Mengapa Pemazmur Meminta Allah Bangun dari Tidur? [Mazmur 44:24]
Pendahuluan
Alkitab tidak hanya mencatat kisah-kisah kemenangan iman, tetapi juga memperlihatkan dengan sangat jujur pergumulan manusia ketika mengalami penderitaan, kekalahan, ketidakadilan, dan keadaan seolah-olah Allah tidak bertindak. Salah satu contoh yang sangat kuat terdapat dalam Mazmur 44:24, ketika pemazmur berseru, “Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!” Sekilas, perkataan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan serius: apakah pemazmur benar-benar menganggap Allah sedang tidur? Jika Allah adalah Allah yang tidak pernah lalai menjaga umat-Nya, mengapa seorang yang percaya kepada-Nya justru meminta Allah bangun dari tidur?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting apabila ayat ini dibaca bersama dengan kesaksian Alkitab mengenai sifat Allah. Mazmur 121:4 mengatakan bahwa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur. Yesaya 40:28 juga menyatakan bahwa Sang Pencipta tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Dengan demikian, Mazmur 44:24 tidak dapat dipahami sebagai pernyataan bahwa Allah secara harfiah sedang tertidur lalu harus dibangunkan oleh manusia. Pemazmur sedang menggunakan bahasa yang menggambarkan pengalaman manusia ketika pertolongan Allah belum terlihat, bukan sedang memberikan definisi tentang keadaan biologis Allah.
Di sinilah kita menemukan salah satu karakteristik penting dalam bahasa doa Alkitab. Bahasa doa tidak selalu berbicara dengan rumusan teologis yang abstrak, tetapi sering kali mengungkapkan pengalaman manusia secara langsung, emosional, dan bahkan sangat tajam. Pemazmur dapat menangis, bertanya, memprotes, memohon, dan mendesak Allah tanpa kehilangan keyakinannya bahwa Allah tetap menjadi Tuhan. Karena itu, seruan “Mengapa Engkau tidur?” bukan terutama sebuah pernyataan tentang keadaan Allah, melainkan sebuah ungkapan tentang keadaan umat yang merasa seolah-olah Allah tidak sedang bertindak.
Mazmur 44 secara keseluruhan membantu kita memahami maksud perkataan tersebut. Mazmur ini bukanlah doa seorang yang sama sekali tidak mengenal Allah, melainkan nyanyian komunitas umat Allah yang sedang mengalami penderitaan berat. Pada bagian awal, pemazmur mengingat karya Allah pada masa lampau, khususnya bagaimana Allah memberikan kemenangan kepada nenek moyang Israel. Namun, setelah mengingat pertolongan tersebut, pemazmur berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa generasinya sendiri sedang mengalami kekalahan dan kehinaan. Ketegangan antara pengalaman masa lalu tentang pertolongan Allah dan pengalaman masa kini tentang penderitaan itulah yang menjadi salah satu pusat pergumulan Mazmur 44.
Pemazmur bahkan menegaskan bahwa penderitaan yang dialaminya tidak dapat begitu saja dijelaskan sebagai akibat langsung dari pemberontakan terhadap Allah. Mazmur 44:18–19 menyatakan bahwa umat itu tidak melupakan Allah dan tidak berlaku curang terhadap perjanjian-Nya. Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa manusia dapat mengklaim dirinya sama sekali tanpa dosa, tetapi menunjukkan bahwa pemazmur tidak memahami penderitaan yang sedang dialami sebagai akibat yang sederhana dan langsung dari ketidaksetiaan mereka. Justru karena mereka merasa tetap berpegang kepada Allah, penderitaan tersebut menjadi semakin sulit dimengerti.
Keadaan itu kemudian mencapai puncaknya dalam Mazmur 44:24. Setelah menggambarkan penderitaan dan penghinaan yang dialami umat, pemazmur berseru agar Allah bangun. Seruan tersebut menunjukkan bahwa dari sudut pandang manusia yang sedang menderita, ketidakadaan tindakan Allah dapat terasa seperti ketidakhadiran Allah. Ketika musuh terus menang, umat terus dipermalukan, dan doa seakan-akan belum memperoleh jawaban, pengalaman subjektif manusia dapat membuat Allah terasa seperti sedang diam.
Istilah “pengalaman subjektif” berarti pengalaman sebagaimana dirasakan oleh seseorang dari sudut pandang dirinya sendiri. Dalam hal ini, pemazmur tidak sedang menyatakan fakta objektif bahwa Allah benar-benar tidur, tetapi sedang mengungkapkan bagaimana tindakan Allah terasa dari tempat penderitaan yang sedang ia alami. Perbedaan antara kenyataan objektif dan pengalaman subjektif sangat penting dalam membaca kitab Mazmur. Seseorang dapat benar-benar merasakan bahwa Allah jauh, sementara pada saat yang sama Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan dirinya.
Pola seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam Alkitab. Banyak tokoh iman mengalami masa ketika pertolongan Allah tampak tertunda. Habakuk bertanya, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?” dalam Habakuk 1:2. Daud juga berkali-kali bertanya, “Berapa lama lagi, TUHAN?” seperti terlihat dalam Mazmur 13:2–3. Bahkan Yesus Kristus, ketika tergantung di kayu salib, mengucapkan kata-kata dari Mazmur 22, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” dalam Matius 27:46 dan Markus 15:34.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Alkitab tidak mengajarkan bahwa iman berarti seseorang tidak boleh mempertanyakan pengalaman penderitaannya. Iman juga bukan berarti manusia harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja ketika kenyataannya sedang mengalami kesesakan. Sebaliknya, kitab Mazmur menunjukkan bahwa pergumulan yang paling dalam pun dapat dibawa langsung kepada Allah. Pemazmur tidak menyimpan pertanyaannya di dalam hati lalu menjauh dari Allah; ia justru membawa pertanyaan itu kepada Allah dalam doa.
Karena itu, Mazmur 44:24 perlu dibaca bukan sebagai bukti bahwa Alkitab mengajarkan Allah dapat tidur, melainkan sebagai gambaran yang sangat kuat mengenai pergumulan iman. Pemazmur sedang berdiri di antara dua kenyataan yang tampaknya bertentangan: ia mengetahui bahwa Allah adalah Penolong umat-Nya, tetapi ia juga melihat bahwa umat Allah sedang mengalami penderitaan dan belum menerima pertolongan yang diharapkan. Dari ketegangan tersebut lahirlah seruan, “Bangunlah!” Seruan itu memperlihatkan betapa dalamnya kerinduan pemazmur agar Allah kembali menyatakan pertolongan-Nya.
Lebih jauh lagi, ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara Allah dan umat-Nya dalam Alkitab bukanlah hubungan yang dingin dan impersonal. Pemazmur berbicara kepada Allah dengan bahasa yang sangat pribadi. Ia tidak sedang membahas Allah sebagai sebuah konsep filsafat, melainkan berseru kepada Pribadi yang ia kenal sebagai Tuhan dan yang sebelumnya telah bertindak dalam sejarah umat-Nya. Karena itu, pertanyaannya memiliki dimensi relasional, yaitu berkaitan dengan hubungan pribadi antara umat dan Allah.
Dalam konteks ini, kata “bangun” juga perlu diperhatikan dengan saksama. Ketika manusia meminta seseorang untuk bangun dari tidur, biasanya ia menginginkan orang tersebut kembali sadar dan bertindak. Pemazmur menggunakan gambaran tersebut untuk menggambarkan keinginannya agar Allah kembali bertindak secara nyata di tengah penderitaan umat-Nya. Jadi, “bangun” dalam konteks Mazmur 44 bukanlah permintaan agar Allah berpindah dari keadaan tidak sadar menuju sadar, melainkan seruan agar Allah menyatakan kuasa dan pertolongan-Nya yang saat itu belum terlihat oleh umat.
Gambaran serupa juga muncul di bagian lain dalam Alkitab. Dalam Mazmur 7:7, pemazmur berkata, “Bangkitlah, TUHAN, dalam murka-Mu.” Dalam Mazmur 35:23 ia kembali berseru, “Bangunlah dan berjaga-jagalah untuk menghakimi aku.” Dalam Mazmur 59:5 terdapat seruan agar Allah bangun dan mengunjungi bangsa-bangsa. Tidak satu pun ayat tersebut mengharuskan kita menyimpulkan bahwa Allah benar-benar tidak sadar atau tidak aktif sebelum dibangunkan manusia. Bahasa tersebut menggambarkan permohonan agar Allah memperlihatkan tindakan-Nya di tengah situasi yang sedang dihadapi umat.
Dengan demikian, pertanyaan “Mengapa Pemazmur Meminta Allah Bangun dari Tidur?” sebenarnya membuka pembahasan yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan satu ayat. Pertanyaan ini membawa kita kepada persoalan tentang bagaimana Alkitab berbicara mengenai Allah menggunakan bahasa manusia, bagaimana manusia mengalami keheningan Allah, bagaimana doa dapat mengandung keluhan, dan bagaimana iman tetap bertahan ketika pertolongan Tuhan belum terlihat. Pertanyaan ini juga membawa kita kepada salah satu persoalan paling mendalam dalam kehidupan rohani: bagaimana seseorang tetap percaya kepada Allah ketika keadaan seolah-olah menunjukkan bahwa Allah tidak bertindak.
Mazmur 44 menjadi sangat berharga karena tidak memberikan jawaban yang terlalu sederhana terhadap persoalan tersebut. Pemazmur tidak mengatakan bahwa semua penderitaan pasti terjadi karena dosa tertentu. Ia juga tidak mengatakan bahwa Allah telah kehilangan kuasa. Sebaliknya, ia mempertahankan keyakinan terhadap Allah sambil dengan jujur mengungkapkan kebingungannya. Di sinilah kita melihat bahwa iman Alkitabiah dapat berjalan bersama dengan ratapan, yaitu ungkapan kesedihan dan penderitaan yang diarahkan kepada Allah dalam bentuk doa.
Ratapan bukanlah lawan dari iman. Ratapan adalah bentuk doa yang lahir ketika seseorang percaya kepada Allah tetapi belum memahami apa yang sedang Allah kerjakan. Karena itu, ratapan berbeda dengan penolakan terhadap Allah. Orang yang sama sekali tidak peduli kepada Allah tidak akan memiliki alasan untuk berseru kepada-Nya agar bertindak. Justru karena pemazmur masih mengakui Allah sebagai Tuhan, ia berani memanggil-Nya, bertanya kepada-Nya, dan memohon agar Dia bertindak.
Hal ini memberikan perspektif penting mengenai doa. Doa tidak selalu berarti menyampaikan permintaan dengan bahasa yang tenang dan teratur. Dalam Alkitab, doa dapat berupa tangisan, pertanyaan, keluhan, permohonan, pengakuan, bahkan seruan yang sangat mendesak. Mazmur 44 menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menjadi tempat bagi manusia untuk menyampaikan kalimat-kalimat yang indah, tetapi juga tempat bagi manusia untuk membawa kebingungan dan penderitaan yang belum terselesaikan.
Karena itu, kita tidak boleh membaca Mazmur 44:24 secara terpisah dari seluruh kesaksian Alkitab. Jika ayat tersebut dibaca sendirian, seseorang mungkin menyimpulkan bahwa pemazmur percaya Allah sedang tidur. Namun, jika ayat tersebut dibaca bersama Mazmur 121:4, Yesaya 40:28, 1 Raja-raja 18:27, dan berbagai bagian lain mengenai ketidaklelahan Allah, maknanya menjadi jauh lebih jelas. Alkitab menggunakan gambaran tidur dan bangun untuk menjelaskan bagaimana tindakan Allah dirasakan atau dimohonkan dari perspektif manusia, bukan untuk mengajarkan bahwa Allah mengalami keterbatasan biologis seperti manusia.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai “Allah tidur” harus dibedakan dari pertanyaan mengenai “Allah diam”. Tidur adalah keadaan biologis manusia yang menunjukkan kebutuhan tubuh untuk beristirahat, sedangkan “diam” dalam konteks teologis dapat menunjuk pada keadaan ketika Allah belum memberikan tindakan atau jawaban yang dapat dilihat manusia. Alkitab menolak gagasan bahwa Allah tertidur secara harfiah, tetapi Alkitab berulang kali menggambarkan pengalaman manusia ketika Allah tampaknya diam. Pembedaan ini menjadi kunci untuk memahami Mazmur 44:24 secara benar.
Mengapa Pertanyaan Ini Penting?
Pertanyaan mengenai permintaan pemazmur agar Allah “bangun dari tidur” penting karena menyentuh cara kita memahami karakter Allah. Jika ayat ini dipahami secara harfiah tanpa memperhatikan konteks, gambaran tentang Allah dapat menjadi keliru, seolah-olah Allah memiliki kelemahan seperti manusia. Padahal, kesaksian Alkitab secara konsisten menyatakan bahwa Allah tidak terbatas seperti makhluk ciptaan. Karena itu, memahami bahasa Mazmur 44 dengan tepat membantu kita mempertahankan gambaran yang benar mengenai siapa Allah menurut keseluruhan kesaksian Kitab Suci.
Pertanyaan ini juga penting karena menyangkut cara Alkitab menggunakan bahasa manusia untuk berbicara tentang Allah. Dalam teologi, cara berbicara tentang Allah dengan menggunakan gambaran yang berasal dari pengalaman manusia sering disebut bahasa antropomorfis. Antropomorfis berarti menggambarkan Allah dengan istilah atau tindakan yang biasanya digunakan untuk manusia, misalnya “tangan Allah”, “mata Allah”, “telinga Allah”, “Allah menyesal”, atau dalam ayat ini, gambaran seolah-olah Allah tidur. Bahasa semacam ini tidak berarti Allah secara harfiah memiliki tubuh, kelemahan, atau keterbatasan seperti manusia, tetapi membantu manusia memahami tindakan Allah melalui bahasa yang dapat mereka mengerti.
Alkitab sendiri memberikan banyak contoh mengenai penggunaan bahasa semacam itu. Mazmur 18:16 berbicara tentang tangan Allah yang menjangkau manusia, sementara Mazmur 34:16 berbicara mengenai mata Tuhan yang tertuju kepada orang benar dan telinga-Nya kepada teriakan mereka. Jika semua ungkapan tersebut dipahami secara fisik dan harfiah, kita akan mendapatkan gambaran yang tidak konsisten mengenai keberadaan Allah. Namun, maksud bahasa tersebut adalah menjelaskan perhatian, kuasa, dan respons Allah dengan menggunakan gambaran yang akrab bagi manusia.
Memahami hal ini sangat penting supaya kita tidak menjadikan bahasa puitis Alkitab sebagai formula teknis mengenai hakikat Allah. Mazmur adalah sastra puisi dan doa yang menggunakan gambaran, metafora, pengulangan, simbol, dan bahasa emosional untuk menyampaikan kebenaran. Metafora adalah cara berbicara dengan menggunakan suatu gambaran untuk menjelaskan sesuatu yang lebih dalam daripada arti harfiahnya. Ketika pemazmur berkata bahwa Allah “bangun”, gambaran tersebut menyampaikan kerinduan agar Allah menyatakan tindakan-Nya, bukan informasi bahwa Allah sebelumnya sedang berbaring dan tidur.
Pertanyaan ini juga penting karena berhubungan dengan pengalaman ketika doa terasa tidak dijawab. Banyak orang percaya pernah mengalami masa ketika mereka berdoa dengan sungguh-sungguh tetapi keadaan tidak berubah. Mereka meminta pertolongan, tetapi persoalan tetap berlangsung. Mereka memohon jalan keluar, tetapi pintu seolah-olah tetap tertutup. Dalam keadaan seperti itu, seseorang dapat mulai bertanya, “Apakah Tuhan mendengar saya?” atau bahkan, “Mengapa Tuhan seolah-olah diam?”
Mazmur 44 menunjukkan bahwa pertanyaan seperti itu bukanlah pengalaman yang tidak dikenal dalam kehidupan umat Allah. Pemazmur sendiri berada dalam situasi ketika ia melihat penderitaan tetapi belum melihat tindakan Allah. Karena itu, ayat ini memberikan ruang bagi orang percaya untuk mengakui bahwa ada masa ketika kehadiran Allah tidak mudah dirasakan. Pengakuan tersebut berbeda dengan mengatakan bahwa Allah benar-benar tidak hadir. Perbedaannya sangat penting, sebab pengalaman manusia dapat berubah-ubah, sedangkan kesetiaan Allah tidak bergantung pada kemampuan manusia untuk merasakan-Nya.
