Mengapa Yesus Menggunakan Perumpamaan sehingga Sebagian Orang Tidak Memahami? [Matius 13:11–15]
Pendahuluan
Perumpamaan merupakan salah satu ciri yang sangat menonjol dalam pengajaran Yesus Kristus. Ia sering menggunakan gambaran tentang penabur, tanah, benih, lalang, biji sesawi, ragi, harta yang terpendam, mutiara yang sangat berharga, jala, dan berbagai kenyataan kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan kebenaran tentang Kerajaan Allah. Cara mengajar seperti ini membuat banyak perkataan Yesus mudah diingat karena kebenaran rohani disampaikan melalui gambaran yang dekat dengan pengalaman manusia. Namun, Matius 13 memperlihatkan sebuah persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar metode pengajaran yang menarik, sebab Yesus sendiri menjelaskan bahwa ada orang yang mendengar perumpamaan tetapi tidak memahami maknanya.
Persoalan tersebut menjadi semakin sulit ketika Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa kepada mereka telah diberikan karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada orang banyak hal itu tidak diberikan. Dalam Matius 13:13–15, Yesus kemudian menghubungkan ketidakmampuan mereka memahami dengan keadaan hati mereka, bahkan mengutip nubuat Nabi Yesaya tentang orang yang mendengar tetapi tidak mengerti, melihat tetapi tidak menangkap makna, serta memiliki hati yang telah menjadi keras. Pernyataan ini dapat menimbulkan pertanyaan yang sangat serius: Apakah Yesus menggunakan perumpamaan supaya sebagian orang tidak memahami kebenaran? Jika jawabannya ya, bagaimana hal tersebut dapat dipahami bersama kasih, belas kasihan, dan undangan pertobatan yang juga begitu kuat dalam pelayanan Yesus?
Pertanyaan tersebut tidak boleh dijawab hanya berdasarkan satu kalimat tanpa memperhatikan konteksnya. Matius 13:11–15 harus dibaca dalam hubungan dengan seluruh pasal Matius 13, pelayanan Yesus sebelum pasal tersebut, respons manusia terhadap mukjizat dan pengajaran-Nya, serta kesaksian bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru. Dengan cara demikian, kita dapat melihat bahwa perumpamaan tidak memiliki fungsi yang sederhana dan tunggal. Perumpamaan dapat menyatakan kebenaran kepada orang yang mau mendengar, sekaligus menyingkapkan keadaan hati orang yang menolak kebenaran, sehingga fungsi pengajaran dan fungsi penghakiman dapat hadir bersamaan tanpa harus dipisahkan secara paksa.
Hal penting lainnya adalah memahami bahwa “tidak memahami” dalam Matius 13 bukan sekadar persoalan kemampuan intelektual. Seseorang dapat memiliki kemampuan untuk mendengar sebuah kalimat, memahami arti kata-katanya, bahkan mengetahui jalan ceritanya, tetapi tetap tidak memahami kebenaran rohani yang sedang dinyatakan. Dalam konteks Alkitab, pemahaman sering kali berkaitan dengan sikap hati, respons terhadap firman, kesediaan untuk bertobat, dan keterbukaan terhadap pekerjaan Allah. Karena itu, ketika Yesus berbicara mengenai orang yang mendengar tetapi tidak memahami, persoalannya bukan hanya apakah informasi tersebut sampai kepada telinga mereka, melainkan bagaimana mereka merespons kebenaran yang telah mereka dengar.
Untuk memahami hal ini dengan benar, kita juga perlu menghindari kesimpulan bahwa semua orang yang belum memahami ajaran Yesus berarti dengan sengaja menolak Allah. Alkitab sendiri menunjukkan bahwa para murid Yesus pun tidak selalu segera memahami perkataan-Nya. Mereka beberapa kali membutuhkan penjelasan tambahan dari Yesus, bahkan setelah mendengar pengajaran secara langsung. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai Matius 13:11–15 harus membedakan antara ketidakmengertian yang lahir dari keterbatasan manusia, ketidakmengertian yang berkaitan dengan hati yang menolak, dan pemahaman yang diberikan Allah ketika seseorang menerima kebenaran dengan iman.
Di sinilah pentingnya membaca Matius 13 secara utuh. Perumpamaan tentang seorang penabur, misalnya, tidak hanya berbicara tentang benih yang ditaburkan, tetapi juga tentang berbagai macam respons manusia terhadap firman Kerajaan. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan dan segera diambil, ada yang jatuh di tanah berbatu sehingga tidak bertahan, ada yang jatuh di tengah semak duri sehingga terhimpit, dan ada yang jatuh di tanah yang baik sehingga menghasilkan buah. Dengan demikian, pertanyaan tentang mengapa sebagian orang tidak memahami perumpamaan ternyata berkaitan erat dengan pertanyaan yang lebih besar: Bagaimana manusia merespons firman Allah ketika firman itu diberitakan kepada mereka?
Matius 13 juga tidak boleh dipisahkan dari perkembangan konflik antara Yesus dan sebagian pemimpin agama dalam Injil Matius. Sebelum pasal 13, Matius telah mencatat berbagai respons terhadap pelayanan Yesus, termasuk tuduhan bahwa Ia mengusir setan dengan kuasa penghulu setan dalam Matius 12:24. Tuduhan tersebut bukan sekadar tanda bahwa mereka belum memahami identitas Yesus, melainkan menunjukkan penolakan terhadap karya Allah yang sedang dinyatakan melalui pelayanan-Nya. Karena itu, ketika Matius 13 berbicara tentang orang yang mendengar tetapi tidak memahami, pembaca perlu memperhatikan bahwa perkataan tersebut muncul dalam konteks sejarah pelayanan Yesus yang sudah memperlihatkan adanya perbedaan respons terhadap pewartaan Kerajaan Allah.
Namun demikian, kita juga tidak boleh menganggap bahwa semua orang di luar kelompok murid pasti berada dalam keadaan hati yang sama. Matius sendiri mencatat bahwa banyak orang mengikuti Yesus, mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan mukjizat-Nya, dan memberikan berbagai macam respons. Bahkan di dalam kelompok murid sendiri terdapat perbedaan kualitas pemahaman dan iman. Oleh sebab itu, istilah “orang banyak” atau “mereka” dalam suatu bagian tertentu harus dibaca berdasarkan konteks, bukan digunakan secara sembarangan untuk membuat pembagian sederhana antara “orang yang dipilih” dan “orang yang ditolak”.
Lebih jauh lagi, Matius 13:11 menggunakan istilah “rahasia Kerajaan Surga”. Dalam bahasa Alkitab, “rahasia” tidak terutama berarti sesuatu yang sengaja dibuat misterius dan mustahil diketahui manusia. Istilah tersebut menunjuk kepada kebenaran mengenai karya dan pemerintahan Allah yang sebelumnya tersembunyi dalam rencana-Nya tetapi sekarang dinyatakan melalui pelayanan Yesus. Dengan demikian, ketika Yesus mengatakan bahwa murid-murid diberi kemampuan untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, yang dimaksud bukan bahwa mereka memiliki kecerdasan khusus secara alami, melainkan bahwa mereka menerima anugerah untuk memahami apa yang Allah sedang kerjakan melalui Kristus.
Pengertian tersebut sangat penting karena mencegah kita membaca Matius 13 seolah-olah Yesus sedang memberikan informasi rahasia kepada sekelompok kecil manusia dan sengaja menutup akses kepada semua orang lainnya. Sebaliknya, kita harus memperhatikan bagaimana Injil Matius menggambarkan pemberitaan Yesus. Ia datang memberitakan Kerajaan Surga, memanggil manusia kepada pertobatan, mengajar orang banyak, menyembuhkan orang sakit, mengampuni dosa, dan memanggil manusia untuk percaya kepada-Nya. Jadi, penggunaan perumpamaan harus ditempatkan dalam keseluruhan pelayanan pewahyuan tersebut.
Pada saat yang sama, Alkitab tidak menyembunyikan kenyataan bahwa pemberitaan kebenaran dapat menghasilkan penghakiman terhadap mereka yang terus menolaknya. Firman Allah tidak hanya membawa kesempatan untuk menerima kehidupan, tetapi juga membuat penolakan manusia menjadi semakin nyata. Ketika terang datang dan seseorang tetap memilih kegelapan, masalahnya bukan bahwa terang tersebut tidak cukup terang, melainkan bahwa orang tersebut tidak mau datang kepada terang itu. Prinsip semacam ini terlihat jelas dalam Yohanes 3:19–21, ketika Yesus berbicara tentang manusia yang lebih menyukai kegelapan daripada terang karena perbuatan mereka jahat.
Karena itu, pertanyaan “Mengapa Yesus menggunakan perumpamaan sehingga sebagian orang tidak memahami?” sebenarnya mengarahkan kita kepada beberapa pertanyaan yang lebih mendalam. Bagaimana hubungan antara pewahyuan Allah dan respons manusia? Apakah ketidakmengertian terjadi karena Allah menutup pemahaman manusia, atau karena manusia mengeraskan hati terhadap kebenaran? Bagaimana kedaulatan Allah, yaitu hak dan kuasa Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya, berhubungan dengan tanggung jawab manusia untuk merespons firman? Dan bagaimana kita memahami semua itu tanpa mengurangi kasih karunia Allah maupun tanggung jawab manusia?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dibangun secara bertahap dari teks Alkitab. Kita tidak boleh memaksakan suatu sistem teologi terlebih dahulu lalu mencari ayat untuk mendukungnya. Sebaliknya, kita perlu membiarkan Matius 13 berbicara dalam konteksnya, kemudian membandingkannya dengan kesaksian Markus, Lukas, Yohanes, para nabi dalam Perjanjian Lama, dan tulisan para rasul. Dengan pendekatan seperti ini, kita akan melihat bahwa perumpamaan Yesus bukan sekadar teka-teki religius, melainkan bagian dari pewartaan Kerajaan Allah yang sekaligus menyatakan kebenaran, menguji respons manusia, dan menyingkapkan kondisi hati pendengarnya.
Mengapa Pertanyaan Ini Penting?
Pertanyaan ini penting karena cara kita memahami Matius 13:11–15 akan memengaruhi cara kita memahami karakter Yesus. Jika ayat tersebut dibaca secara terburu-buru, seseorang dapat memperoleh kesan bahwa Yesus sengaja berbicara dengan cara yang membingungkan agar sebagian orang tidak memperoleh kesempatan untuk memahami dan bertobat. Kesimpulan seperti itu dapat membuat kasih dan belas kasihan Yesus tampak bertentangan dengan tindakan-Nya sendiri. Padahal, Injil justru menggambarkan Yesus sebagai Pribadi yang memanggil manusia kepada pertobatan dan menawarkan kehidupan kepada mereka yang datang kepada-Nya.
Pertanyaan ini juga penting karena berkaitan dengan hakikat pewahyuan Allah. Pewahyuan berarti tindakan Allah menyatakan diri dan kehendak-Nya kepada manusia sehingga manusia dapat mengenal-Nya sesuai dengan apa yang Allah nyatakan. Jika Allah menyatakan kebenaran melalui Yesus, mengapa kebenaran itu tidak menghasilkan pemahaman yang sama pada semua pendengar? Mengapa dua orang dapat mendengar pengajaran yang sama, tetapi seorang menerimanya sedangkan yang lain menolaknya atau bahkan tidak memahami maknanya? Pertanyaan ini membawa kita pada hubungan yang kompleks antara tindakan Allah dan respons manusia.
Selain itu, bagian ini penting karena menyentuh persoalan tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan terutama sebuah wilayah geografis seperti kerajaan manusia. Istilah tersebut menunjuk pada pemerintahan atau kekuasaan Allah yang dinyatakan dalam karya-Nya dan secara khusus hadir dalam pelayanan Yesus Kristus. Ketika Yesus memberitakan Kerajaan Allah, Ia sedang memberitakan bahwa Allah sedang bertindak untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya. Karena itu, memahami perumpamaan Yesus berarti memahami bagaimana Yesus menjelaskan realitas Kerajaan tersebut kepada manusia.
Matius 13 juga penting karena memberikan gambaran mengenai respons yang berbeda terhadap firman. Hal ini bukan persoalan yang hanya terjadi pada zaman Yesus. Sampai sekarang, orang dapat membaca Alkitab yang sama, mendengarkan khotbah yang sama, atau mendengar penjelasan tentang Kristus yang sama, tetapi memberikan respons yang sangat berbeda. Ada yang menjadi semakin ingin mengenal Allah, ada yang acuh, ada yang menolak, ada yang menerima untuk sementara, dan ada pula yang benar-benar mengalami perubahan hidup. Karena itu, pembahasan tentang perumpamaan menyentuh persoalan yang sangat relevan bagi setiap pembaca Alkitab.
Pertanyaan ini juga penting untuk menghindari pemahaman yang keliru tentang iman. Dalam Alkitab, iman bukan sekadar menerima informasi bahwa Allah ada atau mengakui beberapa fakta mengenai Yesus. Iman melibatkan kepercayaan dan penyerahan diri kepada Allah berdasarkan apa yang telah Ia nyatakan. Yakobus 2:19 bahkan menunjukkan bahwa pengakuan intelektual saja tidak cukup, karena setan-setan pun percaya bahwa Allah itu satu. Dengan demikian, memahami perkataan Yesus secara benar tidak berhenti pada kemampuan intelektual untuk memecahkan arti sebuah perumpamaan, tetapi berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons kebenaran tersebut.
