Jika Allah Mahakasih, Mengapa Bayi yang Tidak Bersalah Dapat Lahir dengan Cacat atau Meninggal karena Kelaparan?

Ilustrasi tentang kasih Allah, penderitaan bayi, kelaparan, dosa, salib Kristus, dan pengharapan pemulihan.

Pendahuluan

Di antara berbagai pertanyaan yang diajukan kepada iman Kristen, sedikit yang terasa lebih berat daripada pertanyaan mengenai penderitaan bayi dan anak-anak. Ketika seorang bayi lahir dengan kelainan bawaan, meninggal akibat penyakit, atau mengalami kelaparan karena keadaan di luar kendalinya, banyak orang bertanya bagaimana semua itu dapat terjadi apabila Allah benar-benar Mahakasih dan Mahakuasa. Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan intelektual, tetapi sering kali muncul dari pengalaman kehilangan, kepedihan, dan pergumulan yang sangat mendalam. Oleh karena itu, pembahasan mengenai tema ini memerlukan kesetiaan kepada Alkitab sekaligus kepekaan terhadap mereka yang sedang menderita.

Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa keberadaan penderitaan seperti ini menjadi bukti bahwa Allah tidak ada, tidak peduli, atau tidak mampu bertindak. Sebagian lainnya merasa sulit mempertahankan keyakinan bahwa Allah tetap baik ketika melihat begitu banyak penderitaan yang dialami oleh mereka yang tampaknya tidak bersalah. Pergumulan seperti ini telah muncul sepanjang sejarah dan tetap menjadi salah satu pertanyaan yang paling sulit dijawab secara memuaskan oleh akal manusia. Namun, kesulitan suatu pertanyaan tidak berarti bahwa Alkitab tidak memberikan terang untuk memahaminya.

Penting untuk diingat bahwa Alkitab tidak pernah memandang penderitaan sebagai sesuatu yang ringan. Kitab Suci memuat banyak kisah tentang orang-orang yang bergumul dengan kehilangan, penyakit, kelaparan, bencana, dan kematian. Bahkan tokoh-tokoh yang hidup dekat dengan Allah pun mengalami penderitaan yang berat tanpa segera mengetahui alasannya. Dengan demikian, Alkitab tidak mengabaikan kenyataan pahit kehidupan, tetapi mengajak pembacanya menghadapi kenyataan tersebut di dalam terang penyataan Allah.

Di dalam pelayanan-Nya, Yesus Kristus juga berhadapan langsung dengan berbagai bentuk penderitaan manusia. Ia menjumpai orang-orang yang sakit, berduka, lapar, tersisih, dan hidup dalam berbagai kelemahan. Tanggapan Yesus terhadap mereka bukanlah sikap acuh tak acuh atau penghukuman yang tergesa-gesa, melainkan belas kasihan, pertolongan, dan pengharapan. Kehadiran Yesus menunjukkan bahwa Allah tidak jauh dari penderitaan manusia, tetapi hadir untuk menyatakan kasih dan karya penyelamatan-Nya di tengah dunia yang telah rusak oleh dosa.

Artikel ini tidak bertujuan menjelaskan setiap rincian mengapa seorang bayi mengalami penderitaan tertentu, sebab Alkitab sendiri tidak memberikan jawaban khusus untuk setiap peristiwa. Sebaliknya, pembahasan ini akan menolong pembaca memahami bagaimana Alkitab menjelaskan asal mula penderitaan, bagaimana kasih Allah tetap dinyatakan di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, serta bagaimana orang percaya dapat memegang pengharapan ketika menghadapi kenyataan yang sulit dipahami. Dengan cara demikian, pembaca diajak melihat persoalan ini dalam kerangka besar karya Allah di dalam sejarah penebusan.

Mengapa Pertanyaan Ini Penting?

Pertanyaan mengenai penderitaan bayi dan anak-anak memiliki arti yang sangat penting karena menyentuh pemahaman manusia tentang karakter Allah. Jika Allah sungguh Mahakasih, mengapa dunia masih dipenuhi penderitaan yang tampaknya tidak adil? Jika Allah Mahakuasa, mengapa Ia tidak mencegah semua bentuk penderitaan sejak awal? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering menjadi dasar bagi keraguan, bahkan penolakan terhadap iman kepada Allah.