Pertanyaan ini juga penting karena membantu kita memahami bahwa keterlambatan pertolongan Allah tidak selalu berarti ketidakpedulian Allah. Alkitab berkali-kali memperlihatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam melihat seluruh karya Allah. Yesaya 55:8–9 mengingatkan bahwa jalan dan rancangan Allah lebih tinggi daripada jalan dan rancangan manusia. Roma 11:33–34 juga mengungkapkan kedalaman hikmat dan pengetahuan Allah yang tidak dapat sepenuhnya diselami manusia.
Namun, ayat-ayat tersebut tidak boleh digunakan untuk menutup semua pertanyaan manusia dengan jawaban yang terlalu mudah. Mengatakan bahwa “jalan Tuhan lebih tinggi” memang benar, tetapi kebenaran tersebut tidak berarti bahwa penderitaan manusia harus dianggap tidak penting. Justru kitab Mazmur menunjukkan bahwa Allah memberikan ruang bagi manusia untuk membawa penderitaannya kepada-Nya. Dengan demikian, iman tidak menghapus pertanyaan, tetapi mengarahkan pertanyaan itu kepada Pribadi yang benar.
Pertanyaan ini semakin penting karena Mazmur 44 memperlihatkan adanya perbedaan antara apa yang diyakini dan apa yang dialami. Pemazmur mengetahui sejarah karya Allah. Ia mengetahui bahwa Allah telah menolong nenek moyang Israel. Mazmur 44:2–9 mengingatkan bagaimana umat terdahulu mengalami kemenangan bukan semata-mata karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena pertolongan Allah. Akan tetapi, pengalaman generasi pemazmur justru terasa berlawanan dengan sejarah tersebut.
Kontras tersebut merupakan salah satu sumber penderitaan rohani yang paling berat. Seseorang dapat mengetahui bahwa Allah pernah menolong orang lain, bahkan mengetahui bahwa Allah telah bekerja dalam hidupnya sendiri pada masa lalu, tetapi tetap mengalami kebingungan ketika pertolongan itu tidak terlihat pada masa kini. Pertanyaan yang muncul bukan sekadar “Apakah Allah mampu?”, tetapi “Mengapa Allah yang mampu itu belum bertindak sekarang?” Mazmur 44 membawa kita masuk ke dalam ketegangan tersebut tanpa menyembunyikannya.
Hal ini juga penting untuk memahami hubungan antara ingatan iman dan pengalaman sekarang. Dalam Mazmur 44, pemazmur mengingat karya Allah pada masa lalu sebelum mengungkapkan penderitaan masa kini. Ingatan tersebut seharusnya menjadi sumber pengharapan, tetapi dalam situasi penderitaan yang berat, ingatan tentang pertolongan masa lalu juga dapat membuat kesenjangan dengan keadaan sekarang terasa semakin menyakitkan. Jika dahulu Allah bertindak, mengapa sekarang seolah-olah Dia diam? Pertanyaan itulah yang akhirnya berubah menjadi seruan, “Mengapa Engkau tidur?”
Pertanyaan ini juga berhubungan dengan persoalan keadilan Allah. Pemazmur tidak hanya mengatakan bahwa dirinya menderita, tetapi menggambarkan umat Allah mengalami kekalahan, kehinaan, dan penindasan. Karena mereka merasa tetap berpegang kepada Allah, penderitaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan antara kesetiaan dan penderitaan. Apakah orang yang setia kepada Allah selalu akan terbebas dari kesulitan? Mazmur 44 menunjukkan bahwa jawabannya tidak sesederhana itu.
Kesaksian Perjanjian Baru semakin memperkuat hal tersebut. Yesus berkata dalam Yohanes 16:33 bahwa para pengikut-Nya akan mengalami kesusahan di dunia, tetapi mereka diminta untuk tetap memiliki keberanian karena Kristus telah mengalahkan dunia. Rasul Paulus juga menjelaskan dalam 2 Timotius 3:12 bahwa setiap orang yang ingin hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. Dengan demikian, penderitaan tidak dapat selalu dijadikan bukti bahwa seseorang telah ditolak Allah.
Pertanyaan tentang Allah yang seolah-olah tidur juga penting karena dapat menolong kita memahami hubungan antara iman dan emosi. Emosi adalah keadaan batin yang muncul sebagai respons terhadap apa yang dialami seseorang, seperti takut, sedih, marah, kecewa, atau berharap. Alkitab tidak mengharuskan orang percaya menghilangkan seluruh emosi tersebut sebelum datang kepada Allah. Sebaliknya, Mazmur memperlihatkan bagaimana emosi yang kuat dapat diarahkan kepada Allah melalui doa.
Dalam hal ini, Mazmur 44 dapat menjadi koreksi terhadap dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah menganggap bahwa orang beriman tidak boleh memiliki pertanyaan atau keluhan kepada Allah. Ekstrem kedua adalah menganggap bahwa ketika seseorang merasa Allah diam, berarti Allah memang tidak peduli. Mazmur menunjukkan jalan yang berbeda: seseorang dapat mengakui penderitaannya dengan jujur sekaligus tetap berbicara kepada Allah. Ia dapat berkata, “Mengapa Engkau tidur?” tanpa harus menyimpulkan bahwa Allah benar-benar kehilangan perhatian terhadap umat-Nya.
Pertanyaan ini juga penting untuk pelayanan pastoral, yaitu pendampingan rohani terhadap orang yang sedang mengalami pergumulan. Ketika seseorang sedang berduka atau mengalami penderitaan, jawaban yang terlalu cepat dan sederhana dapat membuatnya merasa tidak dimengerti. Mazmur 44 mengajarkan bahwa Alkitab sendiri memberikan bahasa bagi orang yang sedang bingung di hadapan Allah. Dengan memahami mazmur ini, kita dapat belajar bahwa mendampingi orang yang menderita tidak selalu berarti memberikan jawaban segera, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk membawa ratapan mereka kepada Allah.
Selain itu, pertanyaan ini penting bagi pemahaman tentang doa. Doa bukanlah mekanisme untuk memaksa Allah melakukan apa yang manusia inginkan. Doa adalah komunikasi manusia dengan Allah, di dalamnya manusia menyampaikan permohonan, pujian, pengakuan, ucapan syukur, dan juga pergumulan. Dalam Mazmur 44, doa menjadi tempat pemazmur menyatakan bahwa ia tidak memahami mengapa Allah belum bertindak. Namun, fakta bahwa ia masih berdoa menunjukkan bahwa kebingungan tersebut belum memutus hubungannya dengan Allah.
Hal tersebut terlihat jelas jika Mazmur 44 dibaca sampai bagian akhirnya. Mazmur ini tidak berhenti pada analisis penderitaan manusia, tetapi kembali kepada permohonan kepada Allah. Pada ayat 27, pemazmur berkata, “Bangkitlah untuk menjadi pertolongan bagi kami, bebaskanlah kami karena kasih setia-Mu!” Ungkapan “kasih setia” sangat penting. Kasih setia menunjuk pada kasih Allah yang teguh, dapat diandalkan, dan berhubungan dengan kesetiaan-Nya terhadap umat-Nya.
Dengan demikian, seruan agar Allah bangun tidak lahir dari keyakinan bahwa Allah adalah Pribadi yang tidak dapat dipercaya. Sebaliknya, seruan tersebut lahir dari keyakinan bahwa Allah adalah Pribadi yang seharusnya dapat menjadi tempat pertolongan. Justru karena pemazmur percaya pada kasih setia Allah, ia meminta Allah bertindak berdasarkan karakter-Nya. Ini memperlihatkan bahwa ratapan Alkitab bukanlah putus asa yang tidak memiliki arah, melainkan kesedihan yang masih diarahkan kepada Allah.
Pertanyaan ini juga penting karena menolong kita membedakan antara keheningan Allah dan ketidakaktifan Allah. Keheningan Allah berarti manusia tidak menerima jawaban atau tindakan yang dapat segera dikenali, sedangkan ketidakaktifan berarti Allah sama sekali tidak melakukan apa pun. Alkitab tidak memberi dasar untuk menyimpulkan bahwa setiap kali Allah diam, Dia tidak bekerja. Sebaliknya, banyak bagian Alkitab menunjukkan bahwa karya Allah dapat berlangsung di balik keadaan yang belum dipahami manusia.
Kisah Yusuf merupakan salah satu contoh penting. Dalam Kejadian 37–50, Yusuf mengalami pengkhianatan, perbudakan, fitnah, dan penjara sebelum akhirnya mengalami peninggian. Selama bertahun-tahun, keadaan tersebut dapat terlihat seperti Allah tidak bertindak. Namun, Kejadian 50:20 memperlihatkan bahwa pada akhirnya Yusuf memahami bahwa Allah dapat memakai keadaan yang dirancang manusia untuk kejahatan menjadi bagian dari karya penyelamatan. Kisah tersebut tidak berarti semua penderitaan selalu memiliki akhir yang langsung terlihat, tetapi menunjukkan bahwa keterbatasan penglihatan manusia tidak sama dengan keterbatasan karya Allah.
Demikian pula dalam kisah Lazarus, Yohanes 11:1–44 memperlihatkan bahwa Yesus tidak segera datang ketika menerima berita bahwa Lazarus sakit. Dari perspektif keluarga Lazarus, keterlambatan tersebut sangat menyakitkan. Marta bahkan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Namun, keterlambatan Yesus bukanlah bukti bahwa Ia tidak mengasihi mereka, sebab Yohanes 11:5 secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus.
Kisah tersebut memberikan prinsip yang sangat penting bagi pembacaan Mazmur 44. Waktu Allah tidak selalu sama dengan waktu yang diharapkan manusia. Keterlambatan tidak dengan sendirinya berarti penolakan. Diam tidak dengan sendirinya berarti ketidakhadiran. Dan tidak terlihatnya tindakan Allah tidak membuktikan bahwa Allah sedang tidak bekerja.
Namun, kita juga harus berhati-hati agar prinsip tersebut tidak digunakan untuk mengabaikan penderitaan. Mazmur 44 tidak mengatakan, “Jangan khawatir, semuanya akan segera berakhir.” Pemazmur benar-benar sedang mengalami kesulitan. Alkitab tidak mengubah penderitaan tersebut menjadi sesuatu yang sepele. Justru dengan mempertahankan kejujuran terhadap penderitaan sekaligus mempertahankan kepercayaan kepada Allah, Mazmur 44 menunjukkan bentuk iman yang matang.
Pada akhirnya, pertanyaan “Mengapa Pemazmur Meminta Allah Bangun dari Tidur?” penting karena membawa kita kepada sebuah kebenaran mendasar: manusia dapat mengalami Allah seolah-olah jauh, tetapi pengalaman tersebut tidak boleh langsung disamakan dengan kenyataan mengenai keberadaan dan karakter Allah. Pemazmur menggunakan bahasa tidur untuk menggambarkan keadaan ketika pertolongan Allah belum terlihat. Ia tidak sedang mengajarkan bahwa Allah benar-benar tertidur.
Oleh karena itu, Mazmur 44:24 harus dibaca dalam keseluruhan kesaksian Alkitab. Mazmur 121:4 menegaskan bahwa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur. Yesaya 40:28 menyatakan bahwa Allah tidak menjadi lelah atau lesu. 1 Raja-raja 18:27 bahkan menggunakan gambaran tidur secara ironis terhadap berhala Baal, menunjukkan perbedaan mendasar antara Allah yang hidup dan ilah-ilah buatan manusia. Jika seluruh kesaksian tersebut diperhatikan, seruan pemazmur menjadi semakin jelas: ia tidak sedang membangunkan Allah dari tidur harfiah, melainkan memohon agar Allah menyatakan pertolongan-Nya dalam keadaan ketika umat-Nya merasa seolah-olah Dia diam.
Dengan demikian, pertanyaan tersebut bukan hanya pertanyaan tentang satu ungkapan puitis. Ini adalah pertanyaan tentang bagaimana iman berbicara ketika penderitaan belum memperoleh jawaban. Ini adalah pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat tetap berdoa ketika Allah terasa diam. Dan yang tidak kalah penting, ini adalah pertanyaan tentang bagaimana kita memahami Allah dengan benar ketika pengalaman kita tampaknya bertentangan dengan apa yang kita yakini mengenai Dia.
Untuk memahami semuanya dengan lebih mendalam, kita perlu melihat Mazmur 44 secara utuh, memperhatikan struktur mazmur tersebut, konteks penderitaan umat, hubungan antara ayat 24 dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, serta membandingkan ungkapan “Allah tidur” dengan bagian-bagian Alkitab lain yang berbicara mengenai Allah yang tidak pernah tertidur. Dari sana kita akan dapat melihat bahwa seruan “Bangunlah!” justru mengungkapkan iman pemazmur kepada Allah yang diyakininya mampu bertindak.
Penjelasan Berdasarkan Alkitab
Mazmur 44 Harus Dibaca sebagai Satu Kesatuan
Untuk memahami Mazmur 44:24 dengan benar, langkah pertama yang sangat penting adalah tidak memisahkan ayat tersebut dari keseluruhan mazmur. Sebuah ayat Alkitab dapat kehilangan maksudnya apabila hanya dibaca berdasarkan satu kalimat tanpa memperhatikan apa yang dikatakan sebelum dan sesudahnya. Mazmur 44 bukan kumpulan kalimat yang berdiri sendiri, melainkan sebuah doa yang bergerak dari mengingat karya Allah, menghadapi penderitaan, menyampaikan keluhan, kemudian kembali memohon pertolongan. Karena itu, perkataan “Mengapa Engkau tidur?” harus dipahami sebagai bagian dari perkembangan pergumulan pemazmur.
Mazmur 44 dimulai dengan mengingat karya Allah pada masa lampau. Ayat 2 berkata bahwa umat telah mendengar dengan telinga mereka dan nenek moyang mereka telah menceritakan pekerjaan yang dilakukan Allah pada zaman dahulu. Ini berarti pemazmur memiliki dasar sejarah bagi imannya. Ia tidak mengenal Allah hanya berdasarkan gagasan pribadi, tetapi berdasarkan kesaksian tentang tindakan Allah terhadap umat-Nya.
Dalam ayat 3–4, pemazmur mengingat bagaimana Allah sendiri menghalau bangsa-bangsa dan memberikan tanah kepada umat-Nya. Ia kemudian menegaskan bahwa kemenangan tersebut bukan semata-mata hasil kemampuan manusia.
Mazmur 44:4 berkata, “Sebab bukan dengan pedang mereka menduduki negeri itu, dan bukan lengan mereka yang memberikan kemenangan kepada mereka, tetapi tangan kanan-Mu dan lengan-Mu dan cahaya wajah-Mu, sebab Engkau berkenan kepada mereka.” Pernyataan ini sangat penting karena sejak awal pemazmur mengakui bahwa sumber pertolongan Israel adalah Allah.
Di sini terdapat sebuah istilah yang perlu dipahami, yaitu “tangan kanan Allah”. Dalam bahasa Alkitab, “tangan kanan” sering digunakan sebagai gambaran kekuatan, kuasa, kehormatan, dan kemampuan untuk bertindak. Jadi, ketika pemazmur menyebut tangan kanan Allah, ia tidak sedang mengatakan bahwa Allah secara fisik memiliki tangan seperti manusia. Ia sedang menggunakan bahasa puitis untuk menyatakan bahwa kemenangan umat berasal dari kuasa Allah.
Pengakuan tersebut berlanjut dalam ayat 5–9. Pemazmur berkata bahwa Allah adalah Rajanya dan bahwa melalui Allah mereka dapat menundukkan lawan. Ia tidak menaruh kepercayaan utama kepada busur dan pedang. Sebaliknya, ia berkata dalam Mazmur 44:7–8 bahwa bukan kepada busurnya ia percaya dan bukan pedangnya yang menyelamatkan dia, tetapi Allah yang menyelamatkan mereka dari lawan-lawan mereka. Dengan demikian, pada bagian awal mazmur terdapat pengakuan iman yang sangat kuat terhadap kuasa dan kesetiaan Allah.
Namun, setelah pengakuan tersebut, suasana berubah secara drastis. Mazmur 44:10 dimulai dengan kata “Namun”. Kata tersebut menandai perbedaan tajam antara apa yang dahulu dialami umat dan apa yang sekarang mereka alami. Allah yang dahulu memberikan kemenangan sekarang tampak seperti membiarkan umat-Nya mengalami kekalahan. Pemazmur berkata bahwa Allah telah membuang mereka dan mempermalukan mereka serta tidak turut maju bersama tentara mereka.
Perubahan ini sangat penting untuk memahami ayat 24. Pemazmur tidak tiba-tiba mempertanyakan Allah tanpa alasan. Ia sedang mengalami pertentangan antara sejarah pertolongan Allah dan kenyataan penderitaan pada masa kini. Allah yang dahulu dirasakan dekat sekarang terasa jauh. Allah yang dahulu memberikan kemenangan sekarang tampak seperti membiarkan umat-Nya dikalahkan.