Bagian ini juga membantu kita memahami hubungan antara mendengar dan melakukan firman. Dalam Matius 7:24–27, Yesus menggambarkan orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya seperti orang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu. Sebaliknya, orang yang mendengar tetapi tidak melakukannya diumpamakan seperti orang bodoh yang mendirikan rumah di atas pasir. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa dalam pengajaran Yesus, mendengar tidak selalu berarti menerima, dan mengetahui tidak selalu berarti menaati. Karena itu, ketika Matius 13 membicarakan orang yang mendengar tetapi tidak memahami, kita perlu melihat dimensi moral dan rohani dari tindakan mendengar tersebut.
Pertanyaan ini penting pula karena berkaitan dengan kekerasan hati. Kekerasan hati adalah keadaan ketika seseorang menjadi tidak peka terhadap kebenaran Allah dan menolak untuk merespons-Nya dengan benar. Dalam Alkitab, kekerasan hati bukan sekadar keadaan emosional atau suasana hati yang buruk, melainkan sikap batin yang terus menolak kehendak Allah. Firaun dalam kitab Keluaran menjadi salah satu contoh paling terkenal mengenai hal ini, dan para nabi Israel berkali-kali memperingatkan umat Allah agar tidak mengeraskan hati mereka. Dengan demikian, Matius 13:15 bukanlah pernyataan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola besar kesaksian Alkitab tentang manusia yang dapat mendengar firman tetapi tetap menolak untuk kembali kepada Allah.
Di sisi lain, pembahasan ini penting supaya kita tidak menggunakan konsep kekerasan hati untuk menghakimi orang lain secara sembarangan. Kita tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui keadaan hati manusia secara sempurna. Hanya Allah yang mengetahui hati manusia secara menyeluruh, sebagaimana ditegaskan dalam 1 Samuel 16:7 bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, sedangkan Tuhan melihat hati. Karena itu, ketika membahas Matius 13, kita harus membiarkan teks Alkitab berbicara mengenai prinsip rohaninya tanpa menggunakan bagian tersebut sebagai dasar untuk menentukan bahwa orang tertentu pasti telah ditolak Allah.
Pertanyaan ini juga sangat penting bagi pemahaman mengenai kasih karunia. Kasih karunia berarti kebaikan Allah yang diberikan kepada manusia bukan karena manusia layak mendapatkannya. Jika kemampuan memahami rahasia Kerajaan diberikan kepada murid-murid sebagai karunia, maka pemahaman tersebut tidak boleh dianggap sebagai hasil keunggulan manusia semata. Sebaliknya, hal itu mengarahkan kita untuk melihat bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah untuk memahami dan menerima kebenaran-Nya. Namun, hal tersebut tidak berarti manusia kehilangan tanggung jawab untuk mendengar, percaya, bertobat, dan mengikuti Kristus.
Di sinilah muncul salah satu ketegangan teologis terbesar dalam bagian ini, yaitu hubungan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Kedaulatan Allah berarti Allah memiliki otoritas tertinggi atas ciptaan dan sejarah serta menjalankan kehendak-Nya tanpa kehilangan kendali. Tanggung jawab manusia berarti manusia sungguh-sungguh dipanggil untuk merespons Allah dan bertanggung jawab atas respons tersebut. Alkitab mempertahankan kedua kebenaran ini tanpa selalu memberikan penjelasan filosofis yang menghapus seluruh misterinya. Karena itu, kita harus berhati-hati agar tidak membangun kesimpulan yang lebih jauh daripada yang dinyatakan teks.
Pertanyaan ini juga penting karena Matius 13:11–15 sering digunakan dalam perdebatan mengenai pemilihan dan penolakan. Pemilihan adalah istilah teologis yang digunakan untuk membahas tindakan Allah memilih manusia menurut maksud dan anugerah-Nya, sedangkan penolakan atau penghukuman berkaitan dengan keputusan dan penghakiman Allah terhadap dosa. Bagian ini memang memiliki hubungan dengan persoalan tersebut, tetapi tidak boleh dipakai sendirian untuk menyelesaikan seluruh perdebatan. Alkitab berbicara tentang pemilihan, anugerah, panggilan, iman, pertobatan, penghakiman, dan tanggung jawab manusia dalam banyak bagian, sehingga semuanya perlu dibaca bersama.
Lebih jauh lagi, pertanyaan ini penting bagi cara gereja memberitakan Injil. Jika seseorang salah memahami perumpamaan sebagai bukti bahwa manusia tidak perlu merespons pemberitaan Injil, maka ia dapat jatuh ke dalam sikap pasif. Sebaliknya, jika seseorang mengabaikan aspek penghakiman dalam Matius 13, ia dapat meremehkan keseriusan penolakan terhadap firman Allah. Pemahaman yang seimbang akan menunjukkan bahwa Injil harus diberitakan kepada semua orang, manusia dipanggil untuk mendengar dan bertobat, dan pada saat yang sama keberhasilan memahami dan menerima kebenaran tetap bergantung pada karya kasih karunia Allah.
Ada pula alasan pastoral yang sangat penting. Pastoral berarti berkaitan dengan perhatian, penggembalaan, dan pembinaan kehidupan umat. Banyak orang Kristen pernah mengalami masa ketika mereka membaca Alkitab tetapi tidak memahami isinya, sehingga mereka mungkin bertanya apakah ketidakmengertian tersebut berarti Allah tidak berkenan kepada mereka. Matius 13 tidak boleh digunakan untuk membuat orang yang sedang mencari Allah semakin putus asa. Sebaliknya, bagian ini harus mengarahkan pembaca untuk memeriksa sikap hatinya, datang kepada Kristus dengan rendah hati, meminta hikmat, dan terus mencari kebenaran Allah.
Yakobus 1:5 memberikan prinsip yang sangat berharga dalam hal ini. Yakobus mengajarkan bahwa apabila seseorang kekurangan hikmat, ia hendaknya meminta kepada Allah yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit. Hikmat adalah kemampuan yang diberikan Allah untuk memahami dan menerapkan kebenaran dengan benar, bukan sekadar kecerdasan akademis. Prinsip tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan manusia dalam memahami firman bukan alasan untuk berhenti mencari, melainkan undangan untuk datang kepada Allah dengan kerendahan hati.
Kita juga perlu memperhatikan bahwa para murid sendiri tidak selalu langsung memahami perkataan Yesus. Dalam Matius 13:36, setelah Yesus membubarkan orang banyak, Ia masuk ke rumah dan para murid datang kepada-Nya dengan permintaan agar Ia menjelaskan perumpamaan tentang lalang di ladang. Hal tersebut sangat penting karena menunjukkan bahwa menjadi murid tidak berarti seseorang secara otomatis memahami segala sesuatu sejak awal. Mereka pun perlu bertanya, mendengarkan penjelasan Yesus, dan bertumbuh dalam pemahaman. Dengan demikian, pembahasan tentang Matius 13 harus memberikan ruang bagi proses pertumbuhan rohani, bukan menciptakan standar bahwa setiap orang yang belum memahami suatu bagian Alkitab berarti sedang memberontak kepada Allah.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang perumpamaan Yesus membawa kita kepada pusat pelayanan-Nya, yaitu diri-Nya sendiri. Perumpamaan-perumpamaan tersebut bukan sekadar cerita moral seperti cerita tentang menjadi orang baik atau menolong sesama. Banyak di antaranya berhubungan langsung dengan kedatangan Kerajaan Allah dan respons manusia terhadap Raja yang hadir di tengah mereka. Karena itu, memahami perumpamaan pada akhirnya berarti memahami apa yang sedang Yesus nyatakan mengenai Allah, Kerajaan-Nya, keselamatan, penghakiman, manusia, dan panggilan untuk merespons-Nya.
Dengan demikian, Matius 13:11–15 seharusnya tidak dibaca sebagai kalimat sederhana bahwa “Yesus membuat orang tidak mengerti.” Teks tersebut jauh lebih serius dan lebih kaya daripada kesimpulan tersebut. Yesus berbicara tentang perbedaan antara mereka yang menerima dan mereka yang menolak, tentang rahasia Kerajaan yang dinyatakan, tentang hati yang dapat menjadi keras, serta tentang penggenapan firman melalui pelayanan-Nya. Semua unsur tersebut harus dipertemukan agar kita tidak mereduksi perkataan Yesus menjadi satu gagasan yang sebenarnya terlalu sempit.
Penjelasan Berdasarkan Alkitab
Memahami Matius 13:11–15 dalam Konteksnya
Matius 13:11–15 tidak dapat dipahami secara tepat apabila dilepaskan dari peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Dalam pasal ini, Yesus sedang mengajar orang banyak dari sebuah perahu karena jumlah mereka sangat besar, sementara orang banyak berdiri di pantai untuk mendengarkan-Nya. Matius 13:2–3 mengatakan bahwa Yesus menyampaikan banyak hal kepada mereka dalam bentuk perumpamaan. Jadi, penggunaan perumpamaan bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari cara Yesus menyampaikan berita mengenai Kerajaan Surga kepada orang banyak.
Perumpamaan pertama yang dicatat secara panjang dalam Matius 13 adalah perumpamaan tentang seorang penabur. Seorang penabur keluar untuk menaburkan benih, tetapi benih tersebut jatuh di tempat yang berbeda-beda. Ada yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik. Setelah menyampaikan perumpamaan itu, Yesus berseru, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Pernyataan tersebut penting karena sejak awal Yesus tidak sekadar berbicara tentang kemampuan mendengar secara fisik, tetapi mengarahkan pendengar kepada kebutuhan untuk benar-benar menerima apa yang sedang disampaikan.
Respons para murid kemudian menjadi titik penting dalam narasi. Matius 13:10 mencatat bahwa murid-murid datang kepada Yesus dan bertanya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa para murid sendiri menyadari adanya sesuatu yang berbeda dalam cara Yesus berbicara. Mereka tidak sekadar bertanya mengenai arti satu cerita, tetapi mempertanyakan alasan Yesus menggunakan bentuk pengajaran tersebut. Jawaban Yesus dalam ayat 11–17 kemudian menjadi kunci untuk memahami fungsi perumpamaan.
Yesus menjawab bahwa kepada para murid telah diberikan karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada orang banyak hal itu tidak diberikan. Pernyataan ini harus dibaca secara hati-hati karena dapat menimbulkan kesan bahwa Yesus sedang membagi manusia ke dalam dua kelompok yang tidak memiliki kemungkinan perubahan sama sekali. Akan tetapi, konteks Matius menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks. Para murid adalah orang-orang yang telah merespons panggilan Yesus dan terus mengikuti-Nya, sedangkan bagian sebelumnya telah memperlihatkan bahwa terdapat orang-orang yang melihat pekerjaan Yesus tetapi menolaknya.
Dengan demikian, Matius 13 muncul dalam konteks respons yang semakin terpisah terhadap Yesus. Ada orang yang datang untuk mendengar, ada yang mengikuti, ada yang bertanya, ada yang menerima, tetapi ada pula yang menuduh dan menolak. Matius 12 bahkan mencatat pertentangan yang serius antara Yesus dan sebagian orang Farisi. Setelah menyaksikan Yesus menyembuhkan seorang yang kerasukan setan, buta, dan bisu, mereka justru mengatakan bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, yaitu penghulu setan (Matius 12:22–24). Tuduhan tersebut memperlihatkan bahwa masalah yang muncul bukan sekadar kurangnya informasi.
Karena itu, ketika Yesus menjelaskan mengapa sebagian orang tidak memahami, kita harus mengingat bahwa Ia berbicara kepada pendengar yang telah memberikan respons berbeda terhadap pewahyuan Allah. Mereka tidak hidup dalam keadaan di mana Allah sama sekali belum berbicara. Mereka telah melihat tindakan Yesus, mendengar pengajaran-Nya, dan menyaksikan tanda-tanda yang menyertai pelayanan-Nya. Persoalan yang sedang dibicarakan adalah bagaimana manusia merespons terang yang telah diberikan kepada mereka. Hal inilah yang kemudian menjelaskan mengapa Yesus mengutip Yesaya 6:9–10.
Apa yang Dimaksud dengan “Rahasia Kerajaan Surga”?
Matius 13:11 menggunakan ungkapan “rahasia Kerajaan Surga”. Istilah “rahasia” dalam pengertian ini tidak boleh langsung dipahami sebagai sesuatu yang sengaja disembunyikan agar manusia tidak mungkin mengetahuinya. Dalam konteks Alkitab, rahasia menunjuk kepada sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui atau belum dinyatakan secara penuh, tetapi kemudian Allah membuka pemahamannya melalui penyataan-Nya. Jadi, “rahasia Kerajaan Surga” berkaitan dengan maksud Allah mengenai pemerintahan-Nya yang sekarang dinyatakan melalui pelayanan Yesus.
Kerajaan Surga sendiri merupakan istilah yang sangat penting dalam Injil Matius. Istilah tersebut tidak terutama menunjuk kepada tempat yang jauh di langit, tetapi kepada pemerintahan Allah yang sedang dinyatakan dan dijalankan dalam karya-Nya. Yohanes Pembaptis telah memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” dalam Matius 3:2. Yesus kemudian mengulang berita yang sama dalam Matius 4:17, sehingga sejak awal pelayanan-Nya, Kerajaan Allah menjadi pusat pemberitaan-Nya.
Hal ini berarti bahwa perumpamaan Yesus pada Matius 13 bukan sekadar kumpulan cerita tentang kehidupan moral. Perumpamaan tersebut menjelaskan bagaimana pemerintahan Allah bekerja, bagaimana manusia meresponsnya, mengapa Kerajaan itu tampaknya mengalami penolakan, bagaimana pertumbuhan Kerajaan berlangsung, dan bagaimana akhirnya akan terjadi pemisahan serta penghakiman. Dengan kata lain, Yesus menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perilaku manusia. Ia sedang menyingkapkan karya Allah yang sedang berlangsung melalui diri-Nya.