Pembahasan ini juga penting karena menyangkut cara orang percaya mendampingi mereka yang sedang mengalami dukacita. Penjelasan yang terburu-buru atau tidak didasarkan pada Alkitab dapat menambah luka bagi orang yang sedang berduka. Tidak sedikit orang pernah mendengar pernyataan bahwa setiap penderitaan pasti merupakan hukuman langsung atas dosa tertentu. Padahal, kesimpulan seperti itu tidak sejalan dengan keseluruhan kesaksian Alkitab dan dapat memberikan gambaran yang keliru mengenai Allah.

Selain itu, pertanyaan ini berkaitan dengan pengharapan Kristen terhadap masa depan. Jika penderitaan merupakan kenyataan yang tidak pernah memiliki akhir, maka manusia tidak memiliki alasan yang kuat untuk berharap. Namun, Alkitab berbicara mengenai Allah yang sedang bekerja di dalam sejarah dan yang pada akhirnya akan memperbarui seluruh ciptaan. Pengharapan tersebut tidak menghapus kenyataan penderitaan saat ini, tetapi memberikan arah dan makna bagi kehidupan orang percaya.

Pembahasan ini juga membantu membedakan antara penyebab umum penderitaan dan penyebab khusus dari suatu peristiwa. Alkitab menjelaskan bahwa dunia berada dalam keadaan yang telah dirusak oleh dosa sejak kejatuhan manusia. Akan tetapi, Kitab Suci tidak mengajarkan bahwa setiap penderitaan dapat langsung dijelaskan sebagai akibat dari dosa pribadi orang yang mengalaminya. Perbedaan ini sangat penting agar orang percaya tidak mengambil kesimpulan yang melampaui apa yang dinyatakan Allah.

Akhirnya, pertanyaan ini mengajak setiap pembaca melihat bahwa iman Kristen tidak menghindari persoalan-persoalan yang paling sulit. Alkitab tidak menutup mata terhadap penderitaan, tetapi berbicara tentang Allah yang tetap setia di tengah dunia yang penuh dengan air mata. Melalui pembahasan ini, pembaca diharapkan memahami bahwa kasih Allah tidak diukur dari sedikit atau banyaknya penderitaan yang dialami manusia, melainkan dari seluruh karya-Nya yang dinyatakan di dalam sejarah dan mencapai puncaknya melalui Yesus Kristus.

Penjelasan Berdasarkan Alkitab

Untuk memahami persoalan ini dengan benar, pembahasan harus dimulai dari gambaran Alkitab mengenai dunia pada saat penciptaan. Kitab Kejadian menyatakan bahwa ketika Allah menyelesaikan seluruh karya penciptaan-Nya, Ia melihat bahwa semuanya sungguh amat baik. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penderitaan, penyakit, kematian, dan kerusakan bukanlah bagian dari maksud Allah ketika menciptakan dunia. Dunia pada mulanya diciptakan sebagai tempat yang mencerminkan kebaikan, keteraturan, dan keharmonisan yang berasal dari Sang Pencipta.

Keadaan tersebut berubah ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Kejatuhan Adam dan Hawa bukan hanya memengaruhi hubungan mereka dengan Allah, tetapi juga membawa dampak yang luas terhadap seluruh ciptaan. Alkitab menggambarkan bahwa sejak saat itu dunia mengalami kerusakan, penderitaan, dan kematian. Dengan demikian, penderitaan yang ada di dunia tidak dapat dipahami secara terpisah dari kenyataan bahwa manusia hidup di dalam ciptaan yang telah terkena akibat dosa.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa seluruh ciptaan sama-sama mengeluh dan merasakan sakit seperti seorang perempuan yang sedang melahirkan. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kerusakan akibat dosa tidak hanya menyentuh kehidupan manusia, tetapi juga memengaruhi seluruh tatanan ciptaan. Penyakit, bencana alam, kelaparan, dan berbagai bentuk penderitaan merupakan bagian dari dunia yang belum mengalami pemulihan sepenuhnya. Alkitab tidak menyatakan bahwa Allah menciptakan semua penderitaan itu sebagai tujuan awal penciptaan, melainkan bahwa semuanya berkaitan dengan kondisi dunia yang telah jatuh.