Mazmur 44:11–17 menggambarkan akibat penderitaan tersebut dengan sangat jelas. Umat dikatakan mundur dari lawan, mengalami penjarahan, diserakkan di antara bangsa-bangsa, dan menjadi bahan celaan. Mereka bukan hanya kehilangan keamanan, tetapi juga kehilangan kehormatan. Penderitaan tersebut memiliki dimensi sosial, politik, militer, dan rohani.
Keadaan menjadi semakin berat karena penderitaan itu tidak hanya memengaruhi kehidupan fisik. Nama umat Allah juga menjadi bahan cemoohan. Mereka menjadi sindiran bagi bangsa-bangsa di sekitar mereka. Dalam dunia kuno, kehormatan suatu bangsa sangat berkaitan dengan keberadaan dan kekuatan pelindung ilahinya. Karena itu, kekalahan Israel dapat dipandang oleh bangsa lain sebagai tanda bahwa Allah Israel tidak mampu menyelamatkan umat-Nya.
Dengan demikian, penderitaan umat juga menjadi persoalan mengenai nama dan kehormatan Allah. Jika umat yang mengaku milik Allah mengalami kekalahan yang memalukan, bangsa-bangsa dapat mempertanyakan kuasa Allah mereka. Hal ini menjelaskan mengapa ratapan dalam Mazmur 44 tidak hanya berbicara tentang kesakitan pribadi. Pemazmur juga sedang bergumul dengan pertanyaan mengenai hubungan antara penderitaan umat Allah dan reputasi Allah di hadapan bangsa-bangsa.
Pemazmur Tidak Menganggap Penderitaannya sebagai Bukti bahwa Allah Tidak Ada
Hal yang menarik adalah bahwa sekalipun pemazmur berbicara sangat keras kepada Allah, ia tidak meninggalkan keyakinannya terhadap Allah. Ini terlihat dari cara ia terus menggunakan kata “Engkau” ketika berbicara kepada Tuhan. Ia berkata bahwa Allah telah membuang mereka, Allah telah membuat mereka mundur, dan Allah telah menyerahkan mereka. Bahasa tersebut menunjukkan bahwa Allah tetap menjadi pusat percakapan.
Dengan kata lain, pemazmur tidak berpindah dari “percaya kepada Allah” menjadi “tidak percaya kepada Allah”. Ia justru membawa krisis imannya ke hadapan Allah sendiri. Perbedaan ini sangat penting. Keraguan yang dibawa kepada Allah masih berada dalam ruang relasi dengan Allah, sedangkan penolakan terhadap Allah berarti memutuskan hubungan tersebut.
Mazmur 44:18–19 bahkan menyatakan bahwa umat tidak melupakan Allah dan tidak berlaku curang terhadap perjanjian-Nya. Perjanjian adalah hubungan yang ditetapkan Allah dengan umat-Nya yang mengandung janji, tanggung jawab, dan kesetiaan. Dengan menyebut perjanjian, pemazmur sedang mengingatkan bahwa penderitaan tersebut tampaknya tidak sesuai dengan apa yang mereka pahami mengenai hubungan mereka dengan Allah.
Ayat 20 kemudian berkata bahwa Allah telah meremukkan mereka di tempat serigala dan menyelubungi mereka dengan kekelaman. “Kekelaman” di sini merupakan gambaran keadaan penderitaan, kesesakan, dan kehilangan harapan. Bahasa tersebut bukan berarti Allah secara harfiah menutupi umat dengan sebuah benda gelap. Pemazmur sedang menggambarkan betapa berat keadaan yang mereka alami.
Yang lebih menarik lagi adalah Mazmur 44:21–22. Pemazmur mengatakan bahwa jika mereka melupakan nama Allah atau mengulurkan tangan kepada allah lain, bukankah Allah akan mengetahuinya, karena Ia mengetahui rahasia hati? Pernyataan ini menegaskan kemahatahuan Allah. Kemahatahuan berarti Allah mengetahui segala sesuatu secara sempurna dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.
Di sinilah muncul sebuah ketegangan yang sangat kuat. Pemazmur percaya bahwa Allah mengetahui isi hati mereka, tetapi pada saat yang sama mereka merasa seperti ditinggalkan. Jika Allah mengetahui bahwa mereka tetap mengingat-Nya, mengapa mereka tetap mengalami penderitaan? Jika Allah mengetahui kesetiaan mereka, mengapa Dia tidak segera bertindak?
Pertanyaan tersebut kemudian membawa pemazmur kepada ayat 23, “Namun karena Engkaulah kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Ayat ini kemudian dikutip oleh Rasul Paulus dalam Roma 8:36 untuk menggambarkan penderitaan yang dialami umat Allah. Paulus menggunakan ayat tersebut dalam konteks penderitaan orang percaya yang tidak berarti bahwa Allah berhenti mengasihi mereka.
Hubungan antara Mazmur 44:23 dan Roma 8:36 sangat penting. Paulus tidak menggunakan ayat tersebut untuk mengatakan bahwa penderitaan membuktikan Allah telah meninggalkan umat-Nya. Sebaliknya, Roma 8:37 segera mengatakan bahwa dalam semuanya itu orang percaya lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang mengasihi mereka. Jadi, dalam perspektif Perjanjian Baru, penderitaan dan kasih Allah dapat hadir secara bersamaan.
“Terjagalah!” Bukan Berarti Allah Benar-Benar Tertidur
Setelah menggambarkan penderitaan tersebut, pemazmur berseru dalam ayat 24, “Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!” Inilah pusat pertanyaan artikel ini. Jika Allah tidak pernah tertidur, mengapa pemazmur menggunakan gambaran tidur?
Jawabannya harus dimulai dengan memahami bentuk bahasa yang digunakan dalam puisi. Pemazmur berbicara berdasarkan pengalaman manusia. Ketika seseorang tidur, ia biasanya tidak memberikan respons aktif terhadap keadaan di sekitarnya. Karena itu, “tidur” dapat menjadi gambaran yang sangat kuat untuk keadaan ketika seseorang tampak tidak bertindak.
Ketika pemazmur berkata, “Mengapa Engkau tidur?”, ia sedang menggambarkan bagaimana tindakan Allah terasa dari perspektif umat yang sedang menderita. Mereka tidak melihat pembebasan. Mereka tidak melihat kemenangan. Mereka tidak melihat perubahan keadaan. Dari sudut pandang mereka, seolah-olah Allah sedang tidak memberikan respons.
Akan tetapi, pemazmur sendiri tidak bermaksud mengatakan bahwa Allah kehilangan kesadaran. Hal itu terlihat dari keseluruhan kesaksian Alkitab mengenai Allah. Salah satu teks yang paling jelas adalah Mazmur 121:4: “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” Ayat tersebut hampir secara langsung memberikan kunci untuk memahami Mazmur 44:24.
Mazmur 121 menggunakan gambaran penjaga yang bertugas melindungi seseorang. Penjaga manusia dapat lelah dan tertidur sehingga orang yang dijaganya menjadi rentan. Tetapi Allah berbeda. Penjaga Israel tidak membutuhkan tidur dan tidak pernah kehilangan kewaspadaan. Karena itu, ketika Mazmur 44 menggunakan gambaran Allah seperti sedang tidur, kita harus memahami bahwa bahasa tersebut merupakan gambaran pengalaman manusia, bukan penyangkalan terhadap sifat Allah.
Kesaksian tersebut diperkuat oleh Yesaya 40:28, “Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Allah tidak mengalami kelelahan seperti manusia.
Perbedaan tersebut penting karena tidur manusia berhubungan dengan keterbatasan makhluk. Manusia tidur karena tubuhnya membutuhkan pemulihan. Allah tidak membutuhkan pemulihan seperti manusia. Karena itu, mengatakan bahwa Allah tertidur secara harfiah akan bertentangan dengan kesaksian Alkitab mengenai keberadaan-Nya.
Perbandingan dengan Elia dan Dewa Baal
Salah satu bagian Alkitab yang sangat membantu adalah 1 Raja-raja 18. Dalam kisah di Gunung Karmel, nabi Elia berhadapan dengan para nabi Baal. Setelah mereka berdoa kepada Baal tetapi tidak memperoleh jawaban, Elia mengejek mereka dengan mengatakan bahwa mungkin Baal sedang merenung, bepergian, atau sedang tidur sehingga harus dibangunkan.
Dalam konteks tersebut, tidur digunakan sebagai ejekan terhadap berhala. Baal digambarkan seperti manusia yang mungkin sedang tidak tersedia sehingga para penyembahnya harus berteriak lebih keras. Namun, kisah tersebut justru memperlihatkan kontras dengan Allah Israel. Ketika Elia berdoa kepada Allah, Allah menjawab dengan cara yang nyata.
Perbedaan antara 1 Raja-raja 18 dan Mazmur 44 sangat penting. Dalam 1 Raja-raja 18, “tidur” digunakan sebagai bagian dari sindiran terhadap ketidakmampuan berhala. Dalam Mazmur 44, “tidur” digunakan sebagai gambaran ratapan umat yang merasa Allah tidak bertindak. Jadi, kedua bagian tersebut menggunakan gambaran tidur dalam fungsi yang berbeda.
Mazmur 44 tidak mengatakan bahwa Allah benar-benar seperti Baal. Justru pemazmur memanggil Allah karena ia yakin bahwa Allah dapat bertindak. Jika ia percaya Allah benar-benar tidak mampu, seruan “Bangunlah!” tidak akan memiliki dasar iman. Ia berseru karena ia masih percaya bahwa Allah adalah Tuhan yang dapat menyelamatkan umat-Nya.
“Bangunlah” sebagai Permohonan agar Allah Bertindak
Kata “bangun” dalam Mazmur 44:24 harus dipahami bersama dengan kata-kata lain dalam ayat tersebut. Pemazmur berkata, “Terjagalah”, “Mengapa Engkau tidur?”, dan “Bangunlah”. Semua kata tersebut membentuk satu rangkaian permohonan. Ia tidak sedang memberikan informasi baru kepada Allah, melainkan mendesak Allah agar bertindak.
Hal ini dapat dibandingkan dengan Mazmur 7:7, “Bangkitlah, TUHAN, dalam murka-Mu.” Jika ayat tersebut dibaca secara harfiah, seolah-olah Allah sebelumnya sedang duduk atau tidur sehingga manusia harus menyuruh-Nya bangkit. Namun, maksudnya adalah permohonan agar Allah menyatakan penghakiman-Nya.
Mazmur 35:23 berkata, “Bangunlah dan berjaga-jagalah untuk menghakimi aku, ya Allahku dan Tuhanku!” Sekali lagi, “bangunlah” bukan berarti Allah sedang tidur secara biologis. Pemazmur sedang meminta agar Allah menyatakan diri sebagai Hakim yang bertindak terhadap ketidakadilan yang sedang dialaminya.
Mazmur 59:5 juga menggunakan bahasa serupa: “Engkau, TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel, bangunlah untuk menghukum segala bangsa.” Konteksnya adalah permohonan agar Allah bertindak terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan. Jadi, “bangun” dalam bahasa doa sering memiliki arti “bertindaklah”, “nyatakanlah kuasa-Mu”, atau “berikanlah pertolongan-Mu”.
Dengan memahami pola tersebut, Mazmur 44:24 menjadi lebih jelas. Pemazmur pada dasarnya sedang berkata bahwa keadaan mereka sudah sangat berat sehingga ia memohon agar Allah tidak membiarkan keadaan tersebut berlangsung tanpa tindakan. Ia ingin melihat Allah bertindak sebagai Penolong umat-Nya. “Bangunlah” adalah bahasa permohonan yang mendesak.
Mengapa Pemazmur Mengatakan “Mengapa Engkau Tidur”?
Kata “mengapa” menunjukkan bahwa pemazmur sedang berusaha memahami tindakan Allah. Pertanyaan “mengapa” berbeda dengan sekadar permintaan. Ketika seseorang berkata “Tolong saya”, ia memohon tindakan. Ketika seseorang berkata “Mengapa Engkau diam?”, ia juga sedang mencari pemahaman mengenai alasan di balik keadaan tersebut.
Dalam Mazmur 44, pertanyaan tersebut muncul setelah serangkaian pengalaman yang sangat menyakitkan. Pemazmur telah mengingat bahwa Allah dahulu memberikan kemenangan. Ia juga telah menyatakan bahwa umat tetap mengingat Allah. Namun, keadaan mereka tetap buruk. Karena itu, pertanyaan “mengapa” menjadi ekspresi dari kesenjangan antara iman yang mereka pegang dan keadaan yang mereka lihat.
Pola ini juga terdapat dalam Mazmur 13. Daud berkata, “Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?” dan “Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” Pertanyaan tersebut tidak berarti Daud percaya bahwa Allah secara harfiah melupakan dirinya. Bahasa tersebut menggambarkan pengalaman Daud ketika ia tidak melihat pertolongan Allah.
Mazmur 13 bahkan bergerak dari keluhan menuju kepercayaan. Setelah bertanya “berapa lama”, Daud berkata, “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya.” Ini menunjukkan bahwa seseorang dapat mengalami ketegangan antara apa yang dirasakan dan apa yang diyakini. Perasaan mengatakan Allah jauh, tetapi iman tetap berpegang kepada kasih setia Allah.
Hubungan dengan Mazmur 22
Mazmur 44 juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan Mazmur 22. Dalam Mazmur 22:2, pemazmur berseru, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Seruan ini kemudian digunakan Yesus di kayu salib sebagaimana dicatat dalam Matius 27:46 dan Markus 15:34. Kedua mazmur tersebut menunjukkan bagaimana bahasa ratapan dapat menjadi bagian dari doa yang sangat mendalam.
Mazmur 22:3 melanjutkan dengan mengatakan bahwa pada siang hari pemazmur berseru tetapi tidak dijawab, dan pada malam hari ia tidak mendapat ketenangan. Perhatikan bahwa persoalannya bukan sekadar penderitaan fisik. Persoalannya adalah pengalaman seolah-olah doa tidak memperoleh jawaban. Inilah yang juga kita lihat dalam Mazmur 44: pemazmur sedang bergumul dengan pengalaman bahwa Allah seolah-olah tidak bertindak.
Namun, Mazmur 22 tidak berhenti pada ayat 2. Mazmur tersebut kemudian bergerak menuju pengakuan bahwa Allah adalah Pribadi yang kudus dan bahwa nenek moyang telah berharap kepada-Nya. Dengan demikian, seruan “Mengapa Engkau meninggalkan aku?” tidak harus dibaca sebagai deklarasi bahwa Allah benar-benar telah meninggalkan pemazmur. Seruan tersebut merupakan bahasa ratapan dari seseorang yang mengalami penderitaan sangat berat.
Hal ini penting ketika kita membaca perkataan Yesus di kayu salib. Ketika Yesus mengucapkan kata-kata dari Mazmur 22, Ia tidak sekadar menyatakan keputusasaan. Ia juga menggemakan sebuah mazmur yang bergerak dari penderitaan menuju pengharapan dan kemenangan. Karena itu, bahasa “ditinggalkan” dalam Mazmur 22 dan bahasa “tidur” dalam Mazmur 44 harus dibaca dengan perhatian terhadap genre, konteks, dan perkembangan keseluruhan mazmur.
Allah Tidak Tidur: Kesaksian Alkitab yang Konsisten
Kesaksian mengenai Allah yang tidak tidur tidak hanya terdapat dalam satu ayat. Mazmur 121:4 merupakan salah satu pernyataan paling jelas, tetapi konsep yang sama dapat ditemukan di banyak bagian Alkitab. Dalam 1 Samuel 15:29, Allah disebut sebagai “Yang Mahamulia dari Israel” yang tidak berdusta dan tidak menyesal seperti manusia. Ayat tersebut menunjukkan perbedaan antara keterbatasan manusia dan kesempurnaan Allah.
Yesaya 40:28 juga sangat penting karena menghubungkan ketidaklelahan Allah dengan kekekalan-Nya. Allah adalah Pencipta bumi dan tidak menjadi lelah atau lesu. Jika Allah tidak menjadi lelah, maka tidur tidak diperlukan bagi-Nya sebagai pemulihan tenaga. Karena itu, gambaran tidur dalam Mazmur 44 tidak boleh dipahami sebagai keadaan biologis Allah.
Keluaran 15:11 bertanya, “Siapakah seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN?” Pertanyaan retoris tersebut menegaskan keunikan Allah. Allah Israel bukan salah satu dari banyak makhluk ilahi yang memiliki keterbatasan seperti manusia. Ia adalah Allah yang berkuasa atas ciptaan.
