Jika Allah Menciptakan Segala Sesuatu, Bagaimana Memahami Keberadaan Allah Sebelum Penciptaan dan Awal Waktu?-Kejadian 1:1
Pendahuluan
Kejadian 1:1 merupakan salah satu ayat paling singkat dalam Alkitab, tetapi sekaligus mengandung pertanyaan yang sangat dalam mengenai asal-usul segala sesuatu. Ayat tersebut menyatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Kalimat sederhana ini menempatkan Allah sebagai Pribadi yang sudah ada ketika segala sesuatu yang dikenal manusia mulai berada. Namun, pernyataan tersebut segera membawa manusia kepada sebuah pertanyaan yang sulit: jika Allah menciptakan segala sesuatu, dari mana Allah berasal, dan bagaimana memahami keberadaan-Nya sebelum penciptaan dimulai?
Pertanyaan tersebut muncul karena manusia terbiasa memahami keberadaan melalui pengalaman sehari-hari. Segala sesuatu yang kita lihat mempunyai permulaan, mempunyai penyebab, dan berada dalam suatu urutan waktu tertentu. Manusia dilahirkan, bertumbuh, hidup, kemudian meninggal, sedangkan benda-benda yang dibuat manusia juga mempunyai saat ketika benda tersebut belum ada dan saat ketika benda tersebut mulai ada. Karena itu, ketika manusia mendengar bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, pikiran secara alami bertanya tentang siapa yang menciptakan Allah.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika kita berbicara mengenai waktu. Manusia biasanya membayangkan “sebelum” dan “sesudah” sebagai dua keadaan yang berlangsung dalam waktu. Jika penciptaan merupakan awal dari dunia yang kita kenal, termasuk seluruh tatanan temporal yang menyertainya, maka pertanyaan tentang apa yang terjadi “sebelum” penciptaan perlu dipahami dengan hati-hati. Kata “sebelum” sendiri mungkin tidak dapat diterapkan kepada Allah dengan cara yang sama seperti diterapkan kepada makhluk.
Dengan demikian, pertanyaan tentang keberadaan Allah sebelum penciptaan bukan sekadar pertanyaan mengenai apa yang dilakukan Allah sebelum menciptakan dunia. Pertanyaan ini menyentuh dasar iman Kristen mengenai siapa Allah, bagaimana hubungan Allah dengan waktu, dan mengapa Allah tidak membutuhkan pencipta sebagaimana makhluk membutuhkan pencipta. Kejadian 1:1 memberikan titik awal penting untuk memahami persoalan tersebut karena ayat itu tidak memulai kisah dengan menjelaskan asal-usul Allah, melainkan langsung memperkenalkan Allah sebagai Pencipta.
Artikel ini akan membahas persoalan tersebut berdasarkan kesaksian Alkitab dan pemikiran teologis secara bertahap. Pembahasan tidak dimaksudkan untuk memberikan kesan bahwa seluruh misteri mengenai keberadaan Allah dapat dijelaskan secara tuntas oleh akal manusia. Sebaliknya, tujuan pembahasan ini adalah menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut dapat dipikirkan secara masuk akal dalam kerangka iman Kristen, sekaligus mengakui batas kemampuan manusia dalam memahami keberadaan Allah yang tidak terbatas.
Mengapa Pertanyaan Ini Penting?
Pertanyaan tentang keberadaan Allah sebelum penciptaan penting karena menyentuh dasar dari konsep Allah sebagai Pencipta. Jika Allah sendiri merupakan bagian dari rangkaian benda atau makhluk yang membutuhkan penyebab, maka pengertian tentang Allah sebagai sumber terakhir segala sesuatu menjadi tidak jelas. Jika Allah harus diciptakan oleh sesuatu yang lain, maka sesuatu yang menciptakan Allah tersebut justru menjadi kandidat yang lebih mendasar sebagai sumber pertama. Karena itu, pertanyaan “siapa yang menciptakan Allah?” sebenarnya membawa kita kepada persoalan yang lebih mendalam tentang apakah Allah memang termasuk jenis keberadaan yang membutuhkan penyebab.
Pertanyaan ini juga penting karena manusia sering menggunakan pola sebab-akibat secara terlalu sederhana ketika membicarakan Allah. Dalam pengalaman sehari-hari, hampir semua benda yang kita jumpai mempunyai penyebab tertentu. Rumah mempunyai pembangun, buku mempunyai penulis, dan sebuah perangkat mempunyai pembuat. Akan tetapi, dari kenyataan bahwa banyak hal di dalam alam semesta memiliki penyebab, tidak otomatis berarti bahwa segala sesuatu tanpa pengecualian harus mempunyai penyebab dalam pengertian yang sama.
Di sinilah perbedaan antara “segala sesuatu yang diciptakan” dan “segala sesuatu yang ada” menjadi penting. Kejadian 1:1 menyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi, tetapi ayat tersebut tidak mengatakan bahwa Allah menciptakan diri-Nya sendiri. Dalam pemahaman Kristen klasik, Allah bukanlah salah satu benda di antara benda-benda lain di alam semesta. Allah dipahami sebagai sumber keberadaan segala sesuatu yang diciptakan, sehingga keberadaan Allah tidak ditempatkan dalam kategori yang sama dengan keberadaan makhluk.
Pertanyaan ini juga penting karena berhubungan dengan cara manusia memahami waktu. Kita sering membayangkan bahwa sebelum dunia ada, pasti terdapat suatu “ruang kosong” yang sudah berlangsung selama waktu tertentu, lalu pada suatu titik Allah mulai menciptakan. Gambaran tersebut secara tidak langsung menganggap bahwa ruang dan waktu sudah ada sebelum penciptaan. Padahal, jika ruang dan waktu termasuk dalam tatanan ciptaan, maka membayangkan Allah berada di suatu tempat dan menunggu selama waktu yang sangat panjang sebelum menciptakan dunia merupakan gambaran yang perlu ditinjau kembali.