Perumpamaan tentang penabur memberikan contoh yang sangat jelas. Benih dalam penjelasan Yesus adalah “firman tentang Kerajaan” atau “firman” yang diberitakan, sedangkan berbagai jenis tanah menggambarkan respons yang berbeda terhadap firman tersebut (Matius 13:18–23). Dengan demikian, perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa berita Kerajaan yang sama dapat menghasilkan respons yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan karena firman yang ditaburkan berbeda kualitasnya, melainkan karena kondisi penerimanya berbeda.
“Kepada Mereka Diberikan, tetapi kepada Mereka Tidak”
Pernyataan Yesus dalam Matius 13:11 merupakan salah satu bagian yang paling sering menimbulkan pertanyaan. Ia mengatakan bahwa kepada murid-murid diberikan karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, sedangkan kepada orang-orang lain hal itu tidak diberikan. Apakah ini berarti Allah secara aktif menghalangi sebagian orang untuk memahami keselamatan? Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan terburu-buru karena Matius sendiri memberikan banyak gambaran tentang orang-orang yang dipanggil untuk datang kepada Yesus.
Kata “diberikan” dalam perkataan Yesus menekankan bahwa pemahaman terhadap Kerajaan Allah pada akhirnya merupakan pemberian Allah. Ini sejalan dengan prinsip Alkitab bahwa manusia tidak dapat membanggakan dirinya di hadapan Allah karena keselamatan dan pengenalan akan Allah berakar pada anugerah. Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 2:12 bahwa orang percaya menerima Roh yang berasal dari Allah supaya mereka mengetahui apa yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Dengan demikian, pemahaman rohani tidak boleh dianggap hanya sebagai hasil kecerdasan manusia.
Namun, kita juga tidak boleh memisahkan pemberian Allah dari respons manusia. Dalam Injil Matius, para murid tidak digambarkan sebagai manusia yang sejak awal memiliki pemahaman sempurna. Mereka sering salah memahami perkataan Yesus, takut ketika menghadapi keadaan sulit, bahkan beberapa kali menunjukkan kurangnya iman. Petrus sendiri, yang kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam kelompok rasul, pernah menegur Yesus ketika Yesus berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya (Matius 16:21–23). Hal tersebut menunjukkan bahwa menjadi penerima karunia pemahaman bukan berarti manusia langsung menjadi sempurna dalam pengetahuan rohaninya.
Justru di sinilah kita melihat bahwa pemahaman para murid berkembang melalui hubungan mereka dengan Yesus. Mereka mendengar, bertanya, menerima penjelasan, menyaksikan karya-Nya, dan terus mengikuti-Nya. Dalam Matius 13:36, misalnya, murid-murid meminta Yesus menjelaskan perumpamaan tentang lalang. Yesus kemudian memberikan penjelasan secara khusus kepada mereka. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa memahami perumpamaan dapat melibatkan proses belajar dan keterbukaan untuk datang kepada Yesus.
Dengan demikian, perkataan “kepada mereka diberikan” tidak seharusnya dipahami sebagai alasan untuk menganggap manusia tidak memiliki tanggung jawab sama sekali. Sebaliknya, karunia Allah dan respons manusia muncul bersama dalam kesaksian Injil. Allah menyatakan kebenaran, manusia dipanggil untuk mendengar, dan mereka yang datang kepada Yesus menerima penjelasan lebih lanjut. Di sisi lain, penolakan terhadap terang yang telah diterima dapat membuat seseorang semakin tidak peka terhadap kebenaran.
Arti Matius 13:12: “Barangsiapa Mempunyai, Kepadanya Akan Diberi”
Matius 13:12 mengatakan, “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Sekilas, kalimat ini dapat terdengar seperti prinsip ekonomi yang tidak adil: orang yang sudah memiliki justru mendapat lebih banyak, sedangkan orang yang sedikit malah kehilangan apa yang dimilikinya. Namun, konteks menunjukkan bahwa Yesus sedang berbicara mengenai respons terhadap pewahyuan, bukan kekayaan material.
Orang yang “mempunyai” dalam konteks ini adalah orang yang menerima apa yang telah dinyatakan Allah dan terus meresponsnya. Ketika seseorang menerima kebenaran dengan sungguh-sungguh, pemahamannya dapat berkembang semakin dalam. Sebaliknya, seseorang yang menolak atau mengabaikan kebenaran yang telah diterimanya dapat kehilangan bahkan pemahaman yang sebelumnya ia miliki. Prinsip ini serupa dengan gambaran dalam Matius 25:29, meskipun konteks langsungnya adalah perumpamaan tentang talenta, bahwa kesetiaan terhadap apa yang dipercayakan menghasilkan tanggung jawab dan kesempatan yang lebih besar.
Prinsip tersebut dapat dipahami seperti proses penglihatan rohani. Ketika seseorang terus membuka diri terhadap kebenaran, ia mulai melihat hubungan antara satu bagian firman dengan bagian lainnya. Apa yang sebelumnya tampak terpisah mulai menjadi lebih jelas dalam keseluruhan rencana Allah. Sebaliknya, ketika seseorang terus menolak kebenaran, kemampuan untuk melihat makna rohani dari apa yang didengarnya dapat semakin tumpul. Jadi, Yesus sedang menggambarkan dinamika respons manusia terhadap pewahyuan.
Hal ini memiliki hubungan yang kuat dengan perumpamaan tentang penabur. Tanah yang baik menerima benih, bertumbuh, dan menghasilkan buah. Benih tersebut tidak hanya berhenti sebagai sesuatu yang didengar, tetapi menghasilkan kehidupan yang nyata. Karena itu, “mempunyai” tidak sekadar berarti memiliki informasi mengenai Allah. Yang dimaksud adalah menerima firman sedemikian rupa sehingga firman tersebut berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah dalam kehidupan.
“Mereka Melihat tetapi Tidak Melihat, dan Mendengar tetapi Tidak Mendengar”
Matius 13:13 merupakan bagian yang sangat penting. Yesus berkata bahwa Ia berbicara kepada orang banyak dalam perumpamaan karena mereka melihat tetapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti. Kalimat tersebut tampaknya mengandung paradoks, yaitu keadaan ketika seseorang secara fisik melihat dan mendengar tetapi secara rohani tidak menangkap apa yang sedang dinyatakan. Dengan demikian, masalah utama bukanlah ketiadaan informasi, melainkan kegagalan menangkap makna kebenaran tersebut.
Dalam Alkitab, “melihat” dan “mendengar” sering digunakan untuk menggambarkan respons rohani. Ulangan 29:4 berkata bahwa Tuhan belum memberikan kepada bangsa Israel hati untuk mengerti, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar sampai hari itu. Yesaya juga berkali-kali menggambarkan umat Allah sebagai orang yang memiliki mata tetapi tidak melihat dan telinga tetapi tidak mendengar. Jadi, bahasa yang digunakan Yesus dalam Matius 13 mempunyai akar yang kuat dalam tradisi kenabian Israel.
Masalah ini menjadi lebih jelas apabila kita memperhatikan bahwa manusia dapat menerima suatu kebenaran secara lahiriah tanpa benar-benar membiarkan kebenaran tersebut mengubah dirinya. Seseorang dapat mendengar khotbah tentang pertobatan berkali-kali tetapi tidak pernah sungguh-sungguh bertobat. Seseorang dapat mengetahui ajaran tentang kasih tetapi tetap memelihara kebencian. Seseorang dapat mengetahui banyak ayat Alkitab tetapi tetap menolak untuk tunduk kepada Allah. Dalam perspektif Alkitab, kondisi seperti ini menunjukkan perbedaan antara mengetahui informasi dan memahami kebenaran secara rohani.
Mengapa Yesus Mengutip Yesaya 6:9–10?
Matius 13:14–15 mengutip Yesaya 6:9–10. Dalam teks tersebut dikatakan bahwa pendengar akan terus mendengar tetapi tidak mengerti, terus melihat tetapi tidak menangkap, sebab hati bangsa itu telah menebal, telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup. Mereka digambarkan sebagai orang yang seharusnya dapat merespons tetapi justru berada dalam keadaan keras. Bahkan disebutkan bahwa mereka dapat berbalik dan disembuhkan apabila mereka melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, memahami dengan hati, lalu berbalik.
Latar belakang Yesaya 6 sangat penting. Yesaya menerima panggilan kenabian setelah melihat kemuliaan Tuhan dan mendengar seruan para serafim. Ia kemudian diutus kepada bangsa yang secara historis telah berulang kali menerima firman Allah tetapi tidak hidup sesuai dengan firman tersebut. Dengan demikian, perkataan tentang “tidak mengerti” merupakan bagian dari konteks penghakiman atas penolakan yang terus berlangsung. Yesaya bukan sedang mengatakan bahwa Allah secara sewenang-wenang membuat orang yang ingin bertobat menjadi tidak mampu bertobat.
Sebaliknya, terdapat pola yang lebih dalam: penolakan manusia terhadap firman menghasilkan pengerasan hati, dan pengerasan hati kemudian membawa manusia semakin jauh dari kemampuan untuk merespons firman dengan benar. Alkitab menggunakan bahasa yang kadang-kadang menggambarkan Allah sebagai pihak yang mengeraskan hati, tetapi juga menggambarkan manusia sebagai pihak yang mengeraskan hatinya sendiri. Kedua gambaran tersebut harus diperhatikan bersama dan tidak boleh dipaksakan menjadi satu penjelasan sederhana.
Contoh yang sangat jelas terdapat dalam kitab Keluaran mengenai Firaun. Dalam beberapa bagian dikatakan bahwa Firaun mengeraskan hatinya, sementara dalam bagian lain dikatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun. Misalnya, Keluaran 8:15 menyatakan bahwa Firaun mengeraskan hatinya setelah melihat kelegaan dari tulah, sedangkan Keluaran 9:12 menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun. Ini menunjukkan bahwa Alkitab mampu berbicara mengenai tindakan penghakiman Allah sekaligus tanggung jawab manusia tanpa menganggap salah satunya harus dihapus.
Karena itu, ketika Matius menggunakan Yesaya 6, kita perlu melihat pola yang sama. Yesus tidak sedang memperkenalkan gagasan baru bahwa manusia dapat menolak Allah. Ia menunjukkan bahwa respons keras kepala terhadap pewahyuan Allah memiliki konsekuensi yang serius. Perumpamaan kemudian menjadi bagian dari situasi tersebut: bagi mereka yang mau mendengar, perumpamaan membuka jalan menuju pemahaman yang lebih dalam; bagi mereka yang terus menolak, perumpamaan memperlihatkan bahwa ketidakpekaan hati mereka semakin nyata.
“Supaya Jangan Mereka Berbalik dan Disembuhkan”
Bagian paling sensitif dalam kutipan Yesaya terdapat pada Matius 13:15, khususnya ungkapan bahwa mereka jangan sampai “berbalik” dan disembuhkan. Jika dibaca secara terpisah, kalimat ini dapat memberikan kesan bahwa Yesus tidak ingin orang-orang tersebut bertobat. Akan tetapi, cara membaca seperti itu harus diuji dengan kesaksian Injil secara keseluruhan.
Matius sendiri mencatat bahwa Yesus datang memanggil orang berdosa untuk bertobat. Dalam Matius 4:17, pemberitaan Yesus dimulai dengan seruan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Dalam Matius 9:12–13, Yesus mengatakan bahwa orang sakitlah yang memerlukan tabib dan bahwa Ia datang untuk memanggil orang berdosa. Bahkan dalam Matius 11:28, Yesus mengundang orang-orang yang letih dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya.
Karena itu, Matius 13:15 tidak boleh ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa karakter dasar pelayanan Yesus adalah menolak pertobatan manusia. Sebaliknya, ayat tersebut harus dipahami dalam kerangka penghakiman atas respons manusia terhadap pewahyuan Allah. Orang-orang tersebut bukan berada dalam keadaan netral tanpa informasi, tetapi telah mendengar dan melihat berbagai hal yang seharusnya membawa mereka kepada pengenalan akan Allah. Namun, hati mereka justru menjadi keras.
Hal tersebut juga terlihat dalam Yohanes 12:37–40. Yohanes mencatat bahwa sekalipun Yesus telah melakukan begitu banyak tanda di hadapan mereka, mereka tetap tidak percaya. Kemudian Yohanes menghubungkan ketidakpercayaan tersebut dengan Yesaya 6. Urutannya sangat penting: terdapat tanda-tanda, terdapat penyataan, terdapat kesempatan untuk percaya, tetapi tetap terdapat penolakan. Penghakiman Allah tidak muncul tanpa hubungan dengan respons manusia terhadap terang yang telah diberikan.
Perumpamaan Bukan Sekadar Cara Membuat Pengajaran Menarik
Kesalahan umum dalam memahami perumpamaan adalah menganggapnya hanya sebagai metode sederhana untuk membuat khotbah Yesus lebih menarik. Memang benar bahwa perumpamaan menggunakan gambaran konkret yang dapat membantu manusia mengingat suatu kebenaran. Namun, fungsi perumpamaan jauh lebih dalam daripada sekadar teknik komunikasi.