Yeremia 10:10 juga menyebut Tuhan sebagai Allah yang benar, Allah yang hidup, dan Raja yang kekal. Kontras antara Allah yang hidup dan berhala yang mati merupakan tema penting dalam Alkitab. Allah tidak bergantung pada manusia untuk mempertahankan keberadaan-Nya, dan manusia tidak perlu membangunkan-Nya agar Ia kembali menjadi Allah.
Jika Allah Tidak Tidur, Mengapa Ia Kadang Tampak Diam?
Pertanyaan berikutnya menjadi lebih sulit. Jika Allah tidak tidur, mengapa pemazmur dan banyak tokoh Alkitab mengalami Allah seolah-olah diam? Jawabannya tidak dapat direduksi menjadi satu penjelasan untuk semua situasi. Alkitab menunjukkan bahwa ada banyak alasan mengapa manusia tidak segera melihat tindakan Allah, tetapi tidak selalu menjelaskan alasan khusus dalam setiap penderitaan.
Salah satu prinsip penting adalah keterbatasan manusia dalam memahami waktu dan cara kerja Allah. Pengkhotbah 3:11 mengatakan bahwa Allah membuat segala
sesuatu indah pada waktunya, tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Ayat ini tidak berarti bahwa setiap penderitaan pasti akan segera berakhir secara sesuai dengan harapan manusia. Ayat tersebut menegaskan keterbatasan manusia dalam melihat keseluruhan karya Allah.
Contoh yang sangat kuat terdapat dalam kisah Ayub. Ayub mengalami penderitaan yang berat tanpa mengetahui percakapan surgawi yang menjadi latar belakang penderitaannya. Ia mempertanyakan Allah, mengeluh, dan mencari penjelasan. Namun, kitab Ayub tidak memberikan kepada Ayub seluruh informasi yang diketahui pembaca mengenai awal kisahnya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia sering menilai keadaan berdasarkan bagian kecil dari keseluruhan realitas. Allah melihat keseluruhan, sedangkan manusia hanya melihat sebagian. Karena itu, ketika manusia berkata, “Tuhan tidak bertindak,” yang sebenarnya dapat diketahui manusia adalah bahwa ia belum melihat tindakan Allah yang diharapkannya. Pernyataan tersebut berbeda dengan kesimpulan bahwa Allah sama sekali tidak melakukan apa pun.
Yusuf: Allah Bekerja melalui Proses yang Panjang
Kisah Yusuf dalam kitab Kejadian memberikan ilustrasi lain. Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, menjadi budak, difitnah, lalu dipenjarakan. Dari perspektif Yusuf pada saat-saat tersebut, sangat mungkin keadaan terlihat seperti sebuah rangkaian kehancuran tanpa arah. Namun, perjalanan tersebut akhirnya menjadi bagian dari cara Allah menyelamatkan banyak orang dari kelaparan.
Kejadian 50:20 menjadi salah satu ayat penting dalam memahami karya Allah di tengah penderitaan. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya bahwa mereka memang telah merancang kejahatan terhadap dirinya, tetapi Allah telah merancangnya untuk kebaikan. “Merancang” dalam konteks ini menunjuk pada kemampuan Allah mengarahkan keadaan menuju tujuan-Nya tanpa berarti Allah menyetujui kejahatan manusia.
Kisah Yusuf mengajarkan bahwa pekerjaan Allah tidak selalu terlihat pada saat pekerjaan tersebut sedang berlangsung. Manusia dapat melihat penjara, sedangkan Allah sedang melihat sebuah proses yang lebih panjang. Manusia dapat melihat penundaan, sedangkan Allah dapat sedang mengatur sesuatu yang belum dapat dipahami.
Namun, prinsip ini harus diterapkan dengan hati-hati. Kita tidak boleh mengatakan kepada setiap orang yang menderita bahwa Allah pasti akan memberikan akhir yang sama seperti Yusuf. Alkitab tidak menjanjikan bahwa setiap penderitaan akan berakhir dengan kenaikan jabatan, keberhasilan duniawi, atau pemulihan seperti yang dialami Yusuf. Pelajaran yang lebih tepat adalah bahwa ketidakjelasan keadaan tidak membuktikan ketidakaktifan Allah.
Lazarus: Keterlambatan yang Tidak Berarti Tidak Ada Kasih
Yohanes 11 memberikan contoh yang sangat menarik. Ketika Lazarus sakit, Maria dan Marta mengirim pesan kepada Yesus. Yohanes 11:5 menyatakan bahwa Yesus mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus. Namun, Yohanes 11:6 mengatakan bahwa setelah mendengar Lazarus sakit, Yesus sengaja tinggal dua hari lagi di tempat-Nya.
Dari sudut pandang keluarga Lazarus, keputusan tersebut tampak seperti keterlambatan yang tidak masuk akal. Marta kemudian berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Pernyataan tersebut sangat mirip dengan pengalaman pemazmur: jika Allah hadir dan bertindak, mengapa penderitaan ini terjadi?
Namun, kisah tersebut menunjukkan bahwa keterlambatan Yesus tidak berarti ketiadaan kasih. Justru Yohanes menegaskan kasih Yesus sebelum menceritakan mukjizat kebangkitan Lazarus. Ini memberikan prinsip penting: kasih Allah tidak selalu dapat diukur berdasarkan seberapa cepat Ia mengubah keadaan.
Dalam konteks Mazmur 44, prinsip tersebut membantu kita memahami bahwa “Allah tidur” merupakan bahasa pengalaman umat, bukan kesimpulan teologis bahwa Allah berhenti mengasihi. Pemazmur tidak dapat melihat alasan di balik keterlambatan, tetapi ia tetap berseru kepada Allah. Seruan tersebut sendiri menunjukkan bahwa ia masih menantikan tindakan Allah.
Habakuk dan Pengalaman Allah yang Seolah-olah Diam
Nabi Habakuk juga memberikan contoh yang sangat kuat. Habakuk 1:2 berkata, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?” Habakuk melihat kekerasan, ketidakadilan, dan kejahatan. Ia tidak memahami mengapa Allah membiarkan keadaan tersebut berlangsung.
Pertanyaan Habakuk sangat mirip dengan pertanyaan pemazmur. Keduanya melihat keadaan yang buruk dan tidak memahami mengapa Allah belum bertindak. Namun, kitab Habakuk menunjukkan bahwa Allah sebenarnya sedang bekerja, meskipun cara kerja-Nya justru mengejutkan Habakuk.
Dalam Habakuk 1:5, Allah mengatakan bahwa Ia sedang melakukan suatu pekerjaan yang akan membuat orang tercengang. Masalahnya, pekerjaan tersebut tidak langsung memberikan jawaban yang sederhana bagi Habakuk. Allah memakai bangsa Kasdim sebagai bagian dari penghakiman, dan hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan baru bagi nabi tersebut.
Ini menunjukkan bahwa bahkan ketika Allah menjawab doa, jawaban-Nya tidak selalu sesuai dengan ekspektasi manusia. Manusia mungkin meminta Allah menghilangkan suatu masalah, tetapi Allah dapat bekerja melalui cara yang tidak diperkirakan. Karena itu, “Allah diam” kadang-kadang bukan karena tidak ada pekerjaan Allah, melainkan karena manusia belum memahami apa yang sedang dikerjakan-Nya.
Doa yang Mendesak Tidak Sama dengan Memerintah Allah
Ketika pemazmur berkata, “Bangunlah!”, kita juga perlu memahami bahwa ia tidak sedang memberikan perintah kepada Allah dalam arti bahwa manusia memiliki otoritas atas Allah. Bahasa doa dalam Alkitab sering kali menggunakan bentuk imperatif, yaitu bentuk kata yang menyatakan permintaan atau desakan. Dalam hubungan dengan Allah, bentuk tersebut tidak berarti manusia lebih berkuasa daripada Allah.
Contohnya dapat ditemukan dalam banyak mazmur. Pemazmur berkata, “Dengarkanlah aku, TUHAN,” “Jawablah aku,” “Selamatkanlah aku,” dan “Tolonglah aku.” Semua itu merupakan permohonan. Bahasa yang tegas menunjukkan intensitas kebutuhan pemazmur, bukan klaim bahwa ia memiliki kendali atas Allah.
Demikian juga “Bangunlah!” dalam Mazmur 44:24 merupakan permohonan yang sangat mendesak. Pemazmur sedang berada dalam kondisi yang menurutnya sudah tidak dapat ditanggung. Ia meminta Allah bertindak karena ia yakin bahwa pertolongan sejati hanya dapat datang dari Tuhan.
Mengapa Pemazmur Berani Berbicara Seperti Itu?
Keberanian pemazmur untuk berbicara secara terbuka kepada Allah sebenarnya memperlihatkan kedalaman relasinya dengan Tuhan. Ia tidak menggunakan bahasa yang sopan tetapi kosong secara emosional. Ia membawa pertanyaan yang paling berat langsung kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa doa Alkitab tidak selalu merupakan upaya menyembunyikan keadaan batin manusia.
Jika seseorang sedang sangat menderita tetapi memaksakan dirinya mengucapkan bahwa semuanya baik-baik saja, ia mungkin tidak sedang menjalankan iman yang lebih kuat. Bisa jadi ia justru sedang menolak mengakui kenyataan emosional yang sedang dialaminya. Mazmur memberikan contoh berbeda: akuilah penderitaan, tetapi bawa penderitaan itu kepada Allah.
Hal tersebut tidak berarti setiap bentuk perkataan kepada Allah otomatis benar hanya karena diucapkan dengan jujur. Alkitab tetap mengajarkan pentingnya kerendahan hati, pertobatan, dan penghormatan kepada Allah. Namun, kejujuran dalam doa tidak bertentangan dengan iman. Justru dalam banyak mazmur, kejujuran menjadi jalan menuju pengharapan.
Dari “Tidur” Menuju “Kasih Setia”
Perhatikan bagaimana Mazmur 44 berakhir. Setelah seruan “Mengapa Engkau tidur?” dan “Bangunlah!”, pemazmur berkata dalam ayat 27, “Bangkitlah untuk menjadi pertolongan bagi kami, bebaskanlah kami karena kasih setia-Mu!” Ini merupakan penutup yang sangat penting.
Pemazmur tidak mendasarkan permohonannya pada prestasi manusia. Ia tidak berkata, “Selamatkan kami karena kami cukup baik.” Ia juga tidak berkata, “Selamatkan kami karena kami lebih kuat daripada musuh.” Ia meminta pembebasan berdasarkan “kasih setia” Allah.
Kasih setia merupakan kasih yang teguh dan dapat diandalkan. Dalam banyak bagian Perjanjian Lama, gagasan ini berkaitan dengan kesetiaan Allah terhadap hubungan perjanjian-Nya. Jadi, sekalipun pemazmur sedang mempertanyakan mengapa Allah tampak diam, ia tetap memiliki dasar untuk berharap: karakter Allah sendiri.
Hal ini sangat penting. Seruan “Bangunlah!” bukanlah titik akhir iman pemazmur. Titik akhirnya adalah permohonan berdasarkan kasih setia Allah. Dengan demikian, di balik bahasa ratapan yang keras terdapat kepercayaan yang mendalam.
Apakah Mazmur 44 Mengajarkan bahwa Allah Kadang-Kadang Tidak Bertindak?
Mazmur 44 tidak mengajarkan bahwa Allah mengalami periode tidur sehingga tidak dapat bekerja. Yang digambarkan adalah pengalaman umat ketika mereka tidak melihat pertolongan Allah. Perbedaan tersebut harus dipertahankan dengan tegas agar kita tidak membangun doktrin tentang Allah berdasarkan metafora.
Doktrin adalah ajaran yang disusun secara sistematis berdasarkan kesaksian Alkitab mengenai suatu pokok tertentu. Jika doktrin tentang sifat Allah dibangun dari Mazmur 44:24 saja, kita akan bertentangan dengan Mazmur 121:4 dan Yesaya 40:28. Karena itu, ayat harus dibaca dalam terang keseluruhan Kitab Suci.
Kesaksian keseluruhan Alkitab menunjukkan bahwa Allah tidak mengalami tidur atau kelelahan seperti manusia. Akan tetapi, Alkitab juga tidak menyangkal bahwa manusia dapat mengalami masa ketika Allah tampak diam. Kedua kebenaran tersebut harus dipertahankan sekaligus: Allah tidak tertidur, tetapi manusia dapat mengalami keheningan Allah.
Puncak Persoalan: Allah Hadir Meskipun Tidak Selalu Terlihat
Di sinilah Mazmur 44 memberikan pelajaran yang sangat dalam. Kehadiran Allah tidak selalu identik dengan pengalaman manusia mengenai kehadiran-Nya. Manusia dapat merasa ditinggalkan, tetapi perasaan tersebut tidak otomatis menjadi ukuran objektif mengenai keberadaan Allah.
Mazmur 139:7–10 menggambarkan bahwa tidak ada tempat yang dapat membuat seseorang melarikan diri dari Roh Allah. Pemazmur mengatakan bahwa jika ia naik ke langit, Allah ada di sana, dan jika ia membuat tempat tidurnya di dunia orang mati, Allah pun ada di sana. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Allah tidak dibatasi oleh lokasi manusia.
Yesaya 43:2 juga memberikan gambaran bahwa Allah menyertai umat-Nya ketika mereka melewati air dan api. Ayat tersebut tidak menjanjikan bahwa umat Allah tidak akan pernah melewati air atau api. Justru ada kemungkinan mereka akan melewatinya, tetapi Allah menyatakan penyertaan-Nya di tengah keadaan tersebut.
Prinsip ini sangat berbeda dari gagasan bahwa kehadiran Allah selalu dapat diukur dari kenyamanan hidup. Jika kehidupan lancar, bukan berarti Allah baru hadir. Jika kehidupan sulit, bukan berarti Allah pergi. Mazmur 44 mengajarkan kita untuk tidak menjadikan keadaan sebagai satu-satunya alat ukur kehadiran Allah.
Hubungan dengan Roma 8
Rasul Paulus memberikan perkembangan yang sangat penting terhadap tema ini dalam Roma 8. Setelah mengutip Mazmur 44:23 dalam Roma 8:36, Paulus tidak menyimpulkan bahwa penderitaan berarti umat Allah telah ditinggalkan. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa dalam semua penderitaan tersebut kita lebih daripada orang-orang yang menang melalui Dia yang mengasihi kita.
Roma 8:38–39 kemudian menyatakan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam seluruh ciptaan yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah dalam Kristus Yesus. Ini memberikan perspektif yang sangat kuat terhadap Mazmur 44. Umat dapat berada dalam bahaya, penderitaan, penganiayaan, kelaparan, atau keadaan berat lainnya tanpa berarti kasih Allah telah hilang.
Karena itu, ketika pemazmur bertanya, “Mengapa Engkau tidur?”, Perjanjian Baru membantu kita melihat bahwa pengalaman penderitaan tidak boleh menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa Allah berhenti mengasihi umat-Nya. Justru kasih Allah menjadi dasar bagi pengharapan ketika keadaan tidak memberikan alasan yang mudah untuk berharap.
Kesaksian Yesus tentang Bapa yang Terus Bekerja
Dalam Yohanes 5:17, Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Pernyataan ini sangat relevan dengan pertanyaan tentang Allah yang tampak diam. Yesus menyatakan bahwa pekerjaan Allah tidak berhenti.
Tentu saja, ayat ini tidak berarti bahwa manusia selalu dapat melihat pekerjaan Allah. Sebaliknya, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketidakmampuan manusia melihat pekerjaan Allah bukan bukti bahwa Allah berhenti bekerja. Ada perbedaan antara “Allah tidak bekerja” dan “saya tidak melihat pekerjaan Allah”.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu kunci terpenting untuk memahami Mazmur 44:24. Pemazmur sedang berbicara dari pengalaman umat yang tidak melihat tindakan Allah. Ia tidak sedang menyusun definisi metafisik bahwa Allah benar-benar tertidur.
Mazmur 44:24 sebagai Bahasa Kerinduan
Pada akhirnya, seruan “Bangunlah!” dapat dipahami sebagai bahasa kerinduan. Pemazmur sangat merindukan saat ketika Allah menyatakan pertolongan-Nya. Ia merindukan pemulihan hubungan yang terasa renggang. Ia merindukan keadaan ketika umat tidak lagi menjadi bahan cemoohan bangsa-bangsa.