Persoalan tersebut mempunyai konsekuensi bagi kehidupan iman. Jika Allah adalah Pencipta yang tidak bergantung pada ciptaan, maka keberadaan manusia tidak menjadi dasar terakhir dari realitas. Manusia tidak berada di hadapan alam semesta yang tanpa makna, melainkan di hadapan Allah yang menjadi sumber segala sesuatu. Kesadaran tersebut dapat memengaruhi cara manusia memahami tujuan hidup, keterbatasan diri, ketergantungan kepada Allah, serta alasan mengapa manusia dapat berharap bahwa kehidupan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar keberadaan biologis.
Pertanyaan ini juga penting bagi orang yang sedang bergumul dengan keraguan iman. Seseorang mungkin bertanya, “Jika segala sesuatu harus mempunyai pencipta, bukankah Allah juga harus mempunyai pencipta?” Pertanyaan tersebut bukan pertanyaan bodoh dan tidak seharusnya dijawab dengan ejekan atau penghakiman. Justru melalui pertanyaan itu seseorang dapat diajak membedakan antara sesuatu yang bergantung pada penyebab dan keberadaan yang dipahami sebagai dasar terakhir dari segala sesuatu.
Dengan demikian, persoalan ini bukan sekadar perdebatan abstrak antara agama dan filsafat. Pertanyaan mengenai keberadaan Allah sebelum penciptaan menyentuh cara manusia memandang realitas secara keseluruhan. Ketika manusia memahami bahwa Allah tidak perlu diperlakukan sebagai bagian dari rantai sebab yang sama dengan ciptaan, maka Kejadian 1:1 dapat dibaca dengan perspektif yang lebih mendalam. Ayat tersebut bukan hanya berbicara tentang kapan dunia dimulai, tetapi juga memperkenalkan siapa yang menjadi sumber dari dunia yang dimulai itu.
Penjelasan Berdasarkan Alkitab
Allah Sudah Ada Ketika Penciptaan Dimulai
Kejadian 1:1 memberikan pernyataan yang sangat mendasar: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Fokus kalimat tersebut bukan pada asal-usul Allah, melainkan pada tindakan Allah dalam menciptakan segala sesuatu yang menjadi bagian dari tatanan ciptaan. Allah tampil sebagai Pribadi yang sudah ada ketika “pada mulanya” berlangsung. Dengan kata lain, permulaan yang dimaksud dalam ayat tersebut merupakan permulaan bagi ciptaan, bukan permulaan bagi keberadaan Allah.
Hal ini menjadi penting karena Alkitab tidak menggambarkan Allah sebagai bagian dari alam semesta yang tiba-tiba muncul bersama dengan benda-benda lainnya. Sebaliknya, alam semesta berada dalam hubungan ketergantungan kepada Allah sebagai Penciptanya. Ketika Kejadian 1 menggambarkan Allah berfirman dan kemudian ciptaan muncul, pola yang ditampilkan adalah bahwa Allah bertindak sebagai sumber dan ciptaan menerima keberadaannya dari kehendak Allah. Oleh karena itu, Alkitab memulai kisah penciptaan dengan Allah, bukan dengan pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Allah.
Kesaksian tersebut semakin diperjelas dalam bagian-bagian lain Alkitab. Mazmur 90:2 menyatakan bahwa sebelum gunung-gunung dilahirkan dan sebelum bumi serta dunia diperanakkan, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Allah ada. Bahasa “dari selama-lamanya sampai selama-lamanya” menunjukkan bahwa keberadaan Allah tidak diperlakukan seperti keberadaan makhluk yang mempunyai titik awal dan titik akhir. Ayat tersebut memberikan gambaran tentang Allah sebagai Pribadi yang keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu yang diciptakan.
Yesaya 40:28 juga menggambarkan Allah sebagai Tuhan yang kekal, Pencipta ujung-ujung bumi, yang tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Penyebutan Allah sebagai Pencipta dan sebagai Allah yang kekal menunjukkan hubungan yang berbeda antara Allah dan ciptaan. Ciptaan mempunyai asal pada tindakan Allah, sedangkan Allah sendiri tidak diperkenalkan sebagai sesuatu yang menerima keberadaan dari ciptaan. Karena itu, ketika Alkitab berbicara tentang kekekalan Allah, yang dimaksud bukan sekadar umur yang sangat panjang, melainkan keberadaan yang tidak bermula seperti makhluk.
Allah Tidak Diperkenalkan Sebagai Makhluk
Salah satu kesalahan yang dapat terjadi ketika membaca Kejadian 1:1 adalah menganggap Allah sebagai benda pertama dalam alam semesta. Jika Allah dianggap sebagai benda pertama, maka sangat wajar jika seseorang bertanya benda apa yang menciptakan Allah. Akan tetapi, gambaran Alkitab tidak menempatkan Allah dalam kategori tersebut. Allah merupakan Pencipta, sedangkan langit dan bumi merupakan bagian dari ciptaan.
Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan merupakan salah satu dasar penting dalam pemikiran Alkitab. Ciptaan adalah sesuatu yang menerima keberadaan dari Allah dan tidak mempunyai keberadaan yang mutlak pada dirinya sendiri. Sebaliknya, Allah tidak digambarkan sebagai Pribadi yang menerima keberadaan-Nya dari sesuatu yang lebih tinggi. Karena itu, pertanyaan “siapa yang menciptakan Allah?” mengandung asumsi bahwa Allah harus termasuk dalam kategori benda yang diciptakan, sementara asumsi tersebut justru bertentangan dengan konsep Allah sebagai Pencipta.
Kisah penciptaan dalam Kejadian juga menunjukkan bahwa Allah memiliki kebebasan untuk menciptakan. Allah berfirman, kemudian apa yang dikehendaki-Nya terjadi. Pola tersebut menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang berinisiatif dan tidak menunggu ciptaan memberikan keberadaan kepada-Nya. Ciptaan bergantung kepada Allah, bukan Allah bergantung kepada ciptaan.