Di dalam dunia yang telah rusak ini, penderitaan dapat menimpa siapa saja tanpa memandang usia, kedudukan, atau tingkat kesalehan. Bayi, anak-anak, orang dewasa, maupun orang lanjut usia sama-sama hidup di dalam kenyataan dunia yang belum dipulihkan sepenuhnya. Fakta ini bukan berarti Allah memperlakukan semua orang tanpa kasih, melainkan menunjukkan betapa luasnya dampak kejatuhan manusia terhadap seluruh ciptaan. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai penderitaan harus dimulai dari gambaran besar yang diberikan Alkitab mengenai kondisi dunia saat ini.

Pada saat yang sama, Alkitab dengan tegas menolak anggapan bahwa setiap penderitaan merupakan hukuman langsung atas dosa pribadi. Ketika murid-murid Yesus bertanya mengenai seorang yang buta sejak lahir, mereka menganggap bahwa kebutaan itu pasti disebabkan oleh dosa orang tersebut atau dosa orang tuanya. Namun, Yesus menolak cara berpikir tersebut dan mengarahkan perhatian mereka kepada karya Allah yang akan dinyatakan melalui peristiwa itu. Jawaban Yesus mengingatkan bahwa manusia tidak boleh dengan mudah menghubungkan setiap penderitaan dengan kesalahan pribadi seseorang.

Prinsip yang sama terlihat dalam kisah Ayub. Ayub digambarkan sebagai seorang yang hidup benar di hadapan Allah, tetapi ia tetap mengalami kehilangan yang sangat besar. Sahabat-sahabatnya berulang kali menuduh bahwa penderitaan tersebut pasti merupakan akibat dari dosa yang tersembunyi. Akan tetapi, pada akhir kitab itu Allah menegur cara berpikir mereka karena tidak mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya. Kisah Ayub mengajarkan bahwa penyebab suatu penderitaan sering kali berada di luar jangkauan pengetahuan manusia.

Melalui seluruh kesaksian tersebut, Alkitab mengajak pembaca untuk memandang penderitaan dengan kerendahan hati. Kitab Suci memang memberikan kerangka yang jelas mengenai asal mula kerusakan dunia, tetapi tidak menjelaskan alasan khusus di balik setiap penderitaan yang dialami seseorang. Dalam keadaan seperti itu, orang percaya dipanggil untuk tetap berpegang kepada karakter Allah yang benar, adil, dan penuh kasih, sekalipun tidak memahami seluruh alasan di balik setiap peristiwa yang terjadi.

Di tengah kenyataan dunia yang telah rusak, pelayanan Yesus memberikan gambaran yang sangat penting mengenai sikap Allah terhadap penderitaan manusia. Injil berulang kali mencatat bahwa Yesus digerakkan oleh belas kasihan ketika melihat orang-orang yang sakit, lapar, berduka, dan tersisih. Ia tidak memandang penderitaan sebagai sesuatu yang patut diabaikan atau dianggap tidak penting. Sebaliknya, tindakan-tindakan-Nya menunjukkan bahwa Allah memperhatikan mereka yang menderita dan bertindak menurut hikmat serta tujuan-Nya.

Salah satu peristiwa yang memperlihatkan sikap Yesus adalah ketika Ia membangkitkan anak tunggal seorang janda di Nain. Sebelum melakukan mukjizat tersebut, Yesus terlebih dahulu menunjukkan belas kasihan kepada sang ibu yang sedang berduka. Perhatian Yesus tidak hanya tertuju pada persoalan kematian, tetapi juga pada penderitaan yang dialami keluarga itu. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kasih Allah tidak bersifat abstrak, melainkan nyata dalam kepedulian terhadap manusia yang sedang mengalami kesedihan.

Demikian pula ketika Yesus memberi makan ribuan orang yang mengikuti-Nya di tempat yang sunyi. Ia mengetahui bahwa mereka mengalami kelaparan dan tidak membiarkan kebutuhan mereka diabaikan. Mukjizat tersebut bukan sekadar demonstrasi kuasa ilahi, tetapi juga ungkapan belas kasihan terhadap kebutuhan manusia. Melalui tindakan itu, Yesus memperlihatkan bahwa Allah peduli terhadap kebutuhan jasmani sekaligus rohani.