Karena itu, “bangunlah” memiliki dimensi relasional. Pemazmur ingin mengalami kembali pertolongan Allah yang dahulu telah dikenal oleh umat-Nya. Ia sedang membawa ingatan tentang karya Allah di masa lampau ke dalam penderitaan masa kini. Dengan cara itu, doa menjadi jembatan antara apa yang Allah pernah lakukan dan apa yang umat sedang harapkan dari-Nya.
Seruan tersebut juga menunjukkan bahwa iman tidak selalu berbentuk ketenangan yang langsung. Kadang-kadang iman berbentuk teriakan. Kadang-kadang iman berbentuk pertanyaan. Kadang-kadang iman berbentuk permohonan yang diucapkan dengan air mata. Yang menentukan bukanlah apakah suara doa selalu terdengar tenang, melainkan kepada siapa doa itu diarahkan.
Pemazmur mengarahkan seruannya kepada Allah. Itulah yang membuat Mazmur 44 berbeda dari keputusasaan yang tidak memiliki tujuan. Ia tidak berhenti percaya bahwa Allah adalah tempat pertolongan. Ia justru semakin kuat berseru kepada-Nya ketika keadaan semakin berat.
Dengan demikian, Mazmur 44:24 tidak mengajarkan bahwa Allah benar-benar tidur. Ayat tersebut menggunakan gambaran tidur untuk menyatakan pengalaman umat yang merasa bahwa Allah belum bertindak di tengah penderitaan. “Bangunlah” berarti permohonan agar Allah menyatakan pertolongan, kuasa, dan kehadiran-Nya secara nyata. Keseluruhan kesaksian Alkitab, terutama Mazmur 121:4 dan Yesaya 40:28, menegaskan bahwa Allah tidak tertidur atau kelelahan seperti manusia.
Namun, masih ada pertanyaan yang lebih dalam. Jika Allah mengetahui penderitaan umat, tidak pernah tidur, tidak pernah lelah, dan tetap berkuasa, mengapa Dia membiarkan pemazmur mengalami keadaan yang begitu berat? Mengapa Allah kadang-kadang membiarkan penderitaan berlangsung bahkan ketika umat-Nya merasa telah setia kepada-Nya? Mengapa jawaban doa tidak selalu datang pada waktu yang diharapkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita dari penjelasan teks menuju pembahasan mengenai sifat Allah, penyelenggaraan Allah atas dunia, penderitaan, doa, keheningan Allah, dan hubungan antara kedaulatan Allah dengan pengalaman manusia. Semua itu akan menjadi bagian penting dari Penjelasan Teologis pada bagian berikutnya.
Penjelasan Teologis
“Allah Tidur” Tidak Boleh Dipahami sebagai Kelemahan dalam Diri Allah
Setelah melihat kesaksian Alkitab mengenai Mazmur 44:24, kita dapat memasuki persoalan teologis yang lebih mendalam. Pertanyaan pertama adalah apakah ungkapan “Engkau tidur” menunjukkan bahwa Allah memiliki keterbatasan seperti manusia. Jawabannya adalah tidak. Mazmur 44 menggunakan bahasa pengalaman manusia untuk menggambarkan keadaan ketika tindakan Allah tidak terlihat, sedangkan kesaksian Alkitab secara keseluruhan menyatakan bahwa Allah tidak mengalami kelelahan dan tidak membutuhkan tidur.
Dalam teologi Kristen, sifat Allah yang tidak bergantung pada kebutuhan biologis makhluk sering dijelaskan melalui istilah aseitas. Aseitas berarti bahwa Allah memiliki keberadaan dari diri-Nya sendiri dan tidak bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya untuk tetap ada. Manusia membutuhkan makanan, air, udara, tidur, dan berbagai kondisi lain untuk mempertahankan kehidupannya, tetapi Allah tidak bergantung kepada ciptaan dengan cara seperti itu. Karena itu, tidur sebagai kebutuhan untuk memulihkan tenaga tidak dapat diterapkan kepada Allah secara harfiah.
Hal ini sejalan dengan kesaksian Yesaya 40:28 yang menyatakan bahwa Allah tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Kesaksian tersebut bukan sekadar mengatakan bahwa Allah memiliki tenaga yang sangat besar sehingga dapat bekerja lebih lama daripada manusia. Pernyataannya jauh lebih mendasar, yaitu bahwa keterbatasan yang melekat pada makhluk tidak berlaku kepada Allah dengan cara yang sama. Allah tidak perlu berhenti bekerja karena kelelahan sebagaimana manusia harus berhenti untuk beristirahat.
Karena itu, “tidur” dalam Mazmur 44 bukanlah kondisi internal Allah, melainkan gambaran mengenai bagaimana tindakan Allah dipersepsikan oleh manusia. Perbedaan ini sangat penting agar kita tidak menciptakan gambaran Allah berdasarkan metafora puitis secara harfiah. Pemazmur tidak sedang mengoreksi Allah karena tertidur, tetapi sedang menyampaikan keluhan karena pertolongan Allah belum tampak.
Allah yang Tidak Berubah dan Pengalaman Manusia yang Berubah
Persoalan berikutnya berkaitan dengan ketidakberubahan Allah. Ketidakberubahan Allah berarti karakter, kesetiaan, dan keberadaan-Nya tidak berubah-ubah seperti manusia. Maleakhi 3:6 berkata, “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah,” sedangkan Yakobus 1:17 menyatakan bahwa pada Allah tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
Kebenaran tersebut sangat penting dalam membaca Mazmur 44. Pemazmur mengalami perubahan keadaan yang sangat besar. Pada masa lampau, umat mengingat pertolongan Allah; pada masa kini, mereka mengalami kekalahan dan kehinaan. Karena keadaan berubah, pemazmur merasa seolah-olah Allah juga berubah. Namun, pengalaman tersebut tidak membuktikan bahwa karakter Allah telah berubah.
Inilah salah satu sumber pergumulan manusia. Kita sering mengukur kesetiaan berdasarkan keadaan yang sedang kita alami. Ketika keadaan membaik, kita mudah menyimpulkan bahwa Allah dekat. Ketika keadaan memburuk, kita dapat merasa bahwa Allah menjauh. Padahal, perubahan keadaan manusia tidak secara otomatis menunjukkan perubahan karakter Allah.
Ratapan pemazmur justru menjadi lebih bermakna karena ia sedang mencoba memahami ketegangan tersebut. Ia mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan yang pernah menyelamatkan umat-Nya, tetapi ia tidak mengerti mengapa pertolongan itu tidak tampak sekarang. Dengan demikian, masalah yang dihadapi bukan terutama apakah Allah dapat dipercaya, melainkan bagaimana memahami kesetiaan Allah ketika pengalaman manusia tampaknya berlawanan dengan harapan.
Keheningan Allah Bukan Berarti Ketidakhadiran Allah
Salah satu persoalan teologis paling sulit yang muncul dari Mazmur 44 adalah konsep keheningan Allah. Keheningan Allah berarti keadaan ketika manusia tidak menerima jawaban, tanda, atau tindakan yang jelas dari Allah sesuai dengan harapannya. Keheningan seperti itu dapat dirasakan sangat nyata, terutama ketika seseorang sedang menghadapi penderitaan yang berkepanjangan.
Namun, keheningan tidak sama dengan ketidakhadiran. Seorang manusia dapat diam tetapi tetap hadir, demikian pula dalam gambaran relasional Alkitab, Allah dapat tidak memberikan jawaban yang segera terlihat tanpa berarti Dia meninggalkan umat-Nya. Ulangan 31:8 mengatakan bahwa Tuhan berjalan di depan umat-Nya dan tidak akan membiarkan atau meninggalkan mereka. Matius 28:20 juga memberikan janji Kristus bahwa Ia menyertai para murid sampai kepada akhir zaman.
Persoalannya adalah bahwa manusia sering menginginkan kehadiran Allah dalam bentuk yang dapat segera dirasakan. Kita menginginkan jawaban yang jelas, jalan keluar yang cepat, atau tanda yang tidak dapat disalahartikan. Ketika hal tersebut tidak terjadi, kita dapat menyamakan keheningan dengan ketidakhadiran. Mazmur 44 menunjukkan bahwa pengalaman semacam itu dapat terjadi bahkan kepada umat yang mengenal Allah.
Hal ini tidak berarti bahwa semua perasaan ditinggalkan harus langsung dibantah dengan kalimat sederhana. Penderitaan itu nyata, dan pengalaman keheningan dapat berlangsung lama. Alkitab memberikan ruang untuk mengakui pengalaman tersebut tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan bahwa Allah tidak setia.
Kedaulatan Allah Tidak Berarti Manusia Tidak Boleh Meratap
Kedaulatan Allah berarti Allah memiliki otoritas tertinggi atas ciptaan dan tidak berada di bawah kendali manusia. Mazmur 115:3 mengatakan, “Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya.” Efesus 1:11 juga berbicara tentang Allah yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.
Namun, kedaulatan Allah tidak menghapus kenyataan bahwa manusia dapat mengalami penderitaan dan tidak memahami jalan Allah. Justru kitab Mazmur menunjukkan bahwa manusia dapat mengeluh kepada Allah tanpa menyangkal kedaulatan-Nya. Pemazmur tidak berkata bahwa Allah harus tunduk kepada kehendaknya. Ia meminta, mendesak, dan menangis di hadapan Allah, tetapi tetap mengarahkan permohonannya kepada Tuhan.
Ini memberikan koreksi terhadap pemahaman yang terlalu sederhana tentang kedaulatan. Jika kedaulatan Allah dipahami secara keliru, seseorang mungkin berpikir bahwa manusia tidak boleh bertanya karena semua sudah ditentukan. Namun, Alkitab tidak menunjukkan doa dengan cara seperti itu. Abraham bertanya kepada Allah dalam Kejadian 18:25, Musa memohon kepada Allah dalam Keluaran 32:11–14, Habakuk mempertanyakan tindakan Allah dalam Habakuk 1:2–4, dan Ayub berkali-kali menyampaikan pergumulannya.
Dengan demikian, mengakui kedaulatan Allah tidak berarti meniadakan ratapan. Justru ratapan dapat menjadi bentuk pengakuan bahwa hanya Allah yang akhirnya memiliki kuasa untuk membawa perubahan. Pemazmur berseru karena ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.
Doa Tidak Mengubah Allah dari Tidak Mau Menjadi Mau
Ungkapan “Bangunlah!” juga dapat menimbulkan pertanyaan tentang fungsi doa. Apakah pemazmur sedang berusaha mengubah pikiran Allah? Apakah doa manusia membuat Allah menjadi peduli setelah sebelumnya tidak peduli? Kesaksian Alkitab tidak mendukung gambaran bahwa Allah pada awalnya tidak peduli lalu baru menjadi peduli karena manusia berhasil membujuk-Nya.
Allah sudah mengetahui kebutuhan manusia sebelum manusia berdoa. Yesus sendiri berkata dalam Matius 6:8 bahwa Bapa mengetahui apa yang diperlukan manusia sebelum mereka meminta kepada-Nya. Karena itu, doa bukanlah tindakan memberikan informasi kepada Allah yang sebelumnya tidak diketahui-Nya.
Doa juga bukan alat untuk memaksa Allah. Doa adalah sarana relasional melalui mana manusia datang kepada Allah, menyampaikan permohonan, menyerahkan diri, dan mengambil bagian dalam karya-Nya. Dalam pengertian ini, ketika pemazmur berkata “Bangunlah”, ia tidak sedang menciptakan kepedulian Allah. Ia sedang memohon agar kepedulian dan kuasa Allah dinyatakan dalam situasi yang sedang ia alami.
Yakobus 5:16 mengatakan bahwa doa orang benar sangat besar kuasanya. Ini menunjukkan bahwa doa sungguh memiliki tempat dalam karya Allah. Namun, kuasa doa tidak berarti manusia menjadi pengendali Allah. Doa beroperasi dalam relasi antara kehendak manusia yang terbatas dan kehendak Allah yang sempurna.
Kehendak Allah dan Permohonan Manusia
Doa Kristen memiliki unsur permohonan, tetapi permohonan tersebut tidak identik dengan tuntutan. Permohonan berarti manusia menyampaikan apa yang diharapkannya sambil tetap mengakui bahwa keputusan akhir berada pada Allah. Hal ini terlihat paling jelas dalam doa Yesus di taman Getsemani.
Dalam Matius 26:39, Yesus berdoa agar cawan itu berlalu dari-Nya, tetapi Ia menambahkan, “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Doa tersebut memperlihatkan bahwa permohonan yang sungguh-sungguh dapat berjalan bersama penyerahan kepada kehendak Allah.
Mazmur 44 memiliki bentuk yang berbeda karena pemazmur sedang berada dalam ratapan komunitas, tetapi prinsip dasarnya serupa. Pemazmur meminta Allah bertindak, tetapi ia tidak memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana Allah harus bertindak. Ia membawa kebutuhan kepada Allah, bukan mengambil alih pemerintahan Allah.
Dengan demikian, “Bangunlah!” bukanlah bentuk manipulasi terhadap Allah. Ini adalah permohonan yang lahir dari penderitaan. Pemazmur mengungkapkan apa yang sangat ia rindukan: agar Allah kembali menyatakan pertolongan-Nya.
Mengapa Allah Membiarkan Penderitaan Orang yang Setia?
Di sinilah kita sampai pada salah satu persoalan teologis yang paling berat dalam Mazmur 44. Pemazmur merasa bahwa umat tidak meninggalkan Allah, tetapi tetap mengalami penderitaan. Jika demikian, bagaimana penderitaan orang benar harus dipahami?
Alkitab tidak memberikan satu penjelasan yang dapat diterapkan secara mekanis kepada semua penderitaan. Kitab Ayub menolak gagasan bahwa setiap penderitaan pasti merupakan akibat langsung dari dosa tertentu. Dalam Yohanes 9:1–3, Yesus juga menolak asumsi bahwa kebutaan seseorang secara otomatis disebabkan oleh dosa pribadi orang tersebut atau orang tuanya.
Sebaliknya, Alkitab menunjukkan bahwa dunia yang telah jatuh ke dalam dosa merupakan dunia yang penuh dengan penderitaan. Kejadian 3 menggambarkan masuknya dosa dan akibatnya ke dalam kehidupan manusia dan ciptaan. Roma 8:20–22 kemudian menggambarkan seluruh ciptaan sebagai sesuatu yang sedang mengeluh dan menantikan pembebasan.
Istilah “kejatuhan” dalam teologi Kristen menunjuk pada keadaan manusia dan ciptaan setelah masuknya dosa ke dalam sejarah manusia. Akibat dosa tidak hanya menyentuh kehidupan rohani manusia, tetapi juga merusak hubungan manusia dengan sesama, alam, dan berbagai aspek kehidupan. Karena itu, penderitaan dalam dunia sekarang tidak dapat selalu dibaca sebagai hukuman langsung terhadap individu tertentu.
Penderitaan Tidak Selalu Menjadi Ukuran Besarnya Kasih Allah
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengukur kasih Allah berdasarkan tingkat kenyamanan hidup. Jika seseorang sehat, berhasil, aman, dan makmur, ia dianggap sedang sangat diberkati. Jika seseorang sakit, miskin, kehilangan sesuatu, atau mengalami penganiayaan, ia dianggap kurang diberkati atau bahkan sedang dihukum.
Mazmur 44 memberikan gambaran yang berbeda. Umat Allah dapat mengalami penderitaan berat tanpa berarti hubungan mereka dengan Allah telah batal. Perjanjian Baru juga menunjukkan bahwa para rasul yang hidup dekat dengan Kristus justru mengalami penolakan, penganiayaan, penjara, dan penderitaan.
Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:8–9 bahwa ia mengalami penindasan dari segala sisi, tetapi tidak terjepit; ia mengalami kehabisan akal, tetapi tidak putus asa; ia dianiaya, tetapi tidak ditinggalkan. Pernyataan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa penderitaan dan penyertaan Allah bukan dua hal yang selalu saling bertentangan.
Bahkan dalam Roma 8:35, Paulus bertanya siapa yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus: penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, atau pedang? Jawabannya adalah tidak ada. Dengan demikian, penderitaan tidak dapat digunakan sebagai alat ukur yang sederhana untuk menentukan apakah Allah mengasihi seseorang.
Salib Kristus Memberikan Perspektif Terakhir terhadap Penderitaan
Dalam iman Kristen, pembacaan Mazmur 44 akhirnya harus ditempatkan dalam terang salib Kristus. Salib adalah tempat Yesus mengalami penderitaan, penghinaan, dan kematian, padahal Ia tidak berdosa. Karena itu, salib secara teologis menghancurkan gagasan bahwa penderitaan selalu berarti seseorang sedang ditolak Allah karena kesalahan pribadinya.