Hubungan ketergantungan tersebut juga terlihat dalam Kisah Para Rasul 17:24-25. Paulus menyatakan bahwa Allah yang menjadikan dunia dan segala isinya tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan sesuatu, karena Dialah yang memberikan hidup, napas, dan segala sesuatu kepada manusia. Pernyataan tersebut sangat penting karena menunjukkan arah hubungan antara Allah dan ciptaan. Allah merupakan pemberi kehidupan, sedangkan manusia adalah penerima kehidupan.
“Pada Mulanya” dan Persoalan Waktu
Ungkapan “pada mulanya” dalam Kejadian 1:1 sering membuat manusia membayangkan sebuah titik awal dalam waktu. Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya salah jika yang dimaksud adalah awal dari sejarah ciptaan. Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak menyimpulkan bahwa terdapat periode waktu yang sangat panjang sebelum waktu dimulai. Jika waktu merupakan bagian dari tatanan ciptaan, maka tidak tepat membayangkan adanya waktu yang berjalan terlebih dahulu sebelum penciptaan.
Untuk memahami hal ini, kita dapat membedakan antara “sebelum” secara temporal dan “lebih dahulu” secara keberadaan. Temporal berarti berkaitan dengan urutan waktu, sedangkan keberadaan berkaitan dengan kenyataan bahwa sesuatu ada. Ketika dikatakan Allah lebih dahulu daripada ciptaan, maksudnya bukan selalu bahwa Allah hidup selama jutaan atau miliaran tahun sebelum alam semesta muncul. Maksudnya adalah keberadaan Allah tidak bergantung pada keberadaan ciptaan, sedangkan keberadaan ciptaan bergantung pada Allah.
Perbedaan ini membantu menjelaskan mengapa pertanyaan “Apa yang Allah lakukan sebelum menciptakan dunia?” dapat mengandung masalah tertentu. Jika “sebelum” dipahami sebagai periode waktu yang berlangsung di luar ciptaan, pertanyaan tersebut mengandaikan bahwa waktu sudah berjalan sebelum dunia diciptakan. Namun, jika waktu merupakan bagian dari ciptaan, maka tidak ada “sebelum” temporal dalam pengertian biasa yang dapat ditempatkan di luar awal penciptaan.
Yohanes 1:1-3 memberikan perspektif yang sangat penting dalam hal ini. Yohanes membuka Injilnya dengan menyatakan bahwa “pada mulanya” Firman sudah ada, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah, kemudian ia menegaskan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Bagian tersebut menghubungkan keberadaan Firman dengan “pada mulanya” dan sekaligus menegaskan bahwa segala sesuatu yang dijadikan memperoleh keberadaannya melalui Dia. Dengan demikian, pembukaan Injil Yohanes memperkuat gagasan bahwa ketika permulaan ciptaan dibicarakan, Allah tidak sedang diperkenalkan sebagai salah satu hasil dari permulaan tersebut.
Allah yang Kekal dalam Kesaksian Alkitab
Alkitab berulang kali menggunakan bahasa kekekalan ketika berbicara tentang Allah. Kekekalan berarti keberadaan yang tidak mempunyai awal dan akhir seperti makhluk. Istilah tersebut tidak boleh dipahami hanya sebagai kehidupan yang berlangsung sangat lama, karena sesuatu yang dimulai pada suatu titik lalu berlangsung tanpa akhir tetap memiliki awal. Ketika kekekalan diterapkan kepada Allah, Alkitab menunjuk kepada keberadaan Allah yang tidak bergantung pada suatu titik awal dalam sejarah ciptaan.
Mazmur 93:2 menyatakan bahwa takhta Allah tegak sejak dahulu kala dan Allah ada dari kekal. Pernyataan seperti ini menunjukkan bahwa keberadaan Allah tidak ditempatkan di dalam sejarah sebagai sesuatu yang mulai muncul pada suatu waktu tertentu. Sejarah berada dalam lingkup karya Allah, bukan Allah yang menjadi hasil dari sejarah. Karena itu, manusia dapat berbicara tentang awal dunia, tetapi tidak dapat berbicara tentang awal keberadaan Allah dalam pengertian yang sama.
Dalam Wahyu 1:8, Allah digambarkan sebagai “Yang Ada dan Yang Sudah Ada dan Yang Akan Datang.” Ungkapan tersebut menyatakan penguasaan Allah atas seluruh rentang keberadaan yang dapat dipahami manusia. Allah bukan sekadar Pribadi yang pernah ada pada masa lalu, melainkan Pribadi yang keberadaan-Nya tidak dibatasi oleh perubahan sejarah manusia. Bahasa tersebut membantu manusia memahami bahwa Allah tidak mengalami keterbatasan temporal seperti makhluk.
Namun, Alkitab juga menggunakan bahasa manusia ketika berbicara tentang Allah. Manusia tidak memiliki bahasa yang sepenuhnya mampu menggambarkan keberadaan Allah yang tidak terbatas. Karena itu, pernyataan tentang kekekalan Allah harus dibaca sebagai kesaksian yang benar mengenai Allah, tetapi bukan sebagai gambaran matematis yang dapat mengurung Allah dalam definisi manusia. Alkitab memberikan pengetahuan yang cukup bagi manusia untuk mengenal Allah, meskipun tidak memberikan pengetahuan yang membuat manusia mampu memahami Allah secara sempurna.
Allah dan Penciptaan sebagai Tindakan yang Bebas
Alkitab menggambarkan penciptaan sebagai tindakan Allah yang berdaulat. Allah tidak menciptakan karena Ia kekurangan sesuatu yang hanya dapat diperoleh dari alam semesta. Dalam Kisah Para Rasul 17, Paulus justru menjelaskan bahwa Allah adalah sumber kehidupan dan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Dengan demikian, keberadaan ciptaan tidak diperlukan agar Allah dapat menjadi Allah.
