Apa Arti Memberikan Pipi yang Lain? Apakah Orang Kristen Tidak Boleh Melawan Ketidakadilan? [Matius 5:39]
Pendahuluan
Perkataan Yesus dalam Matius 5:39 merupakan salah satu ajaran yang paling sering dipahami secara sederhana, tetapi sekaligus salah satu yang paling mudah disalahgunakan. Yesus berkata, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Sekilas, perkataan ini dapat terdengar seperti larangan mutlak bagi orang Kristen untuk melawan segala bentuk kejahatan, termasuk kekerasan, penindasan, pelecehan, atau ketidakadilan. Jika dibaca tanpa memperhatikan konteksnya, seseorang bahkan dapat menyimpulkan bahwa korban harus diam, menerima perlakuan buruk, dan tidak boleh mencari pertolongan.
Namun, kesimpulan seperti itu perlu diperiksa dengan sangat hati-hati. Alkitab tidak mengajarkan bahwa kasih berarti membiarkan kejahatan terus berlangsung tanpa batas. Alkitab juga tidak mengajarkan bahwa korban harus tetap berada dalam situasi yang membahayakan dirinya hanya demi membuktikan bahwa ia memiliki iman. Karena itu, memahami Matius 5:39 membutuhkan pembedaan yang cermat antara pembalasan pribadi dan tindakan untuk menghentikan kejahatan, antara membalas dendam dan mencari keadilan, serta antara mengampuni seseorang dan membiarkan seseorang terus menyakiti orang lain.
Pertanyaan utama dalam artikel ini karena itu bukan sekadar, “Apakah orang Kristen boleh melawan?” Pertanyaan yang lebih mendalam adalah: Apa sebenarnya yang Yesus larang ketika Ia berkata agar seseorang tidak melawan orang yang berbuat jahat kepadanya? Apakah yang dimaksud adalah larangan melakukan pembalasan pribadi, atau larangan terhadap segala bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan? Bagaimana perkataan tersebut harus dipahami jika dibandingkan dengan bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang keadilan, perlindungan terhadap orang lemah, penegakan hukum, teguran terhadap orang yang berbuat salah, dan tanggung jawab untuk mencegah kejahatan?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena Matius 5:39 sering dikutip kepada orang yang sedang mengalami perlakuan tidak adil. Dalam keadaan tertentu, perkataan “berikan pipi yang lain” dapat digunakan untuk menasihati seseorang agar tidak membalas dendam. Itu merupakan salah satu penerapan yang mungkin benar. Akan tetapi, jika perkataan tersebut diberikan kepada korban kekerasan sebagai alasan agar ia tetap berada dalam bahaya dan tidak mencari perlindungan, ayat yang sama dapat berubah menjadi alat untuk membenarkan ketidakadilan. Kita perlu memastikan bahwa penafsiran terhadap perkataan Yesus tidak justru bertentangan dengan karakter Allah yang juga dinyatakan dalam Kitab Suci sebagai pembela orang tertindas dan hakim yang benar.
Untuk memahami persoalan ini, pertama-tama kita harus menyadari bahwa Yesus sedang berbicara dalam konteks Khotbah di Bukit, khususnya Matius 5:21–48. Bagian ini berisi serangkaian ajaran yang memperdalam pemahaman tentang kehidupan umat Allah, termasuk mengenai kemarahan, perzinahan, perceraian, sumpah, pembalasan, dan kasih terhadap musuh. Yesus tidak sekadar memberikan daftar aturan perilaku yang berdiri sendiri, tetapi sedang menunjukkan bagaimana hati seseorang yang hidup di bawah pemerintahan Allah seharusnya merespons konflik. Karena itu, Matius 5:39 harus dibaca bersama dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
Dalam Matius 5:38, Yesus terlebih dahulu berkata, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Pernyataan tersebut mengacu kepada prinsip yang terdapat dalam hukum Taurat, misalnya Keluaran 21:24, Imamat 24:20, dan Ulangan 19:21. Prinsip tersebut dikenal sebagai lex talionis, yaitu prinsip pembalasan yang sepadan, yang berarti hukuman tidak boleh melampaui kerugian atau kesalahan yang dilakukan. Penting untuk memahami bahwa prinsip tersebut dalam konteks hukum Israel bukan sekadar izin bagi setiap individu untuk membalas dendam sesuka hati, tetapi berkaitan dengan keadilan yang harus dijalankan dalam kerangka hukum.
Setelah menyebut prinsip tersebut, Yesus berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa Yesus sedang membawa pendengar-Nya kepada pemahaman yang lebih dalam mengenai kehendak Allah. Ia tidak sedang mengajarkan bahwa kejahatan tidak penting atau bahwa keadilan tidak diperlukan. Ia sedang berbicara mengenai bagaimana murid-Nya harus merespons ketika dirinya sendiri menjadi sasaran perlakuan jahat. Dengan demikian, kata-kata “orang yang berbuat jahat kepadamu” dan contoh tentang pipi yang ditampar perlu diperhatikan secara khusus karena fokusnya adalah respons pribadi terhadap penghinaan atau perlakuan yang merugikan.
Hal ini membantu kita melihat bahwa Matius 5:39 tidak boleh dipisahkan dari ajaran Yesus mengenai kasih terhadap musuh dalam Matius 5:44. Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi orang-orang yang menganiaya mereka. Kasih terhadap musuh berarti menghendaki kebaikan orang tersebut di hadapan Allah, bukan menginginkan kehancurannya sebagai bentuk balas dendam. Akan tetapi, menghendaki kebaikan seorang pelaku kejahatan tidak berarti menyatakan bahwa tindakannya benar atau bahwa korban harus membiarkan kejahatan itu terus dilakukan.
Di sinilah diperlukan perbedaan antara pengampunan dan pembiaran. Pengampunan berarti melepaskan keinginan untuk membalas dendam secara pribadi dan menyerahkan penghakiman terakhir kepada Allah. Pembiaran berarti membiarkan suatu kesalahan terus berlangsung tanpa mengambil tindakan yang semestinya, bahkan ketika tindakan tersebut diperlukan untuk melindungi diri sendiri atau orang lain. Kedua hal ini tidak sama, dan menyamakan keduanya dapat menghasilkan konsekuensi yang sangat serius.
Sebagai contoh, jika seseorang mengalami penghinaan pribadi dan kemudian memilih tidak membalas penghinaan tersebut dengan penghinaan yang lebih keras, tindakan itu dapat mencerminkan prinsip Matius 5:39. Namun, apabila seseorang menyaksikan seorang yang lemah terus-menerus mengalami kekerasan dan kemudian mengatakan, “Jangan melawan karena Yesus berkata berikan pipi yang lain,” persoalannya menjadi berbeda. Dalam situasi seperti itu, tindakan untuk mencari perlindungan, meminta pertolongan, melaporkan kejahatan, atau mencegah korban lain menjadi sasaran tidak identik dengan pembalasan pribadi. Kita perlu menguji setiap tindakan berdasarkan motif, tujuan, cara, dan prinsip Alkitab yang lebih luas.
Mengapa Pertanyaan Ini Penting?
Pertanyaan ini penting karena kesalahan dalam memahami Matius 5:39 dapat memengaruhi cara orang Kristen menghadapi konflik, ketidakadilan, dan penderitaan. Jika ayat ini ditafsirkan sebagai larangan mutlak terhadap semua bentuk perlawanan, orang percaya dapat mengira bahwa membela diri selalu berdosa. Bahkan lebih jauh lagi, seseorang dapat merasa bahwa mencari pertolongan ketika mengalami kekerasan merupakan tanda kurangnya iman. Pemahaman seperti itu tidak boleh diterima begitu saja tanpa menguji seluruh kesaksian Alkitab.
Alkitab sendiri memberikan perhatian yang sangat besar kepada persoalan keadilan. Mikha 6:8, misalnya, menempatkan tindakan keadilan sebagai bagian penting dari kehidupan umat Allah. Amos 5:24 menyerukan agar keadilan bergulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir. Mazmur berulang kali menggambarkan Allah sebagai pembela orang yang tertindas, orang miskin, dan orang yang tidak berdaya. Karena itu, jika seseorang menafsirkan Matius 5:39 sedemikian rupa sehingga keadilan dianggap bertentangan dengan iman Kristen, penafsiran tersebut harus dipertanyakan.
Perjanjian Baru juga tidak memberikan gambaran bahwa orang percaya harus selalu menerima perlakuan tidak adil tanpa menggunakan sarana yang tersedia. Dalam Kisah Para Rasul 16:35–39, Paulus tidak membalas kekerasan terhadap dirinya dengan kekerasan, tetapi ia menuntut agar pihak yang bertanggung jawab menyelesaikan persoalan secara terbuka karena ia dan Silas telah diperlakukan secara tidak semestinya sebagai warga negara Romawi. Tindakan Paulus menarik karena ia tidak melakukan pembalasan pribadi, tetapi juga tidak menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang harus dibiarkan. Ia menggunakan jalur hukum yang tersedia untuk memperjuangkan kebenaran.
Contoh lain terdapat dalam Yohanes 18:22–23. Ketika Yesus ditampar oleh seorang penjaga dalam proses pemeriksaan, Yesus tidak membalas dengan menampar orang tersebut. Namun, Yesus juga tidak berkata bahwa tindakan itu benar dan harus diterima tanpa keberatan. Ia bertanya, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” Respons tersebut sangat penting untuk memahami Matius 5:39 karena Yesus tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi Ia tetap menyatakan bahwa perlakuan yang tidak adil adalah salah.
Dengan demikian, memberikan pipi yang lain tidak dapat secara otomatis berarti bahwa orang Kristen harus diam terhadap setiap ketidakadilan. Yesus sendiri dalam Yohanes 18 tidak melakukan pembalasan fisik, tetapi Ia juga tidak menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang tidak boleh disebut sebagai kejahatan. Ia menyatakan kebenaran dengan tenang dan menuntut alasan atas tindakan yang tidak benar. Hal ini menunjukkan bahwa tidak membalas dan tidak berbicara bukanlah hal yang sama.
Perbedaan tersebut sangat penting ketika kita membahas ketidakadilan. Ketidakadilan adalah perlakuan yang tidak benar terhadap seseorang atau keadaan ketika hak, martabat, atau kebenaran diabaikan secara tidak semestinya. Dalam kehidupan manusia, ketidakadilan dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari penghinaan dan fitnah hingga penindasan, eksploitasi, kekerasan, atau penyalahgunaan kekuasaan. Respons Kristen terhadap semua bentuk tersebut tidak dapat ditentukan hanya dengan satu kalimat tanpa memperhatikan konteks dan prinsip Alkitab lainnya.
Kita juga perlu memperhatikan bahwa Alkitab membedakan antara pembalasan pribadi dan hukuman yang dijalankan oleh otoritas yang sah. Roma 12:19 berkata, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah.” Kata pembalasan dalam konteks ini berkaitan dengan mengambil alih hak penghakiman dan menghukum seseorang berdasarkan kemarahan pribadi. Paulus justru mengarahkan orang percaya untuk menyerahkan pembalasan kepada Allah. Akan tetapi, beberapa ayat kemudian, Roma 13:1–4 menjelaskan fungsi pemerintah sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab dalam menjalankan keadilan dan menghukum kejahatan.
Kedua bagian tersebut harus dibaca bersama. Roma 12 menolak pembalasan pribadi, sedangkan Roma 13 menjelaskan adanya otoritas publik yang memiliki fungsi tertentu dalam menjaga ketertiban dan menghadapi kejahatan. Ini berarti Alkitab tidak menyamakan “jangan membalas” dengan “jangan pernah mencari keadilan.” Seorang Kristen dapat menolak dendam pribadi sekaligus menggunakan jalur yang benar untuk memperoleh perlindungan dan keadilan.
Pertanyaan ini juga penting karena orang yang mengalami ketidakadilan sering berada dalam posisi yang rentan. Orang yang memiliki kekuasaan dapat dengan mudah menggunakan ayat agama untuk meminta korban tetap diam. Karena itu, penafsiran Alkitab harus dilakukan dengan tanggung jawab moral. Firman Tuhan tidak boleh digunakan untuk menutupi kejahatan, membungkam korban, atau memberikan legitimasi rohani kepada pelaku yang seharusnya bertobat dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Kita harus sangat berhati-hati di sini karena ketaatan kepada Kristus tidak pernah berarti memberikan izin kepada seseorang untuk terus melakukan kejahatan. Jika seorang pelaku terus menyakiti orang lain, kasih Kristen terhadap pelaku tidak mengharuskan kita memfasilitasi tindakan jahatnya. Bahkan dalam beberapa keadaan, kasih kepada korban dan kasih kepada calon korban justru menuntut adanya tindakan untuk menghentikan kejahatan. Menghentikan seseorang dari melakukan kejahatan bukan berarti membenci orang tersebut, sebagaimana menegakkan hukum terhadap pelaku tidak otomatis berarti memiliki kebencian pribadi terhadapnya.
Hal yang sama berlaku dalam konteks membela orang lain. Dalam Amsal 31:8–9, umat Allah diperintahkan untuk membuka mulut bagi orang yang tidak dapat berbicara bagi dirinya sendiri dan membela hak orang miskin serta orang yang membutuhkan. Perintah tersebut menunjukkan bahwa kehidupan yang benar tidak hanya berhubungan dengan bagaimana seseorang memperlakukan musuh ketika dirinya sendiri disakiti. Ada pula tanggung jawab untuk memperhatikan orang lain yang mengalami ketidakadilan. Karena itu, membaca Matius 5:39 sebagai larangan mutlak terhadap segala tindakan perlindungan terhadap orang yang tertindas akan menghasilkan ketegangan dengan banyak bagian Kitab Suci lainnya.
Pertanyaan ini menjadi lebih rumit ketika kita membicarakan membela diri. Apakah orang Kristen boleh melindungi dirinya ketika seseorang hendak menyakitinya? Apakah tindakan melarikan diri dari bahaya bertentangan dengan “memberikan pipi yang lain”? Apakah mencari bantuan dari pihak berwenang menunjukkan kurangnya iman? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan slogan sederhana. Kita perlu melihat contoh-contoh Alkitab tentang orang percaya yang menghindari bahaya, menggunakan perlindungan hukum, meminta pertolongan, atau menghadapi penganiayaan tanpa melakukan pembalasan.
Yesus sendiri memberikan prinsip yang menarik dalam Matius 10:23 ketika mengutus murid-murid-Nya. Ia berkata bahwa apabila mereka dianiaya di suatu kota, mereka harus melarikan diri ke kota yang lain. Perintah tersebut menunjukkan bahwa melarikan diri dari penganiayaan tidak selalu merupakan tindakan pengecut atau tanda kurang iman. Dalam keadaan tertentu, mempertahankan kehidupan dan melanjutkan panggilan Allah justru merupakan tindakan yang bijaksana. Hal ini membantu kita memahami bahwa ajaran Yesus tentang tidak membalas tidak boleh secara otomatis ditafsirkan sebagai kewajiban untuk tetap berada di tengah bahaya.
Dalam Kisah Para Rasul 9:23–25, Paulus juga melarikan diri dari orang-orang yang hendak membunuhnya dengan diturunkan melalui tembok dalam sebuah keranjang. Ia tidak menganggap bahwa menghindari kematian berarti gagal mempercayai Allah. Dalam Kisah Para Rasul 22:25, Paulus bahkan mempertanyakan legalitas tindakan ketika hendak dicambuk. Lagi-lagi, kita melihat bahwa kehidupan para rasul tidak menunjukkan pola bahwa setiap bentuk perlindungan diri atau penggunaan hak hukum merupakan pelanggaran terhadap ajaran Yesus.
Namun demikian, kita juga tidak boleh bergerak ke ekstrem yang berlawanan. Fakta bahwa orang Kristen dapat mencari perlindungan atau keadilan tidak berarti bahwa setiap tindakan kekerasan dapat dibenarkan atas nama membela diri. Alkitab tetap menempatkan pengendalian diri, kasih, kebenaran, dan penghormatan terhadap kehidupan sebagai nilai penting. Karena itu, pertanyaan mengenai perlawanan harus selalu mempertimbangkan apakah tindakan tersebut benar-benar bertujuan menghentikan bahaya atau justru merupakan luapan kemarahan dan keinginan untuk membalas.
Di sinilah konsep non-pembalasan menjadi penting. Non-pembalasan berarti menolak membayar kejahatan dengan kejahatan karena didorong oleh dendam pribadi. Orang yang tidak membalas tidak berarti menyatakan bahwa kejahatan itu benar. Ia justru menolak membiarkan kejahatan menguasai dirinya sehingga ia berubah menjadi pelaku kejahatan yang sama. Prinsip inilah yang menjadi salah satu inti ajaran Yesus dalam Matius 5.