Yesaya 53 telah menggambarkan Hamba Tuhan sebagai sosok yang dihina dan menderita. Perjanjian Baru kemudian memahami penderitaan dan kematian Kristus dalam kerangka karya penebusan. Penebusan berarti tindakan Allah untuk membebaskan manusia dari kuasa dosa dan memulihkan hubungan manusia dengan-Nya.
Salib juga memperlihatkan bahwa Allah dapat hadir di tengah penderitaan dengan cara yang tidak sesuai dengan ekspektasi manusia. Para murid mungkin mengharapkan Mesias memerintah dengan kemenangan yang langsung terlihat. Namun, jalan Kristus menuju kemenangan justru melewati penderitaan dan kematian.
Karena itu, ketika orang percaya mengalami masa ketika Allah terasa diam, salib mengingatkan bahwa keheningan yang dirasakan manusia tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai ketidakpedulian Allah. Allah dapat sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada apa yang dapat segera dilihat manusia.
Kebangkitan Menunjukkan bahwa Penderitaan Bukan Kata Terakhir
Jika salib menjadi pusat penderitaan Kristus, kebangkitan menjadi pusat pengharapan Kristen. Kebangkitan berarti Allah membangkitkan Yesus dari kematian pada hari ketiga, sebagaimana diberitakan oleh para rasul. 1 Korintus 15:17 menegaskan bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, iman Kristen menjadi sia-sia.
Hubungannya dengan Mazmur 44 sangat penting. Pemazmur berada dalam situasi ketika kekalahan tampak menjadi kenyataan terakhir. Namun, iman Alkitab selalu mengarahkan pandangan melampaui keadaan sekarang. Dalam Perjanjian Baru, kemenangan Allah tidak ditentukan oleh keadaan Jumat Agung saja, tetapi harus dilihat bersama dengan kebangkitan.
Ini tidak berarti bahwa setiap penderitaan dalam kehidupan sekarang akan berakhir dengan pemulihan yang langsung terlihat. Namun, kebangkitan memberikan dasar bagi keyakinan bahwa kematian dan penderitaan bukanlah realitas terakhir. Wahyu 21:4 berbicara mengenai masa ketika tidak akan ada lagi kematian, perkabungan, ratap tangis, dan dukacita.
Dengan demikian, iman Kristen tidak menjanjikan dunia tanpa penderitaan sekarang. Iman Kristen menjanjikan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari cerita Allah. Harapan tersebut memberi perspektif eskatologis, yaitu perspektif mengenai penggenapan karya Allah pada akhir zaman.
Keheningan Allah dan Jarak antara Janji dan Penggenapan
Dalam kehidupan iman terdapat ketegangan antara janji Allah dan penggenapan janji tersebut. Alkitab menyebut berbagai janji Allah yang telah mulai digenapi tetapi belum mencapai kepenuhannya. Teologi sering menjelaskan keadaan ini dengan konsep “sudah dan belum”.
“Sudah” berarti karya keselamatan Allah telah dimulai dan realitas kerajaan-Nya telah hadir melalui Kristus. “Belum” berarti kepenuhan kerajaan tersebut masih menantikan penggenapan akhir. Karena itu, orang percaya dapat mengalami pertolongan Allah sekaligus masih menghadapi penderitaan.
Roma 8:23 menggambarkan orang percaya yang memiliki Roh sebagai “buah sulung”, tetapi masih menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh. Buah sulung adalah hasil pertama yang menjadi tanda bahwa panen yang lebih besar akan datang. Dengan gambaran tersebut, Paulus menjelaskan bahwa keselamatan telah dimulai tetapi belum mencapai kepenuhannya.
Konsep ini membantu memahami mengapa dunia sekarang masih mengandung penderitaan meskipun Kristus telah datang. Allah telah bertindak secara menentukan melalui Kristus, tetapi pemulihan seluruh ciptaan belum selesai. Dalam ruang antara permulaan dan kepenuhan tersebut, umat Allah masih dapat berseru seperti pemazmur, “Bangunlah!”
Mengapa Allah Tidak Selalu Menjawab dengan Cara yang Kita Inginkan?
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang sederhana. Alkitab menunjukkan bahwa Allah kadang-kadang menjawab doa dengan memberikan apa yang diminta. Pada kesempatan lain, Allah memberikan sesuatu yang berbeda dari permintaan manusia. Dalam 2 Korintus 12:7–9, Paulus berdoa tiga kali agar “duri dalam daging”-nya diambil, tetapi jawaban yang diterimanya bukan penghilangan penderitaan tersebut.
Allah berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Paulus kemudian belajar bahwa kuasa Kristus justru menjadi sempurna dalam kelemahan. Bagian ini tidak boleh digunakan untuk mengatakan bahwa setiap penderitaan harus diterima secara pasif. Namun, bagian tersebut menunjukkan bahwa jawaban Allah tidak selalu identik dengan penghilangan masalah.
Hal tersebut penting karena manusia sering mengartikan “Allah menjawab doa” hanya jika hasilnya sesuai dengan permintaan. Padahal, Alkitab menunjukkan bahwa Allah dapat bekerja melalui jawaban yang tidak sesuai dengan harapan manusia. Ini merupakan salah satu alasan mengapa keheningan dan jawaban Allah perlu dibedakan dari keinginan manusia.
“Bangunlah” dan Kerinduan akan Keadilan
Mazmur 44 juga memiliki dimensi keadilan. Pemazmur tidak hanya meminta kenyamanan bagi dirinya. Ia meminta Allah bertindak karena umat-Nya sedang dipermalukan dan ditindas. Dalam konteks ini, seruan agar Allah bangun adalah seruan agar keadilan Allah dinyatakan.
Alkitab berkali-kali mengajarkan bahwa Allah adalah Hakim yang adil. Mazmur 9:8–9 menyatakan bahwa Tuhan menghakimi dunia dengan keadilan dan menjadi tempat perlindungan bagi orang yang tertindas. Mazmur 10:17–18 juga berbicara tentang perhatian Allah terhadap orang tertindas.
Karena itu, ratapan bukan hanya persoalan emosi pribadi. Ratapan juga dapat menjadi bentuk protes terhadap ketidakadilan yang diarahkan kepada Allah sebagai Hakim. Pemazmur percaya bahwa dunia tidak boleh berakhir dalam keadaan di mana kejahatan menang tanpa pertanggungjawaban.
Dalam perspektif Kristen, harapan akan keadilan tersebut mencapai kepenuhannya dalam penghakiman akhir. Wahyu 20 menggambarkan penghakiman Allah, sedangkan Wahyu 21–22 menggambarkan pembaruan segala sesuatu. Dengan demikian, seruan pemazmur agar Allah bertindak memiliki hubungan dengan harapan Alkitab bahwa Allah pada akhirnya akan menyelesaikan persoalan kejahatan.
Apakah Ratapan Berarti Kurang Iman?
Tidak. Kesimpulan tersebut justru bertentangan dengan banyak contoh Alkitab. Ratapan dapat muncul dari iman yang sedang berada di bawah tekanan. Pemazmur bertanya kepada Allah karena ia masih percaya bahwa Allah adalah Pribadi yang dapat mendengar dan menolong.
Iman bukan berarti tidak pernah mengalami ketakutan atau kebingungan. Iman berarti tetap mengarahkan diri kepada Allah meskipun keadaan belum dapat dipahami. Habakuk 3:17–18 memberikan contoh yang sangat kuat ketika nabi berkata bahwa sekalipun pohon ara tidak berbunga dan hasil kebun anggur tidak ada, ia tetap akan bersorak-sorak di dalam Tuhan.
Perjalanan dari keluhan menuju kepercayaan tidak selalu berlangsung dalam satu menit. Beberapa mazmur berakhir dengan sukacita, sementara beberapa lainnya mempertahankan ketegangan. Ini menunjukkan bahwa kehidupan rohani manusia tidak selalu bergerak secara lurus. Ada masa ketika iman terasa kuat dan ada masa ketika iman harus dipertahankan melalui pergumulan yang berat.
Karena itu, seseorang yang sedang bertanya kepada Allah bukan otomatis seseorang yang kehilangan iman. Yang perlu diperhatikan adalah arah pertanyaannya. Pemazmur membawa pertanyaan kepada Allah, bukan menjadikan pertanyaan tersebut alasan untuk berhenti mencari Allah.
Bahasa “Bangun” Menunjukkan Hubungan yang Hidup dengan Allah
Secara teologis, salah satu hal paling indah dalam Mazmur 44 adalah kenyataan bahwa pemazmur masih berbicara kepada Allah. Ia tidak membicarakan Allah dari kejauhan sebagai objek filsafat. Ia menyapa-Nya secara langsung.
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa Allah dalam Alkitab bukan sekadar prinsip abstrak yang menjelaskan asal-usul alam semesta. Allah adalah Pribadi yang dikenal, disembah, dipanggil, dan menjadi tempat perlindungan umat. Karena itu, bahasa doa dapat sangat personal.
Mazmur 27:8 berkata, “Hatiku mengikuti firman-Mu: ‘Carilah wajah-Ku!’ Maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.” “Mencari wajah Allah” merupakan ungkapan relasional yang berarti merindukan kehadiran dan perkenanan Allah. Bahasa seperti ini memperlihatkan bahwa iman Alkitab melibatkan hubungan, bukan sekadar persetujuan intelektual terhadap beberapa doktrin.
Dalam kerangka tersebut, “Bangunlah!” merupakan bahasa seseorang yang menginginkan relasi itu kembali dialami dalam bentuk pertolongan yang nyata. Pemazmur tidak puas dengan sekadar mengingat bahwa Allah pernah bertindak. Ia ingin mengalami tindakan Allah dalam keadaan yang sedang dihadapinya.
Allah Tidak Harus “Dibangunkan”, tetapi Manusia Sering Perlu Dibangunkan dari Ilusi tentang Allah
Ada sebuah pembalikan teologis yang menarik dalam ayat ini. Pemazmur berkata, “Bangunlah!” kepada Allah, tetapi pembacaan yang lebih luas justru dapat membangunkan manusia dari pemahaman yang keliru mengenai Allah. Allah tidak perlu dibangunkan dari tidur, tetapi manusia perlu dibangunkan dari anggapan bahwa tindakan Allah harus selalu sesuai dengan waktu dan cara yang mereka tentukan.
Kita sering mengharapkan Allah bertindak menurut jadwal kita. Kita menentukan kapan masalah harus selesai, bagaimana jawaban harus datang, dan bentuk pertolongan yang harus diberikan. Ketika hal tersebut tidak terjadi, kita mudah menyimpulkan bahwa Allah sedang diam atau tidak peduli.
Mazmur 44 mengajar kita untuk membawa tuntutan dan pertanyaan tersebut kepada Allah tanpa menjadikan diri kita sebagai hakim terakhir atas tindakan-Nya. Pemazmur memang mendesak Allah, tetapi ia tetap berakhir pada kasih setia Allah. Dengan demikian, ratapan akhirnya harus berjalan menuju kepercayaan.
Kasih Setia Allah Menjadi Dasar Harapan
Mazmur 44:27 merupakan kunci teologis yang sangat penting. Pemazmur meminta Allah menyelamatkan mereka “karena kasih setia-Mu”. Artinya, dasar harapan mereka bukan keberhasilan manusia, bukan kekuatan militer, dan bukan kemampuan mereka memahami semua tindakan Allah.
Kasih setia Allah berarti karakter Allah yang tetap dapat dipercaya meskipun keadaan manusia berubah. Dalam Perjanjian Lama, konsep tersebut sangat erat dengan kesetiaan Allah terhadap perjanjian. Dalam Perjanjian Baru, tema kesetiaan Allah terus berlanjut melalui karya Kristus dan janji keselamatan.
Ratapan menjadi sehat ketika akhirnya tidak berhenti pada keadaan. Pemazmur boleh berkata bahwa keadaan buruk, bahwa musuh kuat, bahwa dirinya tidak mengerti, dan bahwa Allah tampak diam. Namun, pada akhirnya ia kembali kepada siapa Allah itu.
Inilah perbedaan antara ratapan iman dan keputusasaan. Keputusasaan mengatakan bahwa tidak ada lagi dasar untuk berharap. Ratapan iman mengatakan bahwa keadaan tampak tidak memberikan alasan untuk berharap, tetapi Allah tetap menjadi dasar pengharapan.
Mazmur 44 Tidak Memberikan Janji bahwa Setiap Doa Akan Segera Dijawab
Poin ini perlu ditegaskan agar Mazmur 44 tidak digunakan secara keliru. Seruan “Bangunlah!” bukan formula yang menjamin bahwa jika seseorang berdoa dengan cukup keras, Allah pasti segera mengubah keadaan. Alkitab tidak mengajarkan bahwa intensitas emosi manusia menentukan kecepatan Allah bertindak.
Doa adalah relasi dengan Allah, bukan teknik untuk mengendalikan Allah. Yakobus 4:3 bahkan mengingatkan bahwa ada doa yang tidak menerima karena motivasinya salah. Sebaliknya, 1 Yohanes 5:14 menegaskan bahwa keyakinan dalam doa berkaitan dengan meminta sesuatu menurut kehendak Allah.
Karena itu, orang percaya boleh berdoa dengan sangat sungguh-sungguh, tetapi tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Ini bukan sikap pasif. Ini adalah pengakuan bahwa hikmat manusia terbatas sedangkan Allah mengetahui seluruh keadaan.
Ketika Allah Tampak Diam, Karakter Allah Tetap Menjadi Dasar
Salah satu pelajaran terbesar dari Mazmur 44 adalah bahwa ketika pengalaman tidak dapat memberikan kepastian, karakter Allah harus menjadi dasar iman. Pemazmur tidak memiliki semua jawaban. Ia tidak tahu mengapa keadaan tersebut terjadi. Ia juga tidak mengetahui kapan pertolongan akan datang.
Namun, ia mengetahui siapa Allah yang sedang ia panggil. Ia mengetahui sejarah pertolongan Allah. Ia mengetahui bahwa Allah adalah Raja mereka. Ia mengetahui kasih setia Allah. Karena itu, meskipun pengalamannya penuh pertanyaan, arah imannya tetap menuju Tuhan.
Prinsip ini juga terlihat dalam Roma 8:28. Paulus mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan dipanggil sesuai dengan rencana-Nya. Ayat ini tidak mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah baik. Yang dikatakan adalah bahwa Allah dapat bekerja di dalam segala sesuatu menuju tujuan-Nya.
Perbedaan itu sangat penting. Kejahatan tetap merupakan kejahatan, kehilangan tetap merupakan kehilangan, dan penderitaan tetap merupakan penderitaan. Namun, tidak satu pun dari semuanya itu memiliki kuasa untuk membatasi Allah sehingga Dia tidak dapat mengerjakan tujuan-Nya.
Pengharapan Kristen Tidak Berdasarkan Perasaan bahwa Allah Selalu Dekat
Perasaan memiliki tempat dalam kehidupan iman, tetapi perasaan tidak boleh menjadi satu-satunya dasar teologi. Ada masa ketika seseorang merasa sangat dekat dengan Allah, tetapi ada pula masa ketika doa terasa kering dan Allah terasa jauh. Perubahan pengalaman tersebut tidak berarti bahwa Allah berubah.
Mazmur 42:6 berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!” Pemazmur berbicara kepada dirinya sendiri karena perasaannya sedang mengalami tekanan. Ia tidak menyangkal perasaannya, tetapi ia tidak membiarkan perasaan tersebut menjadi penentu terakhir mengenai siapa Allah.
Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kehidupan rohani. Perasaan bahwa Allah jauh dapat menjadi pengalaman yang sungguh-sungguh menyakitkan, tetapi pengalaman tersebut perlu dibawa kepada kebenaran yang lebih besar mengenai Allah. Iman tidak memaksa manusia untuk berhenti merasa, tetapi membantu manusia menempatkan perasaannya dalam terang karakter Allah.
Allah yang Tampak Diam Tetap Menjadi Allah yang Berdaulat
Kita sekarang dapat kembali kepada inti persoalan. Mengapa pemazmur meminta Allah bangun? Karena dari perspektif penderitaan manusia, keadaan tampak seperti Allah tidak bertindak. Namun, secara teologis, kita tidak boleh mengubah pengalaman tersebut menjadi pernyataan bahwa Allah benar-benar tidak aktif.
Allah tetap berdaulat ketika manusia tidak memahami tindakan-Nya. Allah tetap setia ketika manusia belum melihat jawaban. Allah tetap hadir ketika manusia tidak merasakan kehadiran-Nya. Dan Allah tetap bekerja meskipun pekerjaan-Nya tidak selalu dapat dikenali oleh manusia pada saat itu.