Perumpamaan adalah cerita atau gambaran yang menggunakan sesuatu yang dikenal untuk menyampaikan kebenaran mengenai sesuatu yang lebih dalam. Dalam pelayanan Yesus, gambaran tersebut sering berasal dari pertanian, perdagangan, keluarga, pesta, pekerjaan, hubungan sosial, dan kehidupan sehari-hari. Namun, ketika gambaran tersebut digunakan untuk menjelaskan Kerajaan Allah, makna yang terkandung di dalamnya melampaui cerita literalnya. Karena itu, pembaca tidak boleh berhenti pada cerita permukaannya.
Perumpamaan juga mempunyai kemampuan untuk membuat pendengar berpikir. Ketika seseorang mendengar cerita tentang seorang penabur, ia mungkin pada awalnya hanya membayangkan aktivitas pertanian. Namun, ketika Yesus menjelaskan bahwa benih tersebut menggambarkan firman dan tanah menggambarkan respons manusia, cerita tersebut berubah menjadi cermin bagi pendengarnya. Pendengar tidak lagi hanya menjadi penonton cerita, tetapi dipaksa untuk bertanya tentang keadaan dirinya sendiri.
Dalam hal inilah perumpamaan dapat berfungsi sebagai alat pewahyuan sekaligus alat pengujian. Orang yang sungguh-sungguh ingin mengetahui kebenaran akan terdorong untuk bertanya lebih jauh. Hal tersebut terlihat dari para murid yang datang kepada Yesus setelah mendengar perumpamaan. Mereka tidak berhenti pada cerita, tetapi mencari penjelasan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keinginan untuk memahami dapat mendengar cerita tersebut lalu pergi tanpa mencari maknanya.
Mengapa Yesus Menjelaskan Perumpamaan kepada Murid-Murid?
Salah satu bukti terpenting bahwa perumpamaan tidak dimaksudkan sekadar untuk menyembunyikan kebenaran adalah kenyataan bahwa Yesus memberikan penjelasan kepada murid-murid-Nya. Dalam Matius 13:18, Yesus berkata, “Karena itu, dengarlah arti perumpamaan tentang penabur itu.” Kemudian Ia menjelaskan setiap bagian dari perumpamaan tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa ketika seseorang datang kepada Yesus dan meminta pemahaman, Yesus tidak sekadar menolak memberikan jawaban.
Pola yang sama terlihat dalam perumpamaan tentang lalang. Setelah Yesus menyampaikan perumpamaan tersebut kepada orang banyak, Ia masuk ke rumah dan murid-murid datang kepada-Nya. Mereka berkata, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu” (Matius 13:36). Yesus kemudian menjelaskan makna perumpamaan tersebut dengan cukup terperinci. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara perumpamaan dan pemahaman tidak bersifat otomatis, tetapi dapat berkembang melalui kedekatan dengan Yesus dan kesediaan untuk bertanya.
Hal tersebut memberi kita petunjuk penting mengenai maksud perkataan Yesus dalam Matius 13:11. Para murid bukan sekadar menerima informasi tambahan karena mereka memiliki status sosial tertentu. Mereka berada dalam posisi sebagai orang yang datang kepada Yesus, mendengarkan-Nya, bertanya kepada-Nya, dan ingin memahami perkataan-Nya. Sikap tersebut merupakan bagian dari respons iman yang membedakan mereka dari orang yang hanya mendengar secara lahiriah.
Dengan demikian, “kepada mereka diberikan” harus dipahami dalam hubungan dengan kemurahan hati Allah dan respons para murid. Pemahaman adalah anugerah, tetapi manusia dipanggil untuk menggunakan telinga yang diberikan kepadanya, datang kepada Kristus, meminta penjelasan, dan hidup menurut kebenaran yang telah diterimanya. Di sinilah hubungan antara anugerah dan tanggung jawab mulai terlihat semakin jelas.
Perumpamaan tentang Penabur Menjadi Kunci Membaca Matius 13
Sangat menarik bahwa Matius menempatkan perumpamaan tentang penabur di bagian awal rangkaian perumpamaan dalam pasal 13. Perumpamaan tersebut sebenarnya memberikan kerangka untuk memahami mengapa orang dapat mendengar berita yang sama tetapi menghasilkan respons yang berbeda. Benih yang sama ditaburkan, tetapi hasilnya ditentukan oleh kondisi tanah tempat benih tersebut jatuh.
Yesus sendiri menjelaskan bahwa benih yang jatuh di pinggir jalan menggambarkan orang yang mendengar firman tentang Kerajaan tetapi tidak memahaminya, lalu si jahat datang dan merampas apa yang ditaburkan dalam hatinya (Matius 13:19). Ayat ini sangat penting karena langsung menghubungkan mendengar, memahami, dan respons hati. Ketidakmengertian dalam kasus ini bukan sekadar masalah intelektual, tetapi terjadi dalam hati yang tidak menerima firman sehingga firman tersebut mudah dirampas.
Tanah berbatu menggambarkan orang yang mendengar firman dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi tidak memiliki akar sehingga bertahan hanya sebentar. Ketika datang penindasan atau penganiayaan karena firman tersebut, ia segera murtad atau jatuh. Gambaran ini menunjukkan bahwa seseorang bahkan dapat memberikan respons positif secara emosional terhadap firman tanpa menghasilkan ketekunan yang sejati.
Tanah yang ditumbuhi semak duri menggambarkan orang yang mendengar firman tetapi kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman sehingga tidak berbuah. Di sini Yesus menunjukkan bahwa seseorang dapat memahami dan bahkan menerima firman, tetapi berbagai keinginan lain dapat menguasai hidupnya sehingga firman tidak menghasilkan buah. Jadi, persoalan pemahaman tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari keseluruhan respons manusia terhadap Kerajaan Allah.
Tanah yang baik menggambarkan orang yang mendengar firman dan mengerti, kemudian menghasilkan buah. Urutan ini sangat penting: mendengar → mengerti → berbuah. Pemahaman yang benar menghasilkan perubahan yang nyata. Karena itu, menurut pola perumpamaan penabur, tujuan akhir pemahaman bukan sekadar memiliki pengetahuan agama, melainkan menghasilkan kehidupan yang sesuai dengan firman Allah.
Markus 4:10–12 Memberikan Kesaksian yang Sejajar
Matius bukan satu-satunya Injil yang mencatat perkataan Yesus mengenai fungsi perumpamaan. Markus 4:10–12 juga mencatat percakapan yang hampir sejajar. Ketika Yesus sedang sendirian, orang-orang di sekitar-Nya bersama kedua belas murid bertanya kepada-Nya mengenai perumpamaan. Yesus kemudian berbicara tentang “rahasia Kerajaan Allah” yang diberikan kepada mereka yang berada di sekitar-Nya, sedangkan kepada orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan.
Markus kemudian mengutip Yesaya mengenai mereka yang melihat tetapi tidak melihat dan mendengar tetapi tidak memahami, supaya mereka tidak berbalik dan mendapat pengampunan. Bagian ini memperkuat bahwa perumpamaan memang mempunyai dimensi penghakiman. Akan tetapi, sama seperti Matius, Markus menempatkan perkataan tersebut dalam konteks pewartaan Kerajaan Allah dan respons pendengar terhadap Yesus.
Yang menarik, dalam Markus 4:21–25, segera setelah rangkaian pembahasan tersebut, Yesus berbicara mengenai pelita. Ia bertanya apakah pelita dinyalakan untuk ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, bukan untuk ditempatkan di atas kaki dian. Gambaran tersebut justru menunjukkan bahwa sesuatu yang tersembunyi pada akhirnya dimaksudkan untuk dinyatakan. Ini membantu menjaga keseimbangan: perumpamaan memiliki unsur penyamaran atau pembatasan pemahaman bagi sebagian pendengar, tetapi tujuan pewahyuan Allah bukan menyembunyikan kebenaran selamanya.
Lukas 8:9–10 Menunjukkan Pola yang Sama
Lukas 8:9–10 juga mencatat murid-murid bertanya mengenai arti perumpamaan penabur. Yesus mengatakan bahwa kepada mereka diberikan karunia mengetahui Kerajaan Allah, tetapi kepada orang lain disampaikan dalam perumpamaan. Kemudian digunakan bahasa tentang melihat tetapi tidak melihat dan mendengar tetapi tidak memahami. Kesaksian tiga Injil Sinoptik—Matius, Markus, dan Lukas—dengan demikian menunjukkan bahwa perkataan tersebut memang merupakan bagian penting dari tradisi pengajaran Yesus mengenai perumpamaan.
Namun, Lukas juga memberikan konteks yang sangat membantu. Setelah menjelaskan perumpamaan, Yesus mengatakan bahwa benih adalah firman Allah dan tanah yang baik adalah mereka yang setelah mendengar firman itu menyimpannya dalam hati yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan. Sekali lagi, kita melihat bahwa persoalan utamanya bukan sekadar apakah seseorang menerima suara secara fisik. Yang menjadi persoalan adalah apa yang dilakukan seseorang terhadap firman setelah mendengarnya.
Karena itu, ketidakmengertian yang dibicarakan Yesus tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab mendengar. Perumpamaan menempatkan pendengar dalam posisi untuk mengambil sikap. Mereka dapat bertanya dan mencari pemahaman, atau mereka dapat mendengar tanpa benar-benar memperhatikan. Dengan demikian, perumpamaan bukan sekadar pintu yang tertutup; ia juga merupakan pintu yang terbuka bagi orang yang sungguh-sungguh mencari.
Yesus Tidak Berhenti Memanggil Manusia untuk Mendengar
Hal yang sering terlewat ketika Matius 13:11–15 dibahas adalah seruan Yesus yang berulang, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” Seruan tersebut menunjukkan bahwa pendengar memiliki tanggung jawab untuk memberikan perhatian. Jika maksud Yesus semata-mata adalah memastikan tidak ada seorang pun yang memahami, seruan untuk mendengar menjadi sulit dijelaskan. Sebaliknya, seruan tersebut menunjukkan bahwa perumpamaan menuntut respons.
Yesus menggunakan ungkapan serupa dalam Matius 11:15, Matius 13:9, Matius 13:43, dan di berbagai tempat lain. Ungkapan tersebut berfungsi sebagai panggilan agar pendengar tidak berhenti pada bunyi kata-kata. Mereka harus mendengarkan dengan kesediaan untuk menerima dan memahami. Dalam arti tersebut, perumpamaan menjadi ujian terhadap kualitas pendengaran rohani seseorang.
Kitab Wahyu juga menggunakan ungkapan yang sama berulang kali kepada jemaat-jemaat, “Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Meskipun konteksnya berbeda, prinsipnya sama: Allah berbicara, manusia dipanggil untuk mendengar. Mendengar secara Alkitabiah berarti memberikan perhatian yang menghasilkan respons, bukan sekadar menerima suara.
Apakah Yesus Sengaja Menyembunyikan Injil dari Orang yang Ingin Bertobat?
Berdasarkan rangkaian kesaksian tersebut, kita harus berhati-hati dengan kesimpulan bahwa Yesus menggunakan perumpamaan untuk menutup jalan keselamatan bagi orang yang benar-benar ingin datang kepada-Nya. Kesimpulan tersebut tidak sesuai dengan gambaran pelayanan Yesus secara keseluruhan. Yesus memanggil orang berdosa kepada pertobatan, menerima mereka yang datang kepada-Nya, dan mengajar orang banyak secara terbuka.
Dalam Yohanes 6:37, Yesus mengatakan bahwa siapa saja yang datang kepada-Nya tidak akan Ia buang. Pernyataan tersebut memberikan prinsip yang sangat kuat mengenai keterbukaan undangan Kristus. Yohanes 7:37 juga mencatat seruan Yesus, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Bahasa tersebut merupakan bahasa undangan, bukan penolakan terhadap orang yang sungguh-sungguh mencari.
Demikian pula, Matius 28:19–20 menunjukkan bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus memerintahkan murid-murid untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya serta mengajarkan kepada mereka segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya. Jika berita Kerajaan hanya dimaksudkan untuk sekelompok kecil orang dan manusia lainnya tidak boleh memahami, mandat universal tersebut tidak akan masuk akal. Injil justru diberitakan kepada bangsa-bangsa sebagai berita keselamatan yang harus didengar.
Karena itu, fungsi penghakiman dalam perumpamaan harus dipahami sebagai bagian dari realitas respons manusia terhadap pewahyuan, bukan sebagai gambaran bahwa Yesus tidak memiliki belas kasihan terhadap orang yang sungguh-sungguh ingin bertobat. Ketika seseorang terus menolak terang, ketidakpekaannya semakin nyata. Tetapi ketika seseorang datang kepada Kristus dengan hati yang mau mendengar, Injil memberikan alasan yang kuat untuk percaya bahwa Kristus tidak menolak orang tersebut.
Hubungan antara “Tidak Mengerti” dan “Tidak Mau Mendengar”
Salah satu pertanyaan paling penting adalah apakah seseorang tidak memahami karena ia memang tidak mampu, atau karena ia tidak mau mendengar. Jawabannya dalam Alkitab tidak selalu dapat dirumuskan sebagai salah satu saja. Ada keadaan ketika manusia benar-benar terbatas dalam pemahaman dan membutuhkan pengajaran. Namun, ada pula keadaan ketika ketidakmengertian berhubungan erat dengan penolakan moral terhadap kebenaran.
Yesus sendiri menunjukkan hal ini dalam Yohanes 8:43 ketika berkata kepada sebagian pendengar-Nya, “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.” Dalam konteks tersebut, masalahnya berkaitan dengan penolakan terhadap perkataan Yesus. Mereka tidak hanya kekurangan informasi, tetapi berada dalam konflik dengan kebenaran yang Yesus sampaikan. Karena itu, kemampuan memahami dalam konteks rohani berkaitan dengan disposisi atau kecenderungan hati seseorang terhadap Allah.
