemampuan tersebut membantu pembaca menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit tentang Allah tanpa harus memilih antara dua ekstrem. Pembaca tidak perlu menganggap bahwa Allah hanyalah manusia yang memiliki kekuatan tanpa batas, tetapi juga tidak perlu menganggap bahwa semua bahasa personal tentang Allah hanyalah simbol yang tidak menunjuk pada tindakan nyata. Alkitab sendiri mengajarkan manusia untuk mengenal Allah melalui kesaksian yang diberikan-Nya. Tantangannya adalah memahami kesaksian tersebut sesuai dengan cara Alkitab mengomunikasikannya.

Karena Tujuan Akhirnya Bukan Sekadar Menyelesaikan Teka-Teki Bahasa

Jika pembahasan ini hanya diarahkan untuk menjawab apakah kata “marah”, “menyesal”, atau “berjalan” harus dipahami secara harfiah atau tidak, kita akan kehilangan tujuan yang lebih besar. Studi Alkitab bukan sekadar kegiatan memecahkan teka-teki kata. Tujuannya adalah memahami kesaksian Kitab Suci mengenai Allah dan karya-Nya sehingga manusia dapat mengenal-Nya dengan lebih benar. Karena itu, pertanyaan tentang bahasa manusia harus membawa pembaca kembali kepada Allah yang dinyatakan dalam keseluruhan Kitab Suci.

Ketika Alkitab menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang merespons manusia, pembaca sedang diperhadapkan dengan kenyataan bahwa hubungan dengan Allah memiliki arti. Dosa bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan tanpa Pribadi yang menetapkan standar moral. Doa bukan sekadar latihan psikologis tanpa Allah yang mendengar. Pertobatan bukan sekadar perubahan perilaku tanpa Allah yang memanggil manusia kembali kepada-Nya. Karena itu, bahasa manusia tentang Allah memiliki fungsi teologis dan relasional, yaitu menolong manusia memahami bagaimana Allah menyatakan diri dan berhubungan dengan ciptaan.

Pada tahap ini, pertanyaan yang kita ajukan menjadi lebih jelas. Kita tidak sedang berusaha mengubah bahasa Alkitab agar sesuai dengan teori manusia mengenai Allah. Kita juga tidak sedang berusaha mempertahankan satu cara membaca dengan mengabaikan ayat-ayat yang sulit. Kita sedang mencari cara membaca yang memungkinkan seluruh kesaksian Alkitab didengar secara serius, termasuk bagian-bagian yang mudah dipahami dan bagian-bagian yang membutuhkan penelitian lebih mendalam. Dengan dasar tersebut, kita dapat melanjutkan kepada pertanyaan berikutnya: bagaimana Alkitab sendiri menggunakan bahasa manusia ketika berbicara tentang Allah?

Bagian selanjutnya akan membawa pembahasan langsung kepada teks-teks Kitab Suci. Kita akan menelusuri berbagai contoh ketika Allah digambarkan melalui tindakan, emosi, anggota tubuh, perpindahan, atau respons yang dikenal dalam pengalaman manusia. Setiap contoh akan dibaca dalam konteksnya dan kemudian dibandingkan dengan bagian Alkitab lain yang berbicara mengenai sifat Allah. Dengan cara tersebut, kita dapat melihat apakah bahasa manusia tersebut harus dipahami secara harfiah, figuratif, antropomorfis, atau melalui bentuk pemahaman lain yang lebih sesuai dengan konteks teks.

Tujuan akhirnya adalah memperoleh pemahaman yang mampu menjaga dua kebenaran sekaligus: Allah sungguh dapat dikenal melalui penyataan-Nya, tetapi Allah tidak boleh direduksi menjadi manusia. Ketika kedua prinsip tersebut dipertahankan, teks-teks yang pada awalnya tampak membingungkan dapat dibaca dengan lebih hati-hati dan bertanggung jawab. Pembaca tidak perlu menghindari kesulitan teks, karena justru melalui penelitian terhadap kesulitan tersebut kita dapat melihat kekayaan cara Alkitab berbicara tentang Allah. Dari sinilah pembahasan berdasarkan kesaksian Kitab Suci akan dimulai secara lebih terperinci.

Penjelasan Berdasarkan Alkitab

Alkitab Berbicara tentang Allah dengan Bahasa yang Dapat Dipahami Manusia

Ketika Alkitab berbicara tentang Allah, Alkitab menggunakan bahasa manusia karena manusia tidak memiliki cara lain untuk memahami dan menyampaikan kebenaran ilahi selain melalui bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Karena itu, pembaca akan menemukan berbagai ungkapan yang menggambarkan Allah seolah-olah memiliki mata, telinga, tangan, wajah, kaki, hati, atau bahkan melakukan tindakan seperti berjalan, turun, naik, mengingat, menyesal, marah, dan berduka. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak boleh langsung dipahami dengan cara yang sama seperti ketika kata-kata tersebut digunakan untuk manusia. Namun, penggunaan bahasa manusia itu juga tidak berarti bahwa semua pernyataan tersebut tidak memiliki makna nyata tentang Allah.

Kejadian 1:27 memberikan salah satu dasar penting untuk memahami hubungan antara Allah dan manusia. Ayat tersebut mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Allah adalah manusia atau bahwa Allah memiliki tubuh manusiawi seperti ciptaan-Nya. Bahkan, Bilangan 23:19 mengatakan, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.” Hosea 11:9 juga membedakan Allah dari manusia ketika Allah berkata, “Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia.” Dengan demikian, sejak awal pembacaan Alkitab sudah diperlukan sebuah pembedaan: bahasa yang digunakan untuk menggambarkan Allah dapat memakai kategori pengalaman manusia, tetapi Allah sendiri tidak boleh direduksi menjadi manusia.

Dalam studi Alkitab, cara berbicara tentang Allah dengan menggunakan gambaran manusia sering disebut antropomorfisme. Antropomorfisme adalah cara menggambarkan Allah dengan istilah atau tindakan yang biasa digunakan untuk manusia, misalnya “tangan Allah,” “mata Allah,” atau “Allah berjalan.” Istilah lain yang juga penting adalah antropopatisme, yaitu penggunaan bahasa yang menggambarkan Allah dengan istilah yang berkaitan dengan pengalaman atau emosi manusia, misalnya Allah “marah,” “berdukacita,” atau “menyesal.” Kedua istilah ini membantu pembaca mengenali bentuk bahasa yang digunakan Alkitab, tetapi istilah tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan makna teks. Sebaliknya, istilah tersebut menolong kita bertanya secara lebih tepat: kebenaran apa tentang Allah yang sedang disampaikan melalui bahasa tersebut?

Tidak Semua Bahasa tentang Allah Harus Dibaca dengan Cara yang Sama

Salah satu kesalahan dalam membaca ayat-ayat tentang Allah adalah memperlakukan semua ungkapan seolah-olah mempunyai bentuk bahasa yang sama. Alkitab menggunakan narasi, puisi, metafora, simbol, pernyataan langsung, bahasa hikmat, nubuat, dan bahasa relasional. Karena itu, sebuah ungkapan harus dibaca berdasarkan jenis teks dan konteksnya, bukan hanya berdasarkan arti harfiah setiap kata.

Bahasa metaforis menggunakan sesuatu yang dikenal manusia untuk menjelaskan realitas yang lebih dalam. Misalnya, Mazmur 23:1 berkata, “TUHAN adalah gembalaku.” Ayat tersebut tidak mengajarkan bahwa Allah secara harfiah adalah seorang penggembala yang menggiring domba dengan tongkat, melainkan menggunakan pengalaman seorang gembala untuk menjelaskan pemeliharaan, tuntunan, perlindungan, dan kepemimpinan Allah. Demikian juga Mazmur 18:3 menggambarkan Allah sebagai “bukit batuku,” “kubu pertahananku,” dan “gunung batuku.” Allah bukan batu dalam pengertian material, tetapi gambaran tersebut menyatakan bahwa Allah menjadi tempat perlindungan yang kokoh bagi umat-Nya.

Bahasa puitis juga sering menggunakan gambaran yang kuat untuk menyampaikan kebenaran. Mazmur 47:6 berkata, “Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah!” Sementara itu, berbagai bagian Mazmur berbicara tentang Allah yang “naik,” “turun,” “membentangkan tangan,” atau “membungkukkan langit.” Bahasa seperti ini harus dibaca dalam karakter sastra puisi yang memang menggunakan gambaran untuk menyampaikan realitas teologis. Yang menjadi perhatian utama bukanlah apakah Allah mempunyai bentuk material seperti gambaran tersebut, melainkan apa yang dinyatakan gambaran itu mengenai kuasa, kehadiran, pemerintahan, perlindungan, atau tindakan Allah.

Bahasa naratif juga perlu diperhatikan. Ketika Kejadian 3:8 menggambarkan manusia mendengar “bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman,” pembaca tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa Allah memiliki kaki dan tubuh fisik seperti manusia. Narasi tersebut sedang menggambarkan kehadiran Allah di tengah situasi kejatuhan manusia dan memperlihatkan respons manusia yang bersembunyi dari hadapan-Nya. Bentuk narasi tersebut membuat tindakan Allah dapat dipahami melalui pengalaman manusia, tetapi tidak memberikan gambaran anatomis tentang keberadaan Allah.

Selain itu, Alkitab menggunakan bahasa relasional, yaitu bahasa yang menjelaskan hubungan Allah dengan manusia melalui kategori hubungan yang dikenal manusia. Allah disebut Bapa, umat-Nya disebut anak-anak-Nya, Israel disebut umat-Nya, dan manusia dipanggil untuk mengenal, mengasihi, menaati, serta mencari Allah. Bahasa relasional ini bukan sekadar hiasan sastra karena benar-benar menyampaikan sesuatu tentang hubungan Allah dengan ciptaan. Namun, hubungan tersebut tetap harus dipahami dengan mengingat bahwa hubungan Allah dengan manusia tidak identik dengan hubungan antarmanusia.

Mata, Telinga, Wajah, dan Bahasa Tubuh Allah

Alkitab berkali-kali berbicara tentang mata Allah. 2 Tawarikh 16:9 mengatakan, “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” Mazmur 34:16 berkata, “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada mereka yang minta tolong kepada-Nya.” Jika ayat-ayat tersebut dibaca secara fisik, seseorang dapat membayangkan Allah mempunyai organ tubuh seperti manusia. Namun, maksud utama teks adalah menyatakan bahwa Allah melihat, mengetahui, memperhatikan, dan bertindak terhadap keadaan ciptaan-Nya.

Kejadian 16:13 memberikan contoh yang menarik ketika Hagar menyebut nama TUHAN yang telah berfirman kepadanya sebagai “El-Roi,” yang berkaitan dengan gagasan tentang Allah yang melihat. Pengalaman Hagar bukan sekadar menunjukkan bahwa Allah mempunyai kemampuan visual, melainkan bahwa Allah memperhatikan seseorang yang berada dalam keadaan sulit. Dengan demikian, “Allah melihat” menyatakan perhatian dan pengetahuan Allah terhadap kehidupan manusia. Bahasa penglihatan menjadi cara yang sangat mudah dipahami manusia untuk menyampaikan kenyataan bahwa tidak ada keadaan manusia yang luput dari perhatian Allah.

Hal yang sama terlihat dalam Keluaran 3:7. Allah berkata kepada Musa, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.” Tiga kata kerja penting muncul dalam rangkaian tersebut: Allah memperhatikan, mendengar, dan mengetahui. Pernyataan itu tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa Allah sebelumnya tidak mengetahui penderitaan Israel lalu memperoleh informasi baru. Konteksnya justru menunjukkan bahwa pengetahuan Allah menghasilkan tindakan penyelamatan melalui panggilan Musa.

Mazmur 139 memperkuat gambaran tersebut. Ayat 1–4 menyatakan bahwa Allah menyelidiki dan mengenal pemazmur, mengetahui ketika ia duduk dan berdiri, memahami pikirannya, serta mengetahui perkataannya sebelum perkataan itu diucapkan. Bahasa tersebut menggabungkan pengetahuan, pengamatan, dan kedekatan Allah. Dengan demikian, ketika Alkitab berbicara tentang mata dan telinga Allah, pembaca seharusnya menangkap makna teologis mengenai pengetahuan dan perhatian Allah, bukan menyimpulkan bahwa Allah membutuhkan organ tubuh untuk memperoleh informasi.

Istilah “wajah Allah” juga mempunyai peranan penting dalam Alkitab. Dalam bahasa Ibrani, kata pānîm dapat berkaitan dengan wajah, tetapi dalam konteks tertentu juga berhubungan dengan kehadiran atau berhadapan dengan seseorang. Karena itu, ketika seseorang mencari wajah Allah, maksudnya bukan sekadar mencari bentuk fisik wajah Allah. Mazmur 27:8 berkata, “Wajah-Mu kucari, ya TUHAN,” yang menggambarkan kerinduan untuk datang kepada Allah dan mengalami persekutuan dengan-Nya.

Allah “Turun” dan “Berjalan”: Bahasa tentang Kehadiran-Nya

Kejadian 11:5 berkata bahwa TUHAN turun untuk melihat kota dan menara yang didirikan manusia. Jika dibaca secara sederhana tanpa memperhatikan keseluruhan kesaksian Alkitab, seseorang dapat menyimpulkan bahwa Allah berada jauh di suatu tempat lalu harus turun secara fisik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di Babel. Namun, kesimpulan seperti itu bertentangan dengan banyak teks Alkitab yang menggambarkan pengetahuan dan kehadiran Allah secara jauh lebih luas.

Dalam bahasa Ibrani, kata yārad berarti “turun” atau “turun ke suatu tempat.” Dalam narasi tertentu, kata tersebut menggambarkan gerakan dari sudut pandang manusia. Kejadian 11 menggunakan bahasa tersebut untuk menekankan keterlibatan Allah dalam tindakan manusia dan menunjukkan bahwa kesombongan manusia tidak berada di luar pengamatan-Nya. Bahasa naratif itu tidak mengharuskan pembaca menyimpulkan bahwa Allah secara fisik berpindah dari satu lokasi kosmis ke lokasi lain untuk memperoleh pengetahuan.

Hal serupa terlihat dalam Keluaran 19:20 ketika dikatakan bahwa TUHAN turun ke atas Gunung Sinai. Konteksnya adalah penyataan Allah kepada Israel dalam peristiwa perjanjian. Bahasa “turun” menyatakan manifestasi atau penyataan kehadiran Allah kepada umat-Nya dalam suatu tempat tertentu. Ini tidak berarti bahwa keberadaan Allah sebelumnya tidak ada di tempat tersebut atau bahwa Allah dibatasi oleh ruang.

Kejadian 3:8 juga menggambarkan Allah yang berjalan-jalan di taman Eden. Kata Ibrani hālak berkaitan dengan berjalan atau pergi, dan dalam konteks narasi tersebut bahasa itu membuat kehadiran Allah dapat dipahami melalui pengalaman manusia. Namun, tujuan utama narasi bukan menjelaskan bentuk kaki Allah, melainkan memperlihatkan hubungan manusia dengan Allah setelah dosa masuk ke dalam dunia. Manusia bersembunyi, Allah memanggil, dan pertanyaan-pertanyaan berikutnya membawa manusia berhadapan dengan kenyataan dosanya.

Dengan demikian, kata “turun” dan “berjalan” harus dibaca berdasarkan fungsi naratifnya. Bahasa tersebut benar-benar menyatakan bahwa Allah hadir dan bertindak, tetapi tidak harus dipahami sebagai uraian anatomi atau batas ruang terhadap Allah. Hal ini menjadi semakin jelas ketika teks-teks lain menyatakan bahwa kehadiran Allah tidak dapat dibatasi oleh satu lokasi tertentu.