Roma 12:17 berkata, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan.” Kemudian Roma 12:21 menambahkan, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” Ayat tersebut tidak berkata bahwa kejahatan harus dibiarkan tanpa respons apa pun. Sebaliknya, Paulus menunjukkan bahwa ada cara menghadapi kejahatan tanpa menjadi serupa dengan kejahatan itu sendiri. Orang percaya dipanggil untuk menghentikan siklus kebencian, bukan untuk menyetujui tindakan jahat.
Prinsip tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Jika seseorang menyakiti kita lalu kita membalas karena ingin membuatnya menderita sebagaimana kita menderita, kita telah masuk ke dalam pola pembalasan. Kejahatan pertama menghasilkan kejahatan kedua, kemudian kejahatan kedua menghasilkan kejahatan ketiga, dan seterusnya. Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Murid Kristus tidak dipanggil untuk membiarkan kejahatan mengendalikan respons moralnya, tetapi dipanggil untuk menghadapi kejahatan dengan cara yang mencerminkan karakter Kerajaan Allah.
Namun, menghadapi kejahatan dengan kebaikan tidak berarti bersikap lemah terhadap kejahatan. Kebaikan alkitabiah bukan kelembekan moral, melainkan tindakan yang diarahkan kepada apa yang benar dan baik menurut kehendak Allah. Dalam keadaan tertentu, kebaikan berarti mengampuni. Dalam keadaan lain, kebaikan berarti menegur. Dalam keadaan lain lagi, kebaikan berarti melindungi korban, melaporkan kejahatan, atau mencegah seseorang melakukan tindakan yang lebih buruk. Karena itu, penerapan Matius 5:39 membutuhkan hikmat, bukan sekadar tindakan mekanis.
Kita juga perlu membedakan antara memaafkan dan memulihkan kepercayaan. Pengampunan dapat berarti melepaskan dendam dan menyerahkan penghakiman kepada Allah, tetapi hal itu tidak selalu berarti bahwa hubungan harus segera kembali seperti semula. Kepercayaan merupakan sesuatu yang dapat membutuhkan pertobatan, perubahan perilaku, waktu, dan bukti kesungguhan. Karena itu, seseorang dapat mengampuni pelaku tetapi tetap menetapkan batas yang sehat dan mengambil langkah untuk memastikan bahwa kejahatan tidak terulang.
Perbedaan ini sangat penting dalam kehidupan nyata. Jika seseorang telah berulang kali menyalahgunakan kepercayaan, mengatakan “saya mengampuni” tidak otomatis berarti bahwa orang tersebut harus kembali diberikan akses yang sama terhadap kehidupan kita. Kasih tidak menghapus kebutuhan akan hikmat. Pengampunan tidak mengharuskan seseorang menempatkan dirinya kembali dalam situasi yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain.
Karena itu, pembahasan Matius 5:39 harus dilakukan dengan keseimbangan yang benar. Di satu sisi, kita tidak boleh mengubah ajaran Yesus menjadi pembenaran bagi dendam, kebencian, kekerasan, atau pembalasan pribadi. Di sisi lain, kita juga tidak boleh mengubahnya menjadi doktrin yang membungkam korban dan membiarkan kejahatan berkembang tanpa pertanggungjawaban. Kedua ekstrem tersebut sama-sama gagal memahami kedalaman ajaran Yesus.
Artikel ini karena itu akan berusaha menjawab beberapa pertanyaan penting secara bertahap. Apa arti “menampar pipi kanan” dalam konteks sosial dan budaya pada zaman Yesus? Mengapa Yesus menggunakan contoh pipi kanan dan pipi kiri? Apa hubungan Matius 5:39 dengan hukum “mata ganti mata”? Apakah “jangan melawan orang yang berbuat jahat” berarti tidak boleh membela diri? Bagaimana kisah Yesus, Paulus, Daud, dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya membantu kita memahami prinsip ini?
Kita juga akan melihat bagaimana Matius 5:39 berhubungan dengan ajaran Alkitab tentang kasih, pengampunan, keadilan, pemerintah, pembelaan terhadap orang lemah, disiplin gereja, dan penolakan terhadap pembalasan pribadi. Kita perlu membiarkan Alkitab menjelaskan Alkitab, bukan mengambil satu ayat lalu memaksakan kesimpulan yang tidak sesuai dengan keseluruhan kesaksian Kitab Suci. Pendekatan semacam ini sangat penting terutama karena topik ini menyentuh kehidupan orang yang mungkin sedang mengalami penderitaan nyata.
Pada akhirnya, tujuan pembahasan ini bukan untuk memberikan izin kepada orang Kristen agar melakukan kekerasan, tetapi juga bukan untuk mengajarkan bahwa orang Kristen harus menerima semua bentuk kekerasan tanpa mencari perlindungan. Tujuannya adalah menemukan keseimbangan alkitabiah: bagaimana menolak pembalasan pribadi tanpa menolak keadilan, bagaimana mengasihi musuh tanpa membenarkan kejahatan, bagaimana mengampuni tanpa membiarkan penyalahgunaan, dan bagaimana mempertahankan kebenaran tanpa dikuasai oleh kebencian. Keseimbangan inilah yang akan menjadi kunci untuk memahami perkataan Yesus tentang memberikan pipi yang lain.
Dengan demikian, sebelum kita menyimpulkan bahwa Matius 5:39 melarang semua bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, kita perlu terlebih dahulu bertanya apa yang sebenarnya sedang Yesus larang. Apakah Ia melarang setiap tindakan mempertahankan diri, atau Ia sedang menyerang dorongan manusia untuk membalas penghinaan dengan penghinaan dan kekerasan dengan kekerasan? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan menentukan bagaimana ayat ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada bagian berikutnya, kita akan masuk lebih dalam ke dalam konteks Matius 5:38–48 dan menelusuri makna “pipi kanan”, “pipi kiri”, “melawan orang yang berbuat jahat”, serta hubungan perkataan Yesus dengan prinsip “mata ganti mata” dalam Perjanjian Lama.
Penjelasan Berdasarkan Alkitab
Untuk memahami Matius 5:39 dengan benar, kita harus memulai dari konteks perkataan Yesus sendiri. Ayat tersebut tidak berdiri sendirian, melainkan berada di tengah Khotbah di Bukit dalam Matius 5–7. Secara khusus, Matius 5:38–42 membahas respons murid terhadap perlakuan yang merugikan dirinya, sedangkan Matius 5:43–48 melanjutkan pembahasan mengenai kasih kepada musuh. Karena itu, Matius 5:39 tidak boleh dipisahkan dari tujuan besar Yesus dalam bagian tersebut, yaitu membentuk karakter murid yang tidak dikuasai oleh kebencian dan pembalasan.
Matius 5:38 berbunyi, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Kemudian Yesus melanjutkan dalam ayat 39, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Struktur ini sangat penting karena Yesus sedang memberikan respons terhadap pemahaman mengenai prinsip pembalasan yang dikenal dalam hukum Taurat. Ia membawa pendengar-Nya dari prinsip hukum mengenai keadilan menuju persoalan yang lebih dalam, yaitu bagaimana seorang murid harus merespons ketika dirinya sendiri diperlakukan secara tidak adil.
Apa Arti “Mata Ganti Mata dan Gigi Ganti Gigi”?
Sebelum membahas “pipi yang lain”, kita harus memahami prinsip “mata ganti mata” yang disebut Yesus. Prinsip tersebut terdapat antara lain dalam Keluaran 21:24, Imamat 24:20, dan Ulangan 19:21. Dalam konteks hukum Israel, prinsip ini berhubungan dengan keadilan yang proporsional, yaitu hukuman tidak boleh melebihi kesalahan yang dilakukan. Dengan kata lain, hukum tersebut membatasi pembalasan agar tidak berkembang menjadi tindakan yang jauh lebih besar daripada pelanggaran awal.
Prinsip tersebut tidak boleh dibayangkan sebagai izin bagi setiap orang untuk melakukan pembalasan pribadi. Keluaran 21 menunjukkan bahwa ketentuan tersebut berada dalam konteks hukum dan keputusan masyarakat, bukan sekadar dorongan agar individu membalas ketika merasa dirugikan. Bahkan Ulangan 19:18–19 berbicara tentang hakim yang melakukan pemeriksaan dengan teliti terhadap perkara sebelum menjatuhkan keputusan. Jadi, sejak dalam Perjanjian Lama pun terdapat perbedaan antara keadilan yang dijalankan secara benar dan pembalasan pribadi yang didorong oleh kemarahan.
Hal ini sangat penting karena sering kali “mata ganti mata” dipahami sebagai gambaran tentang masyarakat yang bebas melakukan balas dendam. Padahal, salah satu fungsi prinsip tersebut justru membatasi pembalasan. Jika seseorang menyebabkan kerugian tertentu, ia tidak boleh menerima hukuman yang tidak terbatas hanya karena korban sedang marah. Prinsip tersebut dengan demikian mengandung unsur keadilan dan pembatasan, sedangkan Yesus dalam Matius 5 membawa murid-murid-Nya kepada sikap yang lebih jauh lagi dalam menghadapi penghinaan dan perlakuan buruk terhadap diri sendiri.
Apa yang Dimaksud dengan “Jangan Melawan Orang yang Berbuat Jahat”?
Frasa “janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” merupakan bagian yang sangat penting sekaligus paling mudah disalahpahami. Dalam bahasa Indonesia, kata “melawan” dapat terdengar seolah-olah Yesus melarang setiap bentuk perlawanan terhadap kejahatan. Namun, kita harus berhati-hati karena satu kata dalam terjemahan tidak selalu dapat memuat seluruh nuansa makna dari bahasa aslinya. Konteks ayat menunjukkan bahwa Yesus sedang berbicara mengenai respons murid ketika dirinya menjadi sasaran perlakuan jahat, khususnya respons berupa pembalasan.
Dalam konteks ini, larangan tersebut paling tepat dipahami sebagai larangan terhadap pembalasan pribadi yang didorong oleh keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan. Yesus tidak sedang mengatakan bahwa kejahatan tidak boleh disebut sebagai kejahatan. Ia juga tidak sedang mengajarkan bahwa korban harus menolak semua bentuk pertolongan. Fokusnya adalah bagaimana murid Kristus merespons perlakuan buruk tanpa membiarkan dirinya dikendalikan oleh dendam.
Perbedaan tersebut sangat penting. Jika seseorang dipukul kemudian ia memukul kembali semata-mata karena ingin membuat pelaku merasakan rasa sakit yang sama, tindakan tersebut berada dalam wilayah pembalasan. Namun, jika seseorang berada dalam bahaya dan berusaha melindungi dirinya atau mencari pertolongan untuk menghentikan bahaya tersebut, situasinya tidak otomatis dapat disamakan dengan pembalasan. Motif dan tujuan tindakan menjadi sangat penting dalam menilai bagaimana prinsip Yesus diterapkan.
Mengapa Yesus Menggunakan Contoh “Pipi Kanan”?
Yesus kemudian memberikan contoh yang sangat konkret: “Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Kita harus berhati-hati agar tidak memaksakan terlalu banyak makna ke dalam setiap detail dari ilustrasi tersebut. Namun, contoh ini jelas menggambarkan penghinaan atau perlakuan yang merendahkan seseorang, bukan sekadar persoalan rasa sakit fisik.
Pipi kanan disebut secara spesifik, sehingga pembaca zaman itu dapat membayangkan sebuah tindakan penghinaan yang nyata. Dalam konteks sosial dunia kuno, tamparan pada wajah dapat berkaitan dengan penghinaan dan perendahan martabat, bukan hanya serangan yang bertujuan melukai tubuh. Karena itu, perkataan Yesus dapat dipahami sebagai ajaran agar murid tidak membalas penghinaan dengan penghinaan yang lebih besar.
Hal tersebut mengubah cara kita membaca ayat ini. Jika seseorang menghina kita, respons Kristen tidak harus berupa penghinaan balik. Jika seseorang mempermalukan kita, kita tidak harus berusaha mempermalukannya kembali. Jika seseorang merendahkan kita, kita tidak harus menjadikan kerendahan orang tersebut sebagai alasan untuk membalas dengan tindakan yang sama. Yesus sedang membentuk manusia yang tidak membiarkan tindakan orang lain menentukan karakter moralnya.
4. “Berikan Pipi yang Lain” Bukan Berarti Menganggap Kejahatan Benar
Ungkapan “berikan juga kepadanya pipi kirimu” tidak boleh dipahami sebagai pernyataan bahwa tindakan pelaku menjadi benar. Ketika seseorang melakukan kekerasan atau penghinaan, dosa tetap merupakan dosa meskipun korban memilih untuk tidak membalas. Mengampuni pelaku tidak mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Demikian juga, menolak membalas tidak berarti seseorang harus mengatakan bahwa dirinya tidak mengalami ketidakadilan.
Perbedaan antara mengampuni dan membenarkan sangat penting. Mengampuni berarti tidak memelihara dendam dan menyerahkan penghakiman kepada Allah. Membenarkan berarti menyatakan bahwa tindakan yang salah sebenarnya benar atau dapat diterima. Alkitab tidak memerintahkan orang percaya untuk menyebut kejahatan sebagai kebaikan demi mempertahankan sikap yang tampaknya damai.
Yesaya 5:20 bahkan memberikan peringatan keras terhadap tindakan yang mengacaukan kategori moral dengan mengatakan celakalah orang yang menyebut kejahatan sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai kejahatan. Karena itu, orang Kristen tidak boleh menggunakan Matius 5:39 untuk mengatakan bahwa kekerasan, penindasan, pelecehan, atau ketidakadilan menjadi benar hanya karena korban dipanggil untuk tidak membalas. Kasih Kristen tetap harus berdiri di atas kebenaran.
Yesus Tidak Mengajarkan Bahwa Korban Harus Menyukai Perlakuan Buruk
Perkataan Yesus juga tidak berarti bahwa korban harus menikmati atau menerima perlakuan buruk seolah-olah perlakuan tersebut merupakan sesuatu yang baik. Kitab Suci memberikan ruang bagi manusia untuk menangis, berduka, mengeluh, dan memohon pembebasan. Mazmur penuh dengan doa orang-orang yang mengalami penindasan dan meminta Allah bertindak terhadap ketidakadilan. Jika memberikan pipi yang lain berarti seseorang harus menganggap penderitaan itu baik, banyak doa ratapan dalam Alkitab akan menjadi sulit dipahami.
Sebaliknya, ratapan menunjukkan bahwa orang percaya dapat mengatakan kepada Allah bahwa sesuatu itu salah dan menyakitkan. Pemazmur berkali-kali memohon agar Allah membela orang yang tertindas. Ini menunjukkan bahwa menolak pembalasan pribadi tidak sama dengan menolak keadilan. Seseorang dapat menolak membalas musuh sekaligus berdoa agar Allah menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh musuh tersebut.
Hubungan Matius 5:39 dengan Matius 5:44
Matius 5:44 memberikan kunci yang sangat penting: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Dengan demikian, tujuan ajaran “berikan pipi yang lain” bukan sekadar menghasilkan seseorang yang pasif ketika diperlakukan buruk. Tujuannya adalah membentuk manusia yang mampu menolak kebencian bahkan ketika ia menjadi sasaran kebencian. Yesus menghendaki agar murid-Nya tidak membiarkan permusuhan menentukan siapa dirinya.
Kasih kepada musuh tidak berarti menyetujui tindakan musuh. Kasih berarti memperlakukan manusia sebagai manusia yang tetap memiliki martabat di hadapan Allah, sekalipun tindakannya salah. Karena itu, seseorang dapat mengatakan bahwa perbuatan pelaku adalah salah, meminta pelaku bertanggung jawab, mencari perlindungan dari pelaku, dan pada saat yang sama menolak membenci pelaku sebagai pribadi. Prinsip ini memang sulit, tetapi justru itulah kedalaman etika Kerajaan Allah.
“Berdoalah bagi Mereka yang Menganiaya Kamu”
Perintah untuk berdoa bagi orang yang menganiaya merupakan salah satu bagian paling radikal dari ajaran Yesus. Berdoa bagi penganiaya berarti menolak keinginan agar keburukan menjadi tujuan utama kita. Kita dapat meminta agar kejahatan dihentikan, korban dilindungi, kebenaran ditegakkan, dan pelaku bertobat. Doa seperti itu berbeda dari doa yang hanya menginginkan kehancuran musuh demi kepuasan pribadi.
Di sini terlihat bahwa kasih Kristen memiliki dimensi moral. Kasih bukan sekadar perasaan hangat terhadap semua orang. Kasih menginginkan apa yang benar dan baik, termasuk pertobatan orang yang melakukan kejahatan. Jika seorang pelaku berubah, menghentikan kejahatannya, mengakui kesalahannya, dan menerima konsekuensi yang semestinya, hal tersebut jauh lebih sesuai dengan kasih daripada membiarkan dia terus menghancurkan kehidupan orang lain.
Apakah Yesus Sendiri Memberikan “Pipi yang Lain” Secara Harfiah?