Perhatian Yesus terhadap anak-anak juga memberikan dasar yang penting dalam pembahasan ini. Injil mencatat bahwa ketika para murid berusaha menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, Yesus justru menyambut mereka dengan penuh kasih dan memberkati mereka. Sikap tersebut menunjukkan bahwa anak-anak memiliki tempat yang berharga di hadapan Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan berdasarkan Alkitab untuk menganggap bahwa Allah memandang penderitaan anak-anak dengan sikap acuh tak acuh.

Namun, penting pula disadari bahwa Yesus tidak menghapus seluruh penderitaan yang ada selama pelayanan-Nya di dunia. Masih banyak orang yang tetap sakit, mengalami kemiskinan, atau akhirnya meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa mukjizat-mukjizat Yesus bukan dimaksudkan untuk menghilangkan seluruh penderitaan pada masa itu, melainkan menjadi tanda bahwa Kerajaan Allah telah hadir dan bahwa pemulihan yang sempurna akan datang pada waktu yang telah Allah tetapkan. Dengan demikian, mukjizat-mukjizat tersebut mengarahkan perhatian kepada pengharapan yang lebih besar daripada sekadar pemulihan sementara.

Puncak kasih Allah dinyatakan melalui penderitaan Yesus sendiri di kayu salib. Allah tidak memilih menyelamatkan manusia dari kejauhan tanpa memasuki kenyataan dunia yang telah rusak. Di dalam Yesus Kristus, Allah mengambil bagian dalam penderitaan manusia dan menanggung akibat dosa demi membuka jalan keselamatan. Salib menunjukkan bahwa Allah bukan sekadar memahami penderitaan manusia, tetapi juga bertindak di dalam sejarah untuk mengalahkan dosa dan kematian melalui kebangkitan Kristus.

Kebangkitan Yesus memberikan dasar bagi pengharapan orang percaya ketika menghadapi penderitaan yang belum memperoleh jawaban sepenuhnya. Kebangkitan membuktikan bahwa kematian bukanlah akhir dari rencana Allah. Oleh karena itu, sekalipun orang percaya masih hidup di tengah dunia yang penuh penderitaan, mereka memiliki pengharapan yang melampaui kenyataan hidup saat ini. Pengharapan tersebut menjadi dasar bagi ketekunan dan iman dalam menghadapi berbagai pergumulan.

Penjelasan Teologis

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa Alkitab membedakan antara keberadaan penderitaan dan karakter Allah. Keberadaan penderitaan tidak berarti Allah kehilangan kasih-Nya, sebagaimana keberadaan kejahatan tidak berarti Allah kehilangan kekudusan-Nya. Alkitab terus menyatakan bahwa Allah tetap baik sekalipun dunia telah mengalami kerusakan akibat dosa. Karena itu, penilaian terhadap karakter Allah harus didasarkan pada seluruh penyataan-Nya, bukan hanya pada satu bagian dari pengalaman manusia.

Kedaulatan Allah juga harus dipahami secara seimbang. Alkitab mengajarkan bahwa Allah memerintah atas seluruh ciptaan dan tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah. Namun, Kitab Suci tidak menjelaskan setiap alasan khusus mengapa Allah mengizinkan suatu penderitaan terjadi. Dalam banyak keadaan, manusia dipanggil untuk mengakui bahwa hikmat Allah melampaui kemampuan mereka untuk memahami seluruh rincian pekerjaan-Nya. Sikap ini bukanlah penolakan terhadap akal budi, melainkan pengakuan bahwa Sang Pencipta jauh lebih besar daripada ciptaan-Nya.

Penting pula dipahami bahwa dunia yang sekarang bukanlah bentuk akhir dari ciptaan Allah. Perjanjian Baru mengarahkan perhatian kepada pengharapan akan langit dan bumi yang baru, ketika dosa, kematian, dan penderitaan tidak lagi berkuasa. Pengharapan ini memberikan perspektif yang berbeda terhadap kehidupan saat ini. Orang percaya tidak memandang penderitaan sebagai tujuan akhir sejarah, tetapi sebagai kenyataan sementara di dalam dunia yang sedang menantikan pemulihan penuh dari Allah.

Pengharapan tersebut tidak membuat orang percaya bersikap pasif terhadap penderitaan. Justru karena Allah mengasihi manusia, gereja dipanggil menjadi alat kasih-Nya di tengah dunia. Orang percaya dipanggil memberi makan yang lapar, merawat yang sakit, menghibur yang berduka, membela mereka yang tertindas, dan menunjukkan belas kasihan kepada sesama. Tindakan-tindakan tersebut bukan menggantikan karya Allah, melainkan menjadi wujud nyata ketaatan kepada-Nya.