Allah “Mengingat”: Bukan Berarti Allah Sebelumnya Lupa

Kejadian 8:1 berkata, “Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu.” Jika kata “mengingat” dipahami persis seperti pengalaman manusia, pembaca mungkin bertanya apakah Allah sebelumnya melupakan Nuh. Namun, keseluruhan cerita tidak mendukung kesimpulan tersebut. Allah telah memberikan perintah kepada Nuh, memeliharanya dalam bahtera, dan kemudian mengakhiri air bah pada waktu yang ditentukan.

Kata Ibrani zākar yang sering diterjemahkan “mengingat” memiliki cakupan makna yang lebih luas daripada sekadar memperoleh kembali informasi yang sebelumnya hilang dari ingatan. Dalam banyak konteks Alkitab, “mengingat” berkaitan dengan memberikan perhatian dan kemudian bertindak berdasarkan suatu hubungan, janji, atau komitmen. Karena itu, ketika Allah “mengingat Nuh,” narasi tersebut menunjukkan bahwa Allah bertindak untuk Nuh.

Pola yang sama muncul dalam Keluaran 2:24 ketika Allah “mendengar mereka mengerang, lalu Allah mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.” Ayat berikutnya, Keluaran 2:25, berkata bahwa Allah melihat orang Israel dan memperhatikan mereka. Urutannya menunjukkan bahwa “mengingat” tidak berarti Allah baru mengetahui keberadaan perjanjian tersebut. Sebaliknya, bahasa tersebut menekankan kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya yang diwujudkan dalam tindakan.

Karena itu, bahasa “Allah mengingat” sebaiknya dibaca sebagai bahasa tentang perhatian dan tindakan perjanjian. Ungkapan tersebut menyampaikan bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Bahasa manusia digunakan untuk menggambarkan momen ketika tindakan Allah menjadi nyata dalam sejarah.

Allah “Menyesal”: Kejadian 6:6 dan Respons Allah terhadap Dosa

Salah satu contoh paling sulit adalah Kejadian 6:6: “maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” Sekilas, ayat ini dapat menimbulkan pertanyaan serius. Jika Allah Mahatahu dan mengetahui segala sesuatu sejak semula, bagaimana mungkin Allah menyesal seolah-olah Ia baru menyadari bahwa keputusan-Nya menciptakan manusia ternyata salah?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan memperhatikan konteks Kejadian 6:5–8. Sebelum ayat 6, teks menggambarkan bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan. Jadi, ayat 6 bukan berdiri sendiri sebagai pernyataan bahwa Allah membuat kesalahan perencanaan. Ayat tersebut berada dalam narasi yang menggambarkan kedalaman kerusakan moral manusia dan respons Allah terhadap keadaan tersebut.

Kata Ibrani nāḥam dapat mempunyai cakupan makna seperti menyesal, merasa pilu, berduka, berubah dalam tindakan, atau merasa sangat sedih, tergantung konteks. Karena itu, penerjemahan kata tersebut tidak boleh langsung dipakai untuk menyimpulkan bahwa Allah mengalami penyesalan dalam arti manusia menyadari bahwa Ia sebelumnya salah karena kekurangan informasi. Konteks Kejadian 6 justru menekankan kesedihan Allah terhadap kejahatan manusia.

Hal tersebut semakin jelas melalui ungkapan “hal itu memilukan hati-Nya.” Bahasa hati dalam Alkitab sering menunjuk kepada pusat kehidupan batin, termasuk pikiran, kehendak, pertimbangan, dan perasaan. Teks tersebut menggunakan bahasa yang sangat manusiawi untuk menyampaikan betapa seriusnya dosa manusia di hadapan Allah. Dengan demikian, bahasa tentang “penyesalan” tidak boleh dikosongkan dari makna emosionalnya, tetapi juga tidak boleh dipaksakan menjadi gambaran bahwa Allah kehilangan pengetahuan tentang masa depan.

Kejadian 6:8 kemudian berkata, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Ayat ini menunjukkan bahwa narasi tidak berhenti pada kesedihan Allah. Respons Allah terhadap kejahatan juga melibatkan penghakiman dan sekaligus penyelamatan. Allah memerintahkan Nuh membangun bahtera dan menyelamatkan Nuh serta keluarganya dari air bah.

Dengan demikian, Kejadian 6:6 memperlihatkan bahwa Allah bukan pribadi yang tidak peduli terhadap tindakan moral manusia. Allah mengetahui kejahatan, menilainya secara serius, berduka atas kerusakan manusia, dan bertindak terhadap keadaan tersebut. Bahasa “menyesal” dalam konteks ini harus dipahami sebagai bahasa yang menyatakan respons Allah terhadap perubahan moral manusia, bukan sebagai pengakuan bahwa Allah sebelumnya membuat keputusan yang keliru karena tidak mengetahui masa depan.

“Penyesalan” Allah dalam 1 Samuel 15

Persoalan tersebut menjadi semakin menarik dalam 1 Samuel 15. Pada ayat 11, Allah berkata, “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja.” Namun, pada ayat 29 Samuel berkata, “Yang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.” Pembaca mungkin melihat kedua pernyataan ini sebagai kontradiksi, padahal konteks menunjukkan adanya perbedaan makna.

Pada ayat 11, bahasa “menyesal” menggambarkan perubahan relasional dan tindakan Allah terhadap Saul akibat ketidaktaatan Saul. Saul diperintahkan melakukan sesuatu, tetapi ia tidak menaati perintah tersebut sepenuhnya. Karena itu, status Saul sebagai raja mengalami perubahan dalam rencana pemerintahan Allah atas Israel.

Pada ayat 29, istilah “menyesal” digunakan dalam konteks yang berbeda. Samuel sedang menegaskan bahwa Allah tidak seperti manusia yang berbohong, berubah-ubah tanpa dasar, atau menarik kembali keputusan-Nya karena kelemahan karakter. Pernyataan tersebut justru menegaskan keandalan Allah. Jadi, kedua ayat tersebut tidak harus dipahami sebagai dua pernyataan yang saling meniadakan.

Perbedaan tersebut dapat dirumuskan secara sederhana: Alkitab dapat berbicara tentang perubahan tindakan Allah dalam sejarah tanpa mengajarkan perubahan dalam karakter, pengetahuan, atau kesetiaan Allah. Ketika manusia berubah dari taat menjadi tidak taat, hubungan dan tindakan Allah terhadap manusia dapat berubah sesuai dengan keadaan moral tersebut. Namun, perubahan tindakan itu tidak berarti Allah berubah menjadi pribadi yang tidak konsisten.

Allah “Menyesal” dalam Keluaran 32: Doa dan Perubahan Tindakan Allah

Keluaran 32 memberikan contoh lain yang sangat penting. Setelah Israel membuat anak lembu emas, Allah menyatakan murka-Nya dan berbicara kepada Musa tentang penghukuman terhadap bangsa tersebut. Musa kemudian memohon kepada Allah berdasarkan nama-Nya, janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Israel, serta kesaksian bangsa-bangsa tentang karya Allah.

Keluaran 32:14 kemudian berkata, “Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.” Pernyataan ini harus dibaca dalam rangkaian percakapan antara Allah dan Musa, bukan sebagai kalimat yang terpisah. Narasi tersebut menunjukkan bahwa doa Musa benar-benar mempunyai tempat dalam tindakan Allah di dalam sejarah.

Namun, teks tersebut tidak mengharuskan pembaca menyimpulkan bahwa Musa memberikan informasi baru kepada Allah yang sebelumnya tidak diketahui-Nya. Musa berdoa dengan mengingatkan Allah pada janji-Nya sendiri. Doa tersebut menjadi bagian dari cara Allah bekerja dalam sejarah, sehingga hubungan antara kedaulatan Allah dan doa manusia tidak perlu dipahami sebagai dua kekuatan yang saling meniadakan.

Di sini terlihat prinsip yang penting: Alkitab dapat menggambarkan Allah merespons doa tanpa mengajarkan bahwa Allah kehilangan kendali atas rencana-Nya. Doa Musa merupakan bagian dari narasi tentang bagaimana Allah melaksanakan kehendak-Nya melalui relasi dengan manusia. Karena itu, “Allah menyesal” dalam Keluaran 32 menunjukkan perubahan tindakan yang nyata terhadap Israel, tetapi tidak harus berarti perubahan dalam hakikat atau kesempurnaan Allah.

Yeremia 18: Allah Merespons Sikap Moral Manusia

Yeremia 18:7–10 memberikan prinsip yang sangat penting untuk memahami bahasa perubahan tindakan Allah. Allah berkata bahwa apabila Ia telah berfirman mengenai suatu bangsa untuk mencabut, merobohkan, dan membinasakannya, lalu bangsa tersebut bertobat dari kejahatannya, maka Allah dapat mengubah keputusan mengenai malapetaka yang hendak dilakukan-Nya. Sebaliknya, apabila Allah telah berfirman untuk membangun dan menanam suatu bangsa tetapi bangsa itu melakukan kejahatan, Allah juga dapat membatalkan kebaikan yang hendak dilakukan-Nya.

Teks ini menunjukkan bahwa hubungan Allah dengan manusia bukan hubungan mekanis yang mengabaikan tindakan moral manusia. Pertobatan manusia mempunyai konsekuensi dalam cara Allah bertindak terhadap mereka. Kejahatan juga mempunyai konsekuensi. Dengan demikian, ketika Alkitab menggambarkan Allah “berubah” dalam tindakan, perubahan tersebut dapat merupakan bagian dari pola keadilan dan belas kasihan Allah yang sejak awal sudah menjadi bagian dari karakter-Nya.

Yunus 3:10 memberikan contoh konkret. Setelah penduduk Niniwe bertobat, Allah melihat perbuatan mereka dan tidak jadi mendatangkan malapetaka yang sebelumnya diberitakan. Yunus 4:2 bahkan memperlihatkan bahwa Yunus memahami karakter Allah sebagai Allah yang pengasih, penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Karena itu, perubahan tindakan Allah terhadap Niniwe bukan bukti bahwa Allah memiliki karakter yang berubah-ubah, melainkan menunjukkan bahwa belas kasihan dan penghakiman Allah bekerja dalam hubungan-Nya dengan respons moral manusia.

Allah “Marah”: Kemarahan yang Berhubungan dengan Kekudusan dan Keadilan

Alkitab juga menggambarkan Allah sebagai Allah yang marah. Keluaran 32:10 menunjukkan murka Allah terhadap Israel setelah penyembahan anak lembu emas. Dalam Mazmur 7:12 dikatakan bahwa Allah adalah Hakim yang adil dan setiap hari murka-Nya terhadap kejahatan. Perjanjian Baru juga melanjutkan kesaksian tersebut. Roma 1:18 berkata bahwa murka Allah nyata terhadap segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran.
Namun, murka Allah tidak boleh disamakan begitu saja dengan kemarahan manusia yang muncul karena ego terluka, frustrasi, atau kehilangan kendali. Kemarahan manusia dapat menjadi tidak terkendali dan tidak adil. Sebaliknya, dalam kesaksian Alkitab, murka Allah berhubungan dengan kekudusan, keadilan, dan penolakan-Nya terhadap dosa.

Bahasa Ibrani menggunakan beberapa istilah yang berkaitan dengan kemarahan. Kata ʾap̄, yang secara dasar berkaitan dengan hidung atau wajah dalam beberapa konteks, dapat digunakan dalam ungkapan tentang kemarahan. Kata ḥārâ juga dapat menggambarkan menjadi panas atau terbakar dalam konteks kemarahan. Penggunaan bahasa tubuh untuk menggambarkan kemarahan menunjukkan bagaimana Alkitab menggunakan pengalaman manusia untuk membuat realitas moral yang tidak terlihat menjadi dapat dipahami.

Karena itu, ketika dikatakan Allah “murka,” pembaca tidak perlu memilih antara dua ekstrem. Kita tidak perlu menganggap bahwa Allah mengalami ledakan emosi yang tidak terkendali, tetapi kita juga tidak boleh mengatakan bahwa murka Allah hanyalah simbol kosong tanpa realitas moral. Murka Allah menyatakan bahwa dosa benar-benar bertentangan dengan kekudusan-Nya dan bahwa tindakan manusia mempunyai konsekuensi di hadapan Hakim yang adil.

Allah “Berduka” dan Bahasa tentang Hati-Nya

Kejadian 6:6 bukan hanya mengatakan bahwa Allah “menyesal,” tetapi juga bahwa keadaan manusia “memilukan hati-Nya.” Bahasa tersebut menunjukkan bahwa Alkitab tidak menggambarkan Allah sebagai kekuatan impersonal yang tidak memiliki hubungan dengan ciptaan. Allah memperhatikan tindakan manusia dan meresponsnya secara moral dan relasional.

Kata Ibrani lēḇ dan lēḇāḇ, yang sering diterjemahkan “hati,” tidak selalu menunjuk kepada organ tubuh secara fisik. Dalam banyak konteks Alkitab, “hati” merupakan pusat kehidupan batin manusia, termasuk pikiran, kehendak, keputusan, dan perasaan. Karena itu, ketika Alkitab berbicara tentang “hati Allah,” ungkapan tersebut tidak boleh dipahami sebagai pernyataan bahwa Allah memiliki organ biologis seperti manusia.

Bahasa tersebut justru mengajarkan sesuatu yang penting tentang relasi Allah dengan manusia. Dosa bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan impersonal, tetapi merupakan pemberontakan terhadap Allah yang hidup. Karena itu, kesedihan Allah dalam Kejadian 6 menyatakan betapa seriusnya kerusakan moral manusia di hadapan-Nya.

Allah “Cemburu”: Bukan Kecemburuan karena Rasa Tidak Aman

Keluaran 34:14 berkata, “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Jika kata “cemburu” langsung disamakan dengan kecemburuan manusia, pembaca dapat membayangkan Allah merasa terancam oleh keberadaan allah lain. Namun, konteks perjanjian menunjukkan makna yang berbeda.

Kata Ibrani qannāʾ digunakan dalam konteks kesetiaan Allah terhadap hubungan perjanjian. Israel telah dipanggil untuk menyembah TUHAN dan tidak mengikuti allah-allah lain. Karena itu, kecemburuan Allah dalam konteks ini berkaitan dengan tuntutan kesetiaan, bukan rasa iri terhadap sesuatu yang dimiliki pihak lain.

Perjanjian membantu menjelaskan hal tersebut. Dalam hubungan perjanjian, ketidaksetiaan Israel kepada allah lain bukan sekadar pilihan spiritual yang netral, melainkan pelanggaran terhadap hubungan yang telah dibentuk Allah. Karena itu, bahasa “cemburu” menyatakan keseriusan Allah dalam mempertahankan kesetiaan umat-Nya kepada-Nya.

Dengan demikian, pembaca perlu membedakan kecemburuan yang lahir dari rasa tidak aman dengan kecemburuan yang berkaitan dengan kesetiaan yang benar. Alkitab menggunakan istilah manusia yang sama, tetapi konteks teologisnya berbeda. Bahasa tersebut membantu manusia memahami bahwa Allah tidak bersikap netral terhadap penyembahan dan kesetiaan umat-Nya.

Allah “Mencari” dan “Bertanya” kepada Manusia

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Kejadian 3:9 berkata bahwa TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?” Jika pertanyaan tersebut dipahami sebagai permintaan informasi karena Allah tidak mengetahui lokasi Adam, maka gambaran tentang Allah akan bertentangan dengan banyak kesaksian Alkitab mengenai pengetahuan-Nya. Karena itu, pertanyaan tersebut perlu dipahami dalam fungsi naratif dan relasionalnya.

Allah mengetahui keberadaan Adam, tetapi pertanyaan tersebut membawa Adam keluar dari persembunyiannya dan menghadap kepada Allah. Pertanyaan itu membuka percakapan tentang keadaan manusia setelah dosa. Hal yang sama dapat ditemukan dalam banyak pertanyaan Allah kepada manusia di berbagai bagian Alkitab, di mana pertanyaan tidak selalu dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang tidak diketahui oleh Allah.