Pertanyaan ini menjadi sangat penting ketika kita melihat bagaimana Yesus sendiri bertindak. Yohanes 18:22–23 mencatat bahwa setelah Yesus berbicara dalam pemeriksaan, seorang penjaga menampar-Nya. Yesus tidak menampar kembali penjaga tersebut. Namun, Yesus juga tidak diam seolah-olah tindakan tersebut benar. Ia meminta alasan mengapa Ia ditampar jika perkataan-Nya memang salah.
Peristiwa tersebut memberikan contoh yang sangat berharga. Yesus tidak melakukan pembalasan, tetapi Ia juga menyatakan ketidakadilan tersebut secara verbal. Ia tidak merespons kekerasan dengan kekerasan, tetapi Ia juga tidak menghapus tuntutan akan kebenaran. Dengan demikian, “memberikan pipi yang lain” tidak harus berarti kehilangan kemampuan untuk mengatakan, “Tindakan itu salah.”
Ini merupakan salah satu alasan mengapa Matius 5:39 tidak boleh digunakan untuk membungkam korban. Yesus sendiri menunjukkan bahwa tidak membalas bukan berarti tidak boleh mempertanyakan tindakan yang salah. Ada cara untuk menghadapi ketidakadilan tanpa menjadi serupa dengan orang yang melakukan ketidakadilan tersebut.
Paulus dan Hak untuk Menggunakan Jalur Hukum
Contoh Paulus juga sangat penting. Dalam Kisah Para Rasul 16:35–39, Paulus dan Silas telah dipukuli dan dipenjarakan tanpa proses yang semestinya, lalu pejabat kota ingin membebaskan mereka secara diam-diam. Paulus menolak menerima keadaan tersebut tanpa pertanggungjawaban dan menyatakan bahwa mereka adalah warga negara Romawi yang telah diperlakukan secara tidak semestinya.
Perhatikan apa yang tidak dilakukan Paulus. Ia tidak mengumpulkan massa untuk menyerang pejabat kota. Ia tidak mengajak orang lain membalas kekerasan dengan kekerasan. Ia tidak menggunakan kemarahan pribadi sebagai dasar untuk menghukum mereka. Sebaliknya, ia menggunakan hak hukum yang tersedia untuk mengungkapkan ketidakadilan dan meminta pertanggungjawaban.
Contoh ini sangat membantu karena menunjukkan bahwa mencari keadilan melalui jalur yang sah tidak otomatis bertentangan dengan prinsip non-pembalasan. Paulus tidak sedang mencari kesempatan untuk membalas penderitaannya. Ia sedang memastikan bahwa tindakan yang tidak benar tidak dianggap sebagai sesuatu yang boleh dilakukan tanpa konsekuensi. Dalam konteks ini, memperjuangkan keadilan dan melakukan pembalasan pribadi merupakan dua hal yang berbeda.
Paulus Bahkan Menggunakan Hak Hukumnya Sebelum Dipukul
Dalam Kisah Para Rasul 22:25, ketika Paulus hendak dicambuk, ia bertanya kepada perwira, “Bolehkah kamu mencambuk seorang warga negara Roma, apalagi tanpa diadili?” Paulus belum menunggu sampai ia benar-benar mengalami cambukan untuk menyatakan keberatan. Ia menggunakan hak yang dimilikinya untuk mencegah tindakan yang tidak sah.
Contoh tersebut tidak berarti bahwa setiap orang Kristen harus selalu menggunakan jalur hukum dengan cara yang sama. Keadaan setiap orang berbeda, dan tidak semua masyarakat memiliki sistem hukum yang sama. Namun, contoh Paulus menunjukkan bahwa menggunakan sarana yang sah untuk mencegah ketidakadilan tidak secara otomatis bertentangan dengan iman Kristen.
Yesus Mengajarkan Hikmat dalam Menghadapi Bahaya
Matius 10:23 juga perlu diperhatikan. Ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya, Ia berkata bahwa jika mereka dianiaya di suatu kota, mereka harus melarikan diri ke kota yang lain. Perintah ini menunjukkan bahwa menghindari bahaya bukan otomatis tanda kurangnya iman. Dalam keadaan tertentu, meninggalkan tempat yang berbahaya justru merupakan tindakan yang bijaksana.
Kita tidak boleh mengubah keberanian Kristen menjadi kewajiban untuk tetap berada dalam bahaya yang sebenarnya dapat dihindari. Ada perbedaan antara kesediaan menderita karena kesetiaan kepada Kristus dan sengaja menempatkan diri dalam bahaya yang tidak diperlukan. Yesus tidak memerintahkan murid-murid-Nya mencari penderitaan demi membuktikan iman mereka. Bahkan dalam beberapa keadaan, Ia memerintahkan mereka untuk pergi.
Paulus Juga Pernah Melarikan Diri
Kisah Para Rasul 9:23–25 mencatat bahwa setelah sejumlah orang merencanakan pembunuhan terhadap Paulus, murid-murid menurunkannya melalui tembok dalam sebuah keranjang. Paulus tidak berkata bahwa ia harus tetap tinggal karena “memberikan pipi yang lain” berarti tidak boleh menghindari bahaya. Ia menerima jalan keluar yang tersedia dan melanjutkan pelayanannya di tempat lain.
Peristiwa tersebut penting karena menunjukkan bahwa keselamatan dari bahaya bukan selalu tanda kurangnya keberanian. Kadang-kadang keberanian justru berarti menggunakan hikmat untuk keluar dari keadaan yang berbahaya. Kehidupan manusia memiliki nilai, dan mempertahankan kehidupan untuk menjalankan tanggung jawab yang diberikan Allah bukanlah tindakan yang secara otomatis bertentangan dengan iman.
Prinsip “Jangan Membalas” dalam Roma 12
Roma 12:17–21 merupakan salah satu bagian Perjanjian Baru yang paling jelas menjelaskan prinsip Matius 5:39. Paulus berkata agar orang percaya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak menuntut pembalasan sendiri. Sebaliknya, orang percaya harus berusaha hidup dalam perdamaian sejauh hal itu bergantung pada mereka dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.
Frasa “sejauh hal itu bergantung padamu” sangat penting. Paulus memahami bahwa manusia tidak selalu dapat mengendalikan perilaku orang lain. Orang percaya bertanggung jawab atas responsnya sendiri, tetapi tidak dapat memaksa orang lain untuk menjadi baik. Karena itu, kehidupan damai bukan berarti selalu berhasil menghindari konflik, melainkan tidak menjadi sumber konflik karena dorongan dendam dan kebencian.
Roma 12 juga berkata agar orang percaya memberi tempat kepada murka Allah. Artinya, penghakiman terakhir tidak menjadi milik individu yang sedang marah. Seseorang tidak perlu mengambil alih posisi Allah sebagai hakim terakhir. Ia dapat menyerahkan pembalasan kepada Allah sambil tetap mengambil langkah yang benar untuk menghentikan kejahatan dan mencari perlindungan.
Roma 13 dan Fungsi Pemerintah
Roma 13:1–4 memberikan dimensi lain yang sangat penting. Paulus menjelaskan bahwa pemerintah memiliki fungsi untuk menghukum pelaku kejahatan dan menjalankan ketertiban. Bahkan ia menggunakan gambaran bahwa pemerintah tidak membawa pedang dengan sia-sia, yang menunjukkan adanya fungsi penghukuman terhadap kejahatan dalam kehidupan masyarakat.
Bagian ini tidak boleh dipakai untuk membenarkan semua tindakan pemerintah secara otomatis. Alkitab sendiri menunjukkan bahwa pemerintah dapat melakukan ketidakadilan dan bahwa manusia tetap bertanggung jawab kepada Allah. Namun, keberadaan otoritas yang bertugas menghadapi kejahatan menunjukkan bahwa Alkitab tidak mengajarkan bahwa semua bentuk penghukuman terhadap kejahatan bertentangan dengan kasih.
Karena itu, kita dapat membedakan tiga hal. Pertama, ada pembalasan pribadi, yaitu tindakan menghukum seseorang karena kemarahan dan dendam pribadi. Kedua, ada keadilan yang sah, yaitu proses yang bertujuan melindungi masyarakat dan mempertanggungjawabkan kejahatan melalui otoritas yang tepat. Ketiga, ada pembelaan diri atau perlindungan, yaitu tindakan untuk menghentikan bahaya yang sedang terjadi. Ketiganya tidak boleh disamakan begitu saja.
Apakah Mencari Keadilan Berarti Tidak Mengampuni?
Tidak. Alkitab tidak mengajarkan bahwa seseorang harus memilih antara pengampunan dan keadilan seolah-olah kedua hal tersebut selalu bertentangan. Yusuf memberikan contoh yang menarik dalam Kejadian 50:15–21. Setelah bertahun-tahun mengalami perlakuan buruk dari saudara-saudaranya, Yusuf tidak membalas mereka ketika memiliki kesempatan. Ia bahkan menyatakan bahwa Allah dapat memakai sesuatu yang dimaksudkan untuk kejahatan menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan.
Namun, pengampunan Yusuf tidak berarti bahwa tindakan saudara-saudaranya dianggap benar. Mereka tetap melakukan kejahatan ketika menjual Yusuf. Pengampunan berarti Yusuf tidak membiarkan dendam menentukan tindakannya, bukan berarti ia menyatakan bahwa apa yang dilakukan saudara-saudaranya dapat dibenarkan. Inilah perbedaan yang sangat penting untuk dipahami dalam menerapkan Matius 5:39.
Daud dan Kesempatan untuk Membalas
Kisah Daud dan Saul juga memberikan gambaran yang sangat kuat. Dalam 1 Samuel 24, Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul yang sedang mengejarnya. Namun, Daud menolak mengambil nyawa Saul meskipun ia memiliki alasan manusiawi untuk melakukan pembalasan. Ia menyerahkan penghakiman kepada Allah dan tidak menggunakan kesempatan tersebut untuk membalas dendam.
Akan tetapi, Daud tidak berarti menganggap pengejaran Saul sebagai sesuatu yang benar. Ia tetap berusaha menyelamatkan hidupnya dan melarikan diri dari Saul pada berbagai kesempatan. Ini menunjukkan sekali lagi bahwa tidak membalas dendam tidak sama dengan tidak melakukan apa pun untuk melindungi diri. Daud menolak menjadi pembunuh yang didorong oleh dendam, tetapi ia juga tidak menyerahkan dirinya secara sembrono kepada orang yang hendak membunuhnya.
Ketika Elia Menghadapi Kejahatan
Kisah Elia di Gunung Karmel dalam 1 Raja-raja 18 memberikan contoh berbeda. Elia menghadapi penyembahan Baal dan secara terbuka menyatakan bahwa umat Israel harus memilih siapa yang mereka ikuti. Ia tidak mengambil posisi netral terhadap penyembahan berhala. Namun, keberanian Elia bukan berasal dari kebencian pribadi, melainkan dari kesetiaannya kepada Allah.
Contoh ini membantu kita memahami bahwa kasih dan ketegasan dapat berjalan bersama. Mengasihi manusia tidak berarti tidak boleh mengatakan bahwa suatu tindakan atau keyakinan adalah salah. Dalam kehidupan Kristen, kebenaran tetap penting. Yang harus ditolak adalah kebencian dan pembalasan pribadi, bukan keberanian untuk menyatakan apa yang benar.
Membela Orang yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Alkitabiah
Jika Matius 5:39 ditafsirkan sebagai larangan terhadap semua bentuk tindakan untuk menghentikan ketidakadilan, kita akan mengalami kesulitan dengan banyak perintah Alkitab lainnya. Amsal 31:8–9 memerintahkan agar orang percaya membuka mulut bagi mereka yang tidak dapat berbicara bagi dirinya sendiri dan membela hak orang yang tertindas. Mazmur 82:3–4 menyerukan agar orang yang lemah dan miskin dibela serta diselamatkan dari tangan orang fasik.
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa iman alkitabiah tidak hanya berfokus pada respons seseorang ketika dirinya sendiri disakiti. Ada pula tanggung jawab moral terhadap orang lain. Jika seseorang memiliki kemampuan untuk menghentikan suatu ketidakadilan dengan cara yang benar, kasih kepada sesama dapat menuntutnya untuk bertindak.
Tentu, tindakan tersebut harus dilakukan dengan hikmat. Tidak semua orang memiliki kemampuan, kewenangan, atau keadaan yang memungkinkan mereka melakukan intervensi langsung. Karena itu, “membela” tidak selalu berarti melakukan konfrontasi fisik. Dalam keadaan tertentu, membela dapat berarti memanggil pertolongan, mencari perlindungan, melaporkan kejahatan, mendampingi korban, memberikan kesaksian, atau membantu seseorang keluar dari situasi yang berbahaya.
Allah Membenci Penindasan
Kesaksian Alkitab tentang keadilan Allah juga tidak dapat diabaikan. Mazmur 146:7–9 menggambarkan Allah sebagai Dia yang menegakkan keadilan bagi orang yang tertindas, memberi roti kepada orang yang lapar, dan menjaga orang asing serta anak yatim dan janda. Allah bukan Allah yang acuh terhadap penderitaan manusia. Karena itu, umat-Nya dipanggil untuk mencerminkan karakter tersebut dalam kehidupan mereka.
Yesaya 1:17 juga memanggil umat Allah untuk belajar berbuat baik, mengusahakan keadilan, mengendalikan orang kejam, membela hak anak yatim, dan memperjuangkan perkara janda. Perintah semacam ini menunjukkan bahwa spiritualitas yang benar tidak dapat dipisahkan dari perhatian terhadap keadilan. Ibadah kepada Allah dan cara manusia memperlakukan sesamanya memiliki hubungan yang sangat erat.
Yesus Tidak Menyamakan Kasih dengan Pembiaran
Kita dapat melihat prinsip tersebut dalam cara Yesus memperlakukan orang-orang yang melakukan kesalahan. Yesus mengampuni, tetapi Ia juga menegur. Ia menunjukkan belas kasihan kepada orang berdosa, tetapi Ia juga berbicara keras terhadap kemunafikan dan penyalahgunaan agama. Dalam Matius 23, misalnya, Yesus mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi karena tindakan mereka yang membebani orang lain dan mengabaikan perkara yang lebih penting dalam hukum, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.
Hal ini menunjukkan bahwa kasih bukan berarti tidak pernah melakukan konfrontasi moral. Ada saat ketika kasih menuntut seseorang mengatakan kebenaran dengan jelas. Jika sebuah tindakan merusak kehidupan orang lain, diam tidak selalu merupakan bentuk kasih. Terkadang kasih kepada korban menuntut keberanian untuk mengatakan bahwa kejahatan harus dihentikan.
Prinsip Kasih dalam 1 Korintus 13
1 Korintus 13 sering disebut sebagai pasal kasih, tetapi kasih di sana tidak digambarkan sebagai kelemahan moral. Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, melainkan karena kebenaran. Pernyataan tersebut sangat penting dalam pembahasan Matius 5:39. Jika kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, maka kasih tidak mungkin dipahami sebagai sikap yang sengaja membiarkan ketidakadilan terus berlangsung demi mempertahankan penampilan damai.
Kasih juga “menutupi segala sesuatu” dalam 1 Korintus 13:7, tetapi kalimat tersebut tidak boleh digunakan untuk menutupi kejahatan atau menyembunyikan tindakan yang membahayakan orang lain. Konteks pasal tersebut berbicara mengenai karakter kasih yang sabar, murah hati, tidak sombong, tidak mencari keuntungan diri sendiri, dan tidak menyimpan kesalahan. Tidak ada dasar untuk mengubahnya menjadi perintah agar korban menutupi kejahatan pelaku.
Matius 18 dan Penanganan Kesalahan
Matius 18:15–17 menunjukkan bahwa Yesus memberikan mekanisme untuk menghadapi kesalahan dalam komunitas. Jika seorang saudara melakukan kesalahan, orang tersebut tidak hanya disuruh diam dan menganggap semuanya selesai. Ada proses teguran pribadi, kemudian melibatkan satu atau dua orang, dan akhirnya komunitas apabila masalah tidak diselesaikan.
Prinsip ini menunjukkan bahwa rekonsiliasi membutuhkan kebenaran. Perdamaian Kristen bukan sekadar tidak adanya percakapan tentang masalah. Perdamaian yang sehat berusaha membawa kesalahan kepada terang agar hubungan dapat dipulihkan dengan benar. Karena itu, Matius 5:39 tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak semua bentuk teguran terhadap kesalahan.
Bagaimana Jika Pelaku Terus Mengulangi Kejahatan?
Pertanyaan ini sangat penting secara praktis. Jika seseorang melakukan kesalahan sekali dan kita memilih tidak membalas, persoalannya mungkin relatif sederhana. Namun, bagaimana jika seseorang terus melakukan tindakan yang sama dan terus merugikan orang lain? Apakah “pipi yang lain” berarti kita harus memberikan kesempatan tanpa batas kepada pelaku untuk mengulangi kejahatan?