Paulus memberikan prinsip yang serupa dalam 1 Korintus 2:14 ketika menjelaskan bahwa manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah karena hal itu dianggap sebagai kebodohan dan tidak dapat dipahaminya sebab hal tersebut hanya dapat dinilai secara rohani. “Manusia duniawi” dalam konteks ini adalah manusia yang hidup tanpa menerima karya Roh Allah sebagai dasar untuk memahami perkara-perkara Allah. Ayat tersebut tidak berarti orang tidak percaya tidak memiliki kecerdasan atau kemampuan berpikir, melainkan menunjukkan adanya keterbatasan rohani dalam memahami realitas Allah.
Karena itu, Alkitab mengarahkan kita kepada kebutuhan akan karya Allah dalam pemahaman manusia. Namun, kebutuhan tersebut tidak boleh digunakan untuk menghapus panggilan manusia untuk percaya. Justru karena manusia membutuhkan anugerah, manusia dipanggil untuk datang kepada Allah, meminta hikmat, mendengar firman, dan merespons panggilan-Nya. Ketergantungan kepada anugerah dan tanggung jawab untuk merespons bukan dua hal yang harus dipertentangkan secara sederhana.
Perumpamaan sebagai Cermin bagi Hati Pendengar
Perumpamaan Yesus pada akhirnya memiliki fungsi yang sangat personal. Ketika seseorang mendengar perumpamaan tentang penabur, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya, “Apa arti tanah berbatu?” atau “Siapa yang dimaksud dengan burung?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Tanah seperti apakah hati saya ketika mendengar firman Allah?” Dengan cara ini, perumpamaan mengubah pendengar dari pengamat menjadi pihak yang harus mengambil keputusan.
Hal yang sama berlaku bagi perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang sangat berharga dalam Matius 13:44–46. Kedua perumpamaan tersebut menunjukkan nilai Kerajaan Allah yang begitu besar sehingga seseorang rela melepaskan segala sesuatu demi memperoleh apa yang jauh lebih berharga. Fokusnya bukan hanya pada definisi Kerajaan, tetapi pada nilai Kerajaan bagi orang yang menemukannya. Pendengar harus menentukan apakah Kerajaan Allah benar-benar memiliki nilai tertinggi dalam hidupnya.
Perumpamaan tentang jala dalam Matius 13:47–50 juga menambahkan dimensi penghakiman. Jala menangkap berbagai jenis ikan, tetapi pada akhirnya ikan yang baik dipisahkan dari yang tidak baik. Yesus kemudian menghubungkannya dengan akhir zaman dan pemisahan antara orang benar dan orang jahat. Dengan demikian, rangkaian perumpamaan Matius 13 menunjukkan bahwa pewartaan Kerajaan memiliki dimensi masa kini dan masa depan.
Dimensi masa kini berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons firman Allah sekarang. Dimensi masa depan berkaitan dengan penggenapan Kerajaan dan penghakiman pada akhir zaman. Karena itu, ketidakmengertian dalam Matius 13 tidak boleh dianggap sebagai persoalan akademis belaka. Di baliknya terdapat persoalan yang sangat serius mengenai respons manusia terhadap Allah dan konsekuensi dari respons tersebut.
Penjelasan Berdasarkan Teologis
Perumpamaan sebagai Pewahyuan dan Penghakiman
Secara teologis, perumpamaan Yesus dapat dipahami sebagai bentuk pewahyuan yang sekaligus mempunyai fungsi penghakiman. Pewahyuan berarti Allah menyatakan sesuatu mengenai diri-Nya, kehendak-Nya, dan karya keselamatan-Nya yang tidak dapat diketahui manusia secara sempurna hanya melalui kemampuan alamiahnya. Ketika Yesus memberitakan Kerajaan Surga melalui perumpamaan, Ia sedang membuka sesuatu mengenai pekerjaan Allah yang sedang berlangsung melalui pelayanan-Nya. Namun, pewahyuan yang sama juga dapat menjadi dasar penghakiman ketika manusia menolaknya.
Hal ini dapat dipahami melalui gambaran tentang terang. Terang membuat sesuatu dapat dilihat, tetapi terang juga memperlihatkan apa yang sebelumnya tersembunyi. Jika seseorang menyukai terang, ia akan berjalan di dalamnya; jika seseorang memilih kegelapan, kedatangan terang justru memperlihatkan penolakannya. Yohanes 3:19–21 menjelaskan prinsip tersebut dengan sangat jelas. Karena itu, ketika kebenaran Allah dinyatakan, respons manusia terhadap kebenaran tersebut menjadi semakin nyata.
Dalam kerangka ini, perumpamaan tidak perlu dipahami sebagai alat untuk mengelabui orang yang sungguh-sungguh mencari Allah. Sebaliknya, perumpamaan menyampaikan kebenaran dengan cara yang menuntut respons. Orang yang memiliki kerinduan untuk mengetahui maknanya dapat bertanya dan mencari penjelasan. Orang yang tidak memiliki keinginan demikian dapat berhenti pada cerita dan tidak pernah masuk kepada makna rohaninya.
Karena itu, fungsi penghakiman perumpamaan bukan berarti Yesus menciptakan kebutaan rohani dari keadaan netral. Lebih tepat dikatakan bahwa pemberitaan Kerajaan Allah menyingkapkan dan memperdalam konsekuensi dari respons manusia terhadap kebenaran. Dalam konteks tertentu, penolakan yang terus-menerus terhadap terang dapat menghasilkan keadaan hati yang semakin keras. Inilah salah satu pola penting yang dapat ditemukan dalam keseluruhan Alkitab.
Apakah Allah Menyembunyikan Kebenaran dari Sebagian Orang?
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara sederhana dengan “ya” atau “tidak”. Ada bagian Alkitab yang dengan jelas mengatakan bahwa Allah menyatakan kebenaran kepada manusia tertentu dan memberikan pemahaman kepada mereka. Ada pula bagian yang menggambarkan manusia sebagai pihak yang menolak, mengeraskan hati, dan tidak mau mendengar. Karena itu, teologi Kristen perlu mempertahankan kedua sisi kesaksian Alkitab tanpa menghapus salah satunya.
Matius 11:25–27 merupakan salah satu bagian penting. Yesus memuji Bapa karena hal-hal tertentu disembunyikan dari orang bijak dan pandai tetapi dinyatakan kepada orang kecil. Dalam konteks tersebut, persoalannya bukan bahwa orang berpendidikan secara otomatis tidak dapat mengenal Allah. Yang dikritik adalah sikap manusia yang merasa memiliki kebijaksanaan sendiri sehingga tidak mau menerima apa yang Allah nyatakan.
Paulus memberikan prinsip yang sejalan dalam 1 Korintus 1:26–29. Allah memilih hal-hal yang dianggap lemah dan hina oleh dunia supaya tidak seorang pun dapat memegahkan diri di hadapan-Nya. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa pengenalan akan Allah tidak dapat dijadikan alasan untuk membanggakan kemampuan manusia. Keselamatan dan pengenalan akan Allah pada akhirnya bergantung pada anugerah-Nya.
Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa Allah secara sewenang-wenang mencegah orang yang sungguh-sungguh ingin datang kepada-Nya. Kesaksian Injil tetap berisi undangan yang luas. Matius 11:28 memanggil semua yang letih dan berbeban berat untuk datang kepada Yesus, sedangkan Yohanes 6:37 mengatakan bahwa siapa yang datang kepada-Nya tidak akan dibuang.
Dengan demikian, kita harus membedakan antara Allah tidak menyatakan segala sesuatu kepada semua orang dengan tingkat yang sama dan Allah secara aktif menghalangi orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Alkitab jelas menunjukkan yang pertama, tetapi kesimpulan kedua tidak boleh dibuat tanpa memperhatikan keseluruhan kesaksian Kitab Suci.
Kedaulatan Allah dan Tanggung Jawab Manusia
Salah satu persoalan terbesar dalam Matius 13 adalah hubungan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Kedaulatan Allah berarti Allah memiliki otoritas tertinggi atas ciptaan dan sejarah serta tidak kehilangan kendali atas rencana-Nya. Tanggung jawab manusia berarti manusia sungguh-sungguh bertanggung jawab terhadap keputusan dan responsnya terhadap Allah. Alkitab mengajarkan kedua hal tersebut secara bersamaan.
Misalnya, dalam Kisah Para Rasul 2:23, kematian Yesus disebut berlangsung menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditentukan sebelumnya, tetapi manusia yang menyerahkan dan menyalibkan Yesus tetap dipersalahkan. Di sini kita melihat dua realitas yang berjalan bersamaan. Allah berdaulat atas sejarah keselamatan, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas tindakan jahatnya.
Prinsip yang sama terlihat dalam Kisah Para Rasul 4:27–28. Herodes, Pontius Pilatus, bangsa-bangsa, dan orang-orang Israel berkumpul melawan Yesus, tetapi tindakan mereka sekaligus berada dalam kerangka yang telah ditentukan oleh tangan dan rencana Allah. Teks tersebut tidak mengatakan bahwa karena Allah berdaulat maka manusia tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, keduanya dinyatakan dalam satu kerangka sejarah yang sama.
Karena itu, ketika Matius 13 mengatakan bahwa kepada sebagian orang diberikan kemampuan untuk mengetahui rahasia Kerajaan, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa manusia tidak mempunyai tanggung jawab. Mereka yang mendengar tetap dipanggil untuk mendengar. Mereka yang melihat tetap dipanggil untuk melihat. Mereka yang menerima firman tetap dipanggil untuk menghasilkan buah.
Apakah Ketidakmengertian Selalu Berarti Penolakan?
Tidak. Ini merupakan pembedaan yang sangat penting. Seseorang dapat tidak memahami sebuah bagian Alkitab karena keterbatasan pengetahuan, latar belakang, pengalaman, bahasa, atau karena ia masih berada dalam proses pertumbuhan iman. Ketidakmengertian seperti itu tidak otomatis berarti bahwa orang tersebut sedang menolak Allah.
Para murid sendiri menjadi contoh yang kuat. Mereka mengikuti Yesus, tetapi berkali-kali tidak memahami perkataan-Nya. Dalam Markus 9:32 dikatakan bahwa mereka tidak memahami perkataan Yesus tentang penderitaan-Nya, tetapi mereka takut menanyakan hal itu kepada-Nya. Ketidakmengertian mereka tidak langsung berarti bahwa mereka ditolak oleh Allah.
Demikian juga setelah kebangkitan, Lukas 24:25–27 menunjukkan bahwa murid-murid membutuhkan penjelasan Yesus mengenai Kitab Suci dan hubungan nubuat dengan penderitaan Mesias. Yesus menolong mereka memahami apa yang sebelumnya belum mereka mengerti. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pemahaman merupakan bagian dari kehidupan murid.
Karena itu, kita harus berhati-hati menggunakan Matius 13:11–15 terhadap orang lain. Tidak semua orang yang belum memahami suatu ajaran Kristen berarti hatinya keras. Ada orang yang sedang mencari, bertanya, bergumul, dan membutuhkan pengajaran. Sikap yang benar terhadap mereka bukanlah segera menghakimi, melainkan membantu mereka memahami firman dengan sabar.
Perbedaan antara Ketidaktahuan dan Kekerasan Hati
Secara teologis, kita perlu membedakan ketidaktahuan dengan kekerasan hati. Ketidaktahuan berarti seseorang belum mengetahui atau belum memahami sesuatu. Kekerasan hati berarti seseorang menolak untuk tunduk kepada kebenaran meskipun telah menerima penyataan yang cukup untuk merespons dengan benar.
Paulus memberikan contoh dirinya sendiri dalam 1 Timotius 1:13. Ia mengatakan bahwa dahulu ia adalah seorang penghujat, penganiaya, dan seorang ganas, tetapi ia memperoleh belas kasihan karena ia melakukannya tanpa pengetahuan dalam ketidakpercayaan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kondisi seseorang dapat melibatkan ketidaktahuan sekaligus dosa. Namun, setelah menerima terang Kristus, Paulus berubah secara radikal.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa kita tidak boleh menganggap setiap bentuk ketidakmengertian sebagai keadaan yang sama. Ada orang yang belum mengerti tetapi sedang mencari. Ada orang yang belum mengerti karena belum pernah menerima pengajaran yang memadai. Ada pula orang yang tidak mau mengerti karena menolak apa yang sebenarnya sudah ia ketahui. Matius 13 terutama menyoroti kategori terakhir dalam konteks penghakiman yang dibangun melalui kutipan Yesaya.
Kekerasan Hati sebagai Proses
Alkitab sering menggambarkan kekerasan hati bukan sebagai sesuatu yang muncul dalam satu detik tanpa sebab, tetapi sebagai kondisi yang dapat berkembang melalui pola penolakan. Ibrani 3:7–8 memperingatkan, “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.” Kata “hari ini” menunjukkan adanya kesempatan untuk merespons.
Peringatan tersebut sangat penting karena memperlihatkan bahwa hati manusia dapat menjadi semakin keras apabila seseorang terus menolak suara Allah. Ketika seseorang menolak kebenaran sekali, ia dapat menolak lagi; ketika penolakan menjadi kebiasaan, kepekaan terhadap kebenaran dapat semakin berkurang. Dalam pengertian tersebut, penghakiman Allah dan kekerasan hati manusia tidak dapat dipisahkan secara sembarangan.
Ibrani 3:12–13 bahkan mengingatkan agar orang percaya saling menasihati setiap hari supaya tidak ada seorang pun menjadi tegar karena tipu daya dosa. Tegar hati berarti menjadi keras, tidak peka, dan sulit diarahkan kembali kepada kebenaran. Dengan demikian, Alkitab memperlakukan kondisi hati sebagai sesuatu yang perlu dijaga, bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh.