Ayub 38:2–3 memberikan contoh penting. Allah bertanya kepada Ayub mengenai dasar bumi dan berbagai hal mengenai ciptaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti Allah sedang belajar dari Ayub. Sebaliknya, pertanyaan itu mengarahkan Ayub untuk menyadari keterbatasan pengetahuan manusia dibandingkan dengan kebijaksanaan dan pemerintahan Allah.
Dengan demikian, pertanyaan Allah dalam Alkitab dapat mempunyai fungsi pedagogis, yaitu mengajar manusia melalui pertanyaan, dan fungsi yudisial, yaitu membawa manusia mempertanggungjawabkan tindakannya. Bahasa pertanyaan tidak selalu berarti Allah kekurangan informasi. Sering kali justru manusialah yang perlu memperoleh pemahaman melalui pertanyaan tersebut.

“Tangan Allah”: Gambaran tentang Kuasa dan Tindakan

Alkitab sering menggunakan “tangan Allah” untuk menggambarkan kuasa dan tindakan-Nya. Yesaya 48:13 berkata bahwa tangan Allah telah meletakkan dasar bumi dan tangan kanan-Nya membentangkan langit. Mazmur 95:5 berkata, “Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan tangan-Nyalah yang membentuk daratan.”

Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa ayat-ayat tersebut merupakan uraian anatomi tentang Allah. Tangan manusia digunakan untuk melakukan pekerjaan, membentuk sesuatu, memberikan, menolong, atau menghukum. Karena itu, “tangan Allah” menjadi gambaran yang mudah dipahami untuk menyatakan kuasa aktif Allah dalam penciptaan dan pemerintahan.

Mazmur 145:15–16 bahkan berkata bahwa mata semua orang menantikan Allah dan Allah membuka tangan-Nya serta mengenyangkan segala yang hidup. Gambaran tersebut menghubungkan “tangan” dengan pemberian dan pemeliharaan. Bahasa tubuh digunakan untuk menyatakan tindakan nyata Allah terhadap ciptaan.

Dengan demikian, antropomorfisme tidak membuat pernyataan Alkitab menjadi tidak benar. Sebaliknya, antropomorfisme memungkinkan kebenaran tentang Allah disampaikan melalui kategori pengalaman manusia. Yang harus dihindari adalah mengubah gambaran tersebut menjadi kesimpulan bahwa Allah secara biologis memiliki tubuh seperti manusia.

Allah Hadir di Tempat Tertentu tanpa Dibatasi oleh Tempat

Alkitab kadang-kadang berbicara tentang kehadiran Allah secara sangat khusus di tempat tertentu. Misalnya, dalam kisah Sinai, Allah menyatakan diri-Nya kepada Israel di gunung. Dalam kisah bait Allah, Yerusalem menjadi tempat yang memiliki makna khusus bagi penyembahan Israel. Namun, kehadiran khusus tersebut tidak berarti bahwa Allah dapat dikurung oleh suatu lokasi.

1 Raja-raja 8:27 menyatakan, “Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya, langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidaklah dapat memuat Engkau.” Pernyataan Salomo sangat penting karena bait Allah baru saja menjadi pusat ibadah Israel, tetapi Salomo sendiri mengakui bahwa keberadaan Allah tidak dapat dibatasi oleh bangunan tersebut.
Mazmur 139:7–10 menyatakan bahwa tidak ada tempat yang dapat membuat manusia melarikan diri dari Roh Allah. Jika manusia naik ke langit, Allah ada di sana; jika ia turun ke dunia orang mati, Allah juga ada di sana. Bahasa tersebut memperlihatkan keluasan kehadiran Allah tanpa harus mengajarkan bahwa Allah tersebar secara material seperti benda yang memenuhi ruang.

Karena itu, ketika Alkitab mengatakan Allah “turun,” “datang,” atau “hadir” di suatu tempat, ungkapan tersebut dapat menunjuk kepada penyataan atau manifestasi kehadiran Allah dalam suatu konteks tertentu. Kehadiran khusus tidak sama dengan keterbatasan ruang. Allah dapat menyatakan diri secara khusus tanpa kehilangan sifat-Nya sebagai Allah yang tidak dibatasi oleh tempat.

Alkitab Juga Menegaskan bahwa Allah Bukan Manusia

Semua bahasa antropomorfis harus dibaca bersama ayat-ayat yang secara eksplisit membedakan Allah dari manusia. Bilangan 23:19 berkata, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.” Hosea 11:9 mengatakan, “Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu.” Kedua teks tersebut memberikan batas penting dalam menafsirkan bahasa manusia tentang Allah.

Pernyataan tersebut tidak berarti manusia tidak dapat mengetahui apa pun tentang Allah. Sebaliknya, Alkitab justru memberikan banyak pengetahuan tentang karakter, kehendak, tindakan, dan hubungan Allah dengan ciptaan. Yang ditegaskan adalah bahwa pengetahuan manusia tentang Allah tidak boleh menjadikan Allah sama dengan manusia.

Perjanjian Baru melanjutkan prinsip tersebut. Yohanes 4:24 mengatakan, “Allah itu Roh.” Yohanes 1:18 menyatakan bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah, sedangkan 1 Timotius 6:16 berbicara tentang Allah sebagai Dia yang bersemayam dalam terang yang tak terhampiri dan yang tidak pernah dilihat manusia. Pernyataan-pernyataan ini perlu dibaca bersama gambaran antropomorfis dalam Perjanjian Lama agar pembaca memahami bahwa bahasa tubuh tentang Allah tidak boleh dipakai untuk menyimpulkan bahwa Allah adalah makhluk jasmani seperti manusia.

Yesus Juga Menggunakan Bahasa Relasional untuk Menjelaskan Allah

Penggunaan bahasa manusia tentang Allah tidak berhenti dalam Perjanjian Lama. Yesus sendiri mengajarkan manusia berdoa, “Bapa kami yang di sorga” (Matius 6:9). Sebutan “Bapa” merupakan bahasa relasional yang sangat kuat. Sebutan tersebut menyatakan hubungan, perhatian, pemeliharaan, dan otoritas, bukan berarti Allah adalah seorang laki-laki biologis seperti ayah manusia.
Matius 6:26 berkata bahwa Bapa di surga memberi makan burung-burung di udara, sedangkan manusia jauh lebih berharga daripada burung-burung tersebut. Bahasa ini menunjukkan pemeliharaan Allah dengan menggunakan hubungan yang dapat dipahami manusia. Dalam Matius 6:32, Yesus kembali berkata bahwa Bapa di surga mengetahui kebutuhan manusia. Jadi, bahasa tentang Allah sebagai Bapa tidak mengurangi keilahian-Nya, melainkan memberikan cara relasional bagi manusia untuk memahami hubungan dengan-Nya.

Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15 juga menggunakan gambaran seorang ayah yang menerima anaknya. Perumpamaan tersebut tidak berarti setiap detail perilaku tokoh manusia di dalam perumpamaan merupakan uraian lengkap tentang seluruh hakikat Allah. Tujuan perumpamaan adalah menyampaikan kebenaran tertentu tentang kasih, pertobatan, penerimaan, dan sukacita atas orang yang kembali.

Hal ini menunjukkan kesinambungan penting antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kedua bagian Alkitab menggunakan bahasa manusia untuk menyatakan kebenaran tentang Allah. Namun, Perjanjian Baru membawa penyataan tersebut kepada kepenuhan yang berkaitan dengan Yesus Kristus, tanpa mengubah Allah menjadi makhluk manusiawi.

Allah Mengetahui Hati Manusia tanpa Membutuhkan Tubuh untuk Mengamati

1 Samuel 16:7 berkata, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Pernyataan tersebut sangat penting karena menunjukkan perbedaan antara cara manusia mengetahui seseorang dan cara Allah mengetahui manusia. Manusia sering kali hanya dapat menilai berdasarkan penampilan dan tindakan yang terlihat, sedangkan Allah mengetahui bagian batin manusia yang tidak dapat dilihat oleh manusia lain.

1 Raja-raja 8:39 juga menyatakan bahwa hanya Allah yang mengenal hati semua anak manusia. Yeremia 17:10 berkata bahwa Allah menyelidiki hati dan menguji batin. Bahasa “menyelidiki” dan “menguji” tidak harus dipahami sebagai Allah melakukan pemeriksaan karena Ia belum memiliki pengetahuan tentang manusia. Bahasa tersebut menegaskan kedalaman pengetahuan Allah dan kemampuan-Nya menilai manusia secara sempurna.

Dalam terang Mazmur 139, pengetahuan Allah bahkan meliputi pikiran dan perkataan manusia. Pemazmur menyatakan bahwa sebelum lidahnya mengucapkan sesuatu, Allah telah mengetahuinya. Kesaksian seperti ini memperlihatkan bahwa bahasa penglihatan dan penyelidikan Allah menyampaikan pengetahuan ilahi, bukan proses pengumpulan informasi seperti yang dilakukan manusia.

“Gambar dan Rupa Allah” Tidak Berarti Allah Memiliki Tubuh Manusia

Kejadian 1:27 berkata bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam bahasa Ibrani terdapat kata ṣelem, yang berkaitan dengan gambar atau representasi. Pernyataan tersebut memberikan dasar penting bagi martabat manusia, tetapi tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa Allah mempunyai tubuh yang sama dengan manusia.

Jika “gambar Allah” berarti tubuh manusia adalah salinan fisik Allah, maka berbagai pernyataan Alkitab bahwa Allah bukan manusia dan bahwa Allah adalah Roh akan menjadi sulit dipertahankan. Karena itu, konsep gambar Allah perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas mengenai manusia sebagai ciptaan yang memiliki tanggung jawab khusus dalam dunia ciptaan. Kejadian 1:28 menghubungkan manusia dengan tugas untuk memenuhi bumi, menaklukkannya, dan memelihara ciptaan dalam kerangka mandat yang diberikan Allah.

Dengan demikian, manusia dapat disebut sebagai gambar Allah tanpa Allah harus memiliki tubuh manusiawi. Manusia merepresentasikan sesuatu tentang Allah dalam kapasitasnya sebagai ciptaan yang menerima tanggung jawab khusus. Hal tersebut juga menjelaskan mengapa bahasa manusia dapat digunakan untuk berbicara tentang Allah: manusia diciptakan dalam hubungan khusus dengan Penciptanya, tetapi tetap merupakan ciptaan dan bukan Allah.

Dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru: Allah yang Sama

Pembahasan tentang bahasa manusia mengenai Allah tidak boleh menghasilkan kesan bahwa Allah dalam Perjanjian Lama berbeda dari Allah dalam Perjanjian Baru. Alkitab menyajikan satu kesaksian yang berkesinambungan mengenai Allah yang kudus, adil, penuh kasih, panjang sabar, dan berdaulat. Perbedaan bentuk bahasa dan konteks sejarah tidak berarti bahwa karakter Allah berubah dari satu bagian Alkitab ke bagian lainnya.

Perjanjian Lama menyatakan bahwa Allah penuh kasih setia. Keluaran 34:6 menggambarkan Allah sebagai penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kesetiaan. Perjanjian Baru juga menegaskan kasih Allah secara sangat kuat, misalnya dalam Yohanes 3:16 dan 1 Yohanes 4:8. Karena itu, gambaran Allah yang marah dalam Perjanjian Lama tidak boleh dipertentangkan secara sederhana dengan Allah yang penuh kasih dalam Perjanjian Baru.

Demikian pula, Perjanjian Baru tidak menghapus kekudusan dan penghakiman Allah. Roma 1:18 berbicara tentang murka Allah terhadap kefasikan, sedangkan Wahyu menggambarkan penghakiman Allah terhadap kejahatan. Pada saat yang sama, Perjanjian Lama juga memiliki banyak teks tentang belas kasihan Allah. Mazmur 103:8 berkata bahwa TUHAN penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Karena itu, bahasa tentang kemarahan, penyesalan, kasih, belas kasihan, dan penghakiman harus dibaca dalam kesatuan kesaksian Alkitab. Jangan menggunakan satu kelompok ayat untuk menghapus kelompok ayat yang lain. Sebaliknya, semua teks tersebut perlu ditempatkan dalam gambaran yang lebih besar tentang Allah yang kudus, adil, penuh kasih, berdaulat, dan setia.

Bahasa Manusia tentang Allah Benar, tetapi Tidak Exhaustive

Ada dua kesalahan yang sama-sama perlu dihindari. Kesalahan pertama adalah membaca setiap ungkapan tentang Allah secara material dan harfiah, seolah-olah Allah memiliki tubuh biologis, bergerak dalam ruang seperti manusia, memperoleh informasi secara bertahap, dan mengalami keterbatasan pengetahuan seperti manusia. Kesalahan kedua adalah menganggap semua bahasa antropomorfis hanya sebagai kiasan kosong sehingga manusia sebenarnya tidak dapat mengetahui apa pun tentang Allah.

Kesaksian Alkitab tidak mendukung kedua ekstrem tersebut. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah melihat, pernyataan itu benar-benar mengajarkan bahwa Allah mengetahui dan memperhatikan. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah mendengar, pernyataan tersebut benar-benar mengajarkan bahwa Allah memperhatikan seruan manusia dan bertindak. Ketika Alkitab berbicara tentang Allah yang marah, pernyataan tersebut benar-benar mengajarkan adanya penolakan ilahi terhadap dosa dan respons penghakiman terhadap kejahatan.

Namun, kebenaran tersebut tidak berarti bahwa manusia telah memahami Allah secara lengkap. Bahasa manusia bersifat terbatas karena manusia adalah ciptaan dan Allah adalah Pencipta. Karena itu, bahasa Alkitab memberikan pengetahuan yang benar tentang Allah tanpa memberikan pengetahuan yang exhaustif, yaitu pengetahuan yang mencakup seluruh keberadaan Allah tanpa sisa.

Prinsip ini penting karena manusia tidak dapat mengukur Allah sepenuhnya dengan pengalaman manusia. Kita dapat memahami apa yang Allah nyatakan tentang diri-Nya, tetapi kita tidak dapat mengubah kategori manusia menjadi ukuran yang membatasi Allah. Alkitab sendiri mengajarkan bahwa jalan dan pikiran Allah melampaui manusia, sebagaimana ditegaskan dalam Yesaya 55:8–9.

Perubahan dalam Tindakan Tidak Sama dengan Perubahan dalam Hakikat

Salah satu prinsip paling penting dari keseluruhan pembahasan adalah perlunya membedakan antara perubahan tindakan Allah dalam sejarah dan perubahan hakikat Allah. Alkitab memang menggambarkan Allah merespons tindakan manusia secara berbeda pada keadaan yang berbeda. Allah dapat menghukum orang yang berdosa, mengampuni orang yang bertobat, memberikan berkat kepada orang yang taat, atau menunda penghukuman ketika manusia merendahkan diri.
Perubahan tersebut nyata dalam sejarah. Yeremia 18:7–10 dan Yunus 3:10 tidak perlu dibuat seolah-olah perubahan tindakan tersebut tidak pernah terjadi. Alkitab justru ingin pembaca memahami bahwa pertobatan manusia sungguh mempunyai konsekuensi dan bahwa doa serta respons manusia memiliki tempat dalam karya Allah.

Namun, perubahan tindakan tersebut tidak berarti Allah berubah menjadi Allah yang berbeda. Karakter Allah tetap menjadi dasar dari semua respons tersebut. Allah menghakimi karena Ia kudus dan adil, mengampuni karena Ia penuh kasih dan belas kasihan, serta mempertahankan janji karena Ia setia.

Karena itu, ketika Alkitab mengatakan Allah “berubah pikiran,” “menyesal,” atau “tidak jadi” melakukan sesuatu, pembaca harus terlebih dahulu bertanya: Apa yang berubah dalam tindakan Allah, dan apa yang tidak berubah dalam karakter Allah? Pertanyaan tersebut membantu menghindari kesimpulan bahwa setiap perubahan tindakan berarti ketidakstabilan Allah.