Keseluruhan Alkitab tidak memberikan dasar untuk kesimpulan tersebut. Pengampunan tidak berarti menghapus semua konsekuensi. Bahkan dalam kehidupan sosial, seseorang dapat diampuni secara pribadi tetapi tetap harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Kasih kepada pelaku dapat mencakup harapan agar ia bertobat, dan pertobatan yang nyata dapat mencakup kesediaan menerima konsekuensi serta melakukan perubahan.
Karena itu, ketika seseorang terus melakukan kejahatan, tindakan yang tepat dapat mencakup pembatasan akses, mencari bantuan, melaporkan tindakan tersebut, atau mengambil langkah lain yang diperlukan untuk melindungi korban. Langkah tersebut tidak harus dilakukan dengan kebencian. Justru, tindakan yang terukur dan bertujuan menghentikan kejahatan dapat menjadi bentuk kasih kepada semua pihak karena mencegah kerusakan yang lebih besar.
Bagaimana dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga?
Topik ini memerlukan kehati-hatian khusus. Matius 5:39 tidak boleh digunakan untuk mengatakan kepada seseorang yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga bahwa ia harus tetap berada dalam bahaya demi menaati Yesus. Tidak ada dasar yang cukup untuk menjadikan “berikan pipi yang lain” sebagai kewajiban bagi korban untuk terus menerima kekerasan. Dalam keadaan yang membahayakan, mencari tempat aman, meminta pertolongan, menghubungi pihak berwenang, atau mencari dukungan dari orang yang dapat dipercaya dapat menjadi tindakan yang bertanggung jawab.
Pengampunan terhadap pelaku juga tidak mengharuskan korban segera kembali ke lingkungan yang berbahaya. Rekonsiliasi dan pemulihan hubungan memerlukan kondisi yang benar, termasuk keamanan, pertobatan, perubahan perilaku, dan tanggung jawab. Ketika faktor-faktor tersebut belum ada, menjaga jarak dapat menjadi tindakan yang bijaksana. Tidak ada kontradiksi antara mengampuni seseorang dalam hati dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah kekerasan berikutnya.
Hal yang sama berlaku terhadap anak-anak dan orang yang rentan. Jika seorang anak mengalami kekerasan, mengatakan kepadanya untuk “memberikan pipi yang lain” dapat menjadi penyalahgunaan ayat yang sangat serius. Anak membutuhkan perlindungan, dan orang dewasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil tindakan yang tepat. Prinsip kasih Kristen tidak boleh digunakan untuk menghalangi perlindungan terhadap orang yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri.
Bagaimana dengan Perundungan dan Penghinaan?
Dalam kasus perundungan, prinsip Matius 5:39 dapat diterapkan terutama dalam hal menolak siklus pembalasan. Jika seseorang diejek lalu membalas dengan penghinaan yang lebih kejam, masalah dapat berkembang menjadi siklus permusuhan. Yesus mengajarkan jalan yang berbeda dengan memutus pola tersebut. Namun, memutus siklus pembalasan tidak berarti korban harus terus menerima perundungan tanpa bantuan.
Jika perundungan terjadi di sekolah, tempat kerja, komunitas, atau lingkungan sosial, seseorang dapat mencari bantuan dari pihak yang memiliki tanggung jawab untuk menghentikannya. Melaporkan perundungan bukanlah tindakan balas dendam. Tujuannya adalah menghentikan perilaku yang merugikan dan menciptakan lingkungan yang lebih aman. Dengan demikian, prinsip tidak membalas tetap dipertahankan tanpa mengorbankan tanggung jawab untuk mencari perlindungan.
Apakah Orang Kristen Boleh Mengatakan “Tidak”?
Tentu saja. Mengatakan “tidak” terhadap perlakuan yang salah bukan berarti tidak mengasihi. Yesus mengajarkan kasih, tetapi Ia tidak mengajarkan bahwa murid harus kehilangan batas moral. Bahkan kasih membutuhkan batas karena manusia bukanlah objek yang boleh diperlakukan sesuka hati. Menetapkan batas yang sehat dapat menjadi cara untuk menjaga martabat dan mencegah kejahatan berlanjut.
Kita harus berhati-hati dengan konsep “kerendahan hati” yang salah. Kerendahan hati alkitabiah berarti tidak meninggikan diri secara sombong, bukan berarti membiarkan diri diperlakukan tanpa martabat. Yesus merendahkan diri-Nya, tetapi Ia juga mengetahui identitas dan misi-Nya. Ia tidak membalas penghinaan dengan penghinaan, tetapi Ia juga tidak menganggap setiap tindakan orang lain terhadap-Nya sebagai sesuatu yang benar.
Mengapa Yesus Mengajarkan Jalan yang Begitu Sulit?
Karena Yesus tidak hanya ingin mengubah tindakan lahiriah, tetapi juga sumber tindakan tersebut, yaitu hati manusia. Sangat mudah untuk tidak membunuh tetapi tetap menyimpan kebencian. Sangat mudah untuk tidak memukul tetapi tetap menginginkan kehancuran orang lain. Yesus membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih dalam dengan mengajarkan bahwa murid-murid-Nya harus memiliki karakter yang tidak dikendalikan oleh permusuhan.
Dengan demikian, “memberikan pipi yang lain” merupakan gambaran tentang kebebasan dari dominasi pembalasan. Ketika seseorang menghina kita, ia tidak boleh memiliki kekuasaan untuk memaksa kita menjadi orang yang penuh kebencian. Ketika seseorang berbuat jahat, kita tidak harus membiarkan kejahatan tersebut menentukan tindakan moral kita. Kita tetap dapat bertindak tegas, tetapi ketegasan tersebut harus diarahkan oleh kebenaran dan kasih, bukan dendam.
Kesaksian Keseluruhan Alkitab Harus Menjadi Pengaman Penafsiran
Salah satu prinsip penting dalam membaca Alkitab adalah bahwa satu ayat tidak boleh ditafsirkan dengan cara yang bertentangan dengan kesaksian Kitab Suci secara keseluruhan. Jika seseorang membaca Matius 5:39 lalu menyimpulkan bahwa Allah melarang korban mencari perlindungan, kesimpulan tersebut harus diuji dengan bagian-bagian lain yang memerintahkan pembelaan terhadap orang lemah. Jika seseorang menyimpulkan bahwa orang Kristen boleh membalas kekerasan dengan kekerasan karena mereka sedang membela diri, kesimpulan itu juga harus diuji dengan ajaran Yesus dan Paulus mengenai kasih serta non-pembalasan.
Dengan pendekatan tersebut, kita tidak perlu memilih antara kasih dan keadilan seolah-olah keduanya merupakan musuh. Alkitab memanggil kita untuk menggabungkannya secara benar. Kasih menolak dendam, sementara keadilan menolak pembiaran terhadap kejahatan. Pengampunan membebaskan hati dari kebencian, sementara tanggung jawab memastikan bahwa tindakan yang salah tidak dianggap sepele.
Prinsip Utama Matius 5:39
Dari keseluruhan kesaksian tersebut, kita dapat merumuskan prinsip utama Matius 5:39 dengan lebih hati-hati. Yesus melarang murid-murid-Nya membalas kejahatan secara pribadi dengan kejahatan yang sama karena dorongan dendam. Ia memanggil mereka untuk menolak siklus penghinaan dan kekerasan serta menunjukkan karakter Kerajaan Allah. Tetapi larangan terhadap pembalasan pribadi tidak sama dengan larangan untuk mencari perlindungan, mengatakan kebenaran, menggunakan jalur hukum, menegur kesalahan, atau mengambil tindakan yang diperlukan untuk menghentikan kejahatan.
Dengan demikian, “memberikan pipi yang lain” tidak boleh dijadikan slogan yang memaksa korban untuk tetap berada dalam bahaya. Sebaliknya, perkataan Yesus harus dipahami sebagai panggilan kepada murid agar tidak menjadi serupa dengan pelaku kejahatan dalam responsnya. Orang percaya dapat berkata, “Saya tidak akan membalas dendam,” sambil pada saat yang sama berkata, “Saya akan mencari pertolongan agar kejahatan ini dihentikan.” Kedua pernyataan tersebut tidak bertentangan.
Pertanyaan yang Harus Kita Bawa ke Bagian Teologis
Setelah melihat kesaksian Alkitab, masih ada beberapa persoalan teologis yang perlu dibahas lebih mendalam. Apakah kasih Kristen pada dasarnya bersifat pasif atau justru dapat menjadi sangat aktif dalam menghadapi kejahatan? Bagaimana memahami hubungan antara pengampunan dan pertanggungjawaban? Apakah pembelaan diri selalu merupakan bentuk kekerasan yang dilarang Yesus, atau terdapat perbedaan moral antara melukai seseorang dan menghentikan ancaman?
Kita juga perlu membahas bagaimana gereja seharusnya menanggapi korban ketidakadilan. Apakah gereja cukup mengatakan “ampunilah” kepada korban, ataukah gereja memiliki tanggung jawab untuk melindungi, mendampingi, dan membantu mencari keadilan? Bagaimana prinsip kasih kepada musuh diterapkan tanpa mengorbankan keselamatan orang yang rentan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa kita kepada pembahasan teologis yang lebih mendalam pada bagian berikutnya.
Satu kesimpulan sementara sudah dapat kita pegang dengan cukup kuat: Matius 5:39 tidak boleh digunakan untuk membenarkan pembalasan pribadi, tetapi juga tidak boleh digunakan untuk memaksa korban menerima kejahatan tanpa perlindungan atau pertolongan. Yesus mengajarkan jalan yang lebih sulit dan lebih dalam, yaitu menolak dendam tanpa mengorbankan kebenaran, mengasihi musuh tanpa menyebut kejahatan sebagai kebaikan, serta menyerahkan pembalasan kepada Allah tanpa meninggalkan tanggung jawab moral untuk melakukan apa yang benar.
Penjelasan Teologis
Setelah melihat konteks Matius 5:39 dan membandingkannya dengan berbagai kesaksian Alkitab, kita sekarang dapat memasuki persoalan teologis yang lebih mendalam. Pertanyaan utamanya bukan hanya apa yang harus dilakukan seseorang ketika pipinya ditampar, melainkan karakter seperti apa yang sedang dibentuk Yesus dalam diri murid-murid-Nya. Ajaran ini menyentuh pemahaman mengenai dosa, manusia, kasih, keadilan, pengampunan, kekuasaan, penderitaan, dan pemerintahan Allah. Karena itu, Matius 5:39 harus dipahami bukan sebagai aturan perilaku yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari visi Yesus tentang kehidupan manusia yang telah ditaklukkan kepada Kerajaan Allah.
Pusat Ajaran Yesus adalah Penolakan terhadap Dendam
Secara teologis, salah satu pusat perhatian Matius 5:39 adalah masalah dendam. Dendam adalah keinginan untuk membalas penderitaan yang kita terima dengan membuat orang lain menderita sebagai bentuk kepuasan atau pembalasan pribadi. Dendam berbeda dari keinginan untuk menghentikan kejahatan. Seseorang dapat menginginkan kejahatan berhenti tanpa menginginkan penderitaan pelaku demi kepuasan dirinya sendiri.
Perbedaan ini penting karena manusia memiliki kecenderungan untuk membalas ketika dirinya terluka. Ketika seseorang dihina, ia ingin mengembalikan penghinaan. Ketika seseorang dipermalukan, ia ingin mempermalukan kembali. Ketika seseorang disakiti, ia dapat merasa bahwa keadilan baru tercapai apabila pelaku merasakan penderitaan yang sama. Yesus memutus siklus tersebut dengan memanggil murid-murid-Nya untuk tidak membiarkan luka yang mereka terima menjadi sumber kejahatan baru.
Dengan demikian, “memberikan pipi yang lain” merupakan tantangan terhadap logika pembalasan. Logika pembalasan berkata, “Engkau melakukan sesuatu kepadaku, maka aku akan melakukan hal yang sama atau lebih buruk kepadamu.” Logika Kerajaan Allah berkata, “Aku tidak akan membiarkan kejahatan yang engkau lakukan menentukan siapa diriku dan bagaimana aku bertindak.” Perbedaan tersebut merupakan inti dari transformasi moral yang Yesus kehendaki.
Non-Pembalasan Bukan Berarti Non-Respons
Kesalahan teologis yang perlu dihindari adalah menyamakan tidak membalas dengan tidak merespons. Tidak membalas berarti menolak melakukan kejahatan sebagai balasan terhadap kejahatan yang diterima. Tidak merespons dapat berarti tidak melakukan apa pun terhadap suatu keadaan. Kedua hal tersebut tidak identik.
Alkitab justru memberikan berbagai contoh mengenai respons terhadap kejahatan. Ada teguran, perlindungan, pelaporan, disiplin, pengadilan, pembelaan terhadap orang lemah, dan berbagai bentuk tindakan lainnya. Yang menjadi persoalan adalah apakah tindakan tersebut lahir dari kasih dan keadilan atau dari kebencian serta dendam.
Karena itu, ketika seorang Kristen berkata, “Saya tidak akan membalas,” ia tidak harus mengatakan, “Saya tidak akan melakukan apa pun.” Ia dapat melanjutkan dengan berkata, “Saya akan mencari jalan yang benar untuk menghentikan kejahatan ini.” Inilah salah satu pembedaan paling penting untuk mencegah Matius 5:39 disalahgunakan.
Kasih Tidak Sama dengan Kelemahan
Dalam kebudayaan tertentu, sikap tidak membalas dapat dianggap sebagai kelemahan. Seseorang yang tidak membalas penghinaan mungkin dianggap pengecut karena tidak mampu mempertahankan harga dirinya. Yesus justru memberikan definisi kekuatan yang berbeda. Kekuatan moral bukan hanya kemampuan untuk membuat orang lain takut, tetapi kemampuan untuk mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk membalas.
Amsal 16:32 berkata bahwa orang yang sabar mengalahkan seorang pahlawan dan orang yang menguasai dirinya lebih baik daripada orang yang merebut kota. Penguasaan diri adalah kemampuan untuk mengendalikan dorongan, emosi, dan tindakan sehingga seseorang tidak diperintah oleh kemarahan. Dalam terang Matius 5:39, kekuatan semacam ini jauh lebih dalam daripada kemampuan fisik untuk membalas.
Namun, penguasaan diri tidak berarti membiarkan orang lain melakukan kejahatan tanpa batas. Justru seseorang yang mampu mengendalikan dirinya dapat mengambil keputusan yang lebih jernih. Ia tidak bertindak karena kemarahan sesaat, melainkan mempertimbangkan apa yang benar, apa yang melindungi korban, dan apa yang paling sesuai dengan kehendak Allah.
Kasih dan Keadilan Bukan Dua Musuh
Dalam pemikiran manusia, kasih dan keadilan sering diperlakukan sebagai dua pilihan yang harus dipisahkan. Jika seseorang mengasihi, katanya, ia harus mengabaikan keadilan. Jika seseorang menegakkan keadilan, katanya, ia tidak lagi memiliki kasih. Kesaksian Alkitab tidak mendukung pemisahan sederhana seperti itu.
Allah digambarkan sebagai Allah yang penuh kasih sekaligus adil. Mazmur 89:15 berkata bahwa keadilan dan hukum merupakan tumpuan takhta Allah, sedangkan kasih dan kesetiaan berjalan di hadapan-Nya. Artinya, kasih Allah tidak menghapus keadilan-Nya, dan keadilan Allah tidak membatalkan kasih-Nya. Keduanya merupakan bagian dari karakter Allah yang sempurna.
Karena itu, orang Kristen dipanggil untuk mengembangkan keduanya. Mengasihi pelaku tidak berarti membiarkan tindakannya. Menegakkan keadilan tidak berarti membenci manusia yang melakukan kesalahan. Dalam kehidupan nyata, keseimbangan tersebut memang sulit, tetapi justru karena itulah Matius 5:39 membutuhkan kedewasaan rohani.
Pengampunan Tidak Menghapus Pertanggungjawaban
Salah satu kesalahpahaman yang paling berbahaya adalah anggapan bahwa mengampuni berarti membatalkan semua konsekuensi. Alkitab tidak mengajarkan hal tersebut. Pengampunan adalah tindakan melepaskan hak untuk memelihara dendam pribadi dan menyerahkan penghakiman kepada Allah. Pertanggungjawaban berarti seseorang tetap harus menghadapi konsekuensi yang sesuai dengan perbuatannya.
Kedua hal tersebut dapat berjalan bersama. Seseorang dapat berkata, “Saya mengampuni Anda,” sambil juga mengatakan, “Tindakan Anda salah dan Anda harus bertanggung jawab.” Pernyataan tersebut bukan kontradiksi. Justru dalam banyak keadaan, pertanggungjawaban diperlukan agar pertobatan menjadi nyata dan agar korban serta masyarakat terlindungi.