Hal tersebut memberikan pemahaman penting mengenai alasan penciptaan. Dunia bukan sesuatu yang Allah ciptakan karena Allah sebelumnya tidak lengkap lalu membutuhkan dunia untuk menyempurnakan diri-Nya. Sebaliknya, penciptaan dipahami sebagai tindakan kehendak Allah yang bebas. Allah menciptakan karena Ia menghendaki adanya ciptaan yang menerima kehidupan dan menikmati kebaikan yang berasal dari-Nya.
Dalam Kejadian 1, penciptaan juga berkaitan dengan keteraturan. Allah memisahkan terang dari gelap, air dari daratan, dan kemudian menempatkan berbagai bentuk kehidupan sesuai dengan tatanan yang dikehendaki-Nya. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa penciptaan bukan tindakan yang kacau tanpa tujuan. Dunia menerima struktur dan keteraturan karena berasal dari kehendak Pencipta.
Dengan demikian, Kejadian 1:1 tidak hanya menjawab pertanyaan mengenai siapa yang menciptakan langit dan bumi. Ayat tersebut juga menempatkan manusia dalam hubungan yang benar dengan realitas. Manusia bukan pusat mutlak dari segala sesuatu, dan alam semesta bukan realitas tertinggi yang berdiri sendiri. Allah berada pada posisi sebagai Pencipta, sedangkan segala sesuatu yang diciptakan menerima keberadaannya dari Allah.
Penjelasan Teologis
Apa yang Dimaksud dengan Allah yang Tidak Diciptakan?
Dalam teologi Kristen, Allah dipahami sebagai keberadaan yang tidak diciptakan. Istilah “tidak diciptakan” berarti Allah tidak menerima keberadaan dari sesuatu yang lebih dahulu membuat atau mengadakan-Nya. Ini berbeda dengan ciptaan yang memiliki keberadaan karena bergantung kepada penyebab di luar dirinya. Dengan demikian, mengatakan bahwa Allah tidak diciptakan bukan berarti Allah merupakan pengecualian yang dibuat secara sembarangan untuk menghindari pertanyaan, melainkan merupakan bagian dari pengertian tentang Allah sebagai dasar terakhir dari keberadaan.
Jika segala sesuatu yang ada harus diciptakan oleh sesuatu yang lain tanpa pernah mencapai dasar terakhir, maka akan muncul rangkaian penyebab yang tidak memiliki titik dasar. Misalnya, jika A disebabkan oleh B, B oleh C, C oleh D, dan seterusnya tanpa dasar, pertanyaan mengenai mengapa rangkaian tersebut ada tetap belum memperoleh jawaban. Konsep Allah sebagai Pencipta memberikan jawaban teologis bahwa terdapat keberadaan yang tidak menerima keberadaan dari sesuatu yang lain. Allah bukan mata rantai pertama dalam rantai makhluk, tetapi dasar dari keberadaan seluruh rantai tersebut.
Dalam filsafat, gagasan seperti ini sering dibahas melalui istilah “keberadaan yang niscaya”. Keberadaan yang niscaya berarti keberadaan yang tidak bergantung pada sesuatu yang lain agar dapat ada. Sebaliknya, keberadaan yang kontingen berarti keberadaan yang dapat ada atau tidak ada dan membutuhkan penjelasan di luar dirinya. Dalam kerangka teologi Kristen, Allah dipahami sebagai keberadaan yang niscaya, sedangkan ciptaan merupakan keberadaan yang bergantung kepada Allah.
Konsep tersebut membantu menjawab pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Allah. Jika Allah adalah Pencipta yang menjadi dasar keberadaan ciptaan, maka Allah tidak termasuk dalam kategori makhluk yang membutuhkan pencipta. Jika Allah harus diciptakan oleh sesuatu yang lain, maka Ia tidak lagi menjadi dasar terakhir dari keberadaan. Karena itu, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai pencipta karena hakikat Allah tidak berada dalam kategori ciptaan.
Apakah Allah Berada dalam Waktu?
Pertanyaan berikutnya menjadi lebih rumit: apakah Allah berada dalam waktu? Teologi Kristen mempunyai berbagai cara untuk menjelaskan hubungan Allah dengan waktu, dan tidak semua tradisi teologis menggunakan penekanan yang persis sama. Sebagian pemikir Kristen klasik menekankan bahwa Allah tidak dibatasi oleh waktu seperti makhluk, sedangkan pembahasan teologis yang lebih modern dapat memberikan perhatian lebih besar kepada hubungan Allah dengan perjalanan sejarah. Perbedaan penekanan tersebut menunjukkan bahwa persoalan hubungan Allah dan waktu merupakan salah satu bidang yang kompleks dalam teologi.
Waktu secara sederhana dapat dipahami sebagai ukuran perubahan dan urutan peristiwa. Kita mengatakan bahwa suatu peristiwa terjadi “kemarin”, “hari ini”, atau “besok” karena kita mengalami perubahan dari satu keadaan menuju keadaan lainnya. Makhluk mengalami keterbatasan temporal karena kehidupan mereka berjalan melalui urutan perubahan. Allah, menurut pemahaman teologi Kristen klasik, tidak bergantung pada perubahan tersebut untuk mempertahankan keberadaan-Nya.
Jika Allah tidak bergantung pada waktu sebagaimana makhluk, maka “sebelum penciptaan” tidak dapat dibayangkan sebagai suatu masa panjang ketika Allah sedang menunggu. Gambaran seperti itu menjadikan Allah seolah-olah seorang makhluk yang berada di dalam sebuah jam kosmis yang sudah berjalan. Padahal, dalam pandangan bahwa waktu termasuk dalam ciptaan, Allah merupakan sumber dari tatanan temporal itu sendiri. Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa Allah mendahului waktu secara ontologis daripada mengatakan bahwa Allah hidup selama sejumlah tahun sebelum waktu dimulai.