Cara Membaca Bahasa tentang Allah secara Bertanggung Jawab

Dari seluruh kesaksian Alkitab, terdapat beberapa prinsip yang dapat digunakan ketika menemukan ungkapan yang tampaknya menggambarkan Allah seperti manusia. Pertama, perhatikan jenis teksnya: apakah itu narasi, puisi, metafora, nubuat, hikmat, atau pernyataan langsung. Kedua, perhatikan konteks dekatnya karena arti sebuah kata sering kali ditentukan oleh kalimat dan peristiwa di sekitarnya.

Ketiga, perhatikan konteks yang lebih luas dalam kitab tersebut. Sebuah ungkapan tentang Allah dalam satu ayat tidak boleh dipisahkan dari penjelasan mengenai Allah dalam pasal-pasal lain. Keempat, bandingkan dengan kesaksian Alkitab secara keseluruhan. Jika sebuah pembacaan terhadap satu ayat bertentangan dengan banyak pernyataan Alkitab yang lebih jelas, pembacaan tersebut perlu diperiksa kembali.

Kelima, perhatikan fungsi bahasa yang digunakan. Jika “tangan Allah” muncul dalam konteks karya penciptaan, tanyakan apa yang ingin dinyatakan tentang kuasa Allah. Jika “mata Allah” muncul dalam konteks penilaian, tanyakan apa yang dikatakan mengenai pengetahuan dan perhatian Allah. Jika “hati Allah” muncul dalam konteks dosa manusia, tanyakan apa yang dikatakan mengenai respons moral Allah terhadap kejahatan.

Keenam, dalam kasus kata-kata Ibrani atau Yunani, jangan menganggap bahwa satu kata selalu memiliki satu arti yang sama dalam setiap ayat. Sebuah kata memiliki rentang makna, dan konteks menentukan penggunaan tertentu dalam suatu ayat. Karena itu, mengetahui kata bahasa asli memang membantu, tetapi tidak boleh digunakan secara mekanis untuk memaksakan sebuah kesimpulan ke dalam teks.

Ketujuh, bedakan antara apa yang benar-benar dikatakan teks dan kesimpulan filosofis yang mungkin dibangun setelahnya. Misalnya, ketika Kejadian 6:6 berkata bahwa Allah menyesal, teks memang menyatakan adanya respons Allah terhadap keadaan manusia. Namun, kesimpulan bahwa Allah tidak mengetahui masa depan adalah langkah interpretatif tambahan yang harus diuji terhadap seluruh kesaksian Alkitab mengenai pengetahuan Allah.

Prinsip Akhir dari Kesaksian Alkitab

Keseluruhan kesaksian Alkitab menunjukkan bahwa Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada manusia dengan bahasa yang dapat dipahami manusia. Karena manusia terbatas, Alkitab menggunakan bahasa penglihatan, pendengaran, gerakan, hati, tangan, wajah, emosi, hubungan, dan tindakan. Bahasa tersebut memungkinkan manusia mengenal Allah secara nyata tanpa mengharuskan manusia menyimpulkan bahwa Allah adalah manusia atau makhluk jasmani.

Karena itu, ketika Alkitab berkata Allah “berjalan,” kita perlu melihat konteks kehadiran-Nya. Ketika Alkitab berkata Allah “melihat” atau “mendengar,” kita perlu memahami pengetahuan dan perhatian-Nya. Ketika Allah dikatakan “mengingat,” kita perlu melihat tindakan kesetiaan-Nya. Ketika Allah “menyesal,” kita perlu memperhatikan konteks respons-Nya terhadap dosa, pertobatan, doa, dan keadaan sejarah.

Ketika Allah “marah,” bahasa tersebut menyatakan kekudusan dan keadilan-Nya terhadap dosa. Ketika Allah “berduka,” bahasa tersebut menunjukkan bahwa hubungan Allah dengan manusia bukan hubungan yang impersonal. Ketika Allah disebut “cemburu,” konteks perjanjian menunjukkan tuntutan kesetiaan kepada-Nya. Semua gambaran tersebut mempunyai makna teologis yang nyata, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai uraian biologis mengenai Allah.

Pada akhirnya, Alkitab mengajarkan manusia untuk mengenal Allah melalui apa yang Allah sendiri nyatakan, bukan dengan memaksa Allah masuk ke dalam batas pengalaman manusia. Allah dapat dipahami sejauh Ia menyatakan diri-Nya, tetapi Ia tidak dapat direduksi menjadi manusia. Bahasa Alkitab tentang Allah karena itu harus diterima dengan serius, dibaca dengan konteks, dibandingkan dengan seluruh kesaksian Kitab Suci, dan dipahami sebagai bahasa yang benar-benar menyatakan sesuatu tentang Allah sekaligus mengakui keterbatasan manusia dalam memahami-Nya.

Penjelasan Teologis

Mengapa Teologi Diperlukan untuk Memahami Bahasa tentang Allah?

Setelah melihat berbagai contoh bahasa Alkitab tentang Allah, langkah berikutnya adalah memahami bagaimana semuanya dapat disatukan dalam kerangka teologis yang konsisten. Teologi adalah usaha untuk memahami, menyusun, dan menjelaskan kesaksian Alkitab secara teratur sehingga berbagai pernyataan tentang Allah tidak dipahami secara terpisah-pisah. Karena itu, teologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan Alkitab, melainkan membantu pembaca melihat hubungan antara berbagai kesaksian Alkitab tentang Allah. Dalam pembahasan mengenai bahasa manusia tentang Allah, teologi diperlukan karena Alkitab dapat menggunakan bahasa seperti “marah”, “menyesal”, “mengingat”, “melihat”, “mendengar”, “berjalan”, atau “tangan Allah”, sementara pada saat yang sama Alkitab juga menegaskan bahwa Allah bukan manusia dan tidak dapat disamakan dengan ciptaan.

Bilangan 23:19 memberikan dasar penting ketika Bileam menyatakan bahwa Allah bukan manusia sehingga Ia berdusta dan bukan anak manusia sehingga Ia menyesal. Hosea 11:9 juga menunjukkan perbedaan antara Allah dan manusia ketika Allah menyatakan bahwa Ia adalah Allah dan bukan manusia. Kedua bagian tersebut tidak berarti bahwa semua bahasa yang menggambarkan Allah dengan istilah manusia harus dianggap salah, karena Alkitab sendiri menggunakan bahasa tersebut ketika berbicara mengenai Allah. Ayat-ayat tersebut justru menolong pembaca memahami bahwa istilah manusia yang digunakan untuk Allah harus dipahami dengan mempertimbangkan perbedaan mendasar antara Sang Pencipta dan ciptaan.

Dengan demikian, persoalan utama bukan apakah Alkitab boleh menggunakan bahasa manusia untuk Allah, melainkan bagaimana bahasa tersebut harus dipahami. Jika semua istilah dibaca secara harfiah dengan cara yang sama seperti ketika istilah itu digunakan untuk manusia, pembaca dapat membentuk gambaran tentang Allah yang bertentangan dengan kesaksian Alkitab secara keseluruhan. Sebaliknya, jika semua bahasa tentang Allah dianggap sekadar simbol yang tidak menyampaikan sesuatu yang benar mengenai Allah, maka penyataan Alkitab kehilangan maknanya. Teologi berusaha menjaga kedua sisi tersebut sekaligus, yaitu mengakui bahwa bahasa Alkitab sungguh menyatakan kebenaran tentang Allah, tetapi menyadari bahwa cara keberadaan Allah tidak identik dengan cara keberadaan manusia.

Allah Tidak Terbatas, sedangkan Manusia Terbatas

Salah satu dasar terpenting dalam memahami bahasa tentang Allah adalah perbedaan antara Allah dan manusia. Manusia adalah makhluk yang diciptakan, terbatas dalam pengetahuan, ruang, waktu, kekuatan, dan pengalaman, sedangkan Allah adalah Pencipta yang tidak bergantung pada ciptaan. Kejadian 1:1 membuka kesaksian Alkitab dengan menyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi, sehingga Allah tidak ditempatkan sebagai bagian dari ciptaan yang harus dijelaskan keberadaannya melalui sesuatu yang lebih tinggi daripada diri-Nya. Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan inilah yang harus menjadi dasar ketika pembaca menemukan bahasa manusia yang digunakan untuk menjelaskan tindakan Allah.

1 Raja-raja 8:27 menyatakan bahwa langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, tidak dapat memuat Allah. Ayat tersebut tidak bermaksud menyatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang sangat besar secara fisik, melainkan menegaskan bahwa keberadaan Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang ciptaan. Yesaya 55:8–9 kemudian menggambarkan tingginya jalan dan rancangan Allah dibandingkan jalan dan rancangan manusia. Kedua bagian tersebut membantu pembaca memahami bahwa ketika Alkitab menggunakan konsep yang dikenal manusia untuk berbicara tentang Allah, konsep tersebut harus dipahami dengan memperhatikan ketidakterbatasan Allah.

Dalam Yohanes 4:24, Yesus menyatakan bahwa Allah adalah Roh. Pernyataan tersebut sangat penting karena menunjukkan bahwa Allah tidak dapat dipahami sebagai makhluk biologis yang memiliki tubuh seperti manusia. Yohanes 1:18 juga menegaskan bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah, sementara 1 Timotius 6:16 berbicara tentang Allah sebagai Pribadi yang tidak dapat dilihat manusia. Oleh sebab itu, ketika Alkitab berbicara mengenai mata, telinga, tangan, wajah, kaki, atau tindakan tubuh Allah, pembaca perlu memahami bahwa bahasa tersebut tidak boleh secara otomatis diperlakukan sebagai uraian anatomi mengenai tubuh Allah.

Bahasa tentang Allah Bersifat Analogis

Dalam teologi, salah satu cara untuk menjelaskan persoalan ini adalah melalui konsep bahasa analogis. Bahasa analogis berarti suatu istilah dapat digunakan untuk Allah dan manusia karena terdapat hubungan makna yang nyata, tetapi cara keberadaan yang dimaksud tidak harus identik. Misalnya, ketika Alkitab menyatakan bahwa manusia memiliki pengetahuan dan Allah mengetahui, kata “mengetahui” tidak kehilangan maknanya ketika diterapkan kepada Allah, tetapi pengetahuan Allah tidak memiliki keterbatasan seperti pengetahuan manusia. Dengan demikian, terdapat kesamaan yang cukup untuk membuat bahasa tersebut benar, sekaligus terdapat perbedaan yang cukup untuk mencegah manusia menyamakan Allah dengan dirinya.

Mazmur 139:1–4 memberikan gambaran yang kuat tentang pengetahuan Allah terhadap manusia. Pemazmur menyatakan bahwa Allah menyelidiki dan mengenal dirinya, mengetahui ketika ia duduk dan berdiri, serta memahami pikirannya dari jauh. Bahasa tersebut menggunakan konsep yang dapat dipahami manusia, yaitu mengenal dan mengetahui, tetapi konteksnya menunjukkan bahwa pengetahuan Allah jauh melampaui kemampuan pengamatan manusia. Karena itu, bahasa tentang pengetahuan Allah tidak boleh dianggap tidak bermakna hanya karena pengetahuan Allah berbeda dari pengetahuan manusia.

Hal yang sama dapat diterapkan pada bahasa mengenai kasih, kekudusan, keadilan, kemarahan, dan kesetiaan Allah. Ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah mengasihi, kata “mengasihi” memiliki hubungan dengan konsep kasih yang dikenal manusia, tetapi kasih Allah tidak boleh diukur hanya berdasarkan pengalaman emosional manusia. Yohanes 3:16 menyatakan bahwa Allah mengasihi dunia dan memberikan Anak-Nya yang tunggal, sedangkan 1 Yohanes 4:8 menyatakan bahwa Allah adalah kasih. Karena itu, bahasa tentang kasih Allah sungguh menyatakan sesuatu yang benar mengenai Allah, tetapi realitas kasih Allah lebih sempurna daripada bentuk kasih manusia yang terbatas.

Antropomorfisme dan Antropopatisme

Dua istilah yang berguna dalam pembahasan ini adalah antropomorfisme dan antropopatisme. Antropomorfisme adalah penggunaan bahasa atau gambaran manusiawi, khususnya bahasa tubuh dan tindakan manusia, untuk menjelaskan Allah, sedangkan antropopatisme adalah penggunaan bahasa yang menggambarkan Allah dengan istilah yang berkaitan dengan perasaan atau keadaan afektif manusia. Istilah-istilah tersebut bukan istilah yang harus ditakuti oleh pembaca, karena keduanya hanya membantu menjelaskan pola bahasa yang memang ditemukan dalam Alkitab. Namun, kedua istilah itu juga tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk mengabaikan makna yang hendak disampaikan oleh teks Alkitab.

Ketika Mazmur 34:16 berbicara tentang mata Tuhan yang tertuju kepada orang-orang benar dan telinga-Nya kepada teriak mereka, bahasa tersebut menyampaikan bahwa Allah mengetahui dan memperhatikan umat-Nya. Ketika Yesaya 59:1 menyatakan bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan telinga-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar, yang ditekankan adalah kemampuan Allah untuk bertindak dan mendengar permohonan manusia. Bahasa tubuh tersebut memiliki pesan teologis yang nyata. Karena itu, mengatakan bahwa bahasa tersebut antropomorfis tidak berarti mengatakan bahwa bahasa tersebut tidak benar, melainkan menjelaskan bahwa kebenaran yang disampaikan tidak harus berupa gambaran anatomi tentang Allah.

Demikian pula, ketika Alkitab berbicara tentang Allah yang marah, berduka, atau menyesal, bahasa tersebut menyampaikan sesuatu mengenai hubungan Allah dengan tindakan moral manusia. Keluaran 34:6–7 menyatukan beberapa sifat Allah sekaligus, yaitu penyayang, pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kesetiaan, tetapi juga tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman. Hal ini menunjukkan bahwa kasih, kekudusan, keadilan, dan respons Allah terhadap dosa tidak boleh dipisahkan secara sembarangan. Bahasa tentang emosi Allah harus dibaca dalam kesatuan dengan seluruh kesaksian Alkitab mengenai karakter-Nya.

Apakah Allah Benar-Benar Memiliki Emosi?

Pertanyaan mengenai emosi Allah memerlukan kehati-hatian karena kata “emosi” biasanya dikaitkan dengan pengalaman psikologis manusia. Manusia dapat berubah dari senang menjadi sedih, dari tenang menjadi marah, atau dari percaya diri menjadi takut karena menerima informasi baru atau mengalami perubahan keadaan. Allah tidak dapat dipahami dengan cara yang sama, karena Alkitab menggambarkan-Nya sebagai Pribadi yang sempurna, Mahatahu, dan tidak bergantung pada keadaan di luar diri-Nya. Oleh sebab itu, ketika Alkitab berbicara mengenai kasih, murka, kesedihan, atau belas kasihan Allah, bahasa tersebut harus dipahami sebagai penyataan yang benar tentang sikap dan karakter Allah, bukan sebagai gambaran bahwa Allah mengalami ketidakstabilan psikologis seperti manusia.

Keluaran 34:6–7 merupakan salah satu dasar penting untuk memahami hal tersebut karena ayat ini tidak menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang hanya memiliki kasih atau hanya memiliki kemarahan. Allah penuh kasih setia sekaligus kudus dan adil. Mazmur 103:8–10 kembali menyatakan bahwa Tuhan penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, tetapi tidak berarti bahwa dosa dianggap tidak penting. Kesatuan ini membantu pembaca memahami bahwa respons Allah terhadap manusia selalu sesuai dengan karakter-Nya yang sempurna.