Kisah Zakheus dalam Lukas 19 memberikan gambaran yang menarik. Ketika bertobat, Zakheus tidak hanya mengucapkan pernyataan emosional tentang imannya, tetapi juga berbicara mengenai pengembalian harta kepada orang-orang yang telah dirugikannya. Pertobatan memiliki dimensi moral yang konkret. Ini menunjukkan bahwa kasih karunia tidak menghapus kebutuhan untuk memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan sejauh hal tersebut memungkinkan.
Pengampunan Tidak Sama dengan Rekonsiliasi Otomatis
Kita juga perlu membedakan pengampunan dan rekonsiliasi. Pengampunan dapat dimulai dari pihak korban ketika ia menyerahkan dendam kepada Allah. Rekonsiliasi berarti pemulihan hubungan antara dua pihak. Rekonsiliasi biasanya membutuhkan lebih dari satu pihak karena memerlukan pengakuan kesalahan, pertobatan, perubahan perilaku, dan pembangunan kembali kepercayaan.
Karena itu, seseorang dapat mengampuni tetapi belum dapat atau belum seharusnya memulihkan hubungan ke keadaan sebelumnya. Hal ini sangat penting ketika terdapat pola penyalahgunaan atau kekerasan. Jika pelaku belum bertobat dan masih berbahaya, memulihkan akses penuh kepadanya dapat menciptakan bahaya baru. Mengampuni tidak mengharuskan korban mengabaikan realitas tersebut.
Dalam Roma 12:18, Paulus berkata, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” Ungkapan “sedapat-dapatnya” menunjukkan bahwa perdamaian tidak selalu sepenuhnya berada dalam kendali satu pihak. Kita bertanggung jawab atas sikap kita, tetapi kita tidak dapat memaksa orang lain untuk bertobat atau memperlakukan kita dengan benar.
Kristus Menunjukkan Kasih yang Tidak Membalas
Teladan tertinggi untuk memahami Matius 5:39 adalah Kristus sendiri. Dalam 1 Petrus 2:23, ketika dicaci maki, Yesus tidak membalas dengan caci maki. Ketika menderita, Ia tidak mengancam, tetapi menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ayat ini memperlihatkan inti non-pembalasan Kristen: penderitaan tidak membuat Yesus mengambil alih posisi Allah sebagai hakim.
Namun, penting untuk memperhatikan bahwa Yesus tidak pernah menyebut dosa sebagai kebenaran. Ia tidak berhenti mengajarkan kebenaran hanya karena sebagian orang menolak-Nya. Ia tidak membiarkan kemunafikan berkembang tanpa teguran. Ia juga tidak menganggap penyaliban sebagai tindakan yang secara moral benar hanya karena Ia memilih untuk tidak membalas.
Teladan Kristus karena itu bukan sekadar “terima saja apa pun yang dilakukan orang kepadamu.” Teladan-Nya adalah: jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi tetap berdiri dalam kebenaran dan menyerahkan penghakiman terakhir kepada Allah. Ini jauh lebih kaya daripada sekadar sikap pasif.
Salib Menunjukkan Perbedaan antara Pengorbanan dan Pembiaran
Salib Kristus sering digunakan untuk menjelaskan bahwa orang percaya harus menerima penderitaan tanpa melakukan apa pun. Namun, kita harus membedakan antara penderitaan yang diterima sebagai bagian dari ketaatan kepada panggilan Allah dan penderitaan yang terjadi karena seseorang membiarkan kejahatan yang sebenarnya dapat dihentikan.
Yesus pergi menuju salib karena misi-Nya, bukan karena manusia memiliki hak untuk menyiksa siapa saja yang mengaku percaya kepada-Nya. Ia menyerahkan diri-Nya dalam ketaatan kepada Bapa. Hal tersebut tidak dapat diubah menjadi prinsip bahwa setiap korban harus tetap berada dalam situasi berbahaya agar dianggap menyerupai Kristus.
Pengorbanan Kristen harus berakar pada kasih dan ketaatan, bukan pada kewajiban untuk memfasilitasi dosa orang lain. Ada perbedaan antara berkata, “Saya bersedia menanggung penderitaan karena kesetiaan kepada Kristus,” dan berkata, “Saya akan membiarkan orang lain terus melakukan kejahatan karena saya takut tindakan perlindungan saya dianggap tidak rohani.” Yang pertama dapat menjadi pengorbanan; yang kedua dapat menjadi kesalahpahaman terhadap kasih.
Kasih kepada Pelaku Tidak Menghapus Kasih kepada Korban
Jika kita hanya memikirkan pelaku ketika membahas Matius 5:39, kita dapat melupakan keberadaan korban. Padahal, kasih Kristen harus memperhatikan semua pihak yang terlibat. Mengasihi pelaku berarti menginginkan pertobatannya dan tidak dikuasai oleh kebencian. Mengasihi korban berarti memperhatikan keselamatannya, martabatnya, dan kebutuhan pemulihannya.
Dalam keadaan tertentu, melindungi korban dari pelaku justru merupakan tindakan kasih kepada keduanya. Korban terlindungi dari kerusakan lebih lanjut, sementara pelaku menghadapi batas yang dapat mencegahnya melakukan kejahatan lebih besar. Pertanggungjawaban dapat menjadi sarana yang membawa seseorang kepada kesadaran akan kesalahannya. Karena itu, kasih tidak selalu berarti memberikan pelaku apa yang diinginkannya.
Gereja Tidak Boleh Menjadi Tempat Perlindungan bagi Kejahatan
Prinsip ini memiliki implikasi yang sangat penting bagi gereja. Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas kebenaran, kasih, dan kekudusan. Jika seorang pelaku melakukan kejahatan, gereja tidak boleh menggunakan bahasa pengampunan untuk menutupinya. Pengampunan Kristen harus berjalan bersama kebenaran dan tanggung jawab.
Matius 18 menunjukkan bahwa Yesus sendiri memberikan mekanisme untuk menangani kesalahan dalam komunitas. Paulus dalam 1 Korintus juga menunjukkan bahwa gereja harus menghadapi dosa serius yang terjadi di dalam jemaat. Ini berarti menjaga nama baik komunitas tidak boleh lebih penting daripada melindungi manusia dan mempertahankan kebenaran.
Gereja harus sangat berhati-hati ketika menasihati korban. Kalimat seperti “Kamu harus mengampuni,” jika diberikan tanpa pendampingan dan tanpa memperhatikan keselamatan korban, dapat menjadi nasihat yang tidak lengkap. Pengampunan adalah panggilan Kristen, tetapi keselamatan, kebenaran, pertanggungjawaban, dan pemulihan juga merupakan bagian dari kehidupan yang benar.
Apakah Membela Diri Selalu Salah?
Pertanyaan mengenai pembelaan diri memerlukan kehati-hatian. Alkitab tidak memberikan satu ayat yang dapat digunakan untuk menyelesaikan setiap situasi pembelaan diri secara otomatis. Karena itu, kita harus menghindari dua ekstrem: pertama, mengatakan bahwa setiap bentuk pembelaan diri pasti dosa; kedua, mengatakan bahwa setiap tindakan yang dilakukan atas nama pembelaan diri pasti dapat dibenarkan.
Prinsip yang dapat digunakan adalah membedakan antara menghentikan ancaman dan membalas setelah ancaman berakhir. Jika seseorang berada dalam bahaya yang sedang berlangsung, tindakan yang diperlukan untuk keluar dari bahaya memiliki karakter yang berbeda dari tindakan yang dilakukan setelah bahaya berakhir demi menghukum pelaku. Yang pertama dapat bertujuan menyelamatkan kehidupan, sedangkan yang kedua lebih dekat dengan pembalasan.
Karena itu, pertanyaan moral yang penting bukan hanya “Apakah saya melawan?” tetapi juga “Mengapa saya bertindak?”, “Apa tujuan tindakan saya?”, “Apakah ada cara lain yang lebih aman?”, “Apakah ancaman masih berlangsung?”, dan “Apakah tindakan saya proporsional?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu seseorang membedakan perlindungan dari dendam.
Nilai Kehidupan Manusia
Teologi Kristen memandang kehidupan manusia sebagai sesuatu yang berharga karena manusia diciptakan menurut gambar Allah. Kejadian 1:26–27 memberikan dasar penting bagi martabat manusia. Karena itu, tindakan yang melindungi kehidupan dan martabat seseorang tidak dapat dianggap tidak penting.
Pada saat yang sama, martabat manusia juga berlaku bagi pelaku. Bahkan ketika seseorang melakukan kejahatan, ia tetap manusia yang harus diperlakukan dengan keadilan dan tidak boleh dijadikan objek kebencian tanpa batas. Prinsip ini membuat etika Kristen berbeda dari pembalasan yang hanya ingin menghancurkan lawan. Orang Kristen dipanggil untuk mempertahankan kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan.
Keadilan Harus Berjalan Bersama Kebenaran
Keadilan bukan sekadar membuat pelaku menderita. Keadilan berarti menilai perkara dengan benar, melindungi yang tidak bersalah, mempertanggungjawabkan yang bersalah, dan memulihkan ketertiban sejauh mungkin. Ulangan 16:19 memperingatkan hakim agar tidak memutarbalikkan keadilan. Ini menunjukkan bahwa bahkan ketika menghukum kejahatan, manusia tetap harus berhati-hati agar tidak menciptakan ketidakadilan baru.
Karena itu, orang Kristen tidak boleh menggunakan kemarahan sebagai pengganti proses penilaian. Jika seseorang dituduh melakukan kejahatan, tuduhan harus diperiksa dengan benar. Amsal 18:17 mengingatkan bahwa pihak pertama dapat tampak benar sampai pihak lain datang dan mengujinya. Prinsip ini sangat penting agar semangat membela korban tidak berubah menjadi penghukuman terhadap orang yang belum terbukti bersalah.
Bahaya Menghakimi dengan Informasi yang Tidak Lengkap
Ada alasan teologis mengapa pembalasan pribadi berbahaya. Manusia memiliki pengetahuan yang terbatas. Kita sering mengetahui bagaimana suatu peristiwa terlihat dari sisi kita, tetapi tidak mengetahui seluruh fakta. Kita juga dapat salah memahami motif seseorang. Karena itu, menyerahkan penghakiman terakhir kepada Allah merupakan bentuk pengakuan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dengan sempurna, sedangkan manusia tidak.
Roma 12:19 menempatkan persoalan pembalasan dalam konteks tersebut. Manusia tidak dipanggil untuk menjadi hakim terakhir atas sesamanya. Ini tidak berarti bahwa manusia tidak boleh menilai tindakan secara moral atau tidak boleh menegur dosa. Artinya, keputusan akhir mengenai penghukuman dan pembalasan tidak boleh dikuasai oleh dendam pribadi.
Apakah “Pipi yang Lain” Berarti Tidak Memiliki Batas?
Tidak. Kehidupan Kristen memiliki batas moral. Yesus mengajarkan pengampunan, tetapi Ia juga mengajarkan hikmat. Amsal berkali-kali memuji kebijaksanaan dalam menghindari bahaya, dan Perjanjian Baru menunjukkan bahwa para rasul menggunakan berbagai cara untuk menghindari ancaman ketika hal tersebut memungkinkan.
Batas bukan selalu tanda kebencian. Batas dapat menjadi bentuk kasih yang menjaga seseorang agar tidak terus melakukan kerusakan. Dalam hubungan yang sehat, seseorang dapat mengatakan, “Saya mengampuni Anda, tetapi saya tidak dapat membiarkan tindakan ini terus berlangsung.” Pernyataan semacam itu dapat sepenuhnya konsisten dengan semangat Matius 5:39.
“Memberikan Pipi yang Lain” sebagai Pembebasan dari Perbudakan terhadap Kebencian
Salah satu aspek terdalam ajaran Yesus adalah kebebasan batin. Orang yang membalas dendam sering kali tetap terikat kepada orang yang telah menyakitinya. Tindakannya ditentukan oleh luka masa lalu. Ia mungkin berpikir bahwa dirinya sedang mengendalikan keadaan, tetapi sebenarnya pelaku telah mendapatkan kekuasaan atas emosinya.
Yesus menawarkan jalan yang berbeda. Dengan tidak membalas secara pribadi, murid menolak memberikan kendali moral kepada pelaku. Ia dapat mengatakan, “Apa yang engkau lakukan kepadaku tidak akan menentukan siapa aku di hadapan Allah.” Ini bukan kelemahan, tetapi bentuk kebebasan rohani.
Kasih kepada Musuh Tidak Mengharuskan Kepercayaan kepada Musuh
Ini merupakan pembedaan yang sangat penting. Kasih adalah kewajiban moral, tetapi kepercayaan harus dibangun berdasarkan karakter dan perilaku. Seseorang dapat mengampuni orang yang telah menyakitinya tanpa langsung mempercayainya kembali. Kepercayaan yang sehat memerlukan bukti bahwa orang tersebut telah berubah.
Jika seorang pelaku berkata bahwa ia telah bertobat tetapi terus mengulangi perilakunya, orang percaya tidak dipanggil untuk menutup mata terhadap fakta tersebut. Kasih tidak menuntut kebodohan. Hikmat membutuhkan kemampuan untuk mengenali pola perilaku dan mengambil tindakan yang tepat.
Kasih Tidak Menolak Konsekuensi
Kasih Kristen juga tidak harus menghapus seluruh konsekuensi dari suatu perbuatan. Jika seseorang mengendarai kendaraan dengan ceroboh dan menyebabkan kerugian, pengampunan korban tidak otomatis berarti tidak ada tanggung jawab. Jika seseorang melakukan kejahatan, pengampunan pribadi korban tidak otomatis membatalkan proses hukum. Jika seorang anggota gereja melakukan dosa serius, pengampunan tidak berarti gereja tidak perlu menangani masalah tersebut.
Konsekuensi memiliki fungsi yang berbeda dari pembalasan. Pembalasan mencari kepuasan pribadi melalui penderitaan pelaku. Konsekuensi yang adil bertujuan mempertahankan ketertiban, melindungi masyarakat, dan menegakkan tanggung jawab. Karena itu, seseorang dapat menolak dendam sekaligus menerima bahwa tindakan tertentu memiliki konsekuensi yang sah.
Hubungan dengan Ajaran tentang Musuh
Matius 5:43–48 membawa ajaran ini ke puncaknya. Yesus meminta murid mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya. Dasarnya adalah karakter Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik serta menurunkan hujan bagi orang benar dan orang tidak benar.
Kasih semacam itu tidak sentimental. Allah tetap menjadi hakim yang adil, tetapi Ia memberikan kebaikan umum bahkan kepada mereka yang tidak hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Orang percaya dipanggil untuk meniru kemurahan tersebut. Ia tidak boleh menjadikan permusuhan sebagai alasan untuk berhenti memperlakukan musuhnya sebagai manusia yang berada di bawah perhatian Allah.
Berdoa bagi Pelaku Dapat Berarti Meminta Pertobatan
Berdoa bagi musuh bukan berarti kita harus berdoa agar Allah membiarkan kejahatannya terus berlangsung. Kita dapat berdoa agar pelaku bertobat, menghentikan tindakannya, mengakui kesalahannya, dan mengalami perubahan. Doa semacam itu sebenarnya sangat serius karena pertobatan yang benar dapat menyelamatkan banyak orang dari kerusakan yang lebih besar.
Kita juga dapat berdoa agar Allah memberikan keadilan dan perlindungan kepada korban. Kedua doa tersebut dapat berjalan bersama. Kita tidak perlu memilih antara mengasihi pelaku dan melindungi korban. Kasih yang matang dapat menginginkan pertobatan pelaku sekaligus keselamatan korban.
Ketika Keadilan Belum Terwujud
Ada keadaan ketika jalur hukum tidak berjalan dengan baik atau keadilan manusia gagal. Situasi semacam itu dapat membuat seseorang merasa bahwa satu-satunya cara mendapatkan keadilan adalah melakukan pembalasan sendiri. Di sinilah iman kepada Allah menjadi sangat penting. Roma 12:19 mengingatkan bahwa pembalasan terakhir berada dalam tangan Allah.
Namun, menyerahkan pembalasan kepada Allah tidak berarti manusia harus berhenti memperjuangkan kebenaran dengan cara yang tersedia. Seseorang dapat terus menyuarakan kebenaran, mencari bantuan, mendampingi korban, dan menggunakan jalur yang sah. Yang dilepaskan adalah hak untuk menjadikan dendam pribadi sebagai prinsip tindakan.
Allah sebagai Hakim Terakhir
Kepercayaan bahwa Allah adalah hakim terakhir memberi batas terhadap dua kecenderungan manusia. Pertama, kita tidak perlu membalas karena Allah melihat ketidakadilan yang mungkin tidak dilihat manusia. Kedua, kita tidak boleh merasa memiliki hak untuk menentukan hukuman terakhir berdasarkan kemarahan kita sendiri. Penghakiman Allah sempurna karena Ia mengetahui hati, fakta, motif, dan seluruh akibat suatu tindakan.