Mazmur 44 dengan demikian mengajarkan dua kebenaran yang harus dipertahankan bersama. Pertama, manusia boleh sungguh-sungguh meratap ketika penderitaan menjadi berat. Kedua, ratapan tersebut tidak boleh membuat manusia menyimpulkan bahwa karakter Allah telah berubah.
Dari Pertanyaan Menuju Penyembahan
Tujuan akhir teologi bukan sekadar membuat manusia mampu menjelaskan sebuah ayat. Tujuannya adalah membawa manusia kepada pemahaman yang benar mengenai Allah sehingga kehidupan dan penyembahannya dibentuk oleh kebenaran tersebut. Mazmur 44 menunjukkan bahwa pertanyaan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju pengenalan yang lebih dalam.
Pemazmur tidak memiliki semua jawaban ketika ia berkata, “Mengapa Engkau tidur?” Tetapi pertanyaannya tetap diarahkan kepada Tuhan. Ia tidak mengganti Allah dengan jawaban yang mudah. Ia tidak meninggalkan Tuhan karena tidak memahami keadaan. Ia tetap berseru kepada-Nya.
Di sinilah terdapat pelajaran penting bagi iman. Ada pertanyaan yang mungkin tidak memperoleh jawaban lengkap dalam kehidupan sekarang. Ada penderitaan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas. Ada masa ketika seseorang hanya dapat berkata, “Tuhan, saya tidak mengerti, tetapi saya tetap datang kepada-Mu.”
Sikap seperti itu bukan kegagalan iman. Justru dalam banyak keadaan, itulah bentuk iman yang paling jujur. Iman tidak selalu berarti memiliki semua penjelasan; iman berarti tetap mempercayakan diri kepada Allah ketika penjelasan yang kita inginkan belum tersedia.
Apa Arti “Allah Bangun” bagi Orang Percaya Sekarang?
Bagi orang percaya masa kini, “Allah bangun” tidak boleh dipahami sebagai perubahan keadaan internal Allah. Allah tidak berpindah dari keadaan tidak sadar menuju sadar. Ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai bahasa doa yang memohon agar Allah menyatakan pertolongan-Nya dalam keadaan nyata yang sedang dihadapi.
Karena itu, ketika seseorang berdoa, “Tuhan, bangunlah dan tolonglah saya,” ia sebenarnya sedang menyampaikan kerinduan agar Allah bertindak. Ia sedang berkata bahwa situasinya telah menjadi berat dan ia membutuhkan pertolongan Allah. Doa tersebut dapat menjadi sangat Alkitabiah selama orang tersebut memahami bahwa Allah tidak sedang tidur secara harfiah.
Bahasa seperti itu juga mengingatkan kita bahwa Allah adalah tujuan doa, bukan sekadar sarana untuk memperoleh sesuatu. Ketika manusia datang kepada Allah, ia tidak hanya mencari perubahan keadaan. Ia juga mencari Tuhan sendiri.
Mengapa Allah Mengizinkan Kita Mengalami Masa Seperti Mazmur 44?
Tidak semua alasan dapat kita ketahui. Namun, Alkitab menunjukkan bahwa masa penderitaan dapat menghasilkan ketekunan, kedewasaan, pengharapan, dan ketergantungan yang lebih dalam kepada Allah. Roma 5:3–5 berbicara mengenai penderitaan yang menghasilkan ketekunan, tahan uji, dan pengharapan.
Yakobus 1:2–4 juga berbicara tentang ujian iman yang menghasilkan ketekunan. Ujian dalam konteks tersebut berarti keadaan yang menguji dan membentuk kualitas iman. Hal ini bukan berarti Allah menikmati penderitaan manusia, melainkan bahwa Allah dapat memakai pengalaman yang berat untuk membentuk sesuatu yang tidak mungkin terbentuk melalui kenyamanan semata.
Namun, kita harus berhati-hati. Tidak setiap penderitaan perlu dicari-cari sebagai “pelajaran” secara tergesa-gesa. Ada penderitaan yang pertama-tama membutuhkan belas kasih, pertolongan, kehadiran, dan penghiburan. Setelah itu barulah seseorang mungkin dapat melihat makna tertentu yang sebelumnya tidak terlihat.
Allah yang Tidak Tidur Memberikan Dasar bagi Pengharapan
Akhirnya, justru karena Allah tidak tidur, seruan pemazmur memiliki dasar. Jika Allah benar-benar tidak peduli, doa tidak memiliki alasan. Jika Allah benar-benar tidak berkuasa, seruan “Bangunlah” tidak memiliki tujuan. Tetapi karena Allah adalah Allah yang hidup, berkuasa, mengetahui, dan setia, manusia dapat terus berseru kepada-Nya.
Mazmur 121:4 memberikan gambaran yang sangat indah: Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur. Artinya, bahkan ketika umat tidak dapat melihat apa yang sedang dilakukan Allah, Allah tidak kehilangan kewaspadaan terhadap umat-Nya. Ini menjadi salah satu jawaban teologis paling kuat terhadap Mazmur 44:24.
Dengan demikian, terdapat sebuah ironi yang indah. Pemazmur berkata, “Mengapa Engkau tidur?” tetapi kesaksian Kitab Suci mengatakan bahwa Allah tidak tidur. Pemazmur berkata, “Bangunlah!” tetapi Allah tidak pernah kehilangan kesadaran. Yang berubah bukan keadaan Allah, melainkan keadaan manusia dan pengalaman manusia terhadap tindakan Allah.
Karena itu, seruan “Bangunlah!” dapat dibaca sebagai doa yang lahir dari jurang penderitaan, tetapi diarahkan kepada Allah yang tidak pernah meninggalkan takhta-Nya. Pemazmur tidak mengetahui kapan pertolongan akan datang, tetapi ia tetap memanggil Allah. Dan pada akhirnya, dasar permohonannya bukan kemampuan manusia untuk memahami semua hal, melainkan kasih setia Allah.
Mazmur 44 dengan demikian memberikan gambaran iman yang sangat realistis. Iman tidak menyangkal bahwa ada masa ketika Allah terasa diam. Iman juga tidak mengajarkan bahwa semua penderitaan dapat dijelaskan dengan mudah. Sebaliknya, iman membawa pengalaman yang tidak dapat dijelaskan itu kepada Allah, sambil tetap berpegang pada karakter-Nya.
Di sinilah pertanyaan awal kita memperoleh jawaban teologis yang semakin lengkap. Pemazmur meminta Allah “bangun dari tidur” bukan karena ia percaya bahwa Allah benar-benar tertidur, melainkan karena penderitaan telah membuat tindakan Allah terasa seolah-olah tidak ada. “Bangunlah” adalah seruan agar Allah menyatakan kuasa, keadilan, penyertaan, dan kasih setia-Nya. Bahasa tersebut merupakan bahasa ratapan yang lahir dari iman, bukan pernyataan doktrinal bahwa Allah memiliki kelemahan seperti manusia.
Namun, masih diperlukan satu langkah terakhir. Kita perlu melihat apa yang seharusnya dilakukan orang percaya ketika berada dalam situasi seperti pemazmur. Bagaimana seharusnya kita berdoa ketika Allah terasa diam? Bagaimana kita menjaga iman ketika penderitaan tidak segera berakhir? Bagaimana kita membedakan antara keluhan yang jujur dan sikap menuduh Allah? Dan apa yang dapat kita pelajari secara praktis dari Mazmur 44 untuk kehidupan sehari-hari?
Kesimpulan
Mazmur 44:24 merupakan salah satu ungkapan doa yang paling kuat untuk menggambarkan pergumulan manusia ketika pertolongan Allah belum terlihat. Pemazmur berkata, “Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!” Ungkapan tersebut tidak boleh dipahami sebagai pengajaran bahwa Allah benar-benar tidur dan kemudian harus dibangunkan oleh manusia. Alkitab secara konsisten menyatakan bahwa Allah tidak mengalami keterbatasan seperti manusia, sehingga bahasa “tidur” dan “bangun” dalam ayat ini merupakan bahasa puitis yang menggambarkan pengalaman manusia terhadap tindakan Allah yang belum tampak.
Hal yang sangat penting adalah bahwa pemazmur tidak sedang meninggalkan Allah ketika ia mengucapkan perkataan tersebut. Justru sebaliknya, ia berbicara kepada Allah karena masih mengharapkan Allah bertindak. Ratapan yang diarahkan kepada Allah menunjukkan bahwa hubungan iman masih berlangsung, bahkan ketika hubungan tersebut sedang berada dalam keadaan yang sangat menyakitkan. Seseorang yang benar-benar tidak lagi memiliki harapan kepada Allah mungkin berhenti berbicara kepada-Nya, sedangkan pemazmur masih berseru, bertanya, memohon, bahkan mendesak Allah untuk bertindak. Dengan demikian, Mazmur 44:24 memperlihatkan bahwa iman yang matang tidak selalu berbicara dengan bahasa yang tenang dan penuh kemenangan, tetapi terkadang berbicara melalui air mata, pertanyaan, kebingungan, dan seruan yang sangat mendalam.
Pertanyaan “Mengapa Engkau tidur?” pada akhirnya bukanlah pertanyaan tentang kondisi Allah, melainkan pertanyaan tentang pengalaman manusia. Pemazmur melihat penderitaan, kekalahan, penghinaan, dan ketidakberdayaan, tetapi tidak melihat intervensi Allah sebagaimana yang ia harapkan. Karena itu, dari sudut pandang pengalaman manusia, seolah-olah Allah diam. Namun, Alkitab membedakan dengan jelas antara apa yang dirasakan manusia dan siapa Allah dalam keberadaan-Nya. Perasaan manusia sungguh nyata dan tidak perlu disangkal, tetapi perasaan tersebut tidak selalu memberikan gambaran lengkap mengenai tindakan Allah yang sedang berlangsung.
Di sinilah kita menemukan salah satu pelajaran terbesar dari Mazmur 44:24. Ketika Allah tampaknya diam, manusia sering kali tergoda untuk menyimpulkan bahwa Allah telah pergi, tidak peduli, tidak mendengar, atau tidak lagi bekerja. Kesimpulan tersebut terlalu cepat apabila hanya dibangun berdasarkan keadaan yang sedang terlihat. Kitab Suci justru berkali-kali menunjukkan bahwa karya Allah dapat berlangsung melalui proses yang tidak segera dipahami manusia. Oleh sebab itu, iman bukan berarti memaksa diri mengatakan bahwa keadaan baik-baik saja, melainkan tetap mempercayai karakter Allah ketika keadaan belum dapat dijelaskan.
Mazmur 44 juga memperlihatkan bahwa pertanyaan kepada Allah tidak selalu merupakan tanda pemberontakan. Ada perbedaan antara bertanya karena ingin memahami dan menuduh Allah dengan sikap menolak-Nya. Dalam Alkitab, orang-orang beriman seperti Ayub, Daud, Habakuk, dan banyak pemazmur lainnya mengajukan pertanyaan yang sangat berat kepada Allah. Mereka tidak selalu memahami alasan penderitaan mereka, tetapi mereka membawa ketidakpahaman itu ke hadapan Allah. Hal tersebut memberikan ruang yang sangat penting bagi kehidupan iman, sebab manusia tidak harus berpura-pura memahami segala sesuatu untuk dapat tetap percaya.
Kita juga harus memahami bahwa “bangunlah” dalam Mazmur 44:24 bukanlah perintah manusia kepada Allah seolah-olah manusia memiliki kuasa untuk menentukan kapan Allah harus bertindak. Doa memiliki sifat permohonan, bukan pengendalian. Pemazmur menyampaikan kebutuhan dan harapannya dengan bahasa yang sangat kuat karena penderitaannya juga sangat kuat. Akan tetapi, keputusan terakhir mengenai bagaimana dan kapan pertolongan diberikan tetap berada dalam kedaulatan Allah. Karena itu, doa yang benar bukan usaha untuk menguasai Allah, melainkan keberanian untuk membawa seluruh kebutuhan manusia ke hadapan Allah sambil tetap mengakui bahwa Allah adalah Tuhan.
Prinsip tersebut terlihat dengan sangat indah dalam doa Yesus di taman Getsemani. Dalam Matius 26:39, Yesus berdoa agar cawan penderitaan itu berlalu dari-Nya, tetapi Ia menutup doa-Nya dengan penyerahan kepada kehendak Bapa. Di sini kita melihat bahwa permohonan dan penyerahan bukanlah dua hal yang bertentangan. Seseorang dapat dengan sungguh-sungguh meminta pertolongan sambil tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Doa semacam itu bukan tanda lemahnya iman, melainkan bentuk kepercayaan yang semakin dalam karena manusia mengakui bahwa kasih dan hikmat Allah melampaui pemahamannya sendiri.
Mazmur 44:24 juga mengajarkan bahwa keterlambatan bukan berarti penolakan. Dalam pengalaman manusia, waktu merupakan salah satu sumber kegelisahan terbesar karena manusia ingin mengetahui kapan keadaan akan berubah. Allah, bagaimanapun, tidak bekerja menurut keterbatasan perspektif manusia. Pengkhotbah 3:11 mengatakan bahwa Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya, meskipun manusia tidak selalu mampu memahami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir. Karena itu, penantian dalam iman bukan sekadar menunggu sesuatu terjadi, melainkan belajar tetap setia ketika hasil yang diharapkan belum terlihat.
Penantian semacam ini membutuhkan pengharapan. Pengharapan Kristen berbeda dari optimisme biasa. Optimisme mengatakan bahwa keadaan mungkin menjadi lebih baik karena masih ada kemungkinan yang baik, sedangkan pengharapan alkitabiah berakar pada karakter Allah dan janji-Nya. Roma 5:3–5 menghubungkan penderitaan dengan ketekunan, tahan uji, dan pengharapan, tetapi ayat tersebut tidak berarti bahwa setiap penderitaan pasti mudah dipahami atau selalu langsung menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Pengharapan berarti bahwa penderitaan tidak memiliki kata terakhir karena kehidupan manusia berada dalam tangan Allah.
Kitab Ratapan memberikan gambaran yang sangat penting mengenai hal tersebut. Setelah menggambarkan penderitaan yang berat, penulis berkata dalam Ratapan 3:21–23 bahwa ia mengingat sesuatu yang memberikan pengharapan, yaitu kasih setia Tuhan tidak berakhir dan rahmat-Nya tidak habis. Perubahan tersebut sangat menarik karena keadaan belum tentu langsung berubah ketika pengharapan itu muncul. Yang berubah terlebih dahulu adalah cara penderitaan itu ditempatkan dalam terang karakter Allah. Dengan demikian, pengharapan tidak selalu dimulai ketika masalah selesai, tetapi dapat dimulai ketika manusia kembali mengingat siapa Allah di tengah masalah.
Mazmur 46:2–3 juga memberikan dasar yang kuat bagi iman ketika keadaan tampak tidak stabil. Pemazmur menyebut Allah sebagai tempat perlindungan dan kekuatan, pertolongan yang terbukti dalam kesesakan. Bahkan ketika bumi berubah dan gunung-gunung goncang ke dalam laut, umat Allah memiliki dasar untuk tidak takut. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa keamanan iman tidak bergantung pada kestabilan dunia di sekitar manusia. Dunia dapat berubah, keadaan dapat berguncang, dan jawaban dapat tertunda, tetapi Allah tetap menjadi tempat perlindungan.
Karena itu, pertanyaan “Mengapa Pemazmur Meminta Allah Bangun dari Tidur?” akhirnya membawa kita kepada pemahaman yang lebih dalam mengenai doa. Doa bukan hanya komunikasi pada saat manusia membutuhkan sesuatu, melainkan ruang tempat manusia membawa seluruh kenyataan hidupnya kepada Allah. Dalam doa, manusia dapat menyatakan sukacita, rasa syukur, ketakutan, kemarahan, kebingungan, kesedihan, dan pengharapan. Mazmur 44 menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menerima doa yang sudah rapi, tetapi firman-Nya sendiri memberikan tempat bagi ratapan yang jujur.
Jawaban paling ringkas terhadap pertanyaan artikel ini adalah: pemazmur meminta Allah “bangun” bukan karena Allah benar-benar tidur, melainkan karena ia sedang memohon agar Allah menyatakan tindakan pertolongan-Nya di tengah penderitaan yang membuat-Nya tampak diam. Bahasa tersebut merupakan bahasa puitis yang menggambarkan pengalaman manusia, bukan gambaran literal mengenai kondisi Allah. Mazmur 44:24 dengan demikian tidak bertentangan dengan Mazmur 121:4 yang menyatakan bahwa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur. Kedua ayat tersebut justru dapat dibaca bersama untuk memahami perbedaan antara keadaan Allah yang sebenarnya dan pengalaman manusia yang sedang menantikan tindakan-Nya.