Roma 1:18 juga menyatakan bahwa murka Allah nyata terhadap segala kefasikan dan kelaliman manusia. Murka Allah dalam ayat tersebut bukanlah ledakan emosi yang kehilangan kendali, melainkan respons kudus terhadap kejahatan. Hal ini penting karena jika kemarahan Allah disamakan begitu saja dengan kemarahan manusia, pembaca dapat menganggap Allah bertindak secara impulsif. Alkitab justru menggambarkan murka Allah dalam hubungan dengan kekudusan, keadilan, dan penghakiman-Nya.

Ketidakberubahan Allah dan Perubahan dalam Tindakan-Nya

Salah satu persoalan teologis yang paling penting dalam topik ini adalah hubungan antara ketidakberubahan Allah dan berbagai tindakan Allah yang tampaknya berubah dalam sejarah. Ketidakberubahan Allah berarti bahwa Allah tidak berubah dalam hakikat-Nya, karakter-Nya, kesempurnaan-Nya, dan kesetiaan-Nya. Maleakhi 3:6 mencatat perkataan Tuhan, “Bahwasanya Aku, Tuhan, tidak berubah,” sedangkan Yakobus 1:17 menyatakan bahwa pada Allah tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Kedua kesaksian ini menjadi dasar bahwa perubahan yang muncul dalam narasi Alkitab tidak boleh langsung dipahami sebagai perubahan dalam hakikat Allah.

Namun, ketidakberubahan Allah tidak berarti bahwa Allah selalu melakukan tindakan yang sama terhadap setiap manusia dalam setiap keadaan. Yeremia 18:7–10 menunjukkan bahwa Allah dapat menyatakan suatu tindakan terhadap suatu bangsa dan kemudian bertindak berbeda ketika bangsa tersebut bertobat atau melakukan kejahatan. Perubahan tindakan tersebut terjadi dalam hubungan dengan perubahan keadaan moral manusia. Karena itu, perubahan dalam tindakan Allah tidak dengan sendirinya membuktikan perubahan dalam karakter Allah.

Contoh yang jelas terdapat dalam kisah Niniwe. Yunus 3:10 menyatakan bahwa ketika Allah melihat perbuatan mereka dan pertobatan mereka, Ia tidak jadi melaksanakan malapetaka yang telah dirancangkan-Nya. Jika teks tersebut dibaca secara dangkal, seseorang dapat menyimpulkan bahwa Allah membuat rencana yang salah lalu memperbaikinya. Namun, dalam kerangka teologis yang lebih luas, perubahan tindakan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari cara Allah menjalankan pemerintahan-Nya secara moral dan relasional. Allah yang menghukum kejahatan dan Allah yang menunjukkan belas kasihan kepada orang yang bertobat bukanlah dua Allah yang berbeda, melainkan Allah yang sama yang bertindak sesuai dengan karakter-Nya.

Ketidakberubahan Tidak Sama dengan Kekakuan

Penting untuk membedakan ketidakberubahan Allah dari kekakuan. Kekakuan berarti seseorang tidak mampu atau tidak mau merespons keadaan yang berubah, sedangkan ketidakberubahan Allah berarti karakter dan kesempurnaan-Nya tidak mengalami kerusakan atau perubahan menjadi lebih baik ataupun lebih buruk. Alkitab justru menunjukkan bahwa Allah berinteraksi secara nyata dengan manusia di dalam sejarah. Karena itu, seseorang tidak boleh berpikir bahwa jika Allah tidak berubah, maka doa, pertobatan, ketaatan, atau ketidaktaatan manusia tidak memiliki arti.

Keluaran 32:11–14 merupakan contoh penting. Musa berdoa kepada Tuhan setelah bangsa Israel membuat anak lembu emas, dan ayat 14 menyatakan bahwa Tuhan menyesal tentang malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. Perikop tersebut memperlihatkan bahwa doa Musa benar-benar memiliki tempat dalam perjalanan sejarah Israel. Namun, hal itu tidak harus berarti bahwa Musa membuat Allah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui-Nya atau mengubah karakter Allah dari jahat menjadi baik.

Justru karakter Allah menjadi dasar mengapa doa Musa memiliki makna. Musa memohon berdasarkan nama, reputasi, janji, dan hubungan perjanjian Allah dengan Israel. Dengan demikian, doa tidak perlu dipahami sebagai perjuangan manusia untuk mengalahkan kehendak Allah. Doa dapat dipahami sebagai salah satu sarana yang Allah gunakan dalam melaksanakan kehendak-Nya di dalam sejarah.

Kemahatahuan Allah dan Bahasa tentang “Menyesal”

Kemahatahuan berarti bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara sempurna, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Yesaya 46:9–10 menegaskan bahwa Allah memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan sejak zaman purbakala apa yang belum terlaksana. Mazmur 139:4 juga menunjukkan bahwa sebelum perkataan pemazmur ada di lidahnya, Allah telah mengetahuinya seluruhnya. Karena itu, istilah “menyesal” ketika diterapkan kepada Allah tidak dapat begitu saja disamakan dengan penyesalan manusia yang muncul karena Allah baru mengetahui bahwa suatu keputusan ternyata salah.

Kejadian 6:5–6 memberikan konteks penting. Manusia telah menjadi sangat jahat di bumi, dan hati manusia cenderung kepada kejahatan semata-mata. Dalam konteks tersebut, Kejadian 6:6 menyatakan bahwa Tuhan menyesal telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hati-Nya. Penekanan narasi berada pada kedalaman respons Allah terhadap kerusakan moral manusia. Bahasa tersebut memperlihatkan bahwa dosa bukan sesuatu yang dianggap sepele oleh Allah.

Hal ini tidak bertentangan dengan kemahatahuan Allah apabila “menyesal” dipahami sebagai bahasa relasional dan historis yang menyatakan respons Allah terhadap keadaan manusia. Bilangan 23:19 memang membedakan Allah dari manusia yang dapat berdusta dan berubah pikiran karena keterbatasan. Dengan demikian, kedua jenis teks tersebut harus dipertahankan bersama, bukan dipertentangkan secara tergesa-gesa.

Kedaulatan Allah dan Respons-Nya terhadap Manusia

Kedaulatan Allah berarti bahwa Allah memiliki otoritas tertinggi atas ciptaan dan tidak menjadi bawahan dari kekuatan lain. Namun, kedaulatan tidak berarti bahwa manusia menjadi robot yang tidak memiliki tanggung jawab. Alkitab secara bersamaan berbicara tentang pemerintahan Allah dan tanggung jawab manusia. Roma 9:20–21 menekankan hak Allah sebagai Pencipta, sementara manusia tetap dipanggil untuk bertobat, percaya, taat, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Hubungan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia juga tampak dalam kisah doa. Ketika manusia berdoa, ia tidak sedang memberi Allah informasi yang sebelumnya tidak diketahui-Nya. Yesus sendiri berkata dalam Matius 6:8 bahwa Bapa mengetahui apa yang diperlukan manusia sebelum mereka meminta kepada-Nya. Namun, dalam ayat yang sama Yesus tetap mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa.

Hal ini menunjukkan bahwa doa memiliki tempat dalam pemerintahan Allah. Allah dapat menetapkan bukan hanya tujuan, tetapi juga sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Yakobus 5:16–18 menunjukkan bahwa doa orang benar mempunyai kuasa yang besar dan menghubungkan doa dengan tindakan Allah dalam sejarah. Dengan demikian, kedaulatan Allah tidak menghilangkan makna doa, tetapi justru memberikan dasar bahwa doa memiliki arti karena manusia berhubungan dengan Allah yang berkuasa dan mendengar.

Doa sebagai Bagian dari Relasi Allah dengan Manusia

Doa perlu dipahami dalam kerangka hubungan antara Allah dan manusia, bukan sebagai mekanisme untuk memaksa Allah. Jika doa dianggap sebagai alat untuk mengendalikan Allah, maka Allah seolah-olah menjadi objek yang harus ditundukkan oleh manusia. Namun, doa yang diajarkan Yesus dalam Matius 6:9–13 dimulai dengan pengakuan terhadap kekudusan nama Allah dan permohonan agar kehendak Allah terjadi. Struktur tersebut menunjukkan bahwa doa Kristen berpusat pada Allah sebelum berpusat pada kepentingan manusia.

Yesus sendiri memberikan teladan ketika berdoa di Getsemani. Matius 26:39 mencatat bahwa Yesus memohon agar cawan itu berlalu dari-Nya, tetapi kemudian menyerahkan diri kepada kehendak Bapa. Doa tersebut memperlihatkan bahwa menyampaikan permohonan kepada Allah tidak berarti menuntut Allah memenuhi permintaan tersebut sesuai keinginan manusia. Doa adalah relasi yang memungkinkan manusia menyatakan kebutuhan, ketakutan, harapan, dan permohonannya sambil tetap mengakui kedaulatan Allah.

Dalam konteks pembahasan bahasa tentang Allah, hal ini membantu menjelaskan mengapa Alkitab dapat menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang mendengar dan merespons doa. Bahasa tersebut tidak harus dipahami sebagai gambaran bahwa Allah sebelumnya tidak memiliki rencana atau tidak mengetahui kebutuhan manusia. Sebaliknya, bahasa tersebut menunjukkan bahwa Allah memilih berelasi dengan manusia secara nyata melalui doa, sehingga doa menjadi bagian dari sejarah hubungan Allah dengan umat-Nya.

Allah yang Personal tetapi Tidak Manusiawi

Allah dalam kesaksian Alkitab adalah Allah yang personal. Istilah “personal” berarti bahwa Allah bukan sekadar energi impersonal atau kekuatan tanpa kehendak, tetapi Pribadi yang mengenal, berbicara, mengasihi, memerintah, mendengar, dan berelasi. Keluaran 3:14–15 menunjukkan bahwa Allah menyatakan nama-Nya dan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Yohanes 17:3 juga berbicara tentang mengenal satu-satunya Allah yang benar dan Yesus Kristus yang telah diutus-Nya.

Namun, mengatakan bahwa Allah personal tidak berarti mengatakan bahwa Allah adalah manusia dalam bentuk yang lebih besar. Allah bukan manusia yang memiliki kebutuhan biologis, keterbatasan psikologis, dan ketergantungan seperti manusia. Yohanes 4:24 menyatakan bahwa Allah adalah Roh, sedangkan Hosea 11:9 menegaskan perbedaan antara Allah dan manusia. Karena itu, bahasa relasional dalam Alkitab harus dipertahankan tanpa mengubah Allah menjadi manusia secara harfiah.

Pembedaan ini penting karena dua kesalahan dapat muncul. Jika Allah dianggap impersonal, maka bahasa Alkitab mengenai kasih, kehendak, komunikasi, dan hubungan menjadi sulit dipahami secara utuh. Sebaliknya, jika Allah dianggap manusiawi dalam segala hal, maka kekudusan, kekekalan, kemahatahuan, dan ketidakterbatasan-Nya akan direduksi. Teologi berusaha mempertahankan gambaran Alkitab tentang Allah sebagai Pribadi yang benar-benar berelasi tetapi tetap berbeda secara mendasar dari manusia.

Allah Tidak Bergantung pada Ciptaan

Dalam pembahasan teologis, ada istilah “aseitas”. Aseitas berarti bahwa Allah tidak bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya untuk memiliki keberadaan atau menjadi Allah. Konsep ini berhubungan dengan kesaksian Alkitab bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan tidak membutuhkan ciptaan sebagai sumber keberadaan-Nya. Kisah Para Rasul 17:24–25 menyatakan bahwa Allah yang menjadikan dunia tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan sesuatu, karena Dialah yang memberikan hidup, napas, dan segala sesuatu.

Konsep ini penting ketika memahami bahasa tentang Allah yang tampaknya menunjukkan bahwa Allah membutuhkan manusia. Misalnya, Alkitab dapat berbicara mengenai Allah yang berkenan kepada pujian umat-Nya, tetapi hal itu tidak berarti Allah kekurangan sesuatu apabila manusia tidak memuji-Nya. Mazmur 50:12–13 secara kuat menolak gagasan bahwa Allah membutuhkan korban manusia untuk mempertahankan keberadaan-Nya. Allah menerima penyembahan bukan karena Ia mengalami kekurangan, melainkan karena manusia memang diciptakan untuk hidup dalam hubungan yang benar dengan Penciptanya.

Karena itu, ketika Alkitab berbicara tentang Allah yang menginginkan penyembahan, bahasa tersebut harus dipahami dalam kerangka hubungan antara Pencipta dan ciptaan. Penyembahan bukan cara manusia memenuhi kekurangan Allah. Penyembahan merupakan respons yang sesuai terhadap siapa Allah dan apa yang telah dilakukan-Nya.

Kesatuan Sifat-Sifat Allah

Dalam teologi klasik terdapat istilah “kesederhanaan ilahi” atau divine simplicity. Istilah ini bukan berarti Allah sederhana dalam arti mudah dipahami atau memiliki sedikit sifat. Kesederhanaan ilahi berarti bahwa Allah tidak tersusun dari bagian-bagian yang terpisah sebagaimana benda atau manusia tersusun dari berbagai komponen. Dengan demikian, kasih Allah, kekudusan Allah, keadilan Allah, kebenaran Allah, dan kesetiaan Allah tidak boleh dibayangkan sebagai bagian-bagian yang berdiri sendiri dan kadang-kadang saling mengalahkan.

Keluaran 34:6–7 menjadi sangat penting dalam hal ini karena dalam satu penyataan Allah terdapat belas kasihan, kasih karunia, kesabaran, kasih setia, kesetiaan, pengampunan, dan keadilan. Allah tidak perlu memilih antara menjadi kudus atau menjadi kasih, seolah-olah kedua sifat tersebut bertentangan dalam diri-Nya. Yohanes 3:16 juga menunjukkan kasih Allah melalui tindakan-Nya memberikan Anak-Nya, sementara Perjanjian Baru tetap mempertahankan keseriusan dosa dan penghakiman Allah. Karena itu, karakter Allah harus dipahami sebagai satu kesatuan.

Prinsip ini membantu menjelaskan mengapa bahasa tentang “kemarahan Allah” tidak boleh dipisahkan dari kasih-Nya, dan bahasa tentang “kasih Allah” tidak boleh dipisahkan dari kekudusan-Nya. Ketika Allah menghakimi dosa, Ia tidak berhenti menjadi kasih. Ketika Allah mengampuni orang berdosa, Ia juga tidak berhenti menjadi kudus dan adil. Seluruh tindakan Allah harus dibaca dalam kesatuan karakter-Nya.

Perubahan Bahasa Tidak Berarti Perubahan Hakikat

Narasi Alkitab bergerak melalui waktu dan menggunakan kata kerja yang menggambarkan tindakan secara berurutan. Manusia membaca bahwa Allah berkata, kemudian bertindak, kemudian menjawab doa, kemudian menghukum atau mengampuni. Urutan tersebut benar-benar menggambarkan sejarah sebagaimana dialami manusia, tetapi tidak boleh langsung disamakan dengan kesimpulan bahwa Allah mengalami perubahan pengetahuan atau karakter dari satu keadaan ke keadaan berikutnya. Inilah salah satu alasan mengapa pembacaan naratif harus dibedakan dari kesimpulan metafisis mengenai hakikat Allah.

Mazmur 90:2 menyatakan bahwa sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi serta dunia diperanakkan, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Allah adalah Allah. Ayat tersebut menempatkan keberadaan Allah melampaui sejarah manusia. Pada saat yang sama, Alkitab juga menggambarkan Allah bertindak di dalam sejarah. Dua hal ini tidak perlu dipertentangkan.

Ketika Allah menjawab doa, misalnya, perubahan terjadi pada keadaan manusia dan tindakan historis Allah, tetapi tidak harus berarti bahwa Allah berubah dari tidak mengetahui menjadi mengetahui. Demikian pula, ketika Allah mengampuni orang yang bertobat, perubahan relasi manusia dengan Allah tidak berarti bahwa karakter Allah berubah. Allah yang sama selalu bertindak sesuai dengan karakter-Nya yang konsisten.