Wahyu 20:11–15 menggambarkan penghakiman terakhir sebagai realitas yang serius. Gambaran tersebut menegaskan bahwa kejahatan pada akhirnya tidak akan luput dari perhatian Allah. Karena itu, orang percaya tidak perlu mengambil alih posisi hakim terakhir. Ia dapat menyerahkan penghakiman kepada Allah sambil tetap melakukan apa yang benar dalam kehidupan sekarang.
Bagaimana Jika Tidak Membalas Justru Membuat Kejahatan Bertambah?
Ini merupakan pertanyaan yang sangat wajar. Jika seseorang tidak melawan pelaku, bukankah pelaku dapat merasa semakin bebas untuk melakukan kejahatan? Jawabannya adalah bahwa non-pembalasan tidak boleh dipahami sebagai ketiadaan batas atau ketiadaan pertanggungjawaban. Yesus menolak pembalasan pribadi, tetapi Alkitab tetap mengakui perlunya teguran, disiplin, pemerintahan, dan perlindungan.
Dengan demikian, respons Kristen dapat berbentuk tindakan yang tegas tanpa bersifat dendam. Misalnya, seseorang dapat mengatakan kepada pelaku bahwa tindakannya salah, mencari bantuan dari pihak yang bertanggung jawab, atau menggunakan proses hukum. Yang harus ditolak adalah dorongan untuk menghukum pelaku secara pribadi karena ingin memuaskan kemarahan.
Kapan Sikap Diam Bukan Lagi Kebajikan?
Diam dapat menjadi kebajikan ketika diam mencegah seseorang mengucapkan kata-kata yang lahir dari kemarahan atau memperburuk konflik. Tetapi diam tidak selalu merupakan kebajikan. Jika diam berarti membiarkan orang yang rentan terus mengalami kejahatan, diam dapat menjadi bentuk kegagalan moral.
Amsal 24:11–12 memerintahkan agar orang menyelamatkan mereka yang dibawa menuju maut dan menolong orang yang sedang berada dalam bahaya. Prinsip tersebut memperluas tanggung jawab Kristen dari “bagaimana saya merespons ketika disakiti?” menjadi “bagaimana saya bertindak ketika melihat orang lain sedang disakiti?” Dalam situasi tertentu, kasih justru menuntut suara yang berani.
Keberanian Kristen Bukan Keberanian untuk Membalas
Dunia sering mengukur keberanian berdasarkan kemampuan seseorang untuk membalas. Yesus mengubah ukuran tersebut. Keberanian Kristen dapat terlihat ketika seseorang mampu mengatakan kebenaran tanpa kebencian, menolak dendam meskipun memiliki kesempatan untuk membalas, dan tetap memperjuangkan keadilan tanpa menjadi kejam.
Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7 memberikan contoh yang sangat kuat mengenai keberanian dalam penderitaan. Ketika diserang dan dibunuh, ia berdoa agar dosa para pelakunya tidak ditanggungkan kepada mereka. Respons tersebut menunjukkan bahwa hati Stefanus tidak dikuasai oleh dendam. Namun, keberanian Stefanus juga tidak berarti bahwa gereja harus mencari penderitaan atau sengaja menempatkan semua orang percaya dalam bahaya.
Kebaikan sebagai Cara Mengalahkan Kejahatan
Roma 12:20–21 menyampaikan gambaran bahwa memberi makan musuh yang lapar dan memberi minum musuh yang haus merupakan cara untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Ini merupakan pembalikan total terhadap logika pembalasan. Musuh tidak dihancurkan melalui kebencian, tetapi siklus kejahatan diputus melalui tindakan yang mencerminkan kebaikan.
Namun, sekali lagi, kebaikan tidak sama dengan pembiaran. Jika seseorang sedang melakukan kejahatan terhadap orang lain, memberi makan kepadanya tidak berarti kita harus membiarkan dia terus melakukan kejahatan. Kebaikan dapat mencakup tindakan yang sangat tegas apabila ketegasan tersebut diperlukan untuk menghentikan kerusakan.
Tujuan Akhirnya adalah Pemulihan
Jika kita melihat Matius 5:39 dalam terang seluruh ajaran Kristus, tujuan akhirnya bukan sekadar agar orang Kristen “kalah” dalam setiap konflik. Tujuannya adalah pemulihan manusia dan hubungan manusia dengan Allah. Kejahatan menghancurkan, sedangkan Kerajaan Allah membawa kehidupan, kebenaran, dan pemulihan.
Karena itu, respons terhadap kejahatan harus dinilai berdasarkan apakah tindakan tersebut membawa kita semakin dekat kepada kebenaran Allah atau justru memperluas kerusakan. Pembalasan biasanya memperluas luka. Kasih yang disertai kebenaran berusaha menghentikan kerusakan dan membuka kemungkinan pertobatan.
Prinsip Praktis untuk Menilai Suatu Respons
Secara teologis, kita dapat menggunakan beberapa pertanyaan ketika menghadapi konflik. Pertama, apakah saya sedang berusaha melindungi seseorang atau sedang ingin membuat pelaku menderita? Kedua, apakah ancaman masih berlangsung atau sudah berakhir? Ketiga, apakah tindakan saya diperlukan dan proporsional? Keempat, apakah ada cara yang lebih aman dan lebih benar untuk menangani masalah tersebut? Kelima, apakah saya tetap dapat menyerahkan penghakiman terakhir kepada Allah setelah melakukan tindakan ini?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan sebagai formula mekanis untuk semua situasi. Situasi nyata dapat sangat kompleks dan membutuhkan nasihat yang bijaksana dari orang yang kompeten. Namun, pertanyaan tersebut membantu menjaga hati agar tidak menggunakan bahasa “keadilan” untuk menyembunyikan dendam pribadi.
Matius 5:39 Tidak Boleh Dipakai untuk Menyalahkan Korban
Ini harus ditegaskan dengan jelas. Jika seseorang mengalami kekerasan atau ketidakadilan, kita tidak boleh mengatakan bahwa penderitaannya terjadi karena ia belum cukup rohani untuk “memberikan pipi yang lain.” Kita juga tidak boleh mengatakan bahwa korban wajib kembali kepada situasi berbahaya untuk membuktikan pengampunannya. Kesalahan pelaku tidak boleh dipindahkan kepada korban melalui penafsiran yang tidak hati-hati terhadap perkataan Yesus.
Dalam konteks pastoral, pastoral berarti pelayanan yang memperhatikan, mendampingi, dan merawat kehidupan seseorang secara rohani, emosional, dan praktis. Pelayanan pastoral yang sehat harus memandang korban dengan belas kasihan dan keseriusan. Pengampunan dapat diajarkan tanpa menghapus kebutuhan akan keamanan dan pertanggungjawaban.
Matius 5:39 Tidak Boleh Dipakai untuk Membenarkan Pelaku
Di sisi lain, ayat ini juga tidak boleh menjadi tempat persembunyian bagi orang yang melakukan kejahatan. Pelaku tidak dapat berkata, “Karena kamu orang Kristen, kamu harus mengampuni saya, jadi saya tidak perlu berubah.” Sikap tersebut justru bertentangan dengan panggilan Alkitab kepada pertobatan.
Pengampunan bukan kartu bebas dari konsekuensi. Jika seseorang sungguh-sungguh bertobat, ia seharusnya bersedia mengakui kesalahan, menghentikan perilaku buruk, menerima konsekuensi, dan berusaha memperbaiki kerusakan yang dapat diperbaiki. Pertobatan yang tidak menghasilkan perubahan perlu dinilai dengan sangat hati-hati.
Keadilan yang Tidak Dikuasai Kebencian
Gambaran ideal yang muncul dari seluruh pembahasan ini adalah keadilan tanpa kebencian. Keadilan tanpa kasih dapat berubah menjadi kekejaman, sedangkan kasih tanpa kebenaran dapat berubah menjadi pembiaran. Injil memanggil orang percaya untuk menolak kedua ekstrem tersebut.
Keadilan Kristen berkata bahwa kejahatan harus disebut kejahatan dan korban harus dihargai. Kasih Kristen berkata bahwa pelaku tetap merupakan manusia yang membutuhkan pertobatan dan bahwa hati korban tidak boleh diperbudak oleh kebencian. Non-pembalasan menjaga hati dari dendam, sedangkan tindakan yang benar menjaga kehidupan dari kerusakan.
Jadi, Apa Arti “Memberikan Pipi yang Lain”?
Setelah seluruh pembahasan ini, kita dapat merumuskan maknanya dengan lebih hati-hati. “Memberikan pipi yang lain” terutama menggambarkan penolakan terhadap pembalasan pribadi ketika seseorang mengalami penghinaan atau perlakuan buruk. Yesus memanggil murid-Nya untuk tidak menjadikan luka pribadi sebagai alasan untuk melakukan kejahatan yang sama terhadap orang lain. Ia memanggil mereka untuk memutus rantai dendam dan merespons dengan karakter yang berbeda.
Namun, ungkapan tersebut tidak boleh diperluas menjadi pernyataan bahwa korban wajib menerima semua bentuk kekerasan tanpa mencari pertolongan. Tidak ada alasan yang cukup untuk menggunakan Matius 5:39 sebagai pembenaran bagi pembiaran terhadap kekerasan, terutama terhadap orang yang rentan. Orang Kristen tetap dapat mencari perlindungan, menggunakan jalur hukum, menegur kesalahan, membela orang lemah, dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menghentikan kejahatan, selama tindakan tersebut tidak berubah menjadi pembalasan yang didorong oleh dendam.
Jadi, Apakah Orang Kristen Boleh Melawan Ketidakadilan?
Jawabannya perlu dirumuskan secara hati-hati: orang Kristen dipanggil untuk tidak membalas kejahatan secara pribadi dengan kejahatan, tetapi bukan berarti orang Kristen dilarang melakukan segala sesuatu untuk menghadapi ketidakadilan. Alkitab justru memerintahkan umat Allah untuk mengusahakan keadilan, membela yang lemah, menegur kesalahan, dan menggunakan sarana yang benar untuk menghadapi kejahatan.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya “melawan atau tidak melawan”, tetapi “bagaimana melawan ketidakadilan dengan cara yang sesuai dengan karakter Kristus?” Ada perlawanan yang lahir dari dendam, dan ada tindakan yang lahir dari kasih kepada korban serta kecintaan kepada kebenaran. Yang pertama harus ditolak; yang kedua dalam banyak keadaan justru merupakan tanggung jawab moral.
Kemenangan Kristen Bukan Kekalahan Moral
Mungkin ada orang yang merasa bahwa jika ia tidak membalas, berarti ia kalah. Tetapi menurut Injil, kemenangan tidak selalu berarti mengalahkan musuh dengan kekuatan yang lebih besar. Kristus sendiri menunjukkan bahwa kemenangan dapat muncul melalui pengorbanan, kebenaran, pengampunan, dan kesetiaan kepada Allah.
Salib merupakan puncak paradoks tersebut. Dari perspektif manusia, salib tampak sebagai kekalahan. Namun, melalui kebangkitan, Allah menyatakan bahwa kejahatan, dosa, dan kematian tidak memiliki kata terakhir. Karena itu, murid Kristus tidak harus membalas setiap luka untuk membuktikan bahwa dirinya menang. Ia dapat menyerahkan pembalasan kepada Allah dan tetap berjalan dalam kebenaran.
Kesimpulan Teologis
Secara teologis, Matius 5:39 mengajarkan bahwa murid Kristus tidak boleh hidup berdasarkan logika pembalasan. “Memberikan pipi yang lain” merupakan panggilan untuk menolak dendam, memutus siklus kejahatan, dan menunjukkan karakter kasih yang tidak dikendalikan oleh perlakuan buruk orang lain. Ajaran ini menuntut keberanian moral karena manusia secara alami ingin membalas ketika dirinya disakiti.
Namun, ajaran tersebut tidak boleh dipisahkan dari keseluruhan kesaksian Alkitab tentang keadilan. Alkitab memerintahkan umat Allah untuk membela orang yang lemah, menegakkan kebenaran, menegur kesalahan, mencari keadilan, dan menghentikan kejahatan dengan cara yang benar. Karena itu, non-pembalasan tidak boleh diubah menjadi pembiaran.
Pengampunan juga harus dibedakan dari pembenaran, rekonsiliasi, kepercayaan, dan penghapusan konsekuensi. Mengampuni berarti menyerahkan dendam dan penghakiman pribadi kepada Allah. Mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa kejahatan tidak penting, tidak berarti memberikan kembali kepercayaan secara otomatis, dan tidak berarti menempatkan korban kembali dalam keadaan berbahaya.
Dengan demikian, jalan Kristen dapat diringkas sebagai berikut: tolak dendam, tetapi jangan tolak kebenaran; ampuni pelaku, tetapi jangan benarkan kejahatan; kasihi musuh, tetapi lindungi yang rentan; cari keadilan, tetapi jangan dikuasai kebencian; dan jika harus bertindak terhadap kejahatan, lakukanlah dengan tujuan menghentikan kerusakan, bukan memuaskan keinginan untuk membalas.
Inilah keseimbangan yang perlu dijaga ketika membaca Matius 5:39. Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa kejahatan tidak penting. Ia sedang mengajarkan bahwa murid-Nya tidak boleh membiarkan kejahatan mengubahnya menjadi pribadi yang juga dikuasai oleh kejahatan. Ia memanggil umat-Nya untuk menghadapi dunia yang penuh dosa dengan karakter Kerajaan Allah: kasih yang benar, keberanian yang terkendali, pengampunan yang tidak naif, dan komitmen terhadap keadilan.
Kesimpulan
Matius 5:39 merupakan salah satu perkataan Yesus yang paling mudah disalahpahami apabila dibaca tanpa memperhatikan konteksnya. Ketika Yesus berkata, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu,” Ia tidak sedang memberikan perintah kepada para pengikut-Nya untuk menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang baik. Ia juga tidak sedang mengatakan bahwa korban kekerasan harus tetap berada dalam situasi yang membahayakan dirinya demi membuktikan bahwa ia adalah orang yang mengasihi musuh. Sebaliknya, perkataan tersebut harus dipahami dalam keseluruhan pengajaran Yesus mengenai
kasih, pengampunan, penolakan terhadap pembalasan pribadi, kebenaran, dan Kerajaan Allah.
Dengan demikian, “memberikan pipi yang lain” terutama berbicara mengenai sikap hati seorang murid Kristus ketika menghadapi penghinaan, perlakuan buruk, atau kejahatan yang ditujukan kepadanya. Orang percaya dipanggil untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak menjadikan dendam sebagai dasar tindakannya. Prinsip ini kemudian ditegaskan kembali oleh Paulus dalam Roma 12:17–21 ketika ia melarang orang percaya membalas kejahatan dengan kejahatan dan mengajarkan agar kejahatan dikalahkan dengan kebaikan. Namun, larangan terhadap pembalasan pribadi tidak berarti larangan terhadap seluruh bentuk tindakan untuk menghentikan kejahatan, melindungi korban, mencari pertolongan, menyampaikan kebenaran, atau menggunakan jalur keadilan yang sah.
Karena itu, pertanyaan “Apakah orang Kristen tidak boleh melawan ketidakadilan?” harus dijawab dengan hati-hati. Orang Kristen boleh, bahkan dalam banyak keadaan memiliki tanggung jawab moral, untuk menentang ketidakadilan. Alkitab berkali-kali memerintahkan umat Allah untuk membela orang yang lemah, menyatakan kebenaran, menolong mereka yang tertindas, dan tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama. Mikha 6:8 merangkum panggilan tersebut dengan sangat jelas melalui tiga unsur, yaitu melakukan keadilan, mencintai kesetiaan atau kemurahan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.
Perbedaan antara melawan ketidakadilan dan membalas kejahatan menjadi sangat penting dalam memahami Matius 5:39. Pembalasan berpusat pada keinginan untuk membuat orang lain menderita karena ia telah membuat kita menderita. Keadilan berpusat pada kebenaran, perlindungan, pertanggungjawaban, dan penghentian kejahatan. Seseorang dapat mengambil tindakan yang tegas tanpa didorong oleh kebencian, sebagaimana seseorang dapat mengampuni tanpa membatalkan konsekuensi yang memang harus diterima oleh pelaku. Inilah salah satu keseimbangan penting yang harus dipertahankan ketika membaca ajaran Yesus.
Alkitab sendiri memperlihatkan bahwa kasih tidak pernah identik dengan sikap membiarkan kejahatan berkembang tanpa batas. Dalam 1 Korintus 13:6, Paulus mengatakan bahwa kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi bersukacita karena kebenaran. Pernyataan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa kasih Kristen memiliki hubungan erat dengan kebenaran dan keadilan. Jika seseorang menggunakan kata “kasih” untuk membenarkan penindasan, kekerasan, kebohongan, atau perlakuan yang merusak manusia, maka pengertian kasih tersebut tidak lagi sesuai dengan gambaran kasih dalam Perjanjian Baru.