Pembahasan ini juga mengingatkan bahwa jawaban Alkitab terhadap penderitaan lebih banyak berpusat pada pribadi Allah daripada pada penjelasan filosofis yang lengkap. Kitab Suci tidak selalu menjawab setiap pertanyaan "mengapa", tetapi terus mengarahkan perhatian kepada Allah yang setia, adil, dan penuh kasih. Dalam banyak kisah Alkitab, penyertaan Allah menjadi sumber kekuatan bahkan ketika alasan di balik penderitaan belum diketahui. Dengan demikian, pengharapan orang percaya bertumpu pada siapa Allah, bukan pada kemampuan manusia menjelaskan seluruh misteri kehidupan.

Di dalam terang salib dan kebangkitan Kristus, penderitaan tidak lagi dipandang sebagai kenyataan yang tidak memiliki arah. Allah sanggup bekerja bahkan di tengah keadaan yang paling gelap untuk menggenapi tujuan-Nya yang baik. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan rasa sakit yang dialami manusia, tetapi untuk menegaskan bahwa penderitaan tidak memiliki kata terakhir. Kata terakhir berada di tangan Allah yang telah menyatakan kemenangan-Nya melalui Kristus.

Keseluruhan pembahasan ini memperlihatkan bahwa Alkitab menghindari dua kesalahan yang sering muncul. Di satu sisi, Kitab Suci tidak menyederhanakan penderitaan dengan memberikan jawaban yang mudah bagi setiap peristiwa. Di sisi lain, Alkitab juga tidak membiarkan penderitaan menjadi alasan untuk meragukan karakter Allah. Sebaliknya, Alkitab mengundang orang percaya untuk tetap berpegang pada kasih, keadilan, dan kesetiaan Allah sambil menantikan penggenapan janji-Nya atas seluruh ciptaan.

Kesimpulan

Pembahasan mengenai penderitaan bayi dan anak-anak membawa kita kepada salah satu misteri terdalam dalam kehidupan manusia. Alkitab tidak memberikan penjelasan rinci mengenai alasan di balik setiap peristiwa yang menyakitkan, tetapi memberikan kerangka yang jelas untuk memahaminya. Kitab Suci menyatakan bahwa dunia pada mulanya diciptakan dengan baik, kemudian mengalami kerusakan akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dalam keadaan dunia yang telah rusak itulah penderitaan, penyakit, kelaparan, dan kematian menjadi bagian dari kenyataan yang dihadapi seluruh umat manusia.

Pada saat yang sama, Alkitab tidak mengajarkan bahwa setiap penderitaan merupakan hukuman langsung atas dosa pribadi orang yang mengalaminya. Kehidupan Ayub dan pengajaran Yesus mengenai orang yang buta sejak lahir menunjukkan bahwa manusia tidak berwenang menarik kesimpulan seperti itu. Keterbatasan manusia dalam memahami alasan di balik suatu penderitaan tidak boleh diubah menjadi tuduhan terhadap mereka yang sedang menderita. Sebaliknya, Alkitab mengajak setiap orang untuk bersikap rendah hati di hadapan hikmat Allah yang melampaui pengertian manusia.

Kesaksian Kitab Suci juga memperlihatkan bahwa Allah tidak meninggalkan dunia di dalam keadaannya yang rusak. Melalui pelayanan Yesus Kristus, Allah menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang lapar, sakit, berduka, dan hidup dalam berbagai kelemahan. Puncak kasih Allah dinyatakan ketika Kristus rela menanggung penderitaan dan kematian di kayu salib demi keselamatan manusia. Kebangkitan-Nya menjadi jaminan bahwa dosa dan kematian tidak akan memiliki kemenangan yang terakhir.

Harapan yang diberikan Alkitab tidak berhenti pada penghiburan bagi kehidupan saat ini. Firman Tuhan mengarahkan pandangan orang percaya kepada penggenapan janji Allah, ketika langit dan bumi yang baru dinyatakan serta segala bentuk penderitaan, tangisan, dan kematian tidak lagi ada. Janji tersebut tidak menghapus rasa sakit yang dialami sekarang, tetapi memberikan kepastian bahwa sejarah bergerak menuju pemulihan yang telah Allah tetapkan. Dengan demikian, pengharapan Kristen berdiri di atas janji Allah yang setia, bukan pada perubahan keadaan yang bersifat sementara.