Pada akhirnya, Mazmur 44 tidak mengajarkan bahwa orang percaya harus selalu mengetahui alasan Allah mengizinkan penderitaan. Alkitab juga tidak memberikan formula sederhana yang mengatakan bahwa setiap kesulitan pasti terjadi karena satu alasan tertentu. Ada penderitaan yang berhubungan dengan keputusan manusia, ada yang muncul dari kehidupan di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, ada yang merupakan konsekuensi alami dari berbagai keadaan, dan ada pula penderitaan yang alasannya tidak pernah dijelaskan kepada manusia secara lengkap. Karena itu, sikap yang paling bijaksana bukanlah mencari penjelasan yang dipaksakan, melainkan tetap berjalan bersama Allah sambil mengakui keterbatasan pengetahuan manusia.
Kisah Ayub sangat penting dalam hal ini. Ayub mengalami penderitaan yang luar biasa, tetapi pada awalnya ia tidak mengetahui percakapan surgawi yang menjadi latar belakang penderitaannya. Teman-temannya berusaha menjelaskan penderitaannya melalui teori yang sederhana, seolah-olah penderitaan selalu menunjukkan kesalahan tertentu dalam diri seseorang. Pada akhirnya, pendekatan mereka ditegur karena mereka berbicara tentang Allah dengan cara yang tidak benar. Pelajaran tersebut sangat relevan bagi pembaca Mazmur 44: ketika seseorang sedang menderita, kita tidak boleh terburu-buru memberikan penjelasan teologis yang belum tentu benar.
Mazmur 44 juga mengingatkan bahwa mengingat karya Allah di masa lalu merupakan bagian penting dari ketahanan iman. Pemazmur memulai dengan mengingat bagaimana Allah telah bekerja dalam sejarah nenek moyang mereka. Ingatan tersebut bukan sekadar nostalgia rohani, melainkan cara untuk menempatkan penderitaan masa kini dalam kisah yang lebih luas. Ketika manusia hanya memandang keadaan sekarang, masalah dapat terlihat seolah-olah memenuhi seluruh realitas. Namun, ketika ia mengingat kesetiaan Allah sepanjang perjalanan, ia memperoleh perspektif yang lebih luas.
Hal ini juga terlihat dalam Mazmur 73. Pemazmur sempat merasa bahwa hidupnya sia-sia ketika melihat keberhasilan orang-orang fasik, tetapi perspektifnya berubah ketika ia kembali memandang segala sesuatu dalam terang kehadiran Allah. Pada akhirnya ia berkata bahwa selain Allah ia tidak menginginkan apa pun di bumi dan bahwa Allah adalah bagian yang tetap bagi dirinya. Perubahan tersebut tidak berasal dari hilangnya seluruh masalah, tetapi dari ditemukannya kembali pusat kehidupan. Iman tidak selalu mengubah keadaan secara langsung, tetapi iman dapat mengubah cara manusia berdiri di tengah keadaan tersebut.
Mazmur 62:6–9 memberikan gambaran lain mengenai ketenangan yang berasal dari Allah. Pemazmur mengajak jiwanya untuk tenang di hadapan Allah karena pengharapannya berasal dari Dia. Ketenangan tersebut bukan berarti tidak ada ancaman, melainkan adanya tempat untuk meletakkan seluruh beban. Dengan demikian, kehidupan iman bukan kehidupan tanpa guncangan, tetapi kehidupan yang memiliki tempat untuk kembali ketika guncangan datang.
Refleksi Praktis
Pertama, ketika Allah tampak diam, jangan langsung menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkan kita. Perasaan ditinggalkan dapat muncul dengan sangat kuat, terutama ketika doa telah dipanjatkan berulang kali tetapi keadaan belum berubah. Perasaan tersebut tidak perlu dipermalukan atau ditekan karena Alkitab sendiri memberikan ruang bagi manusia untuk mengungkapkannya. Namun, perasaan perlu dibawa kepada Allah dan diperiksa dalam terang keseluruhan kesaksian Kitab Suci, bukan dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan siapa Allah.
Kedua, belajarlah berdoa dengan jujur tanpa kehilangan hormat kepada Allah. Mazmur memberikan contoh bahwa doa tidak harus selalu menggunakan kata-kata yang indah dan penuh ketenangan. Ada saat ketika manusia hanya mampu berkata, “Berapa lama lagi, Tuhan?” atau “Bangunlah, Tuhan!” Ketika hati sedang hancur, kejujuran semacam itu dapat menjadi awal pemulihan karena manusia berhenti menyembunyikan keadaan batinnya dan mulai membawanya secara terbuka kepada Allah.
Ketiga, bedakan antara ratapan dan keputusasaan. Ratapan adalah ungkapan penderitaan yang tetap diarahkan kepada Allah, sedangkan keputusasaan dapat membuat seseorang berhenti berharap sama sekali. Ratapan masih membuka ruang bagi tindakan Allah karena orang yang meratap masih berseru kepada-Nya. Oleh sebab itu, ratapan bukan musuh iman, tetapi dapat menjadi salah satu cara iman bertahan ketika jawaban belum terlihat.
Keempat, jangan mengukur kasih Allah hanya berdasarkan keadaan yang sedang dialami. Manusia secara alami cenderung menghubungkan keadaan baik dengan kasih Allah dan keadaan buruk dengan ketidakhadiran Allah. Cara berpikir seperti ini terlalu sederhana untuk menggambarkan kesaksian Alkitab. Kasih Allah tidak selalu berarti bahwa orang percaya akan terhindar dari kesulitan, sebab Yesus sendiri berkata bahwa para pengikut-Nya akan mengalami kesesakan di dunia, tetapi Ia juga memberikan dasar pengharapan karena Ia telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33).
Kelima, ingatlah karya Allah sebelum menilai keadaan sekarang. Ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit, pikirannya sering kali terpusat hanya pada masalah yang sedang terjadi. Karena itu, mengingat pertolongan Allah pada masa lalu, janji-janji Kitab Suci, dan kesetiaan-Nya dapat membantu hati melihat kehidupan secara lebih utuh. Mengingat bukan berarti menyangkal penderitaan, melainkan menolak membiarkan penderitaan masa kini menjadi satu-satunya cerita yang menentukan seluruh pemahaman kita tentang Allah.
Keenam, gunakan Kitab Suci sebagai bahasa bagi doa ketika kita tidak tahu harus berkata apa. Ada masa ketika seseorang tidak mampu merangkai kalimat sendiri karena kesedihan terlalu dalam. Dalam keadaan seperti itu, doa-doa dalam Mazmur dapat menjadi bahasa yang membantu hati berbicara kembali kepada Allah. Mazmur 13, Mazmur 22, Mazmur 42, Mazmur 44, dan banyak mazmur lainnya menunjukkan bahwa pergumulan manusia bukan sesuatu yang asing bagi kehidupan iman.
Ketujuh, belajarlah menunggu tanpa menjadi pasif. Menunggu Allah tidak berarti berhenti melakukan tanggung jawab yang dapat dilakukan manusia. Jika seseorang sedang menghadapi persoalan keluarga, pekerjaan, keuangan, relasi, atau keputusan hidup, ia tetap perlu mengambil langkah yang bijaksana sambil berdoa. Penantian Kristen bukan sikap menyerah terhadap keadaan, melainkan kesediaan untuk bertindak secara bertanggung jawab tanpa memaksa Allah mengikuti waktu yang kita tentukan.
Kedelapan, jangan memberikan jawaban sederhana kepada orang yang sedang menderita. Ketika seseorang sedang mengalami kesusahan, kita mungkin tergoda mengatakan bahwa semuanya pasti terjadi karena dosa, kurang iman, atau karena Allah sedang menghukum. Pernyataan seperti itu dapat menambah luka dan tidak selalu memiliki dasar alkitabiah. Kisah Ayub dan Yohanes 9:1–3 mengingatkan kita bahwa hubungan antara penderitaan dan dosa tidak dapat disederhanakan menjadi satu rumus yang berlaku bagi semua keadaan.
Kesembilan, hadirlah bagi orang yang sedang mengalami masa ketika Allah terasa diam. Kadang-kadang orang yang sedang menderita tidak membutuhkan penjelasan panjang, tetapi membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar dan menemani. Galatia 6:2 memerintahkan orang percaya untuk saling menanggung beban, yang berarti kehidupan Kristen tidak dirancang untuk dijalani sendirian. Kehadiran seorang sahabat yang setia dapat menjadi bentuk nyata kasih Allah bagi seseorang yang sedang berada dalam lembah pergumulan.
Kesepuluh, jangan menganggap bahwa iman berarti tidak boleh memiliki pertanyaan. Pertanyaan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju pemahaman yang lebih matang. Yang perlu dijaga bukanlah agar manusia tidak pernah bertanya, melainkan agar pertanyaan tersebut tidak berubah menjadi penolakan yang sengaja memutuskan hubungan dengan Allah. Mazmur 44 menunjukkan bahwa seseorang dapat bertanya dengan sangat keras dan tetap berbicara kepada Tuhan.
Kesebelas, belajarlah menyerahkan hasil tanpa berhenti meminta pertolongan. Ini merupakan salah satu keseimbangan terpenting dalam doa. Kita boleh berkata kepada Allah bahwa kita membutuhkan pertolongan, meminta perubahan keadaan, memohon kesembuhan, memohon jalan keluar, dan meminta keadilan, tetapi pada saat yang sama kita menyerahkan cara dan waktu penggenapannya kepada hikmat-Nya. Sikap tersebut tidak mengurangi keberanian doa, melainkan menempatkan doa dalam hubungan yang benar antara manusia sebagai ciptaan dan Allah sebagai Tuhan.
Keduabelas, ingatlah bahwa pusat pengharapan Kristen bukan sekadar perubahan keadaan, melainkan Allah sendiri. Jika seluruh pengharapan kita hanya diletakkan pada satu hasil tertentu, iman dapat runtuh ketika hasil tersebut tidak terjadi sesuai keinginan. Namun, ketika Allah sendiri menjadi dasar pengharapan, manusia masih memiliki tempat untuk berdiri bahkan ketika jawabannya berbeda dari yang diminta. Mazmur 73:25–26 memberikan gambaran yang sangat kuat bahwa ketika kekuatan tubuh dan hati habis, Allah tetap menjadi bagian yang tetap bagi umat-Nya.
Ketigabelas, pandanglah penderitaan dalam terang Kristus. Peristiwa salib menunjukkan bahwa kehadiran dan kasih Allah tidak selalu terlihat dalam bentuk kemenangan yang segera. Pada salib, secara lahiriah Yesus tampak seperti orang yang dikalahkan, ditolak, dan ditinggalkan, tetapi justru melalui peristiwa tersebut karya penebusan sedang berlangsung. Karena itu, orang Kristen memiliki alasan yang sangat kuat untuk tidak menyamakan penderitaan yang terlihat dengan ketidakhadiran Allah. Salib mengajarkan bahwa Allah dapat bekerja melalui keadaan yang pada pandangan manusia tampak sebagai kekalahan.
Keempatbelas, jangan berhenti pada Jumat Agung; ingatlah kebangkitan. Jika salib menjadi satu-satunya gambaran yang kita miliki, penderitaan dapat tampak seperti akhir dari segala sesuatu. Namun, kebangkitan Kristus menyatakan bahwa kematian bukanlah kata terakhir. Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 15 bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, iman manusia sia-sia, tetapi karena Kristus telah bangkit, ada dasar bagi pengharapan yang melampaui kehidupan sekarang.
Kelima belas, peliharalah pengharapan terhadap pemulihan terakhir yang dijanjikan Allah. Wahyu 21:4 menggambarkan masa ketika Allah menghapus segala air mata dan tidak ada lagi maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita. Janji tersebut tidak berarti bahwa semua penderitaan sekarang harus dianggap kecil atau tidak penting. Sebaliknya, janji itu memberikan kepastian bahwa penderitaan tidak akan memiliki kekuasaan tanpa batas dan tidak akan menjadi keadaan terakhir ciptaan Allah.
Keenam belas, ketika berdoa “Bangunlah, Tuhan,” periksalah juga hati kita sendiri. Ada kalanya kita meminta Allah bertindak, tetapi kita sendiri dipanggil untuk melakukan sesuatu yang telah jelas menjadi tanggung jawab kita. Kita mungkin meminta perdamaian tetapi tetap memelihara kebencian, meminta pertolongan bagi orang miskin tetapi tidak mau berbagi, atau meminta perubahan hidup tetapi menolak langkah pertobatan yang sudah kita ketahui. Karena itu, doa meminta Allah bertindak seharusnya tidak membuat manusia pasif, tetapi membuka diri terhadap kemungkinan bahwa Allah juga sedang memanggil kita untuk menjadi bagian dari jawaban atas doa tersebut.
Ketujuh belas, jangan kehilangan penyembahan hanya karena belum mendapatkan penjelasan. Habakuk memberikan contoh yang luar biasa ketika ia akhirnya menyatakan bahwa sekalipun pohon ara tidak berbunga dan hasil ladang tidak ada, ia akan tetap bersorak-sorak di dalam Tuhan (Habakuk 3:17–18). Pernyataan tersebut bukan penyangkalan terhadap kenyataan. Habakuk benar-benar menyebut keadaan yang buruk, tetapi ia menolak membiarkan keadaan itu menentukan seluruh dasar sukacitanya.
Pada akhirnya, Mazmur 44:24 mengundang kita untuk melihat kehidupan iman secara lebih realistis sekaligus lebih dalam. Iman tidak selalu berarti mengetahui mengapa sesuatu terjadi. Iman juga tidak selalu berarti menerima jawaban yang cepat. Iman berarti tetap membawa pertanyaan kepada Allah, tetap berpegang kepada karakter-Nya, tetap menjalankan tanggung jawab, tetap berharap kepada janji-Nya, dan tetap membuka hati terhadap cara-Nya bekerja.
Pemazmur berkata, “Bangunlah!” karena dari tempat penderitaannya ia sangat membutuhkan pertolongan Allah. Namun, ketika seluruh kesaksian Kitab Suci dibaca bersama, kita mengetahui bahwa Allah tidak pernah tertidur seperti manusia. Ia tidak kehilangan kesadaran, tidak kehabisan kekuatan, dan tidak berhenti menjadi Allah hanya karena manusia belum melihat tindakan-Nya. Yang sering berubah bukan keberadaan Allah, melainkan pengalaman manusia terhadap kehadiran dan pekerjaan-Nya.
Karena itu, ketika suatu hari kita sendiri merasa seolah-olah Allah sedang tidur, kita tidak perlu malu membawa perasaan itu kepada-Nya. Kita dapat berdoa dengan jujur, bahkan dengan air mata, “Tuhan, mengapa Engkau seolah-olah diam?” Kita dapat meminta, “Bangunlah dan bertindaklah,” sambil tetap berkata, “Aku percaya kepada-Mu meskipun aku belum memahami apa yang sedang Engkau kerjakan.” Di situlah ratapan berubah menjadi pengharapan, pertanyaan berubah menjadi doa, dan penantian menjadi kesempatan untuk semakin mengenal Allah.
Mazmur 44:24 akhirnya bukan terutama berbicara tentang Allah yang tidur, melainkan tentang manusia yang sedang menunggu. Ayat tersebut memperlihatkan betapa dalamnya kerinduan manusia agar Allah menyatakan pertolongan-Nya ketika penderitaan telah berlangsung terlalu lama. Namun, ayat tersebut juga mengajar kita bahwa ketika pandangan manusia terbatas, karakter Allah tetap menjadi dasar yang dapat dipercaya. Sebab itu, doa “Bangunlah, Tuhan” tidak perlu menjadi akhir dari iman, tetapi dapat menjadi salah satu jalan yang membawa manusia lebih dalam kepada kepercayaan.
Dan mungkin di situlah keindahan terbesar ayat ini. Pemazmur tidak memiliki seluruh jawaban, tetapi ia masih berbicara kepada Allah. Ia tidak memahami seluruh keadaan, tetapi ia masih berharap Allah bertindak. Ia sedang berada dalam penderitaan, tetapi ia belum berhenti mencari wajah Tuhan. Dengan demikian, Mazmur 44:24 memberi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi setiap orang percaya: ketika Allah tampak diam, jangan berhenti berdoa; ketika jawaban belum datang, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah telah pergi; dan ketika kita tidak memahami jalan-Nya, tetaplah berpegang kepada siapa Dia.

Posting Komentar untuk "Mengapa Pemazmur Meminta Allah Bangun dari Tidur? [Mazmur 44:24]"