Hal yang sama berlaku terhadap pengampunan. Mengampuni seseorang tidak berarti mengatakan bahwa apa yang dilakukan orang tersebut tidak salah. Mengampuni juga tidak selalu berarti hubungan harus segera dipulihkan seperti sebelumnya. Rekonsiliasi atau pemulihan hubungan membutuhkan proses yang dapat mencakup pengakuan kesalahan, pertobatan, perubahan perilaku, pemulihan kepercayaan, dan kesediaan kedua pihak untuk membangun kembali hubungan secara sehat. Oleh sebab itu, seseorang dapat mengampuni pelaku sambil tetap menjaga jarak, menetapkan batasan, mencari perlindungan, atau menempuh proses pertanggungjawaban yang diperlukan.
Kebenaran ini sangat penting terutama ketika Matius 5:39 diterapkan kepada orang yang mengalami kekerasan. Tidak tepat apabila seseorang berkata kepada korban, “Yesus memerintahkan memberikan pipi yang lain, jadi kamu harus tetap bertahan dalam keadaan tersebut.” Pernyataan seperti itu dapat mengubah firman Tuhan menjadi alat untuk mempertahankan keadaan yang justru bertentangan dengan kasih dan keadilan. Dalam situasi bahaya, keselamatan harus diprioritaskan, dan mencari pertolongan dari orang yang dapat dipercaya, komunitas yang sehat, tenaga profesional, atau pihak berwenang dapat menjadi tindakan yang bijaksana dan bertanggung jawab.
Yesus sendiri memberikan teladan yang menunjukkan bahwa tidak membalas bukan berarti tidak berbicara. Ketika Ia dipukul dalam Yohanes 18:22–23, Yesus tidak membalas pukulan tersebut, tetapi Ia juga tidak berpura-pura bahwa tindakan tersebut benar. Ia mempertanyakan alasan tindakan itu dan meminta agar kesalahan ditunjukkan jika memang perkataan-Nya salah. Dengan demikian, Yesus memperlihatkan bahwa seseorang dapat menolak pembalasan sekaligus menyatakan bahwa suatu tindakan adalah salah.
Paulus juga memberikan contoh yang sangat jelas. Dalam Kisah Para Rasul 16:35–39, setelah mengalami pemukulan dan pemenjaraan secara tidak semestinya, Paulus tidak mengambil tindakan balas dendam terhadap orang-orang yang telah memperlakukannya. Namun, ia juga tidak mengatakan bahwa ketidakadilan tersebut harus dibiarkan begitu saja. Ia menggunakan haknya sebagai warga negara Romawi dan meminta pertanggungjawaban dari pihak yang telah bertindak tidak benar. Contoh ini menunjukkan bahwa penggunaan jalur keadilan tidak dengan sendirinya merupakan pelanggaran terhadap ajaran Matius 5:39.
Dengan demikian, inti Matius 5:39 bukanlah, “Jangan pernah melakukan apa pun ketika kejahatan terjadi.” Intinya lebih dekat kepada, “Jangan menjadikan pembalasan pribadi sebagai respons terhadap kejahatan yang kamu alami.” Perbedaan tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi secara teologis dan praktis sangat besar. Orang percaya dapat menolak dendam tanpa menolak keadilan, dapat mengampuni tanpa menyebut kejahatan sebagai kebaikan, dapat mengasihi musuh tanpa mempercayai pelaku secara buta, dan dapat menjaga batasan tanpa membenci orang yang melanggar batas tersebut.
Ajaran Yesus juga membebaskan orang percaya dari kebutuhan untuk selalu “menang” dalam setiap konflik. Dalam budaya yang sering mengajarkan bahwa harga diri harus dipertahankan melalui pembalasan, Matius 5:39 menawarkan jalan yang berbeda. Seorang murid Kristus tidak harus membuktikan kekuatannya dengan selalu memberikan pukulan balasan, kata-kata yang lebih menyakitkan, atau tindakan yang membuat lawannya menderita lebih besar. Ia dapat memilih untuk tidak membiarkan tindakan orang lain menentukan karakter dirinya.
Hal tersebut tidak berarti orang Kristen harus menjadi lemah atau tidak memiliki keberanian. Justru dibutuhkan kekuatan moral yang besar untuk menahan diri ketika memiliki kesempatan untuk membalas. Amsal 16:32 mengatakan bahwa orang yang sabar mengalahkan seorang pahlawan dan orang yang menguasai dirinya mengalahkan orang yang merebut kota. Penguasaan diri dalam pengertian Alkitab bukan ketidakmampuan untuk bertindak, melainkan kemampuan untuk tidak dikuasai oleh amarah ketika menentukan tindakan.
Pada akhirnya, Matius 5:39 membawa kita kembali kepada karakter Kristus. Yesus tidak mengajarkan kebencian terhadap musuh, tetapi Ia juga tidak menyebut kejahatan sebagai sesuatu yang benar. Ia mengajarkan kasih kepada musuh, doa bagi mereka yang menganiaya, pengampunan, kebenaran, dan penyerahan penghakiman terakhir kepada Allah. Karena itu, kehidupan Kristen bukan pilihan antara kasih dan keadilan, melainkan panggilan untuk mengejar keduanya dalam cara yang benar.
Jawaban paling ringkas terhadap pertanyaan artikel ini adalah: memberikan pipi yang lain berarti menolak pembalasan pribadi dan dendam, bukan menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang harus dibiarkan. Orang Kristen tidak dipanggil untuk menjadi korban yang tidak boleh mencari pertolongan. Orang Kristen dipanggil untuk menghadapi kejahatan tanpa menjadi serupa dengan kejahatan yang sedang dilawannya. Ketika keadilan perlu dicari, carilah keadilan tanpa kebencian; ketika batasan perlu dibuat, buatlah dengan bijaksana; ketika pengampunan diberikan, jangan menyebut kejahatan sebagai kebaikan; dan ketika hasil akhirnya berada di luar kemampuan manusia, serahkan penghakiman terakhir kepada Allah.
Refleksi Praktis
Ketika Kita Dihina Secara Pribadi
Tidak semua perlakuan buruk membutuhkan respons yang panjang. Ada kalanya seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan, merendahkan, atau tidak adil kepada kita, tetapi membalasnya justru akan memperbesar konflik. Dalam keadaan seperti itu, “memberikan pipi yang lain” dapat berarti memilih untuk tidak membalas penghinaan dengan penghinaan. Kita dapat tetap menyatakan keberatan dengan tenang, tetapi tidak perlu menjadikan luka hati sebagai alasan untuk melukai orang lain.
Yakobus 1:19–20 memberikan prinsip yang sangat berguna ketika kita berada dalam situasi seperti ini. Orang percaya dipanggil untuk cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat marah karena amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Prinsip tersebut tidak berarti bahwa semua kemarahan otomatis salah, sebab Alkitab juga mengenal kemarahan yang berkaitan dengan ketidakadilan dan dosa. Yang harus diperiksa adalah apakah kemarahan tersebut sedang diarahkan untuk mencari kebenaran atau sedang berubah menjadi keinginan untuk menghancurkan orang lain.
Karena itu, sebelum menjawab perkataan yang menyakitkan, kita dapat bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya sedang berusaha memperbaiki keadaan, atau saya hanya ingin membuat dia merasakan sakit yang sama?” Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi dapat menolong kita membedakan antara ketegasan dan pembalasan. Jika tujuan kita hanya untuk membalas rasa sakit, Matius 5:39 memanggil kita untuk berhenti. Jika tujuan kita adalah menjelaskan kebenaran, menetapkan batasan, atau menyelesaikan masalah, tindakan tersebut tidak harus dianggap sebagai dendam.
Ketika Kita Mengalami Ketidakadilan yang Berulang
Situasi menjadi berbeda apabila perlakuan buruk tidak hanya terjadi sekali, tetapi terus berulang. Dalam keadaan demikian, diam tanpa batas dapat menyebabkan masalah semakin besar dan memungkinkan orang lain terus dirugikan. Alkitab tidak meminta manusia menutup mata terhadap bahaya yang sedang berlangsung. Amsal 24:11–12 justru memberikan panggilan untuk menyelamatkan mereka yang dibawa menuju kebinasaan dan tidak berpura-pura tidak mengetahui keadaan tersebut.
Karena itu, jika seseorang terus melakukan tindakan yang merugikan, orang percaya dapat mengambil langkah yang lebih tegas. Langkah tersebut dapat berupa menyampaikan keberatan, menetapkan batasan, meminta bantuan dari orang yang dipercaya, melibatkan pemimpin yang bertanggung jawab, atau menggunakan jalur hukum yang tersedia apabila memang diperlukan. Tujuannya bukan untuk membuat pelaku menderita demi kepuasan pribadi, melainkan untuk menghentikan kerugian, melindungi orang yang rentan, dan memungkinkan pertanggungjawaban terjadi. Dalam keadaan tertentu, justru tidak melakukan apa-apa dapat berarti membiarkan kejahatan memperoleh ruang yang semakin besar.
Ketika Berhadapan dengan Kekerasan
Matius 5:39 harus diterapkan dengan perhatian khusus ketika berbicara mengenai kekerasan fisik atau bentuk kekerasan serius lainnya. Korban tidak boleh dipaksa untuk kembali ke tempat berbahaya hanya karena seseorang menggunakan bahasa tentang pengampunan dan kasih Kristen. Keselamatan bukan tanda kurangnya iman, dan meminta pertolongan bukan bukti bahwa seseorang gagal menjalankan perintah Yesus. Jika seseorang berada dalam bahaya, langkah yang bijaksana adalah mencari tempat yang aman dan meminta pertolongan dari pihak yang dapat memberikan perlindungan.
Dalam keadaan seperti itu, kita juga perlu membedakan tindakan untuk menghentikan bahaya yang sedang berlangsung dari pembalasan setelah bahaya berlalu. Tujuan menghentikan ancaman adalah keselamatan, sedangkan tujuan pembalasan adalah membuat pelaku menderita karena telah membuat kita menderita. Perbedaan tujuan tersebut sangat penting secara moral. Dalam situasi bahaya nyata, seseorang tidak harus menunggu sampai mengalami luka yang lebih parah hanya untuk membuktikan bahwa ia memahami Matius 5:39.
Gereja juga memiliki tanggung jawab besar dalam situasi semacam ini. Gereja seharusnya menjadi tempat di mana korban didengar dengan serius, kebenaran dicari dengan hati-hati, keselamatan diperhatikan, dan orang yang melakukan kejahatan tidak dilindungi hanya karena memiliki kedudukan tertentu. Galatia 6:1–2 mengajarkan pemulihan dengan kelemahlembutan dan panggilan untuk saling menanggung beban, bukan membebankan seluruh tanggung jawab kepada korban. Kasih pastoral yang sehat tidak akan menggunakan firman Tuhan untuk memaksa seseorang tetap berada dalam keadaan yang membahayakan dirinya.
Ketika Kita Melihat Orang Lain Menjadi Korban
Matius 5:39 tidak hanya perlu dipikirkan dari sudut pandang orang yang mengalami perlakuan buruk. Kita juga perlu bertanya apa yang harus dilakukan ketika melihat orang lain mengalami ketidakadilan. Sangat mudah bagi seseorang untuk berkata, “Jangan membalas,” ketika dirinya sendiri tidak sedang menjadi korban. Namun, Alkitab tidak memberikan kepada kita kebebasan untuk menggunakan prinsip non-pembalasan sebagai alasan untuk mengabaikan penderitaan orang lain.
Amsal 31:8–9 memanggil umat Allah untuk membuka mulut bagi orang yang tidak dapat membela dirinya dan membela hak orang yang sengsara serta kekurangan. Prinsip ini menunjukkan bahwa kasih Kristen memiliki dimensi sosial, yaitu perhatian terhadap keadaan orang lain. Menolong korban bukan berarti mengambil alih hak Allah untuk menghakimi, tetapi dapat berarti menjalankan tanggung jawab kasih yang telah diberikan Allah kepada kita. Dalam konteks ini, keberanian untuk berbicara bagi mereka yang tertindas dapat menjadi bagian dari ketaatan kepada Tuhan.
Namun, membantu korban juga membutuhkan kebijaksanaan. Kita tidak boleh mengambil tindakan secara gegabah tanpa mengetahui fakta, karena Amsal 18:17 mengingatkan bahwa pihak pertama yang menyampaikan perkaranya dapat tampak benar sampai pihak lain datang dan menyelidikinya. Karena itu, keberpihakan kepada keadilan tidak berarti mengabaikan proses mencari kebenaran. Kita dipanggil untuk membela yang lemah sekaligus menjaga integritas dalam menilai fakta.
Ketika Kita Menghadapi Bullying atau Penghinaan Terus-Menerus
Dalam kehidupan sehari-hari, Matius 5:39 kadang digunakan untuk mengatakan kepada seseorang yang mengalami perundungan, “Biarkan saja karena kamu harus memberikan pipi yang lain.” Pemahaman seperti itu terlalu sederhana dan dapat menghasilkan dampak yang buruk. Tidak membalas perundungan dengan perundungan tidak berarti seseorang harus membiarkan dirinya terus direndahkan tanpa mencari bantuan. Melaporkan tindakan tersebut kepada guru, orang tua, pemimpin, atau pihak yang bertanggung jawab dapat menjadi langkah yang tepat.
Orang Kristen tidak perlu membuktikan kasih dengan membiarkan orang lain terus-menerus merusak dirinya. Menetapkan batasan terhadap perilaku yang merusak dapat menjadi bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan yang Allah berikan. Bahkan ketika kita berusaha mengampuni pelaku, kita tetap dapat mengatakan bahwa perilakunya tidak dapat diterima. Dengan demikian, pengampunan dan batasan dapat berjalan bersama.
Ketika Kita Harus Mengatakan “Tidak”
Ada pemikiran bahwa orang Kristen yang benar harus selalu berkata “ya” kepada semua orang karena Yesus mengajarkan kasih. Pemikiran tersebut dapat membuat seseorang merasa bersalah ketika harus mengatakan tidak kepada permintaan yang tidak sehat atau perilaku yang melanggar batas. Padahal, kasih tidak menghapus kebijaksanaan. Yesus sendiri tidak menyerahkan diri-Nya kepada semua orang tanpa pertimbangan, dan Injil menunjukkan bahwa Ia mengetahui hati manusia.
Mengatakan “tidak” tidak otomatis berarti membenci. Menolak perilaku yang salah tidak otomatis berarti menolak pribadi seseorang sebagai manusia. Seorang Kristen dapat mengatakan, “Saya mengampuni Anda, tetapi saya tidak dapat membiarkan tindakan tersebut terus dilakukan terhadap saya,” dan kalimat tersebut tidak bertentangan dengan semangat Matius 5:39. Batasan yang sehat dapat menjadi sarana untuk mencegah kejahatan berulang sekaligus menjaga hubungan manusiawi tetap berada dalam koridor kebenaran.
Mengampuni Tanpa Menghapus Kenangan
Salah satu kesalahpahaman mengenai pengampunan adalah anggapan bahwa orang yang sudah mengampuni harus segera melupakan semua yang terjadi. Alkitab tidak mengharuskan seseorang kehilangan kemampuan untuk belajar dari pengalaman. Mengingat sebuah peristiwa agar dapat bertindak lebih bijaksana pada masa depan tidak sama dengan memelihara dendam. Kita dapat mengingat apa yang terjadi tanpa terus-menerus menginginkan kehancuran orang yang pernah menyakiti kita.
Pengampunan lebih berkaitan dengan keputusan untuk tidak menjadikan dendam sebagai penguasa hati. Kita menyerahkan hak untuk melakukan pembalasan pribadi kepada Allah dan memilih untuk tidak membangun kehidupan di atas kebencian. Mazmur 62:6–9 menggambarkan Allah sebagai tempat perlindungan dan dasar keselamatan manusia. Ketika hati terluka, kita dapat membawa luka tersebut kepada Allah daripada membiarkan luka tersebut mengubah kita menjadi orang yang terus mencari kesempatan untuk membalas.
Mengampuni Tidak Berarti Mempercayai Secara Buta
Kepercayaan dan pengampunan juga harus dibedakan. Seseorang dapat mengampuni seorang pelaku tanpa langsung memberikan kembali tingkat kepercayaan yang sama. Kepercayaan biasanya dibangun melalui konsistensi, kejujuran, pertobatan, dan perubahan perilaku yang dapat diamati. Karena itu, seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan tidak harus merasa bersalah hanya karena membutuhkan waktu untuk mempercayai kembali.
Prinsip ini juga berlaku dalam hubungan gerejawi, keluarga, persahabatan, dan lingkungan kerja. Jika seseorang berulang kali melanggar kepercayaan, kasih tidak mengharuskan kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kolose 3:12–15 memang memanggil orang percaya untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan pengampunan. Namun, semua kebajikan tersebut harus hidup bersama kebenaran dan damai sejahtera Kristus, bukan menjadi alasan untuk meniadakan kebijaksanaan.