Istilah “ontologis” berarti berkaitan dengan keberadaan atau hakikat sesuatu. Jadi, ketika dikatakan Allah mendahului waktu secara ontologis, maksudnya adalah keberadaan Allah tidak bergantung pada waktu, sedangkan waktu bergantung pada kehendak Allah sebagai bagian dari ciptaan. Pernyataan tersebut berbeda dari klaim bahwa kita mengetahui secara rinci seperti apa pengalaman Allah terhadap waktu. Teologi dapat menjelaskan hubungan berdasarkan kesaksian iman, tetapi tetap harus mengakui bahwa pengalaman keberadaan Allah melampaui pengalaman manusia.
Apakah “Sebelum Penciptaan” Merupakan Pertanyaan yang Tepat?
Pertanyaan “Apa yang ada sebelum penciptaan?” tampaknya sederhana, tetapi sebenarnya mempunyai asumsi yang perlu diperiksa. Kata “sebelum” biasanya menunjukkan urutan temporal, yaitu suatu peristiwa terjadi lebih dahulu daripada peristiwa lainnya. Jika waktu dimulai bersama dengan ciptaan, maka tidak ada waktu temporal yang lebih dahulu daripada awal waktu. Dengan demikian, pertanyaan tersebut perlu diubah menjadi pertanyaan yang lebih tepat: “Bagaimana keberadaan Allah berhubungan dengan ciptaan yang memiliki awal?”
Perubahan cara bertanya tersebut bukan berarti menghindari pertanyaan. Justru perubahan tersebut membantu kita menghindari asumsi yang keliru. Seorang manusia tidak dapat menjawab persoalan tentang Allah hanya dengan memproyeksikan pengalaman sehari-hari ke dalam realitas ilahi. Jika Allah adalah Pencipta ruang dan waktu, maka kita harus berhati-hati ketika membayangkan Allah sebagai Pribadi yang berada di dalam ruang dan menunggu berlalunya waktu sebelum menciptakan.
Analogi dapat membantu, meskipun setiap analogi mempunyai keterbatasan. Misalnya, seorang penulis dapat menciptakan sebuah cerita yang memiliki urutan waktu, tokoh, tempat, dan peristiwa. Urutan waktu dalam cerita bergantung pada karya penulis, bukan penulis yang harus hidup sebagai salah satu tokoh dalam cerita tersebut. Analogi ini tidak berarti hubungan Allah dengan dunia sama persis seperti hubungan penulis dengan cerita, tetapi dapat membantu menunjukkan perbedaan antara pencipta dan dunia yang diciptakan.
Namun, analogi tersebut tidak boleh digunakan secara berlebihan. Allah bukan penulis dalam arti manusia yang membuat cerita dari bahan-bahan yang sudah tersedia. Menurut Kejadian 1, Allah adalah sumber penciptaan itu sendiri. Karena itu, analogi tersebut hanya membantu menjelaskan perbedaan kategori, bukan memberikan gambaran lengkap mengenai hakikat Allah.
Apakah Allah Berubah?
Persoalan waktu juga berhubungan dengan perubahan. Sesuatu yang mengalami perubahan berada dalam suatu urutan keadaan: sebelumnya berada dalam keadaan tertentu, kemudian berada dalam keadaan yang berbeda. Manusia mengalami perubahan secara terus-menerus karena tubuh, pikiran, lingkungan, dan hubungan kita berubah. Ketika teologi klasik berbicara mengenai ketidakberubahan Allah, yang dimaksud adalah Allah tidak mengalami perubahan hakikat yang membuat-Nya menjadi sesuatu yang sebelumnya bukan diri-Nya.
Istilah “ketidakberubahan Allah” tidak berarti Allah bersikap pasif atau tidak bertindak. Alkitab justru menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang mencipta, berbicara, memimpin, menghakimi, mengampuni, dan menyelamatkan. Yang dimaksud adalah tindakan-tindakan Allah tidak menunjukkan bahwa hakikat Allah berubah dari tidak sempurna menjadi sempurna. Allah bertindak sesuai dengan kehendak-Nya tanpa kehilangan kesetiaan terhadap diri-Nya sendiri.
Dalam hubungan dengan waktu, hal tersebut memberikan kerangka untuk memahami bagaimana Allah dapat bekerja dalam sejarah tanpa menjadi sekadar bagian dari sejarah. Allah dapat berhubungan dengan manusia pada waktu tertentu, sementara keberadaan Allah tidak bergantung pada sejarah manusia. Dengan demikian, Allah dapat hadir dalam perjalanan sejarah tanpa sejarah menjadi sumber keberadaan Allah.
Hal ini juga membantu menjelaskan mengapa tindakan penciptaan tidak boleh dibayangkan sebagai perubahan Allah dari keadaan “belum menjadi Pencipta” menjadi “menjadi Pencipta” dalam pengertian bahwa sebelumnya Allah kekurangan sesuatu. Sebutan “Pencipta” menggambarkan hubungan Allah dengan ciptaan yang muncul karena penciptaan. Ketika ciptaan belum ada, tidak ada hubungan aktual dengan ciptaan tersebut, tetapi hal itu tidak berarti Allah mengalami kekurangan dalam diri-Nya.
Mengapa Allah Menciptakan Dunia?
Setelah memahami bahwa Allah tidak diciptakan, muncul pertanyaan lain: jika Allah tidak membutuhkan ciptaan, mengapa Ia menciptakan? Pertanyaan ini penting karena manusia sering menganggap bahwa setiap tindakan harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Jika seseorang bekerja, misalnya, ia mungkin bekerja untuk mendapatkan makanan, keamanan, atau kebutuhan lainnya. Namun, jika Allah tidak kekurangan sesuatu, alasan penciptaan tidak dapat dijelaskan sebagai usaha Allah memenuhi kekurangan.