Perspektif Waktu dan Narasi Alkitab

Manusia mengalami waktu secara berurutan. Kita mengetahui sesuatu, kemudian mengalami sesuatu yang lain, lalu merespons berdasarkan pengalaman tersebut. Bahasa naratif Alkitab mengikuti pola komunikasi manusia sehingga pembaca dapat memahami apa yang terjadi dalam sejarah. Namun, bentuk narasi tersebut tidak dengan sendirinya memberikan penjelasan lengkap tentang bagaimana Allah mengalami waktu.

Mazmur 90:4 menyatakan bahwa seribu tahun di mata Tuhan seperti hari kemarin yang telah lewat. 2 Petrus 3:8 menggunakan gambaran yang serupa ketika menjelaskan hubungan Tuhan dengan waktu. Ayat-ayat tersebut tidak boleh dipakai untuk membuat perhitungan matematis tentang bagaimana Allah mengalami waktu, tetapi menunjukkan bahwa perspektif Allah tidak dapat disamakan dengan perspektif manusia. Karena itu, ketika narasi mengatakan bahwa Allah “melihat”, “mendengar”, “datang”, atau “menjawab”, pembaca harus memperhatikan fungsi bahasa tersebut dalam cerita.

Prinsip ini sangat penting untuk teks-teks yang tampaknya menggambarkan Allah memperoleh informasi. Kejadian 22:12, misalnya, mencatat perkataan dalam konteks ujian Abraham bahwa sekarang Allah mengetahui bahwa Abraham takut akan Allah. Ayat tersebut harus dibaca dalam konteks tindakan Abraham yang menjadi nyata dalam sejarah, bukan secara tergesa-gesa digunakan untuk menyimpulkan bahwa Allah sebelumnya tidak mengetahui isi hati Abraham. Narasi sedang menunjukkan sesuatu yang menjadi nyata melalui tindakan manusia.

Penyataan Allah dan Penyesuaian Bahasa kepada Manusia

Teologi Kristen berbicara tentang “penyataan” atau wahyu Allah. Penyataan berarti tindakan Allah memperkenalkan diri dan kehendak-Nya kepada manusia sehingga manusia dapat mengenal-Nya. Ibrani 1:1–3 menyatakan bahwa Allah dahulu berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang melalui nabi-nabi, dan pada zaman akhir berbicara kepada manusia melalui Anak-Nya. Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan manusia tanpa informasi mengenai diri-Nya.

Dalam penyataan itu, Allah menyampaikan kebenaran melalui bahasa manusia. Manusia tidak menerima wahyu dalam bentuk yang sama sekali terpisah dari kemampuan bahasa, sejarah, budaya, narasi, puisi, simbol, dan pengalaman manusia. Karena itu, ketika Alkitab berbicara mengenai tangan Allah atau hati Allah, pembaca tidak boleh menganggap bahwa bentuk bahasa manusia tersebut merupakan kegagalan wahyu. Sebaliknya, bentuk bahasa tersebut merupakan bagian dari cara manusia menerima dan memahami penyataan Allah.
Konsep ini kadang disebut “akomodasi ilahi”. Akomodasi ilahi berarti Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan cara yang dapat diterima dan dipahami oleh manusia yang terbatas. Istilah ini tidak berarti Allah menyederhanakan kebenaran sampai menjadi salah, tetapi berarti Allah berkomunikasi dalam bentuk yang sesuai dengan kapasitas manusia. Yohanes 3:12 menunjukkan keterbatasan manusia dalam memahami perkara-perkara ilahi, sementara 1 Korintus 2:11–13 menunjukkan pentingnya karya Roh Kudus dalam memahami apa yang berasal dari Allah.

Kristus sebagai Puncak Penyataan Allah

Dalam iman Kristen, pembahasan tentang bahasa manusia mengenai Allah tidak dapat berhenti pada Perjanjian Lama karena Perjanjian Baru menyatakan bahwa penyataan Allah mencapai puncak tertentu dalam diri Yesus Kristus. Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara manusia. Filipi 2:6–8 berbicara tentang Kristus yang mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Kolose 2:9 bahkan menyatakan bahwa dalam Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.

Inkarnasi berarti peristiwa ketika Anak atau Firman Allah menjadi manusia sejati tanpa berhenti menjadi Allah. Konsep ini sangat penting karena membedakan dua hal yang sering tercampur. Di satu sisi, bahasa Alkitab yang menggambarkan Allah dengan tangan, mata, atau kaki tidak harus berarti bahwa Allah memiliki tubuh manusia; di sisi lain, dalam inkarnasi, Kristus benar-benar mengambil natur manusia.

Yohanes 1:18 menyatakan bahwa Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa menyatakan-Nya. Yohanes 14:9 juga mencatat perkataan Yesus bahwa barangsiapa telah melihat Dia, ia telah melihat Bapa, dalam konteks hubungan unik antara Anak dan Bapa. Karena itu, Kristus menjadi pusat penting dalam memahami bagaimana Allah yang tidak kelihatan menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Namun, inkarnasi tidak berarti bahwa semua bahasa antropomorfis dalam Perjanjian Lama harus diubah menjadi pernyataan bahwa Allah Bapa memiliki tubuh biologis. Inkarnasi adalah tindakan khusus dalam sejarah keselamatan ketika Sang Firman menjadi manusia. Hal tersebut tidak boleh digunakan untuk menghapus perbedaan antara Allah dan manusia. Justru inkarnasi memperlihatkan secara unik bagaimana Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia tanpa menghapus identitas ilahi-Nya.

Allah Personal dan Relasional

Allah bukan hanya dikenal melalui definisi abstrak, tetapi juga melalui hubungan-Nya dengan manusia. Dalam Alkitab, Allah memanggil Abraham, berbicara kepada Musa, mengikat perjanjian dengan Israel, mendengar doa, mengampuni orang yang bertobat, dan mengutus para nabi. Bentuk relasional ini menunjukkan bahwa Allah bukan kekuatan impersonal yang tidak memiliki kehendak. Namun, hubungan tersebut juga tidak berarti Allah menjadi bergantung kepada manusia.

Yesaya 46:9–10 menegaskan keunikan Allah dan pengetahuan-Nya mengenai masa depan. Pada saat yang sama, Yeremia 18:7–10 menggambarkan hubungan Allah dengan bangsa-bangsa secara nyata. Kedua jenis kesaksian tersebut harus dibaca bersama. Allah mengetahui dan berdaulat, tetapi Ia juga berkenan menjalankan pemerintahan-Nya melalui hubungan yang nyata dengan manusia.

Hal ini membantu menjelaskan mengapa bahasa seperti “Allah mendengar”, “Allah menjawab”, “Allah mencari”, dan “Allah memanggil” memiliki arti teologis yang penting. Bahasa tersebut menyatakan bahwa manusia tidak sedang berhubungan dengan kekuatan yang tidak berpribadi. Allah benar-benar berelasi, tetapi cara Allah berelasi tidak boleh direduksi menjadi psikologi manusia.

Bahasa tentang Tubuh dan Realitas Rohani

Bahasa tubuh dalam Alkitab sering kali memiliki fungsi teologis untuk menjelaskan tindakan atau perhatian Allah. Tangan dapat menggambarkan kuasa, mata dapat menggambarkan pengawasan, telinga dapat menggambarkan perhatian, wajah dapat menggambarkan kehadiran atau perkenanan, dan kaki dapat digunakan dalam gambaran kehadiran. Karena itu, pembaca perlu membedakan antara bentuk bahasa dan realitas yang hendak dikomunikasikan.

Mazmur 95:5 berbicara mengenai laut yang kepunyaan Tuhan dan daratan yang dibentuk oleh tangan-Nya. Yesaya 48:13 juga berbicara mengenai tangan Allah yang meletakkan dasar bumi. Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa ayat-ayat tersebut sedang mengajarkan anatomi Allah. Yang dinyatakan adalah bahwa dunia berada di bawah kuasa dan tindakan Allah sebagai Pencipta.

Prinsip tersebut juga berlaku bagi bahasa tentang wajah Allah. Bilangan 6:24–26 memohon agar Tuhan menyinari wajah-Nya atas umat-Nya dan memberikan damai sejahtera. Bahasa tersebut menyampaikan perkenanan, kehadiran, dan berkat Allah. Jika pembaca mengubahnya menjadi gambaran biologis mengenai wajah Allah, pesan teologis yang lebih penting justru dapat hilang.

Manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah

Kejadian 1:26–27 menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Ayat ini sering menjadi dasar pertanyaan apakah Allah memiliki bentuk tubuh manusia. Namun, konsep “gambar dan rupa” harus dipahami dalam konteks keseluruhan kisah penciptaan dan kesaksian Alkitab mengenai Allah.

Istilah “gambar” tidak harus berarti bahwa manusia memiliki kemiripan fisik dengan Allah. Dalam konteks teologis, manusia dipahami sebagai ciptaan yang memiliki kedudukan khusus untuk mewakili Allah dalam dunia ciptaan dan menjalankan tanggung jawab yang diberikan-Nya. Karena itu, fakta bahwa manusia memiliki mata, tangan, wajah, kaki, dan tubuh tidak cukup untuk membuktikan bahwa Allah memiliki anatomi manusia.

Prinsip ini semakin jelas karena Yohanes 4:24 menyatakan bahwa Allah adalah Roh. Dengan demikian, manusia sebagai gambar Allah harus dipahami secara lebih luas daripada kemiripan fisik. Manusia mencerminkan aspek tertentu dari maksud Allah bagi ciptaan melalui kemampuan untuk berelasi, berpikir, bertanggung jawab secara moral, dan menjalankan mandat yang diberikan Allah, tanpa berarti manusia adalah salinan biologis Allah.

Kekudusan, Kasih, dan Murka dalam Kesatuan

Salah satu kesalahan dalam memahami sifat Allah adalah memisahkan sifat-sifat-Nya seolah-olah Allah kadang-kadang menjadi kasih dan pada waktu lain menjadi kudus atau adil. Alkitab tidak memberikan gambaran seperti itu. Yesaya 6:3 menegaskan kekudusan Allah, sementara 1 Yohanes 4:8 menegaskan bahwa Allah adalah kasih. Roma 1:18 menunjukkan murka Allah terhadap kefasikan dan kelaliman, sedangkan Yohanes 3:16 menyatakan kasih Allah kepada dunia.

Jika sifat-sifat tersebut dibaca bersama, kita dapat melihat bahwa murka Allah bukan kebalikan dari kasih Allah. Murka Allah adalah respons kudus terhadap kejahatan, sedangkan kasih Allah adalah kehendak-Nya yang baik terhadap ciptaan dan khususnya manusia yang membutuhkan keselamatan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan seolah-olah Allah harus memilih antara kasih dan keadilan. Dalam karakter Allah yang sempurna, kasih dan kekudusan berjalan bersama.

Hal ini juga menjelaskan mengapa gambaran “Allah yang marah” tidak boleh digunakan untuk membangun gambaran bahwa Allah mudah tersinggung seperti manusia. Nahum 1:2–3 menggambarkan Tuhan sebagai Allah yang cemburu dan pembalas, tetapi juga panjang sabar dan besar kuasa. Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa murka Allah bukan tindakan tanpa kendali, melainkan bagian dari pemerintahan moral Allah terhadap dosa.

Pengetahuan Allah dan Keterbatasan Pengetahuan Manusia

Salah satu alasan manusia mudah salah memahami bahasa tentang Allah adalah karena manusia mencoba mengukur Allah berdasarkan pengalaman dirinya sendiri. Ayub 11:7–9 mengajukan pertanyaan mengenai apakah manusia dapat memahami Allah secara tuntas dan menggambarkan betapa jauhnya pengetahuan Allah dari kemampuan manusia. Roma 11:33–36 juga mengakhiri pembahasan Paulus tentang karya Allah dengan pengakuan mengenai dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah. Ayat-ayat tersebut tidak mengajarkan bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa pun mengenai Allah, tetapi mengingatkan bahwa pengetahuan manusia tentang Allah selalu terbatas.

Keterbatasan manusia tidak berarti bahwa penyataan Allah tidak dapat dipahami. Jika Allah tidak menyatakan diri, manusia memang tidak dapat mengenal Allah dengan benar melalui kemampuan sendiri. Namun, karena Allah menyatakan diri-Nya, manusia dapat mengenal sesuatu yang benar mengenai Allah, meskipun tidak pernah memahami-Nya secara menyeluruh.

Perbedaan antara mengetahui dan mengetahui secara menyeluruh sangat penting. Seorang manusia dapat mengetahui bahwa Allah itu kasih tanpa memahami seluruh kedalaman kasih Allah. Manusia dapat mengetahui bahwa Allah kudus tanpa mampu memahami kekudusan Allah secara tak terbatas. Dengan demikian, keterbatasan pengetahuan manusia seharusnya menghasilkan kerendahan hati dalam menafsirkan bahasa tentang Allah, bukan skeptisisme terhadap penyataan Alkitab.

Dua Bahaya dalam Menafsirkan Bahasa tentang Allah

Ada dua kecenderungan yang perlu dihindari ketika membaca bahasa manusia tentang Allah. Bahaya pertama adalah antropomorfisme yang dibaca terlalu harfiah, yaitu menganggap setiap gambaran tubuh manusia tentang Allah sebagai pernyataan biologis. Bahaya kedua adalah simbolisme yang berlebihan, yaitu menganggap semua bahasa tentang Allah tidak benar dan hanya merupakan kiasan tanpa hubungan dengan realitas Allah. Kedua pendekatan tersebut sama-sama dapat kehilangan maksud teks.

Pendekatan yang terlalu harfiah dapat menghasilkan gambaran Allah yang terbatas secara fisik. Jika “tangan Allah” dianggap sebagai tangan biologis, misalnya, maka pembaca harus menjelaskan bagaimana Allah yang tidak dibatasi ruang memiliki anatomi seperti manusia. Hal itu bertentangan dengan kesaksian mengenai Allah sebagai Roh dan tidak dapat dibatasi oleh ciptaan. Sebaliknya, jika seseorang mengatakan bahwa “tangan Allah” sama sekali tidak memiliki makna nyata, maka pesan mengenai kuasa dan tindakan Allah juga kehilangan kekuatannya.

Pendekatan yang lebih bertanggung jawab adalah bertanya apa yang sebenarnya hendak dikomunikasikan oleh teks. Bentuk bahasa dapat bersifat figuratif, tetapi realitas yang dikomunikasikan dapat sungguh-sungguh benar. Dengan demikian, “tangan Allah” dapat menyatakan kuasa Allah, “mata Allah” dapat menyatakan pengetahuan dan perhatian-Nya, dan “hati Allah” dapat menyatakan kehendak serta respons-Nya, tanpa mengharuskan Allah memiliki tubuh manusia secara biologis.

Hubungan antara Penyataan, Bahasa, dan Realitas Allah

Pada akhirnya, bahasa manusia tentang Allah harus ditempatkan di antara dua kenyataan. Pertama, Allah sungguh menyatakan diri-Nya sehingga manusia dapat mengenal sesuatu yang benar mengenai Dia. Kedua, Allah jauh melampaui kemampuan manusia untuk memahami-Nya secara menyeluruh. Ibrani 1:1–3 menegaskan bahwa Allah berbicara kepada manusia, sementara Roma 11:33–36 mengingatkan bahwa kedalaman hikmat dan pengetahuan Allah melampaui manusia. Kedua kenyataan ini harus dipertahankan bersama.

Karena itu, istilah seperti “marah”, “menyesal”, “berjalan”, “melihat”, “mendengar”, “mengingat”, atau “tangan Allah” tidak boleh dinilai hanya berdasarkan apakah istilah tersebut dapat diterapkan kepada manusia. Pertanyaan yang lebih tepat adalah bagaimana istilah tersebut digunakan dalam konteks penyataan Allah dan apa yang hendak dikomunikasikan melalui istilah tersebut. Dengan cara demikian, pembaca tidak terjebak dalam pilihan antara membaca Alkitab secara harfiah dalam segala hal atau menganggap semua bahasa tentang Allah sebagai simbol kosong. Ada jalan yang lebih bertanggung jawab, yaitu membaca bahasa tersebut sesuai genre, konteks, tujuan narasi, dan kesaksian Alkitab secara keseluruhan.