Hubungan Matius 13 dengan Firaun
Kisah Firaun memberikan analogi teologis yang membantu. Dalam kitab Keluaran terdapat beberapa pernyataan bahwa Firaun mengeraskan hatinya dan beberapa pernyataan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun. Keduanya tidak boleh dipertentangkan secara dangkal karena penulis kitab Keluaran memang menyajikan kedua perspektif tersebut.
Misalnya, Keluaran 8:15 mengatakan bahwa setelah Firaun melihat keadaan menjadi lebih ringan, ia mengeraskan hatinya. Keluaran 8:32 kembali mengatakan bahwa Firaun mengeraskan hatinya. Namun, Keluaran 9:12 menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun. Keluaran 10:1 juga menyatakan bahwa Tuhan membuat hati Firaun dan hati para pegawainya menjadi keras.
Bagaimana keduanya dapat benar? Salah satu cara yang sesuai dengan pola narasi Alkitab adalah melihat pengerasan hati sebagai bagian dari penghakiman Allah terhadap sikap pemberontakan manusia. Allah tidak bertindak tanpa konteks moral. Firaun telah berulang kali menolak perintah Allah, sehingga pengerasan hati dalam narasi tersebut menjadi bagian dari penghakiman yang sekaligus menggenapi maksud Allah dalam menunjukkan kuasa-Nya.
Pola ini membantu kita membaca Matius 13 dengan lebih hati-hati. Ketika Allah menghakimi manusia dengan membiarkan mereka semakin terikat pada penolakan mereka, hal tersebut tidak berarti bahwa manusia sebelumnya tidak mempunyai kehendak atau tanggung jawab. Sebaliknya, penghakiman tersebut menunjukkan betapa seriusnya konsekuensi dari terus-menerus menolak kebenaran.
Apakah Allah Memberi Pemahaman kepada Murid karena Mereka Lebih Baik?
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa para murid memperoleh pemahaman karena mereka secara moral lebih baik daripada orang lain. Petrus pernah gagal memahami Yesus, para murid pernah bertengkar mengenai siapa yang terbesar, dan mereka bahkan meninggalkan Yesus ketika Ia ditangkap. Dengan demikian, kualitas mereka bukan alasan yang memadai untuk menjelaskan mengapa mereka dapat menerima pemahaman.
Hal ini justru memperkuat konsep anugerah. Anugerah berarti pemberian Allah yang tidak didasarkan pada jasa manusia. Jika para murid memahami rahasia Kerajaan karena Allah memberikan pemahaman tersebut, maka mereka tidak mempunyai alasan untuk membanggakan diri. Paulus bahkan mengatakan dalam 1 Korintus 4:7, “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?”
Namun, anugerah tidak berarti bahwa para murid pasif. Mereka mengikuti Yesus, mendengar, bertanya, meninggalkan banyak hal untuk mengikutinya, dan belajar dari-Nya. Respons mereka tidak membeli anugerah Allah, tetapi respons tersebut merupakan bagian dari kehidupan orang yang menerima panggilan Allah.
Apakah Perumpamaan Membuat Keselamatan Menjadi Sulit?
Tidak tepat mengatakan bahwa perumpamaan pada dirinya sendiri membuat keselamatan menjadi mustahil. Bahkan beberapa perumpamaan justru menyampaikan undangan yang sangat kuat untuk menerima Kerajaan Allah. Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang sangat berharga menggambarkan Kerajaan sebagai sesuatu yang layak dicari dan dihargai di atas segala sesuatu.
Perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Lukas 15 juga memperlihatkan hati Allah terhadap orang yang tersesat. Gembala mencari domba yang hilang sampai menemukannya dan bersukacita ketika menemukannya. Gambaran tersebut bertentangan dengan gagasan bahwa Allah tidak peduli kepada manusia yang tersesat.
Yesus juga menggunakan perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:11–32 untuk menggambarkan penerimaan Bapa terhadap anak yang kembali. Walaupun konteks dan detail teologisnya berbeda dengan Matius 13, kumpulan perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan cerita oleh Yesus tidak secara umum dimaksudkan untuk menutup pintu pertobatan. Sebaliknya, perumpamaan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan belas kasihan Allah dengan cara yang menggugah hati.
Perumpamaan Mengungkapkan Nilai Kerajaan Allah
Salah satu fungsi penting perumpamaan adalah menunjukkan nilai Kerajaan Allah. Dalam Matius 13:44, Kerajaan Surga diumpamakan seperti harta yang terpendam di ladang. Orang yang menemukannya kemudian menyembunyikannya kembali dan dengan sukacita menjual segala miliknya untuk membeli ladang tersebut. Fokus cerita bukan pada teknik menemukan harta, tetapi pada nilai Kerajaan yang begitu besar.
Demikian pula dalam Matius 13:45–46, seorang pedagang mencari mutiara yang indah. Ketika ia menemukan satu mutiara yang sangat berharga, ia menjual seluruh miliknya untuk membelinya. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah memiliki nilai yang melampaui segala sesuatu yang dianggap berharga oleh manusia.
Dengan demikian, perumpamaan tidak hanya menjawab pertanyaan “Apa itu Kerajaan Allah?” tetapi juga “Bagaimana seharusnya manusia memandang Kerajaan Allah?” Orang yang memahami nilainya akan merespons dengan kesungguhan. Orang yang menganggapnya tidak berharga akan melewatkannya. Respons terhadap berita Kerajaan dengan demikian menjadi indikator kondisi hati.
Mengapa Yesus Tidak Selalu Memberikan Penjelasan kepada Semua Orang?
Pertanyaan ini kembali membawa kita kepada Matius 13. Mengapa Yesus menjelaskan perumpamaan tertentu kepada murid-murid secara khusus, tetapi tidak memberikan uraian panjang kepada semua orang? Salah satu jawabannya adalah bahwa pengajaran Yesus tidak selalu ditujukan untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia. Ia menuntut hubungan, ketaatan, dan kesediaan untuk menjadi murid.
Ada perbedaan antara orang yang hanya ingin mendapatkan informasi dan orang yang ingin mengikuti kebenaran. Dalam Injil Yohanes 6, misalnya, banyak orang mengikuti Yesus karena telah makan roti dan dikenyangkan, tetapi ketika Yesus memberikan pengajaran yang lebih sulit, banyak dari mereka mengundurkan diri. Hal tersebut menunjukkan bahwa mengikuti Yesus karena keuntungan tertentu berbeda dengan menerima Dia karena kebenaran-Nya.
Murid-murid juga tidak selalu memahami semuanya, tetapi mereka tetap datang kepada Yesus. Dalam Yohanes 6:68, Petrus berkata, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” Pernyataan tersebut memperlihatkan sikap yang sangat penting: bahkan ketika mereka tidak memahami segala sesuatu, mereka tetap percaya kepada Pribadi yang berbicara.
Dengan demikian, Yesus tidak sekadar mencari pendengar yang mampu memecahkan teka-teki. Ia mencari murid yang mau mengikuti-Nya. Perumpamaan mengundang pendengar untuk mengambil posisi terhadap Kerajaan dan terhadap Sang Raja yang memberitakannya.
Hubungan antara Pemahaman, Iman, dan Ketaatan
Dalam Alkitab, pemahaman, iman, dan ketaatan memiliki hubungan yang erat. Pemahaman yang benar seharusnya mengarah kepada iman, sedangkan iman yang sejati menghasilkan ketaatan. Namun, hubungan ini bukan berarti bahwa seseorang harus memahami seluruh doktrin Kristen terlebih dahulu baru dapat percaya.
Para murid memperlihatkan bahwa iman dapat mendahului pemahaman yang lengkap. Mereka mengikuti Yesus sebelum memahami sepenuhnya siapa Dia dan bagaimana karya-Nya akan berlangsung. Kemudian, melalui proses berjalan bersama Yesus, pemahaman mereka bertumbuh. Hal tersebut memberikan gambaran penting mengenai kehidupan iman sebagai proses pembelajaran.
Roma 10:17 berkata bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Firman harus didengar, tetapi pendengaran tersebut tidak boleh berhenti sebagai suara yang lewat. Dalam Yakobus 1:22, orang percaya diperingatkan untuk menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar. Dengan demikian, pemahaman yang tidak menghasilkan respons dapat menjadi pengetahuan yang tidak berbuah.
Apakah Matius 13 Mengajarkan Determinisme?
Determinisme adalah pandangan bahwa seluruh tindakan manusia ditentukan sedemikian rupa sehingga manusia tidak memiliki tanggung jawab nyata atas pilihannya. Matius 13:11–15 tidak dengan sendirinya mengajarkan bentuk determinisme seperti itu. Yesus tetap berbicara kepada pendengar sebagai manusia yang bertanggung jawab untuk mendengar dan merespons.
Bahkan struktur perumpamaan penabur menunjukkan adanya panggilan kepada pendengar. Yesus berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” Jika manusia sama sekali tidak memiliki tanggung jawab terhadap responsnya, seruan tersebut kehilangan fungsi moralnya. Sebaliknya, seruan tersebut menunjukkan bahwa manusia dipanggil untuk memperhatikan firman.
Pada saat yang sama, teks tersebut juga tidak mengajarkan bahwa manusia dapat memahami dan menyelamatkan dirinya sendiri tanpa anugerah Allah. Yesus berkata bahwa kepada murid-murid diberikan kemampuan untuk mengetahui rahasia Kerajaan. Jadi, Alkitab tidak menghapus kedaulatan Allah demi mempertahankan tanggung jawab manusia, dan tidak pula menghapus tanggung jawab manusia demi mempertahankan kedaulatan Allah.
Kedua realitas tersebut harus diterima sebagaimana kesaksian Alkitab menyajikannya. Ketika kita tidak dapat menjelaskan seluruh mekanismenya secara filosofis, sikap yang tepat bukan memaksakan jawaban, melainkan mengakui bahwa terdapat kedalaman dalam hubungan antara karya Allah dan respons manusia yang melampaui kemampuan kita untuk menguraikannya secara sempurna.
Apakah Allah Bertanggung Jawab atas Ketidakpercayaan Manusia?
Ini adalah pertanyaan yang sangat sensitif. Jika Allah berdaulat dan memberikan pemahaman kepada sebagian orang, apakah berarti Allah menjadi penyebab ketidakpercayaan orang lain? Alkitab membedakan dengan jelas antara tindakan Allah yang kudus dan dosa manusia.
Yakobus 1:13 mengatakan bahwa ketika dicobai, seseorang tidak boleh berkata bahwa pencobaan itu datang dari Allah, sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Ayat ini penting karena menunjukkan bahwa Allah tidak dapat dijadikan sumber moral dari dosa manusia. Jika manusia menolak Allah dan berbuat dosa, tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.
Namun, Alkitab juga berbicara mengenai penghakiman Allah terhadap orang yang terus menolak. Roma 1:24, 26, dan 28 berulang kali menggunakan gagasan bahwa Allah “menyerahkan” manusia kepada keinginan mereka sendiri. Istilah tersebut menunjukkan bentuk penghakiman di mana Allah membiarkan manusia mengalami konsekuensi dari arah yang mereka pilih.
Pola tersebut memberikan kerangka yang sangat berguna untuk memahami Matius 13. Ketika manusia terus menolak terang, Allah dapat menghakimi mereka dengan membiarkan penolakan itu menghasilkan kebutaan rohani yang semakin dalam. Tetapi hal tersebut tidak berarti Allah menciptakan dosa dalam hati manusia yang sebelumnya tidak memiliki kecenderungan demikian.
Mengapa Allah Tidak Membuat Semua Orang Memahami dengan Cara yang Sama?
Kita sekarang sampai pada pertanyaan yang lebih luas. Jika Allah ingin manusia mengenal-Nya, mengapa Ia tidak memberikan pemahaman yang sama kepada semua orang? Alkitab tidak memberikan satu jawaban filosofis yang menyelesaikan setiap aspek pertanyaan ini. Namun, Alkitab menunjukkan bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui berbagai cara, sementara manusia memberikan respons yang berbeda.
Mazmur 19 berbicara tentang penyataan Allah melalui ciptaan. Roma 1:19–20 menjelaskan bahwa beberapa aspek mengenai Allah dapat diketahui melalui apa yang telah diciptakan. Yohanes 1:9 berbicara mengenai terang yang datang ke dalam dunia. Ibrani 1:1–2 kemudian menunjukkan bahwa Allah pada zaman akhir berbicara kepada manusia melalui Anak-Nya.
Dengan demikian, masalah manusia bukan sekadar kekurangan informasi. Ada persoalan mengenai bagaimana manusia merespons apa yang telah Allah nyatakan. Roma 1 bahkan menggambarkan manusia yang mengetahui tentang Allah tetapi menekan kebenaran dengan kelaliman. Karena itu, Matius 13 harus dibaca dalam kerangka yang lebih luas bahwa manusia dapat memiliki akses kepada kebenaran tetapi tetap menolak kebenaran tersebut.
Perumpamaan dan Misteri Kerajaan yang Sudah dan Belum Selesai
Teologi Perjanjian Baru sering menggunakan konsep “sudah tetapi belum” untuk menjelaskan Kerajaan Allah. Artinya, pemerintahan Allah sudah hadir secara nyata melalui Yesus Kristus, tetapi penggenapan akhirnya belum selesai. Kerajaan itu sudah hadir, tetapi kepenuhannya baru akan dinyatakan secara sempurna pada masa yang akan datang.