Teologi Kristen secara umum memahami penciptaan sebagai tindakan yang bebas dan berhubungan dengan kebaikan Allah. Allah tidak menciptakan karena dipaksa oleh sesuatu di luar diri-Nya. Allah menciptakan karena Ia berkehendak memberikan keberadaan kepada ciptaan dan mengarahkan ciptaan kepada tujuan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, penciptaan dapat dipahami sebagai pemberian, bukan tindakan yang dilakukan karena Allah membutuhkan sesuatu dari manusia.
Pemahaman ini juga mengubah cara manusia melihat keberadaannya. Manusia bukan hasil dari suatu kecelakaan kosmis yang tidak memiliki arti dalam kerangka iman Kristen. Keberadaan manusia diterima sebagai bagian dari ciptaan yang dikehendaki Allah. Karena itu, hidup manusia mempunyai nilai yang tidak hanya ditentukan oleh prestasi, kekayaan, status sosial, atau pengakuan dari manusia lain.
Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa manusia merupakan alasan utama atau pusat segala sesuatu. Alkitab menempatkan Allah sebagai pusat realitas, bukan manusia. Manusia menerima kehidupan sebagai pemberian dan dipanggil untuk hidup dalam hubungan yang benar dengan Penciptanya. Dengan demikian, pemahaman mengenai Allah sebagai sumber keberadaan justru menempatkan manusia dalam posisi yang lebih realistis: bernilai, tetapi tetap terbatas.
Keberadaan Allah dan Pertanyaan tentang Penyebab Pertama
Dalam pembahasan filsafat agama, sering muncul istilah “penyebab pertama”. Istilah tersebut dapat berarti dasar penjelasan terakhir dari rangkaian sebab yang menyebabkan sesuatu ada atau terjadi. Namun, istilah ini perlu digunakan dengan hati-hati karena “penyebab pertama” tidak selalu berarti sebuah peristiwa pertama yang terjadi beberapa detik sebelum peristiwa kedua. Dalam konteks teologi, persoalannya lebih dalam, yaitu mengenai dasar mengapa realitas yang bergantung dapat ada.
Jika Allah dipahami hanya sebagai penyebab pertama dalam urutan waktu, seseorang masih dapat bertanya apa yang terjadi sebelum Allah. Tetapi jika Allah dipahami sebagai dasar keberadaan seluruh ciptaan, pertanyaannya berubah. Allah bukan sekadar peristiwa pertama dalam suatu rangkaian peristiwa, melainkan sumber yang membuat seluruh rangkaian ciptaan dapat ada. Perbedaan tersebut sangat penting untuk menghindari pemahaman yang terlalu sederhana tentang argumen keberadaan Allah.
Karena itu, iman Kristen tidak mengatakan bahwa Allah adalah “benda pertama” yang muncul pada awal alam semesta. Allah justru dipahami sebagai Pribadi yang keberadaan-Nya tidak bergantung pada alam semesta. Alam semesta memiliki permulaan dan bergantung kepada Pencipta, sedangkan Allah tidak menerima keberadaan-Nya dari alam semesta. Dalam kerangka tersebut, Kejadian 1:1 menjadi pernyataan teologis mengenai ketergantungan ciptaan kepada Allah.
Hal tersebut tidak berarti bahwa filsafat dapat membuktikan seluruh karakter Allah secara lengkap. Penalaran filosofis dapat membantu manusia melihat bahwa gagasan tentang keberadaan yang tidak bergantung bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Akan tetapi, pengetahuan bahwa Allah adalah kasih, bahwa Allah menyatakan diri dalam sejarah Israel, dan bahwa keselamatan dinyatakan dalam Kristus berasal dari kesaksian iman Kristen dan Kitab Suci. Karena itu, akal dan wahyu mempunyai fungsi yang berbeda tetapi dapat berhubungan dalam pencarian manusia akan kebenaran.
Allah yang Kekal dan Pribadi Yesus Kristus
Dalam iman Kristen, pembahasan tentang keberadaan Allah sejak kekal juga berhubungan dengan identitas Yesus Kristus. Yohanes 1:1-3 tidak hanya menyatakan bahwa Firman sudah ada pada mulanya, tetapi juga menghubungkan Firman dengan Allah dan menyatakan bahwa segala sesuatu dijadikan melalui Dia. Yohanes kemudian menjelaskan bahwa Firman itu menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, pembukaan Injil Yohanes membawa pembaca dari penciptaan menuju pengenalan terhadap Kristus.
Kolose 1:16-17 juga menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus, serta bahwa segala sesuatu ada di dalam Dia. Pernyataan tersebut memperluas pemahaman tentang Kristus dalam iman Kristen. Kristus tidak hanya dipandang sebagai tokoh yang muncul dalam sejarah manusia pada abad pertama, tetapi ditempatkan dalam hubungan yang jauh lebih dalam dengan penciptaan.
Ibrani 1:2-3 juga menggambarkan Anak sebagai Pribadi yang melalui-Nya Allah menjadikan alam semesta dan yang menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa keberadaan ciptaan tidak hanya berkaitan dengan suatu tindakan awal penciptaan. Dalam kerangka iman Kristen, ciptaan juga bergantung secara terus-menerus kepada Allah.
Pembahasan ini penting karena menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai Allah sebelum penciptaan tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari keseluruhan kesaksian Alkitab. Allah yang menciptakan pada awal Kejadian adalah Allah yang terus menyatakan diri dalam sejarah. Dalam Perjanjian Baru, kesaksian tersebut mencapai bentuk yang sangat penting melalui pengenalan terhadap Yesus Kristus sebagai Firman yang menjadi manusia.