Pertanyaan mengenai penderitaan bayi akhirnya tidak membawa orang percaya kepada kesimpulan bahwa Allah berhenti mengasihi dunia. Sebaliknya, Alkitab mengarahkan perhatian kepada Allah yang tetap bekerja di tengah dunia yang telah rusak, yang menyatakan kasih-Nya melalui Kristus, dan yang akan menyempurnakan karya penebusan-Nya pada akhir zaman. Walaupun tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban yang lengkap pada masa kini, orang percaya memiliki dasar yang kuat untuk tetap mempercayai karakter Allah yang benar, adil, penuh kasih, dan setia kepada janji-janji-Nya.

Refleksi Praktis

Pembahasan ini mengingatkan orang percaya agar menghadapi penderitaan dengan kerendahan hati. Dalam banyak keadaan, keinginan untuk segera menemukan penjelasan dapat membuat seseorang mengucapkan kata-kata yang justru melukai mereka yang sedang berduka. Alkitab mengajarkan bahwa tidak semua alasan di balik penderitaan dinyatakan kepada manusia. Oleh sebab itu, kehadiran yang penuh kasih sering kali lebih berharga daripada penjelasan yang terburu-buru.

Kebenaran ini juga mendorong gereja untuk semakin nyata dalam pelayanan belas kasihan. Kasih kepada Allah harus diwujudkan melalui perhatian kepada mereka yang mengalami kelaparan, penyakit, kemiskinan, dan berbagai bentuk penderitaan lainnya. Ketika gereja melayani dengan kasih, gereja sedang mencerminkan karakter Kristus yang datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Dengan demikian, pengharapan yang diberitakan melalui Injil juga tampak dalam tindakan yang nyata terhadap sesama.

Pembahasan ini mengajak setiap orang percaya untuk memandang salib Kristus sebagai pusat pengharapan ketika menghadapi pertanyaan yang belum memperoleh jawaban sepenuhnya. Salib menunjukkan bahwa Allah tidak tinggal jauh dari penderitaan manusia, melainkan memasuki kenyataan tersebut demi membawa keselamatan. Kebangkitan Kristus kemudian memberikan keyakinan bahwa penderitaan dan kematian bukanlah akhir dari sejarah umat Allah. Oleh sebab itu, pengharapan Kristen tetap berdiri teguh sekalipun keadaan hidup belum berubah seperti yang diharapkan.

Selain itu, orang percaya dipanggil untuk memelihara pengharapan akan pemulihan yang dijanjikan Allah. Harapan tersebut tidak membuat seseorang mengabaikan tanggung jawabnya pada masa kini, tetapi justru mendorongnya hidup dengan kasih, kesetiaan, dan ketekunan. Orang yang memiliki pengharapan kepada Allah akan terdorong menjadi pembawa damai, penghiburan, dan pertolongan bagi sesamanya. Dengan cara itu, kehidupannya menjadi kesaksian mengenai kerajaan Allah yang sedang bekerja di tengah dunia.

Akhirnya, setiap kali berhadapan dengan penderitaan yang sulit dipahami, orang percaya diajak kembali kepada karakter Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Di dalam Kristus, terlihat bahwa kasih Allah tidak diukur dari ada atau tidaknya penderitaan, melainkan dari kesediaan-Nya memberikan diri-Nya bagi keselamatan manusia. Keyakinan inilah yang memberikan kekuatan untuk tetap berharap, tetap mengasihi, dan tetap percaya kepada Allah sekalipun tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban pada kehidupan sekarang. Sampai hari ketika Allah menyatakan pemulihan yang sempurna atas seluruh ciptaan, orang percaya dipanggil untuk hidup oleh iman, berpegang pada janji-Nya, dan menjadi saksi kasih-Nya di tengah dunia yang masih menantikan pembaruan.

Posting Komentar untuk "Jika Allah Mahakasih, Mengapa Bayi yang Tidak Bersalah Dapat Lahir dengan Cacat atau Meninggal karena Kelaparan?"