Prinsip Teologis untuk Membaca Bahasa Manusia tentang Allah

Prinsip pertama adalah membedakan antara Allah dan manusia. Bilangan 23:19 dan Hosea 11:9 mengingatkan bahwa Allah bukan manusia, sedangkan Yohanes 4:24 menyatakan bahwa Allah adalah Roh. Karena itu, istilah manusia yang diterapkan kepada Allah tidak boleh otomatis diasumsikan memiliki bentuk keberadaan yang sama. Prinsip ini menjadi pagar agar pembaca tidak menciptakan gambaran Allah berdasarkan keterbatasan manusia.

Prinsip kedua adalah membaca setiap istilah berdasarkan konteksnya. Kata “menyesal” dalam Kejadian 6:6 harus dibaca bersama dengan konteks kejahatan manusia, sedangkan “menyesal” dalam Keluaran 32:14 harus dibaca dalam konteks doa Musa dan hubungan perjanjian. Kata yang sama atau konsep yang serupa dapat memiliki nuansa yang berbeda dalam konteks yang berbeda. Karena itu, pembaca tidak boleh membangun doktrin hanya berdasarkan satu kata tanpa memperhatikan keseluruhan perikop.

Prinsip ketiga adalah membaca Alkitab secara keseluruhan. Bilangan 23:19 tidak boleh dipakai untuk menghapus Kejadian 6:6, dan Kejadian 6:6 tidak boleh dipakai untuk menghapus kesaksian tentang kemahatahuan Allah. Demikian pula, ayat tentang kasih Allah tidak boleh digunakan untuk menghilangkan kekudusan dan keadilan-Nya, sementara ayat tentang murka Allah tidak boleh digunakan untuk menghilangkan kasih dan belas kasihan-Nya. Doktrin yang sehat harus mempertimbangkan seluruh kesaksian Alkitab.
Prinsip keempat adalah membedakan perubahan dalam tindakan dari perubahan dalam hakikat. Yeremia 18:7–10 menunjukkan bahwa Allah dapat bertindak berbeda ketika manusia berubah secara moral. Maleakhi 3:6 dan Yakobus 1:17 menunjukkan bahwa karakter dan keberadaan Allah tidak berubah seperti ciptaan. Perbedaan ini memungkinkan pembaca memahami narasi tentang Allah yang “berubah pikiran” atau “mengurungkan” hukuman tanpa langsung menyimpulkan bahwa Allah tidak konsisten.

Prinsip kelima adalah mempertahankan makna bahasa tanpa memaksakan bentuk fisiknya. Jika Alkitab berbicara tentang tangan Allah, pembaca perlu menangkap realitas kuasa dan tindakan Allah yang dikomunikasikan melalui gambaran tersebut. Jika Alkitab berbicara tentang telinga Allah, pembaca perlu menangkap perhatian dan pendengaran Allah terhadap manusia. Dengan demikian, pembacaan figuratif tidak berarti pembacaan yang tidak benar.

Implikasi bagi Cara Memahami Karakter Allah

Pemahaman yang tepat mengenai bahasa manusia tentang Allah memiliki konsekuensi langsung terhadap cara orang Kristen mengenal karakter Allah. Jika bahasa tentang Allah dibaca terlalu manusiawi, Allah dapat dipandang seperti manusia yang mudah berubah, mudah tersinggung, membutuhkan pengakuan, atau menyesali keputusan karena kesalahan informasi. Gambaran seperti itu tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab mengenai Allah yang Mahatahu, kudus, setia, dan tidak berubah dalam karakter-Nya. Sebaliknya, jika semua bahasa relasional dihilangkan, Allah dapat dipandang sebagai realitas abstrak yang jauh dan tidak berhubungan dengan manusia.

Alkitab memberikan gambaran yang lebih kaya. Allah adalah Roh, tetapi Ia berbicara dan mendengar. Allah tidak berubah dalam hakikat-Nya, tetapi Ia bertindak dalam sejarah. Allah Mahatahu, tetapi Ia mengundang manusia untuk berdoa. Allah tidak membutuhkan manusia, tetapi Ia berkenan mengikat perjanjian dengan manusia. Allah melampaui ciptaan, tetapi Ia juga hadir dan bekerja di tengah ciptaan.

Keseimbangan ini sangat penting bagi kehidupan iman. Orang percaya dapat datang kepada Allah dalam doa karena Allah sungguh mendengar. Orang percaya dapat bertobat karena Allah sungguh menunjukkan belas kasihan kepada orang yang kembali kepada-Nya. Orang percaya juga dapat mempercayai janji Allah karena karakter-Nya tidak berubah. Dengan demikian, pemahaman teologis tentang bahasa manusia mengenai Allah bukan hanya persoalan akademis, tetapi berhubungan langsung dengan cara manusia mengenal, menyembah, dan mempercayai Allah.

Mengapa Bahasa Manusia Tetap Penting dalam Mengenal Allah?

Jika bahasa manusia tentang Allah memiliki keterbatasan, bukan berarti manusia harus berhenti berbicara tentang Allah. Justru karena Allah menyatakan diri-Nya, manusia memiliki dasar untuk menggunakan bahasa yang benar mengenai Dia. Alkitab sendiri memberikan contoh yang sangat luas tentang bagaimana manusia dapat berbicara mengenai Allah berdasarkan penyataan yang diterimanya. Bahasa manusia menjadi alat yang memungkinkan kebenaran ilahi diterima oleh manusia yang terbatas.

Mazmur penuh dengan bahasa yang sangat relasional dan puitis tentang Allah, sementara kitab-kitab sejarah menggunakan bahasa naratif dan para nabi menggunakan gambaran yang kuat. Perjanjian Baru kemudian menggunakan bahasa yang lebih lanjut untuk menjelaskan karya Kristus, keselamatan, kerajaan Allah, dan Roh Kudus. Keberagaman bahasa tersebut tidak menunjukkan bahwa manusia gagal mengenal Allah, tetapi menunjukkan kekayaan cara Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Karena itu, tugas pembaca bukan menghapus bahasa manusia dari pembicaraan tentang Allah, melainkan menggunakannya secara bertanggung jawab. Kita dapat mengatakan bahwa Allah mengasihi, mendengar, melihat, berduka, atau murka karena Alkitab sendiri menggunakan bahasa tersebut. Namun, kita harus selalu mengingat bahwa kasih, pengetahuan, kekudusan, dan respons Allah tidak terbatas seperti pengalaman manusia.

Kesimpulan Teologis

Secara teologis, bahasa manusia tentang Allah dapat dipahami dengan baik apabila tiga hal dipertahankan secara bersamaan. Pertama, Allah sungguh menyatakan diri-Nya sehingga bahasa Alkitab mengenai Dia menyampaikan kebenaran yang nyata. Kedua, Allah berbeda secara mendasar dari manusia sehingga istilah manusia yang diterapkan kepada-Nya tidak selalu memiliki cara keberadaan yang sama seperti pada manusia. Ketiga, seluruh bahasa tersebut harus dibaca dalam terang keseluruhan kesaksian Alkitab mengenai hakikat, karakter, tindakan, dan penyataan Allah.

Dengan kerangka tersebut, bahasa tentang Allah yang “marah” tidak harus berarti Allah kehilangan kendali seperti manusia, tetapi menyatakan respons kudus-Nya terhadap dosa. Bahasa tentang Allah yang “menyesal” tidak harus berarti Allah membuat kesalahan karena kurang mengetahui masa depan, tetapi dapat menyatakan kedalaman respons-Nya terhadap perubahan moral manusia dan keadaan sejarah. Bahasa tentang Allah yang “berjalan”, “melihat”, “mendengar”, atau memiliki “tangan” tidak harus berarti Allah mempunyai tubuh biologis, tetapi menyatakan kehadiran, perhatian, pengetahuan, kuasa, dan tindakan-Nya dalam bentuk yang dapat dipahami manusia.

Pada akhirnya, teologi tidak dipanggil untuk menghapus misteri Allah, tetapi untuk menolong manusia berbicara tentang Allah dengan setia terhadap penyataan-Nya. Ayub 11:7–9 mengingatkan bahwa manusia tidak dapat memahami Allah secara tuntas, sedangkan Ibrani 1:1–3 menunjukkan bahwa Allah benar-benar telah berbicara kepada manusia. Karena itu, sikap yang paling tepat bukan kesombongan seolah-olah manusia telah memahami Allah sepenuhnya, dan bukan pula skeptisisme seolah-olah manusia tidak dapat mengetahui apa pun tentang Allah. Sikap yang tepat adalah menerima apa yang telah Allah nyatakan, menafsirkannya dengan cermat, dan mengakui dengan rendah hati bahwa realitas Allah selalu lebih besar daripada kemampuan manusia untuk memahami-Nya.

Kesimpulan

Pertanyaan mengenai bagaimana memahami sifat-sifat Allah yang digambarkan dengan bahasa manusia, seperti marah, menyesal, berjalan, melihat, mendengar, atau memiliki tangan, pada akhirnya mengarahkan kita kepada satu prinsip mendasar: manusia mengenal Allah melalui penyataan yang disampaikan dalam bahasa yang dapat dipahami manusia. Alkitab tidak menghindari penggunaan bahasa manusia ketika berbicara tentang Allah, tetapi pada saat yang sama Alkitab juga dengan jelas membedakan Allah dari manusia. Karena itu, pembaca tidak boleh memperlakukan setiap ungkapan mengenai Allah seolah-olah merupakan uraian biologis atau psikologis tentang Allah. Bahasa tersebut harus dipahami berdasarkan konteks, jenis sastra, tujuan penulis, keseluruhan kesaksian Alkitab, serta perbedaan antara keberadaan Allah dan keberadaan manusia.

Pembahasan mengenai antropomorfisme dan antropopatisme membantu menjelaskan mengapa Alkitab dapat menggunakan bahasa tubuh dan bahasa perasaan manusia ketika berbicara tentang Allah. Antropomorfisme adalah penggunaan gambaran manusiawi, khususnya tubuh atau tindakan manusia, untuk menyampaikan sesuatu tentang Allah, sedangkan antropopatisme adalah penggunaan bahasa yang berkaitan dengan perasaan manusia untuk menggambarkan respons Allah. Istilah-istilah tersebut tidak berarti bahwa apa yang dikatakan Alkitab tentang Allah adalah kebohongan atau sekadar cerita simbolis yang tidak memiliki hubungan dengan kenyataan. Sebaliknya, bahasa tersebut menyampaikan kebenaran mengenai Allah dalam bentuk yang dapat dipahami oleh manusia yang terbatas.

Hal ini menjadi semakin jelas ketika kita memperhatikan kesaksian Alkitab yang menyatakan bahwa Allah bukan manusia. Bilangan 23:19 menegaskan bahwa Allah bukan manusia sehingga Ia berdusta atau berubah seperti manusia, sedangkan Hosea 11:9 kembali membedakan Allah dari manusia. Yohanes 4:24 menyatakan bahwa Allah adalah Roh, dan 1 Timotius 6:16 menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang tidak dapat dilihat manusia. Karena itu, ketika Alkitab menggunakan bahasa seperti “tangan Allah”, “mata Allah”, atau “kaki Allah”, pembaca harus terlebih dahulu mencari realitas yang hendak disampaikan oleh bahasa tersebut, bukan langsung menyimpulkan bahwa Allah memiliki tubuh biologis seperti manusia.

Prinsip yang sama berlaku ketika Alkitab menggunakan bahasa mengenai emosi Allah. Ketika Kejadian 6:6 mengatakan bahwa Tuhan menyesal telah menjadikan manusia dan hal itu memilukan hati-Nya, ayat tersebut menyatakan kedalaman respons Allah terhadap kejahatan manusia. Namun, ayat itu tidak harus dipahami sebagai pengakuan bahwa Allah sebelumnya tidak mengetahui apa yang akan dilakukan manusia atau bahwa Allah membuat keputusan yang keliru karena keterbatasan pengetahuan. Kesaksian tersebut harus dibaca bersama dengan ayat-ayat yang menyatakan kemahatahuan Allah, seperti Mazmur 139:1–4 dan Yesaya 46:9–10, serta dengan Bilangan 23:19 yang membedakan Allah dari manusia yang dapat berubah karena keterbatasan.

Demikian pula, bahasa tentang Allah yang “menyesal” dalam beberapa bagian Alkitab tidak boleh dipahami secara terpisah dari tindakan Allah di dalam sejarah. Keluaran 32:11–14 memperlihatkan Musa berdoa bagi Israel dan kemudian mencatat bahwa Tuhan menyesal tentang malapetaka yang dirancangkan-Nya terhadap umat itu. Yeremia 18:7–10 juga menunjukkan bahwa tindakan Allah terhadap suatu bangsa berkaitan dengan respons moral bangsa tersebut, sedangkan Yunus 3:10 memperlihatkan bahwa Allah tidak jadi melaksanakan hukuman terhadap Niniwe setelah melihat pertobatan mereka. Kesaksian-kesaksian tersebut menunjukkan bahwa Allah benar-benar berelasi dengan manusia dan bertindak di dalam sejarah, tetapi perubahan tindakan historis tidak harus dipahami sebagai perubahan dalam hakikat, karakter, kesetiaan, atau pengetahuan Allah.

Dengan demikian, ketidakberubahan Allah tidak boleh disamakan dengan ketidakmampuan Allah untuk bertindak secara berbeda dalam keadaan yang berbeda. Maleakhi 3:6 menyatakan bahwa Tuhan tidak berubah, dan Yakobus 1:17 menegaskan bahwa pada Allah tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Ayat-ayat tersebut memberikan dasar bagi keyakinan bahwa karakter Allah tetap dapat dipercaya. Pada saat yang sama, Alkitab menunjukkan bahwa Allah dapat mengampuni, menghukum, menunda hukuman, menjawab doa, atau bertindak dengan cara yang berbeda sesuai dengan keadaan manusia tanpa berarti bahwa Allah berubah menjadi Pribadi yang berbeda.

Pemahaman tersebut juga menolong kita melihat hubungan antara kedaulatan Allah dan doa manusia. Allah tidak membutuhkan doa untuk memperoleh informasi yang sebelumnya tidak diketahui-Nya, karena Yesus sendiri menyatakan dalam Matius 6:8 bahwa Bapa mengetahui apa yang diperlukan manusia sebelum mereka meminta kepada-Nya. Namun, Yesus tetap mengajarkan manusia untuk berdoa, dan Yakobus 5:16–18 menunjukkan bahwa doa sungguh memiliki tempat dalam tindakan Allah. Dengan demikian, doa bukan alat untuk mengendalikan Allah, melainkan bagian dari hubungan yang Allah kehendaki antara diri-Nya dan manusia serta salah satu sarana yang digunakan-Nya dalam menjalankan kehendak-Nya di dalam sejarah.

Pembahasan ini juga menunjukkan pentingnya membedakan Allah sebagai Pribadi dari manusia sebagai ciptaan. Allah bersifat personal, artinya Ia memiliki kehendak, mengenal, berbicara, mendengar, mengasihi, dan berelasi, tetapi Allah bukan manusia dalam bentuk yang lebih besar. Kisah Para Rasul 17:24–25 menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta yang tidak bergantung pada pelayanan manusia seolah-olah Ia kekurangan sesuatu. Karena itu, ketika Alkitab berbicara tentang Allah yang menginginkan penyembahan, mendengar doa, atau berkenan kepada ketaatan manusia, hal tersebut harus dipahami dalam kerangka relasi antara Pencipta dan ciptaan, bukan sebagai kebutuhan Allah untuk memperoleh sesuatu yang tidak Ia miliki.