Misteri yang Tidak Dapat Sepenuhnya Dijelaskan
Meskipun teologi dapat memberikan penjelasan yang masuk akal mengenai keberadaan Allah sebelum penciptaan, manusia tetap menghadapi batas pengetahuan. Allah yang tidak terbatas tidak dapat sepenuhnya dimasukkan ke dalam konsep manusia yang terbatas. Kita dapat berbicara benar tentang Allah berdasarkan wahyu, tetapi berbicara benar tentang Allah tidak sama dengan memahami seluruh kedalaman keberadaan Allah.
Perbedaan antara “mengetahui sesuatu” dan “memahami sesuatu secara sempurna” sangat penting. Seorang manusia dapat mengetahui bahwa cahaya matahari menerangi bumi tanpa memahami seluruh proses fisika yang berkaitan dengan cahaya. Demikian pula, manusia dapat mengetahui bahwa Allah kekal tanpa mampu memahami secara menyeluruh bagaimana keberadaan kekal itu dialami oleh Allah. Karena itu, keterbatasan manusia bukan alasan untuk menolak pengetahuan yang diberikan Alkitab.
Misteri dalam teologi tidak berarti sesuatu yang sama sekali tidak dapat diketahui. Misteri berarti realitas yang dapat diketahui sebagian tetapi tidak dapat dijelaskan atau dipahami secara tuntas oleh manusia. Dalam konteks keberadaan Allah, manusia dapat mengetahui bahwa Allah adalah Pencipta dan tidak diciptakan, tetapi tidak dapat mengubah pengetahuan tersebut menjadi gambaran lengkap tentang kehidupan ilahi. Sikap yang tepat bukan mengabaikan pertanyaan, melainkan menyelidikinya dengan rendah hati.
Dengan demikian, iman Kristen tidak perlu takut terhadap pertanyaan “Bagaimana Allah ada sebelum penciptaan?” Pertanyaan tersebut justru dapat menjadi pintu untuk memahami perbedaan mendasar antara Pencipta dan ciptaan. Semakin manusia menyadari keterbatasan ciptaan, semakin jelas pula bahwa Allah tidak dapat dipahami hanya dengan kategori yang digunakan untuk menjelaskan benda-benda di alam semesta.
Kesimpulan
Kejadian 1:1 memberikan dasar yang sangat kuat untuk memahami bahwa Allah sudah ada ketika penciptaan dimulai. Ayat tersebut tidak menggambarkan Allah sebagai bagian dari ciptaan yang muncul pada awal alam semesta. Sebaliknya, Allah diperkenalkan sebagai Pencipta langit dan bumi, sedangkan segala sesuatu yang disebut sebagai ciptaan memperoleh keberadaannya dari Allah. Karena itu, pertanyaan “siapa yang menciptakan Allah?” perlu dijawab dengan memahami terlebih dahulu bahwa Allah dalam pengertian Alkitab bukanlah makhluk yang membutuhkan pencipta.
Pertanyaan mengenai apa yang terjadi “sebelum penciptaan” juga harus diperlakukan dengan hati-hati. Jika waktu merupakan bagian dari tatanan ciptaan, maka tidak tepat membayangkan Allah menunggu dalam suatu periode waktu yang sudah berlangsung sebelum penciptaan. Lebih tepat mengatakan bahwa Allah tidak bergantung pada waktu untuk keberadaan-Nya, sedangkan waktu dan seluruh tatanan ciptaan bergantung kepada Allah. Dengan demikian, Allah dapat disebut mendahului ciptaan secara keberadaan tanpa harus membayangkan Allah hidup melalui sejumlah tahun sebelum waktu dimulai.
Kesaksian Alkitab mengenai kekekalan Allah mendukung pemahaman tersebut. Mazmur 90:2, Yesaya 40:28, Yohanes 1:1-3, dan berbagai bagian lainnya menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang tidak mempunyai awal seperti makhluk. Allah adalah sumber kehidupan, bukan penerima kehidupan dari sesuatu yang lebih tinggi. Karena itu, keberadaan Allah tidak membutuhkan penjelasan yang sama seperti keberadaan alam semesta dan manusia.
Secara teologis, pemahaman tersebut dapat dijelaskan melalui perbedaan antara keberadaan yang bergantung dan keberadaan yang tidak bergantung. Ciptaan bersifat bergantung karena menerima keberadaannya dari Allah. Allah dipahami sebagai dasar terakhir keberadaan karena Ia tidak menerima keberadaan-Nya dari sesuatu yang lain. Jika Allah masih membutuhkan pencipta, maka sesuatu yang menciptakan Allah tersebut justru akan menjadi dasar yang lebih fundamental daripada Allah.
Namun, penjelasan tersebut tidak berarti manusia telah menguasai seluruh misteri keberadaan Allah. Ada batas yang tidak dapat dilewati oleh akal manusia karena manusia sendiri merupakan bagian dari ciptaan yang terbatas. Kita dapat memahami bahwa Allah kekal dan tidak diciptakan berdasarkan kesaksian Alkitab serta refleksi teologis, tetapi kita tidak dapat menggambarkan secara sempurna bagaimana keberadaan Allah yang kekal itu berlangsung. Dalam titik tersebut, iman tidak berarti berhenti berpikir, melainkan mengakui bahwa pengetahuan manusia mempunyai batas.
Pada akhirnya, Kejadian 1:1 mengarahkan perhatian manusia bukan kepada teka-teki tentang apa yang menciptakan Allah, melainkan kepada Pribadi yang menjadi sumber keberadaan segala sesuatu. “Pada mulanya” bukanlah awal keberadaan Allah, tetapi awal dari karya penciptaan yang dinyatakan kepada manusia. Allah tidak muncul ketika alam semesta muncul, melainkan Allah adalah Pribadi yang menurut kesaksian Alkitab menjadi sumber alam semesta. Pemahaman tersebut menempatkan manusia pada posisi yang benar sebagai ciptaan yang bergantung kepada Pencipta.