Mengejar Keadilan Tanpa Membenci Pelaku
Salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan hati yang benar ketika kita benar-benar dirugikan. Ketika seseorang melihat pelaku menerima konsekuensi, hati dapat tergoda untuk merasa puas karena orang tersebut akhirnya menderita. Di sinilah Matius 5:39 kembali berbicara secara mendalam. Orang Kristen dapat menginginkan kejahatan dihentikan dan pelaku bertanggung jawab tanpa harus menikmati penderitaan pelaku sebagai bentuk kepuasan pribadi.
Kita dapat berdoa agar kebenaran dinyatakan, korban dilindungi, dan pelaku bertobat. Bahkan jika pelaku harus menerima konsekuensi hukum atau sosial, kita tidak perlu membangun kebencian sebagai identitas kita. Roma 12:19 mengingatkan bahwa pembalasan terakhir berada di tangan Allah. Keyakinan tersebut tidak menghapus tanggung jawab manusia untuk bertindak benar, tetapi membebaskan kita dari kebutuhan untuk menjadi hakim terakhir atas kehidupan orang lain.
Berdoa bagi Orang yang Menyakiti Kita
Yesus berkata dalam Matius 5:44 agar murid-murid-Nya mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya. Perintah tersebut mungkin merupakan salah satu bagian paling sulit dari seluruh pengajaran Yesus. Namun, berdoa bagi pelaku tidak berarti kita harus berdoa agar semua konsekuensi atas tindakannya dihilangkan. Kita dapat berdoa agar pelaku bertobat, berhenti melakukan kejahatan, mengakui kesalahannya, memperbaiki kerusakan yang telah dibuat, dan menjadi manusia yang berubah.
Doa seperti itu juga mengubah hati korban. Ketika seseorang membawa luka kepada Allah, ia tidak lagi harus memikul seluruh beban itu sendirian. Filipi 4:6–7 mengajarkan agar kekhawatiran dibawa kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Kedamaian yang dijanjikan Allah bukan berarti masalah langsung hilang, tetapi hati manusia dapat belajar mempercayakan apa yang tidak sanggup dikendalikan kepada-Nya.
Ketika Amarah Kita Sangat Besar
Tidak realistis mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh merasa marah. Ada keadaan ketika kemarahan muncul karena seseorang diperlakukan tidak adil, orang yang dikasihi disakiti, atau sesuatu yang benar dihancurkan. Persoalannya bukan sekadar apakah kita marah, melainkan apa yang kita lakukan dengan kemarahan tersebut. Efesus 4:26–27 mengatakan agar kemarahan tidak membawa kita kepada dosa dan agar kita tidak memberikan kesempatan kepada Iblis.
Kemarahan dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan, tetapi kemarahan bukan selalu penasihat yang baik untuk menentukan tindakan. Yakobus 3:17 menggambarkan hikmat dari atas sebagai sesuatu yang murni, pendamai, lembut, terbuka untuk menerima nasihat, penuh belas kasihan, dan menghasilkan buah-buah yang baik. Karena itu, ketika amarah sedang memuncak, keputusan penting sebaiknya tidak selalu diambil secara spontan. Berhenti sejenak, berdoa, mencari nasihat yang bijaksana, dan memeriksa motivasi dapat mencegah tindakan yang kemudian disesali.
Ketika Kita Harus Mengambil Langkah Tegas
Ada saat ketika tindakan tegas merupakan bentuk kasih. Seorang pemimpin yang menghentikan tindakan merusak tidak otomatis menjadi tidak mengasihi. Orang tua yang memberikan konsekuensi kepada anak yang melakukan kesalahan tidak otomatis membenci anak tersebut. Demikian juga, komunitas yang meminta pertanggungjawaban seseorang atas tindakan serius tidak otomatis sedang melakukan pembalasan.
Yang menentukan adalah tujuan dan cara tindakan tersebut. Jika tindakan dilakukan dengan tujuan menghentikan kerusakan, melindungi orang lain, menegakkan kebenaran, dan memberikan ruang bagi pertobatan serta pemulihan, tindakan tersebut berbeda secara moral dari tindakan yang didorong oleh dendam. Dalam 1 Tesalonika 5:15, Paulus meminta orang percaya agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi senantiasa berusaha melakukan apa yang baik terhadap satu sama lain dan terhadap semua orang. Kebaikan terkadang memiliki bentuk yang lembut, tetapi dalam keadaan tertentu kebaikan juga membutuhkan keberanian untuk mengatakan bahwa suatu tindakan harus dihentikan.
Ketika Otoritas Bertindak Tidak Adil
Alkitab juga menunjukkan bahwa ketaatan kepada otoritas manusia tidak berarti ketaatan tanpa batas. Dalam Kisah Para Rasul 5:29, para rasul berkata bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Pernyataan tersebut muncul ketika mereka diperintahkan untuk berhenti memberitakan tentang Yesus. Mereka tidak melakukan kekerasan terhadap pihak yang menentang mereka, tetapi mereka juga tidak menyerahkan kebenaran hanya demi menghindari konflik.
Daniel 3 juga memperlihatkan prinsip serupa ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak menyembah patung yang diperintahkan raja. Mereka tidak membalas ancaman dengan kebencian atau pemberontakan pribadi, tetapi mereka tetap mempertahankan kesetiaan kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa non-retaliasi bukan berarti menyerahkan hati nurani kepada manusia. Ada saat ketika orang percaya harus berkata “tidak” kepada perintah yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Ketika Keadilan Tidak Segera Terjadi
Salah satu pengalaman paling menyakitkan adalah ketika seseorang sudah mengatakan kebenaran, mencari pertolongan, dan menggunakan jalur yang tersedia, tetapi keadilan belum juga terlihat. Dalam keadaan seperti itu, iman Kristen tidak menawarkan janji bahwa setiap masalah akan segera diselesaikan sesuai keinginan kita. Alkitab justru sering menggambarkan umat Allah sebagai orang-orang yang harus menunggu dengan sabar sambil tetap berharap kepada Tuhan.
Ratapan 3:21–26 menunjukkan bahwa harapan dapat tetap hidup bahkan di tengah penderitaan yang berat. Pemazmur juga berkali-kali membawa keluhan dan ketidakadilan kepada Allah tanpa menyembunyikan rasa sakitnya. Ini memberikan ruang bagi orang percaya untuk berkata jujur kepada Tuhan, “Saya terluka, saya tidak mengerti, dan saya ingin keadilan,” tanpa harus mengubah doa tersebut menjadi kutukan atau dendam. Allah tidak membutuhkan kepura-puraan dari manusia yang sedang terluka.
Jangan Menjadikan Pengampunan sebagai Alat untuk Membungkam Korban
Salah satu penerapan paling penting dari artikel ini adalah perlunya kehati-hatian ketika berbicara kepada orang yang terluka. Jangan terburu-buru mengatakan, “Kamu harus mengampuni,” seolah-olah proses pemulihan hati dapat selesai hanya dengan satu kalimat. Jangan menggunakan Matius 5:39 untuk memaksa seseorang kembali kepada situasi yang tidak aman. Jangan pula menganggap bahwa korban yang membutuhkan waktu untuk pulih berarti kurang rohani.
Pengampunan merupakan bagian penting dari kehidupan Kristen, tetapi proses batin seseorang membutuhkan pendampingan yang penuh kasih dan kebijaksanaan. Galatia 6:2 memanggil orang percaya untuk saling menanggung beban, yang berarti gereja tidak seharusnya hanya memberikan perintah kepada orang yang terluka, tetapi juga berjalan bersama mereka. Orang yang terluka membutuhkan ruang untuk didengar, kebenaran untuk ditegakkan, keamanan untuk dipulihkan, dan waktu untuk mengalami pemulihan. Dalam proses tersebut, firman Tuhan seharusnya menjadi sumber penghiburan dan kebenaran, bukan alat untuk menekan.
Jangan Menggunakan Matius 5:39 untuk Melindungi Pelaku
Sebaliknya, pelaku juga tidak boleh menggunakan ajaran Yesus sebagai tameng agar tidak dimintai pertanggungjawaban. Seseorang tidak dapat berkata, “Kalau kamu Kristen, kamu harus mengampuni saya,” lalu menggunakan kalimat tersebut untuk menghindari konsekuensi dari tindakannya. Pengampunan korban bukan hak pelaku untuk menuntut secara paksa. Pertobatan yang sejati justru seharusnya menghasilkan kerendahan hati, pengakuan kesalahan, dan kesediaan menerima konsekuensi.
Kisah Zakheus dalam Lukas 19:1–10 memberikan gambaran penting mengenai hubungan antara pertobatan dan tindakan nyata. Setelah mengalami perubahan, Zakheus berbicara mengenai pengembalian dan pemberian kepada mereka yang telah dirugikannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pertobatan bukan hanya perubahan perasaan di dalam hati, tetapi juga dapat menghasilkan tindakan yang berusaha memperbaiki kerusakan. Karena itu, orang yang benar-benar memahami kasih Kristus tidak akan menggunakan pengampunan orang lain sebagai alasan untuk terus melakukan kejahatan.
Menilai Diri Sendiri Sebelum Menghakimi Orang Lain
Matius 5:39 juga seharusnya membawa kita kepada pemeriksaan diri. Kita sering kali sangat cepat melihat kesalahan orang lain, tetapi lambat menyadari bahwa hati kita sendiri sedang dipenuhi keinginan membalas. Yesus memanggil murid-murid-Nya bukan hanya untuk mengubah tindakan lahiriah, tetapi juga untuk membiarkan hati dibentuk oleh kasih Allah. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Apakah dia salah?” tetapi juga, “Apa yang sedang terjadi dalam hati saya ketika saya merespons kesalahannya?”
Pemeriksaan diri tidak berarti menganggap semua pihak memiliki kesalahan yang sama. Ada situasi di mana satu pihak memang menjadi korban dan pihak lain memang menjadi pelaku. Namun, pemeriksaan diri menolong korban sekalipun untuk tidak membiarkan kejahatan yang diterimanya menguasai seluruh kehidupannya. Kita tidak selalu dapat mengendalikan apa yang orang lain lakukan kepada kita, tetapi kita dapat terus belajar menyerahkan respons kita kepada Kristus.
Ukuran Kedewasaan Kristen Bukan Seberapa Keras Kita Membalas
Dunia sering mengukur kekuatan berdasarkan kemampuan membalas. Orang dianggap kuat jika ia mampu mengembalikan penghinaan dengan penghinaan yang lebih tajam, kekerasan dengan kekerasan yang lebih besar, atau kerugian dengan membuat lawannya mengalami kerugian yang lebih besar. Injil menawarkan ukuran yang berbeda. Kedewasaan rohani terlihat ketika seseorang mampu mempertahankan kebenaran tanpa kehilangan kasih, mempertahankan batasan tanpa dikuasai kebencian, dan mencari keadilan tanpa menjadikan dendam sebagai tujuan hidup.
Yesus tidak mengajarkan bahwa murid-murid-Nya harus menjadi orang yang tidak memiliki pendirian. Ia memanggil mereka untuk memiliki karakter yang berbeda dari pola dunia. Kolose 3:12–15 menggambarkan kehidupan baru sebagai kehidupan yang mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, pengampunan, dan damai sejahtera. Semua itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa hati manusia sedang dibentuk oleh Kristus.
Empat Pertanyaan Sebelum Mengambil Tindakan
Ketika kita menghadapi perlakuan yang tidak adil, ada empat pertanyaan praktis yang dapat membantu kita menerapkan Matius 5:39. Pertama, “Apakah saya sedang berusaha menghentikan kejahatan atau sekadar membalas rasa sakit saya?” Kedua, “Apakah ancaman atau kerugian tersebut masih berlangsung, dan apakah ada orang lain yang perlu dilindungi?” Ketiga, “Apakah tindakan yang hendak saya ambil benar-benar perlu, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan?” Keempat, “Apakah saya masih bersedia menyerahkan penghakiman terakhir kepada Allah?”
Keempat pertanyaan tersebut dapat menjadi alat pemeriksaan hati sebelum kita mengambil keputusan. Jika tujuan kita berubah menjadi membuat orang lain menderita hanya karena kita ingin puas, kita perlu berhenti dan menata kembali hati. Jika tujuan kita adalah melindungi seseorang, menghentikan bahaya, menyampaikan kebenaran, atau mencari pertanggungjawaban melalui cara yang benar, tindakan tersebut perlu dinilai berdasarkan kebijaksanaan dan prinsip Alkitab lainnya. Dengan demikian, Matius 5:39 tidak berdiri sendirian, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan kehidupan moral orang percaya.
Kristus Tetap Menjadi Pusat
Pada akhirnya, pembahasan tentang “memberikan pipi yang lain” tidak boleh berhenti pada pertanyaan tentang apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Manusia seperti apakah yang sedang dibentuk oleh Kristus melalui perintah ini?” Yesus menghendaki murid-murid-Nya menjadi manusia yang tidak dikendalikan oleh siklus kebencian, manusia yang mampu mengampuni, manusia yang mencintai kebenaran, dan manusia yang menyerahkan pembalasan terakhir kepada Allah. Perintah ini bukan terutama tentang bagaimana memenangkan konflik, melainkan tentang bagaimana hidup sebagai warga Kerajaan Allah di tengah dunia yang penuh konflik.
Karena itu, ketika kita terluka, kita dapat membawa luka tersebut kepada Kristus. Ketika kita diperlakukan tidak adil, kita dapat mencari kebenaran tanpa menjadikan kebencian sebagai bahan bakar. Ketika kita harus menetapkan batasan, kita dapat melakukannya tanpa kehilangan kasih. Dan ketika kita harus menunggu keadilan, kita dapat tetap percaya bahwa Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia.
Pada akhirnya, “memberikan pipi yang lain” bukanlah panggilan untuk menjadi manusia yang tidak memiliki harga diri. Itu juga bukan perintah agar korban kekerasan terus berada dalam bahaya, bukan pembenaran terhadap pelaku, dan bukan larangan bagi orang Kristen untuk mencari keadilan. Sebaliknya, perkataan Yesus adalah panggilan untuk memutus rantai pembalasan pribadi dan menolak membiarkan kejahatan membentuk karakter kita. Kita dapat berkata tegas terhadap kejahatan tanpa membenci manusia, mencari keadilan tanpa dendam, mengampuni tanpa menghapus batasan, dan mengasihi musuh tanpa menyerahkan diri kepada tindakan yang merusak.
Maka, jika seseorang bertanya, “Apakah orang Kristen tidak boleh melawan ketidakadilan?” jawabannya adalah bahwa orang Kristen tidak dipanggil untuk membalas ketidakadilan dengan kejahatan, tetapi mereka dapat dan harus menentang ketidakadilan dengan kebenaran, kasih, kebijaksanaan, keberanian, perlindungan, dan keadilan yang benar. Matius 5:39 tidak meminta kita mematikan hati nurani terhadap penderitaan. Ayat tersebut meminta kita mematikan keinginan untuk membalas dengan cara yang sama jahatnya. Di sinilah kekuatan Injil terlihat: kejahatan tidak dibiarkan menjadi benar, tetapi orang yang mengalami kejahatan juga tidak harus berubah menjadi pelaku kejahatan karena luka yang diterimanya.
Dengan demikian, kita dapat merangkum pesan Matius 5:39 dalam beberapa prinsip sederhana tetapi mendalam: jangan membalas dendam, tetapi jangan menyebut kejahatan sebagai kebaikan; ampunilah pelaku, tetapi jangan lindungi kejahatannya; kasihilah musuh, tetapi tetap lindungi orang yang rentan; carilah keadilan, tetapi jangan biarkan kebencian menguasai hati; tetapkan batasan bila diperlukan, tetapi jangan menjadikan batasan sebagai alasan untuk membenci; dan ketika manusia tidak mampu memberikan penghakiman yang sempurna, percayakan penghakiman terakhir kepada Allah.
Kiranya pembacaan yang lebih utuh terhadap Matius 5:39 menolong kita memahami bahwa ajaran Yesus jauh lebih dalam daripada sekadar “jangan melawan.” Yesus sedang mengajar murid-murid-Nya tentang cara menghadapi kejahatan tanpa menjadi hamba kejahatan, cara menghadapi penghinaan tanpa hidup dari dendam, dan cara mengejar kebenaran tanpa kehilangan kasih. Inilah jalan yang sulit, tetapi sekaligus merupakan salah satu gambaran paling kuat mengenai kehidupan yang telah disentuh oleh kasih Kristus.
Jejak Kasih Tuhan di Tengah Perubahan Zaman
Buku ini membahas tentang kasih Tuhan yang tetap setia di tengah zaman yang terus berubah. Rating 5,0 di Google Play Book.
Silahkan dibaca 20% dari isi buku ini secara GRATIS terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan untuk membeli.
👉 Baca 20% Gratis di Google Play Book

Posting Komentar untuk "Apa Arti Memberikan Pipi yang Lain? Apakah Orang Kristen Tidak Boleh Melawan Ketidakadilan? [Matius 5:39]"