Perumpamaan-perumpamaan Matius 13 sangat sesuai dengan pola tersebut. Benih telah ditaburkan, tetapi panen belum tiba. Gandum dan lalang tumbuh bersama sampai waktu menuai. Biji sesawi mulai kecil tetapi berkembang menjadi besar. Ragi bekerja secara tersembunyi tetapi menghasilkan perubahan.
Dengan demikian, Yesus menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan mengapa Kerajaan Allah dapat benar-benar hadir tetapi belum menghasilkan seluruh bentuk kemuliaan akhirnya. Orang mungkin bertanya, “Jika Yesus adalah Raja, mengapa masih ada kejahatan? Mengapa masih ada penolakan? Mengapa Kerajaan tampak kecil?” Perumpamaan memberikan jawaban bahwa pekerjaan Allah dapat dimulai secara tersembunyi dan berkembang menuju penggenapan yang pasti.
Hal tersebut juga membantu menjelaskan mengapa sebagian orang gagal memahami. Mereka mengharapkan Kerajaan dalam bentuk yang langsung spektakuler dan politis, sedangkan Yesus menyatakan Kerajaan melalui cara yang sering tampak sederhana: benih, tanah, ragi, jala, dan seorang penabur. Hanya orang yang bersedia mendengar dengan benar yang dapat melihat kedalaman dari gambaran tersebut.
Apa yang Harus Kita Lakukan Ketika Tidak Memahami Firman?
Matius 13 tidak seharusnya membuat pembaca takut bahwa setiap ketidakmengertian adalah tanda bahwa Allah telah menutup hatinya. Sebaliknya, respons pertama ketika tidak memahami firman adalah datang kepada Allah dengan kerendahan hati. Doa untuk meminta hikmat sesuai dengan Yakobus 1:5 merupakan respons yang tepat. Selain itu, pembaca dapat mempelajari konteks, membandingkan ayat dengan ayat, dan meminta bantuan dari orang yang memiliki pemahaman Alkitab yang baik.
Kita juga perlu memiliki kesediaan untuk mengakui bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang sama tingkat kepastiannya. Ada ajaran yang dinyatakan dengan sangat jelas, sementara ada bagian yang memerlukan penafsiran yang lebih hati-hati. Penafsiran berarti proses memahami maksud suatu teks berdasarkan bahasa, konteks, latar belakang, dan hubungannya dengan keseluruhan Alkitab. Sikap rendah hati dalam penafsiran penting agar kita tidak menyatakan pendapat pribadi seolah-olah merupakan perkataan langsung dari Allah.
Ketika suatu bagian sulit, kita juga tidak boleh mengambil satu ayat lalu menggunakannya untuk membatalkan puluhan ayat lain. Matius 13:11–15 harus dibaca bersama Matius 11:28, Yohanes 6:37, Yohanes 7:37, 1 Timotius 2:3–4, 2 Petrus 3:9, dan berbagai bagian lain yang berbicara mengenai panggilan keselamatan. Keselarasan keseluruhan kesaksian Alkitab harus menjadi pertimbangan penting.
Implikasi bagi Pemberitaan Injil
Jika perumpamaan memiliki fungsi pewahyuan sekaligus penghakiman, bagaimana seharusnya gereja memberitakan Injil? Jawabannya adalah bahwa gereja tidak boleh memilih siapa yang “layak” mendengar Injil berdasarkan penilaian manusia terhadap hati mereka. Amanat Yesus adalah memberitakan Injil kepada semua bangsa.
Paulus mengatakan dalam Roma 10:14–15 bahwa manusia perlu mendengar supaya dapat percaya, dan mereka perlu mendengar melalui pemberitaan. Hal ini menunjukkan pentingnya penyampaian firman. Gereja tidak dipanggil untuk menyembunyikan kebenaran dengan alasan bahwa mungkin ada orang yang tidak akan menerimanya.
Sebaliknya, pemberitaan harus dilakukan dengan kesetiaan dan kasih. Hasil akhirnya bukan sesuatu yang dapat dikendalikan sepenuhnya oleh pengkhotbah. Paulus dapat menanam dan Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan, sebagaimana digambarkan dalam 1 Korintus 3:6. Prinsip ini sangat sejalan dengan perumpamaan tentang penabur: tugas manusia adalah menaburkan firman dengan setia, sedangkan pertumbuhan berada dalam karya Allah.
Pelajaran tentang Kerendahan Hati dalam Memahami Alkitab
Matius 13 juga mengingatkan kita bahwa memahami Alkitab bukan alasan untuk menjadi sombong. Para murid menerima pemahaman sebagai karunia, bukan sebagai bukti bahwa mereka lebih unggul daripada orang lain. Paulus memperingatkan jemaat Korintus bahwa pengetahuan dapat membuat orang menjadi sombong apabila tidak disertai kasih (1 Korintus 8:1). Karena itu, pemahaman yang benar seharusnya menghasilkan kerendahan hati.
Orang yang memahami firman dengan benar seharusnya semakin menyadari kebesaran Allah dan keterbatasan dirinya. Ia tidak akan tergesa-gesa mengatakan bahwa semua orang yang berbeda dengannya pasti tidak memiliki Roh Kudus. Ia juga tidak akan menggunakan ayat sulit sebagai senjata untuk merendahkan orang lain. Sebaliknya, ia akan menjelaskan kebenaran dengan kesabaran dan kasih.
Prinsip tersebut sangat penting untuk artikel dan pengajaran Kristen. Tujuan memahami Matius 13:11–15 bukan memenangkan perdebatan teologis. Tujuannya adalah memahami perkataan Yesus secara benar, menjaga karakter Allah tetap dipahami sesuai kesaksian Kitab Suci, dan membantu pembaca merespons firman dengan hati yang benar.
Jawaban Teologis Sementara terhadap Pertanyaan Utama
Setelah menelusuri berbagai sisi, kita dapat memberikan jawaban teologis yang lebih seimbang. Yesus menggunakan perumpamaan untuk menyatakan kebenaran tentang Kerajaan Allah dengan cara yang menuntut pendengar untuk mendengar, berpikir, mencari, dan merespons. Namun, dalam konteks penolakan yang semakin kuat terhadap-Nya, perumpamaan juga mempunyai fungsi penghakiman: orang yang terus menolak kebenaran dapat semakin tidak memahami apa yang didengarnya.
Dengan demikian, kita tidak seharusnya mengatakan bahwa Yesus menggunakan perumpamaan semata-mata supaya orang tidak memahami. Pernyataan tersebut terlalu sederhana dan tidak sesuai dengan kenyataan bahwa Yesus memberikan penjelasan kepada murid-murid yang datang dan bertanya, serta bahwa Injil secara keseluruhan terus memanggil manusia kepada pertobatan dan iman. Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan perkataan Matius 13:13–15 bahwa terdapat pendengar yang melihat tetapi tidak melihat dan mendengar tetapi tidak memahami.
Secara teologis, ketegangan tersebut dapat dipahami melalui hubungan antara pewahyuan, respons manusia, anugerah, dan penghakiman. Allah menyatakan kebenaran dan memberikan pemahaman sebagai anugerah, manusia bertanggung jawab untuk mendengar dan merespons, dan penolakan yang terus-menerus terhadap terang dapat menghasilkan pengerasan hati yang semakin dalam. Pada titik tertentu, penghakiman Allah dapat dinyatakan dengan membiarkan manusia mengikuti jalan yang terus dipilihnya sendiri. Namun, mekanisme hubungan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia tetap merupakan misteri yang tidak boleh dipaksa masuk ke dalam formula sederhana.
Yang paling jelas dari Matius 13 adalah bahwa masalahnya bukan sekadar apakah telinga manusia mendengar suara Yesus, melainkan apakah hati manusia bersedia menerima kebenaran yang sedang disampaikan-Nya. Itulah sebabnya perumpamaan penabur menjadi begitu penting. Benih yang sama ditaburkan, tetapi tanah yang berbeda menghasilkan respons yang berbeda. Dengan demikian, pertanyaan Yesus bukan hanya “Apakah kamu mendengar?”, tetapi juga “Bagaimana kamu mendengar?”
Kesimpulan
Pembahasan mengenai Matius 13:11–15 membawa kita kepada sebuah kesimpulan yang lebih dalam daripada sekadar mengatakan bahwa Yesus menggunakan perumpamaan untuk membuat orang sulit memahami ajaran-Nya. Pernyataan Yesus tentang “rahasia Kerajaan Surga” harus dibaca dalam keseluruhan konteks pelayanan-Nya, terutama dalam hubungan antara pewahyuan Allah, respons manusia, dan kenyataan bahwa sebagian pendengar terus-menerus menolak apa yang telah mereka dengar dan lihat. Perumpamaan karena itu mempunyai dua fungsi yang berjalan bersamaan, yaitu menyatakan kebenaran mengenai Kerajaan Allah kepada mereka yang mau mendengar dan sekaligus menyingkapkan keadaan hati mereka yang menolak kebenaran tersebut. Ketegangan antara kedua fungsi itu merupakan bagian penting yang tidak boleh dihilangkan ketika kita menafsirkan perkataan Yesus dalam Matius 13:11–15.
Pertama-tama, kita harus menolak pemahaman bahwa Yesus sengaja membuat kebenaran menjadi kabur karena Ia tidak menghendaki manusia memperoleh keselamatan. Keseluruhan kesaksian Perjanjian Baru tidak mendukung kesimpulan tersebut. Yesus berulang kali memanggil manusia untuk bertobat, percaya, datang kepada-Nya, mendengar perkataan-Nya, dan melakukan kehendak Allah. Bahkan ketika menggunakan perumpamaan, Yesus tetap berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” sebagaimana terlihat dalam Matius 13:9. Seruan tersebut menunjukkan bahwa perumpamaan bukanlah pintu yang sengaja ditutup bagi manusia, melainkan panggilan untuk mendengar dengan perhatian, kerendahan hati, dan kesiapan untuk memberikan respons kepada Allah.
Kedua, Matius 13:11–15 menunjukkan bahwa kemampuan memahami kebenaran rohani tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan intelektual. Seseorang dapat memiliki kemampuan membaca, mendengar, dan bahkan menghafal perkataan Yesus, tetapi tetap tidak memahami makna rohaninya karena hatinya tidak bersedia menerima kebenaran tersebut. Dalam bahasa Alkitab, “hati” sering menunjuk kepada pusat kehidupan manusia yang mencakup pikiran, kehendak, keinginan, dan respons moral, bukan sekadar perasaan. Karena itu, ketika Yesus berbicara mengenai orang yang “mendengar tetapi tidak mengerti” dan “melihat tetapi tidak menanggap,” persoalannya tidak dapat direduksi menjadi persoalan kemampuan akademis.
Ketiga, kutipan Yesaya 6:9–10 memperlihatkan bahwa keadaan tersebut memiliki latar belakang penghakiman Allah terhadap hati yang terus-menerus menolak-Nya. Yesaya diutus kepada suatu bangsa yang telah menerima banyak penyataan Allah, tetapi tidak memberikan respons yang benar terhadap penyataan tersebut. Dalam konteks Matius, prinsip yang sama terlihat dalam kehidupan orang-orang yang menyaksikan karya Yesus secara langsung tetapi tetap menolak mengakui karya Allah di dalam Dia. Dengan demikian, ketidakmampuan memahami yang digambarkan dalam Matius 13 bukanlah gambaran tentang Allah yang secara sewenang-wenang mengambil kemampuan memahami dari orang yang tulus mencari-Nya, melainkan bagian dari gambaran serius mengenai akibat penolakan yang terus dipelihara terhadap kebenaran yang telah dinyatakan.
Keempat, kita juga harus berhati-hati dalam membedakan antara orang yang belum memahami dan orang yang dengan sengaja mengeraskan hati. Perbedaan ini sangat penting karena para murid sendiri sering kali belum memahami perkataan Yesus dengan segera. Mereka bertanya, meminta penjelasan, salah memahami perkataan tertentu, bahkan pada beberapa kesempatan menunjukkan kebingungan mengenai identitas dan misi Yesus. Namun, mereka tetap datang kepada Yesus dan meminta penjelasan. Sikap seperti itu berbeda dari sikap seseorang yang telah mendengar kebenaran tetapi terus-menerus menolaknya karena tidak mau tunduk kepada kebenaran tersebut.
Kelima, contoh para murid memberikan penghiburan sekaligus peringatan bagi pembaca masa kini. Penghiburannya adalah bahwa belum memahami suatu bagian Alkitab bukan berarti seseorang pasti jauh dari Allah atau tidak memiliki iman. Ada banyak bagian Kitab Suci yang memang membutuhkan waktu, doa, penelitian, perbandingan dengan ayat-ayat lain, dan bimbingan yang sehat untuk dipahami. Peringatannya adalah bahwa kesulitan memahami firman tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti mencari, terutama ketika kesulitan tersebut sebenarnya berasal dari keengganan untuk menerima kebenaran yang sudah cukup jelas.
Keenam, perumpamaan Yesus memperlihatkan bahwa Kerajaan Surga tidak selalu hadir dalam bentuk yang langsung sesuai dengan harapan manusia. Dalam Matius 13, Kerajaan itu digambarkan melalui benih yang ditaburkan, tanah yang menerima atau menolak benih, gandum dan lalang yang tumbuh bersama, biji sesawi yang sangat kecil tetapi kemudian menjadi besar, ragi yang bekerja secara tersembunyi, harta yang tersembunyi, mutiara yang sangat berharga, dan pukat yang menangkap berbagai jenis ikan. Semua gambaran tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan Allah tidak selalu berlangsung dengan cara yang spektakuler menurut ukuran manusia. Perumpamaan menolong pendengar melihat realitas Kerajaan melalui gambaran kehidupan sehari-hari, tetapi sekaligus menuntut mereka untuk melihat lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan.