Karena itu, pertanyaan tentang Allah sebelum penciptaan pada akhirnya membawa manusia kepada pengakuan yang sangat mendasar: tidak semua keberadaan harus memiliki penyebab dalam pengertian yang sama. Sesuatu yang diciptakan membutuhkan pencipta, tetapi Allah sebagai Pencipta tidak termasuk dalam kategori ciptaan. Keberadaan Allah dipahami sebagai keberadaan yang tidak bergantung, sedangkan seluruh ciptaan bergantung kepada-Nya. Dari sinilah Kejadian 1:1 memperoleh kedalaman yang jauh lebih besar daripada sekadar pernyataan bahwa dunia mempunyai awal.
Refleksi Praktis
Memahami bahwa Allah tidak diciptakan dapat mengubah cara manusia melihat kehidupannya sendiri. Manusia sering merasa harus mengendalikan segala sesuatu karena ingin memiliki kepastian tentang masa depan. Padahal, manusia tidak mengetahui bahkan sebagian besar hal yang akan terjadi dalam hidupnya sendiri. Jika Allah adalah Pencipta yang tidak bergantung pada dunia, maka manusia dapat belajar menempatkan keterbatasannya di hadapan Pribadi yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Pemahaman mengenai kekekalan Allah juga dapat memberikan perspektif baru ketika manusia menghadapi perubahan. Kehidupan manusia bergerak dari satu tahap ke tahap lainnya, dan banyak hal yang dahulu dianggap penting akhirnya berubah atau berlalu. Hubungan, pekerjaan, kesehatan, keadaan ekonomi, bahkan cara seseorang memandang dirinya sendiri dapat mengalami perubahan. Di tengah perubahan tersebut, iman kepada Allah yang kekal memberikan dasar untuk percaya bahwa keberadaan Allah tidak mengalami ketidakstabilan seperti kehidupan manusia.
Kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah juga dapat membentuk sikap rendah hati. Manusia memiliki kemampuan, pengetahuan, dan pencapaian, tetapi semuanya berada dalam lingkungan ciptaan yang tidak dibuatnya sendiri. Bahkan kehidupan yang digunakan manusia untuk berpikir dan bekerja merupakan sesuatu yang diterima, bukan sesuatu yang manusia ciptakan dari ketiadaan. Karena itu, pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta seharusnya tidak hanya menghasilkan pengetahuan teologis, tetapi juga sikap syukur dan tanggung jawab.
Pemahaman tersebut juga dapat membantu seseorang menghadapi pertanyaan yang belum memiliki jawaban langsung. Tidak semua pertanyaan sulit harus diselesaikan dalam satu waktu agar iman tetap dapat bertahan. Ada pertanyaan yang dapat dijawab dengan penalaran, ada yang membutuhkan penelitian lebih lanjut, dan ada pula yang tetap menyisakan misteri. Ketika manusia mengakui keterbatasannya tanpa meninggalkan pencarian terhadap kebenaran, ia sedang belajar menjalankan iman dengan kedewasaan.
Pertanyaan “Apa yang ada sebelum Allah menciptakan segala sesuatu?” pada akhirnya dapat mengajarkan manusia untuk memperhatikan cara berpikirnya sendiri. Kita terbiasa menganggap bahwa semua hal harus mempunyai awal karena semua hal yang kita jumpai dalam pengalaman sehari-hari memang memiliki awal. Akan tetapi, Allah dalam kesaksian Alkitab tidak ditempatkan dalam kategori makhluk yang mempunyai awal. Kesadaran tersebut mengajak manusia untuk tidak memaksakan batas pengalaman ciptaan kepada Pencipta.
Lebih jauh lagi, pemahaman mengenai Allah sebagai sumber keberadaan dapat memberikan makna terhadap kehidupan sehari-hari. Jika manusia menyadari bahwa keberadaannya bukan sesuatu yang berdiri sendiri, maka kehidupan dapat dipandang sebagai pemberian yang harus dijalani dengan tanggung jawab. Pekerjaan, hubungan dengan sesama, penggunaan waktu, kepedulian terhadap dunia, dan keputusan moral dapat dilihat sebagai bagian dari tanggapan manusia terhadap Pencipta. Dengan demikian, doktrin tentang penciptaan tidak berhenti pada pembahasan mengenai masa lalu, tetapi mempunyai dampak terhadap cara manusia hidup pada masa kini.
Pada akhirnya, Kejadian 1:1 mengajak manusia melihat bahwa di balik awal segala sesuatu yang dapat dilihat terdapat Allah yang tidak bergantung kepada ciptaan. Dunia mempunyai awal, manusia mempunyai awal, dan sejarah mempunyai permulaan, tetapi Allah tidak diperkenalkan sebagai bagian dari rangkaian awal tersebut. Justru Allah menjadi dasar yang memungkinkan seluruh rangkaian ciptaan ada. Karena itu, ketika manusia tidak mampu menjawab seluruh pertanyaan mengenai keberadaan Allah sebelum penciptaan, ia tetap dapat memegang kesaksian utama Kitab Suci bahwa Allah adalah Pencipta yang kekal.
Pertanyaan tersebut juga dapat menjadi undangan untuk mengenal Allah lebih dalam, bukan sekadar untuk memenangkan perdebatan intelektual. Semakin manusia menyadari bahwa Allah melampaui batas ruang, waktu, dan kemampuan berpikirnya, semakin penting sikap rendah hati dalam berbicara mengenai Allah. Iman yang dewasa bukan iman yang tidak memiliki pertanyaan, melainkan iman yang berani bertanya sambil tetap bersedia mendengarkan kesaksian Kitab Suci. Dengan demikian, Kejadian 1:1 bukan hanya berbicara tentang bagaimana segala sesuatu bermula, tetapi juga mengarahkan manusia kepada Pribadi yang menjadi sumber dari segala sesuatu yang ada.

Posting Komentar untuk "Jika Allah Menciptakan Segala Sesuatu, Bagaimana Memahami Keberadaan Allah Sebelum Penciptaan dan Awal Waktu?-Kejadian 1:1"