Pada akhirnya, seluruh pembahasan ini mengarahkan kita kepada Kristus sebagai pusat penyataan Allah dalam iman Kristen. Ibrani 1:1–3 menyatakan bahwa Allah yang dahulu berbicara melalui para nabi pada zaman akhir telah berbicara melalui Anak-Nya, sedangkan Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Firman telah menjadi manusia. Inkarnasi menunjukkan bahwa Allah sungguh menyatakan diri-Nya kepada manusia dalam sejarah tanpa berarti bahwa Allah dapat direduksi menjadi manusia. Karena itu, memahami bahasa manusia tentang Allah harus dilakukan dengan tetap menghormati misteri Allah sekaligus menerima penyataan-Nya dengan sungguh-sungguh.

Kesimpulannya, bahasa manusia tentang Allah tidak boleh dibaca secara terlalu harfiah dan tidak boleh pula dianggap tidak memiliki kebenaran. Ketika Alkitab berbicara tentang mata, telinga, tangan, wajah, hati, kemarahan, kesedihan, atau penyesalan Allah, bahasa tersebut menyampaikan sesuatu yang benar mengenai pengetahuan, perhatian, kuasa, kehadiran, kehendak, kekudusan, kasih, dan respons Allah terhadap ciptaan. Namun, cara Allah mengetahui, mengasihi, hadir, bertindak, dan merespons tidak identik dengan cara manusia melakukan hal-hal tersebut. Karena itu, pembacaan yang bertanggung jawab adalah pembacaan yang mempertahankan dua kebenaran sekaligus: Allah sungguh dapat dikenal melalui penyataan-Nya, tetapi Allah tidak pernah dapat dipahami secara tuntas hanya berdasarkan kategori manusia.

Refleksi Praktis

Belajar Mengenal Allah Tanpa Membentuk Allah Menurut Gambaran Diri Sendiri

Pemahaman mengenai bahasa manusia tentang Allah seharusnya membuat kita lebih berhati-hati ketika membentuk gambaran tentang Allah. Manusia memiliki kecenderungan untuk memahami segala sesuatu berdasarkan pengalaman sendiri, termasuk ketika berbicara mengenai Allah. Jika seseorang pernah mengalami kemarahan manusia yang kasar, misalnya, ia dapat dengan mudah membayangkan bahwa kemarahan Allah memiliki sifat yang sama, padahal Alkitab menggambarkan murka Allah dalam hubungan dengan kekudusan dan keadilan-Nya. Karena itu, kita perlu membiarkan Alkitab membentuk pengenalan kita terhadap Allah, bukan menjadikan pengalaman manusia sebagai ukuran utama untuk menentukan siapa Allah.

Hal ini juga berlaku ketika kita membaca tentang kasih Allah. Kasih manusia dapat bercampur dengan kepentingan pribadi, perubahan perasaan, ketakutan kehilangan, atau keinginan untuk mendapatkan balasan. Kasih Allah tidak boleh diukur hanya berdasarkan pola tersebut. Yohanes 3:16 menunjukkan kasih Allah melalui pemberian Anak-Nya, sedangkan 1 Yohanes 4:9–10 menjelaskan kasih Allah melalui tindakan-Nya yang mengutus Anak-Nya bagi manusia. Karena itu, semakin kita mengenal kasih Allah melalui Alkitab, semakin kita belajar bahwa kasih Allah tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengalaman emosional manusia.

Tidak Takut kepada Allah Seolah-olah Ia Mudah Berubah

Kesalahan memahami bahasa tentang kemarahan atau penyesalan Allah dapat membuat seseorang membayangkan Allah sebagai Pribadi yang tidak dapat diprediksi. Seseorang mungkin berpikir bahwa sedikit kesalahan akan membuat Allah langsung berubah dari mengasihi menjadi membenci, atau bahwa satu kegagalan akan membuat Allah membatalkan seluruh hubungan-Nya dengan manusia. Gambaran seperti itu perlu dikoreksi oleh kesaksian Alkitab mengenai kesetiaan Allah. Mazmur 103:8–14 menggambarkan Tuhan sebagai penyayang, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia.

Ini bukan berarti dosa tidak serius. Alkitab tetap berbicara dengan sangat tegas mengenai kekudusan Allah dan konsekuensi dosa. Namun, keseriusan dosa harus ditempatkan dalam kerangka karakter Allah secara keseluruhan, bukan digunakan untuk membangun gambaran tentang Allah sebagai Pribadi yang berubah-ubah tanpa dasar. Ketika kita memahami Allah secara lebih utuh, rasa takut yang tidak sehat dapat digantikan oleh penghormatan, pertobatan, dan kepercayaan kepada Allah yang kudus sekaligus penuh kasih.

Membawa Doa dengan Keyakinan, Bukan dengan Keinginan Mengendalikan Allah

Pemahaman mengenai doa juga dapat mengubah cara kita datang kepada Allah. Jika kita menganggap doa sebagai cara untuk memaksa Allah melakukan apa yang kita inginkan, maka doa mudah berubah menjadi usaha untuk mengendalikan Allah. Sebaliknya, jika kita memahami bahwa Allah sudah mengetahui kebutuhan kita tetapi tetap mengundang kita untuk berdoa, maka doa dapat menjadi tindakan kepercayaan. Matius 6:8–10 menunjukkan bahwa doa berlangsung dalam kesadaran bahwa Bapa mengetahui kebutuhan manusia dan bahwa kehendak-Nya harus menjadi pusat permohonan.

Karena itu, kita dapat menyampaikan permohonan dengan sungguh-sungguh tanpa menganggap bahwa jawaban doa harus selalu sesuai dengan keinginan kita. Kita dapat meminta kesembuhan, pertolongan, pekerjaan, pemulihan hubungan, jalan keluar dari kesulitan, atau kebutuhan lainnya, tetapi kita tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah. Teladan Yesus di Getsemani dalam Matius 26:39 menunjukkan bahwa doa dapat berisi permohonan yang sungguh-sungguh sekaligus penyerahan kepada kehendak Bapa. Sikap tersebut membuat doa bukan sekadar daftar permintaan, melainkan sebuah hubungan kepercayaan dengan Allah.

Belajar Bertobat dengan Serius

Jika Allah dalam Alkitab digambarkan sebagai Pribadi yang merespons pertobatan manusia, maka manusia tidak boleh menganggap pertobatan sebagai sesuatu yang tidak berarti. Yeremia 18:7–10 menunjukkan bahwa sikap manusia memiliki hubungan dengan tindakan Allah dalam sejarah, sedangkan Yunus 3:5–10 memperlihatkan bahwa penduduk Niniwe merespons pemberitaan Yunus dengan pertobatan. Hal ini menunjukkan bahwa panggilan untuk bertobat bukan sekadar formalitas keagamaan. Pertobatan adalah perubahan arah hidup yang membawa manusia kembali kepada kehendak Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, pertobatan berarti berani mengakui dosa tanpa membenarkannya dan bersedia meninggalkan jalan yang salah. Pertobatan juga berarti percaya bahwa belas kasihan Allah lebih besar daripada keinginan manusia untuk menyembunyikan kesalahan. Namun, pertobatan bukan alasan untuk meremehkan dosa dengan berpikir bahwa pengampunan membuat dosa tidak penting. Justru karena Allah kudus dan kasih-Nya nyata, manusia dipanggil untuk memperlakukan pertobatan sebagai perubahan hidup yang sungguh-sungguh.

Tidak Menggunakan Pengalaman Pribadi sebagai Ukuran Mutlak tentang Allah

Ada saat-saat ketika pengalaman hidup membuat seseorang merasa bahwa Allah jauh, diam, marah, atau tidak peduli. Perasaan tersebut nyata sebagai pengalaman manusia, tetapi pengalaman tersebut tidak boleh secara otomatis dijadikan kesimpulan mengenai karakter Allah. Mazmur menunjukkan bahwa orang percaya dapat mengalami pergumulan, pertanyaan, dan perasaan seolah-olah Allah jauh, sementara pada saat yang sama pemazmur tetap mengarahkan dirinya kepada kesetiaan Allah. Mazmur 13, misalnya, memperlihatkan pergumulan yang kemudian bergerak menuju kepercayaan kepada kasih setia Tuhan.

Karena itu, ketika perasaan kita berubah, kita perlu membedakan antara perubahan pengalaman manusia dan perubahan karakter Allah. Hari ini seseorang mungkin merasa dekat dengan Allah, sementara pada hari lain ia merasa tidak merasakan apa-apa dalam doa. Perubahan tersebut tidak otomatis berarti Allah berubah. Prinsip ini dapat memberikan keteguhan ketika pengalaman spiritual kita naik turun, karena dasar iman bukan hanya apa yang kita rasakan pada suatu hari, melainkan siapa Allah sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya dalam firman-Nya.

Membaca Alkitab dengan Lebih Teliti

Pembahasan mengenai bahasa manusia tentang Allah juga mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dari satu ayat. Sebuah ayat harus dibaca dalam konteks paragraf, pasal, kitab, dan keseluruhan kesaksian Alkitab. Perbedaan antara Kejadian 6:6, Bilangan 23:19, Keluaran 32:14, dan Yeremia 18:7–10 menunjukkan bahwa berbagai teks mengenai respons Allah harus dipertimbangkan bersama. Cara membaca seperti ini membantu kita menghindari kesimpulan yang dibangun hanya berdasarkan satu ungkapan tanpa mempertimbangkan kesaksian Alkitab yang lebih luas.

Kebiasaan membaca secara teliti juga penting bagi setiap orang yang ingin menggunakan Alkitab sebagai dasar pengajaran. Kita perlu bertanya siapa yang berbicara, kepada siapa perkataan itu ditujukan, apa konteksnya, apa masalah yang sedang dibahas, dan bagaimana ayat tersebut berhubungan dengan bagian lain dalam Alkitab. Dengan demikian, membaca Alkitab bukan hanya mencari kalimat yang mendukung pendapat kita. Membaca Alkitab berarti bersedia membiarkan keseluruhan kesaksian firman Tuhan mengoreksi cara berpikir kita.

Menjaga Kerendahan Hati dalam Berteologi

Semakin seseorang mempelajari Allah, semakin penting pula kerendahan hati. Pengetahuan teologis dapat menjadi berkat ketika membantu manusia memahami Alkitab dengan lebih baik, tetapi pengetahuan tersebut dapat menjadi masalah apabila membuat seseorang merasa telah memahami Allah secara sempurna. Roma 11:33–36 mengingatkan kita tentang dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah. Ayub 11:7–9 juga menunjukkan bahwa manusia tidak dapat menyelami Allah sampai tuntas.

Kerendahan hati teologis bukan berarti kita tidak boleh memiliki keyakinan. Sebaliknya, kerendahan hati berarti kita membedakan antara apa yang Alkitab nyatakan dengan jelas dan apa yang masih berada dalam wilayah misteri. Kita dapat percaya bahwa Allah Mahatahu, Mahakuasa, kudus, kasih, dan tidak berubah karena Alkitab memberikan dasar yang kuat untuk hal-hal tersebut. Namun, kita juga mengakui bahwa cara keberadaan Allah melampaui kemampuan manusia untuk memahaminya secara sempurna.

Mengenal Allah yang Sama dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Pemahaman mengenai bahasa manusia tentang Allah juga membantu kita melihat kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Allah yang menyatakan diri sebagai penyayang, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia dalam Keluaran 34:6 adalah Allah yang sama yang dinyatakan dalam kasih-Nya melalui Kristus. Perjanjian Baru tidak memperkenalkan Allah yang berbeda dari Allah Perjanjian Lama. Sebaliknya, Perjanjian Baru membawa penyataan Allah kepada puncaknya melalui Yesus Kristus.

Karena itu, kita tidak perlu menciptakan pertentangan sederhana antara Allah yang “keras” dalam Perjanjian Lama dan Allah yang “lembut” dalam Perjanjian Baru. Kedua bagian Kitab Suci berbicara tentang Allah yang kudus, adil, penuh kasih, berbelas kasihan, dan setia. Perbedaan konteks, perjanjian, sejarah keselamatan, dan tujuan penulisan perlu diperhatikan ketika membaca setiap bagian. Dengan demikian, kita belajar mengenal satu Allah yang menyatakan diri-Nya secara bertahap dan konsisten dalam sejarah keselamatan.

Membiarkan Pengenalan kepada Allah Mengubah Cara Hidup

Tujuan akhir mempelajari sifat-sifat Allah bukan sekadar memiliki jawaban yang lebih baik terhadap pertanyaan teologis. Pengetahuan mengenai Allah seharusnya menghasilkan perubahan dalam cara manusia hidup di hadapan-Nya. Jika Allah kudus, manusia dipanggil untuk hidup dalam kekudusan; jika Allah penuh kasih, manusia dipanggil untuk mengasihi; jika Allah setia, manusia dipanggil untuk belajar hidup dalam kesetiaan. Pengetahuan teologis yang tidak pernah menyentuh kehidupan dapat menjadi pengetahuan yang hanya tinggal di dalam pikiran.

Karena itu, setiap kali kita membaca bahwa Allah melihat, kita dapat mengingat bahwa hidup kita tidak tersembunyi dari-Nya. Ketika kita membaca bahwa Allah mendengar, kita dapat datang kepada-Nya dalam doa. Ketika kita membaca bahwa Allah mengasihi dan mengampuni, kita dapat belajar menerima anugerah sekaligus mengampuni orang lain. Ketika kita membaca bahwa Allah kudus dan membenci dosa, kita dipanggil untuk tidak mempermainkan dosa dalam kehidupan kita sendiri.

Menyembah Allah dengan Pemahaman yang Benar

Pada akhirnya, pemahaman yang benar tentang bahasa manusia mengenai Allah seharusnya membawa manusia kepada penyembahan yang lebih dalam. Kita tidak menyembah Allah karena telah memahami seluruh keberadaan-Nya, tetapi karena Ia telah menyatakan diri-Nya dan mengizinkan manusia mengenal-Nya. Mazmur 145:3 menyatakan bahwa Tuhan itu besar dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terselami. Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa penyembahan dan kerendahan hati berjalan bersama dengan pengetahuan.

Karena itu, ketika kita menemukan ayat yang berbicara tentang Allah dengan bahasa yang sulit, kita tidak perlu segera menolak Alkitab atau membentuk gambaran Allah berdasarkan pemahaman manusia semata. Kita dapat berhenti, membaca konteksnya, membandingkannya dengan kesaksian Alkitab yang lain, dan bertanya apa yang Allah hendak nyatakan melalui bahasa tersebut. Sikap seperti ini membuat pembacaan Alkitab menjadi lebih matang, karena kita belajar menerima firman dengan iman sekaligus menyelidikinya dengan sungguh-sungguh.

Pada akhirnya, mengenal Allah berarti belajar hidup di antara dua kenyataan yang sama-sama penting: Allah sungguh dapat dikenal karena Ia menyatakan diri-Nya, tetapi Allah tidak pernah dapat dijelaskan secara tuntas oleh pikiran manusia. Kita dapat mengatakan bahwa Allah mengasihi, mendengar, melihat, berduka, murka, mengampuni, dan bertindak karena Alkitab sendiri menggunakan bahasa tersebut untuk menyatakan hubungan Allah dengan ciptaan. Namun, kita juga harus mengingat bahwa semua itu terjadi dalam kesempurnaan Allah yang melampaui keterbatasan manusia. Karena itu, semakin kita mengenal Allah melalui firman-Nya, semakin seharusnya kita bertumbuh dalam iman, kekudusan, ketaatan, penyembahan, dan kerendahan hati di hadapan-Nya.

Posting Komentar untuk "Bagaimana Memahami Sifat-Sifat Allah yang Digambarkan dengan Bahasa Manusia, seperti Marah, Menyesal, atau Berjalan?"