Ketujuh, penggunaan perumpamaan juga berkaitan dengan pola pewahyuan Allah yang sering kali menuntut manusia untuk datang dengan sikap mencari. Allah tidak selalu memberikan seluruh kedalaman kebenaran-Nya dalam bentuk penjelasan yang langsung, sederhana, dan lengkap pada satu waktu. Dalam Alkitab, manusia berkali-kali dipanggil untuk mencari hikmat, merenungkan firman, menguji pengertian, dan bertumbuh dalam pengetahuan akan Allah. Amsal 2:3–5, misalnya, menggambarkan pencarian hikmat seperti seseorang yang mencari perak dan menggali harta terpendam. Karena itu, keberadaan bagian-bagian Alkitab yang sulit bukanlah alasan untuk meninggalkan firman Tuhan, melainkan undangan untuk mempelajarinya dengan lebih sungguh-sungguh.
Kedelapan, kita perlu memahami hubungan antara kasih karunia Allah dan tanggung jawab manusia secara seimbang. Kasih karunia adalah kebaikan Allah yang diberikan kepada manusia bukan karena manusia telah berhasil memperolehnya dengan kekuatannya sendiri. Namun, fakta bahwa keselamatan merupakan karya kasih karunia tidak menghapus tanggung jawab manusia untuk merespons panggilan Allah. Sebaliknya, Alkitab terus-menerus memperlihatkan bahwa manusia dipanggil untuk bertobat, percaya, mendengar, mengikuti, dan menaati Allah, sementara pada saat yang sama keselamatan tetap berasal dari pekerjaan Allah.
Ketegangan ini tidak boleh diselesaikan dengan mengorbankan salah satu sisi kesaksian Alkitab. Jika seseorang hanya menekankan kedaulatan Allah tanpa memperhatikan tanggung jawab manusia, ia dapat jatuh ke dalam fatalisme, yaitu pandangan bahwa manusia tidak perlu merespons karena segala sesuatu sudah ditentukan tanpa mempertimbangkan respons manusia. Sebaliknya, jika seseorang hanya menekankan kemampuan manusia tanpa mengakui kebutuhan akan kasih karunia, ia dapat mereduksi keselamatan menjadi hasil kemampuan manusia sendiri. Matius 13:11–15 tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan seluruh persoalan filosofis mengenai hubungan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia, tetapi bagian ini dengan jelas menunjukkan bahwa Allah menyatakan kebenaran dan manusia bertanggung jawab terhadap responsnya.
Kesembilan, kita harus memahami bahwa “mendengar” dalam konteks pengajaran Yesus tidak berarti sekadar menerima gelombang suara atau membaca kata-kata secara fisik. Mendengar dalam pengertian alkitabiah sering kali mempunyai dimensi respons, yaitu mendengarkan dengan kesiapan untuk menerima dan melakukan apa yang telah didengar. Itulah sebabnya Yesus dalam Matius 7:24 membandingkan orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya dengan orang bijaksana yang membangun rumah di atas batu. Jadi, ukuran keberhasilan mendengar firman bukan hanya seberapa banyak informasi yang masuk ke dalam pikiran, tetapi juga apakah kebenaran tersebut membentuk kehidupan.
Kesepuluh, Matius 13 juga memperlihatkan bahwa firman yang sama dapat menghasilkan respons yang sangat berbeda dalam diri orang yang berbeda. Perumpamaan tentang penabur tidak mengatakan bahwa masalah utama terletak pada kualitas benih, sebab benih yang sama ditaburkan kepada berbagai jenis tanah. Perbedaannya terletak pada kondisi tanah yang menggambarkan respons manusia terhadap firman. Gambaran tersebut menolong kita memahami bahwa ketika seseorang mendengar firman tetapi tidak menghasilkan buah, kita tidak boleh terburu-buru menyalahkan pesan firman itu sendiri, sebab masalahnya dapat terletak pada bagaimana firman tersebut diterima dan dipelihara dalam kehidupan.
Namun demikian, gambaran tentang berbagai jenis tanah tidak boleh digunakan untuk menghakimi orang lain dengan mudah. Kita tidak memiliki kemampuan sempurna untuk mengetahui kedalaman hati seseorang. Bahkan seseorang yang tampaknya lambat memahami firman hari ini dapat mengalami pertumbuhan iman yang luar biasa di kemudian hari. Sebaliknya, seseorang yang tampak sangat memahami ajaran Kristen secara intelektual dapat mengalami kemunduran apabila pengetahuannya tidak disertai kehidupan yang tunduk kepada Kristus. Karena itu, perumpamaan penabur terutama harus membawa kita kepada pemeriksaan diri sebelum kita menggunakannya untuk menilai orang lain.
Kesebelas, perumpamaan Yesus juga memperlihatkan bahwa Kerajaan Allah memiliki dimensi “sudah” dan “belum.” Kerajaan itu sudah hadir dalam pelayanan Yesus, tetapi kepenuhannya belum dinyatakan secara sempurna dalam sejarah manusia. Istilah teologis “sudah tetapi belum” digunakan untuk menjelaskan bahwa karya pemerintahan Allah telah dimulai melalui Kristus, tetapi penggenapan akhirnya masih menantikan kedatangan dan penghakiman terakhir. Kerangka ini sangat penting untuk memahami mengapa Yesus menggunakan gambaran pertumbuhan benih, gandum dan lalang, serta pukat yang mengumpulkan berbagai jenis ikan.
Keduabelas, fungsi penghakiman dalam perumpamaan tidak boleh dipisahkan dari belas kasihan Allah. Penghakiman Allah dalam Alkitab bukan berarti Allah menikmati kebinasaan manusia, melainkan merupakan respons-Nya yang kudus terhadap dosa dan pemberontakan. Ketika Matius 13 menggambarkan sebagian orang semakin tidak memahami, pembaca seharusnya tidak melihatnya sebagai alasan untuk merasa lebih unggul daripada mereka. Sebaliknya, bagian tersebut seharusnya menghasilkan rasa takut akan Allah, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa manusia membutuhkan kasih karunia untuk tetap memiliki hati yang peka terhadap firman.
Ketigabelas, kita juga memperoleh jawaban penting mengenai pertanyaan apakah Yesus menggunakan perumpamaan agar manusia tidak diselamatkan. Jawabannya harus dirumuskan dengan hati-hati: tidak tepat mengatakan bahwa tujuan utama perumpamaan adalah membuat orang yang bersedia bertobat menjadi tidak mampu memperoleh keselamatan. Dalam konteks Matius 13, perumpamaan memang mempunyai fungsi penghakiman terhadap mereka yang terus menolak penyataan Allah, tetapi pada saat yang sama perumpamaan juga membuka kebenaran Kerajaan bagi mereka yang datang untuk mendengar dan memahami. Jadi, perumpamaan bukan sekadar alat untuk menyembunyikan kebenaran, melainkan cara Yesus menyatakan kebenaran yang sekaligus menyingkapkan sikap hati para pendengarnya.
Keempatbelas, kita dapat melihat hal ini dalam pola pelayanan Yesus secara keseluruhan. Ia berbicara kepada orang banyak, menyembuhkan orang sakit, menerima orang berdosa yang bertobat, mengajar murid-murid, memperingatkan para pemimpin agama, dan memanggil semua orang untuk bertobat. Dalam Yohanes 7:37, Yesus bahkan berseru kepada siapa saja yang haus untuk datang kepada-Nya dan minum. Gambaran seperti ini tidak sesuai dengan gagasan bahwa Yesus secara umum berusaha membuat manusia tidak mungkin datang kepada-Nya.
Kelima belas, Matius 13:11–15 sekaligus memperingatkan bahwa kesempatan mendengar kebenaran tidak boleh dianggap remeh. Ada bahaya rohani ketika seseorang terus-menerus mendengar firman tanpa pernah membiarkan firman itu mengoreksi dirinya. Pada awalnya seseorang mungkin hanya mengabaikan suatu teguran, kemudian mulai membenarkan diri, lalu membangun kebiasaan menolak kebenaran yang tidak sesuai dengan keinginannya. Alkitab menggambarkan proses semacam itu sebagai pengerasan hati, dan karena itu seseorang tidak boleh dengan sengaja menunda pertobatan dengan anggapan bahwa ia selalu dapat merespons Allah nanti.
Keenam belas, bagian ini juga mengajarkan bahwa memahami Alkitab membutuhkan lebih daripada kemampuan intelektual. Pengetahuan tentang bahasa, sejarah, budaya, sastra, dan konteks Alkitab sangat berguna, tetapi semua itu tidak otomatis menghasilkan pengenalan akan Allah. Seseorang dapat menguasai banyak informasi mengenai Alkitab tetapi tetap menolak kebenaran yang menuntut perubahan hidup. Sebaliknya, orang yang sederhana secara akademis dapat memiliki pemahaman rohani yang mendalam ketika ia membaca firman dengan iman, kerendahan hati, dan ketaatan.
Ketujuh belas, hal ini tidak berarti bahwa orang Kristen harus mengabaikan penelitian yang serius. Justru karena Alkitab adalah firman yang perlu dipahami dengan benar, pembaca harus memperhatikan konteks, tujuan penulis, hubungan antarbagian, latar belakang sejarah, dan arti kata-kata dalam konteks aslinya. Prinsip “Alkitab menafsirkan Alkitab” sangat berguna, yaitu memahami suatu ayat dengan memperhatikan keseluruhan kesaksian Kitab Suci dan bukan membangun doktrin hanya berdasarkan satu kalimat yang dilepaskan dari konteksnya. Matius 13:11–15 akan mudah disalahpahami apabila dibaca tanpa memperhatikan Matius 13 secara keseluruhan dan tanpa dibandingkan dengan kesaksian Markus, Lukas, dan bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru.
Kedelapan belas, pembahasan ini juga mempunyai implikasi bagi pemberitaan Injil. Gereja tidak dipanggil untuk menentukan terlebih dahulu siapa yang dianggap layak mendengar Injil dan siapa yang dianggap tidak mungkin menerima kebenaran. Amanat Yesus dalam Matius 28:19–20 justru mengarahkan murid-murid untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Roma 10:14–15 juga menunjukkan pentingnya pemberitaan supaya manusia dapat mendengar dan merespons. Karena itu, Matius 13 tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi pemberitaan Injil kepada kelompok tertentu.
Kesembilan belas, bagian ini juga memberikan pelajaran penting bagi orang yang mengajarkan Alkitab. Pengajar tidak boleh sengaja membuat firman menjadi rumit hanya agar terlihat berpengetahuan. Jika Yesus menggunakan gambaran yang mendalam untuk mengajar, itu tidak berarti setiap pengajaran harus menggunakan bahasa yang sulit. Tugas pengajar adalah membantu orang memahami kebenaran secara bertanggung jawab, menjelaskan istilah yang sulit, menunjukkan konteks, dan mengarahkan perhatian kepada Kristus, bukan kepada kehebatan pengajarnya sendiri.
Keduapuluh, akhirnya, Matius 13:11–15 mengajak kita melihat bahwa masalah terbesar manusia bukan sekadar kurangnya informasi tentang Allah. Persoalan manusia juga menyangkut bagaimana ia merespons kebenaran yang telah diterimanya. Firman Allah dapat didengar oleh telinga, dipahami oleh pikiran, bahkan dibicarakan dengan mulut, tetapi tetap tidak menghasilkan buah apabila hati menolak tunduk kepada Allah. Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan hanya, “Apakah saya memahami perumpamaan Yesus?” melainkan juga, “Apakah saya bersedia membiarkan kebenaran yang saya pahami mengubah hidup saya?”
Refleksi Praktis
Refleksi pertama yang dapat kita ambil adalah pentingnya memeriksa cara kita mendengar firman Tuhan. Kita sering menganggap bahwa mendengar khotbah, membaca Alkitab, mengikuti pembelajaran, atau membaca artikel rohani sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kita sedang bertumbuh. Padahal, Yesus menunjukkan bahwa mendengar secara fisik belum tentu sama dengan mendengar secara rohani. Karena itu, setiap kali membaca firman Tuhan, kita perlu bertanya bukan hanya apa arti teks tersebut, tetapi juga bagaimana teks itu menegur, mengarahkan, menghibur, dan memanggil kita untuk hidup di hadapan Allah.
Refleksi kedua adalah kita tidak perlu merasa malu ketika menemukan bagian Alkitab yang belum kita pahami. Para murid sendiri tidak selalu memahami perkataan Yesus pada saat pertama kali mendengarnya. Respons yang benar terhadap bagian yang sulit bukanlah berpura-pura mengerti, melainkan datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan terus mencari pemahaman. Yakobus 1:5 memberikan dorongan bahwa orang yang kekurangan hikmat dapat meminta kepada Allah, dan prinsip tersebut mengajarkan bahwa pencarian pemahaman harus disertai ketergantungan kepada Tuhan.
Refleksi ketiga adalah pentingnya membedakan antara pertanyaan yang lahir dari kerinduan mencari kebenaran dan pertanyaan yang digunakan untuk membenarkan penolakan. Tidak semua orang yang bertanya tentang iman sedang menolak Allah, sebab pertanyaan dapat menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Banyak orang justru bertanya karena mereka sungguh-sungguh ingin memahami apa yang dipercayainya. Karena itu, orang Kristen seharusnya tidak takut terhadap pertanyaan yang jujur, tetapi juga harus bersedia memeriksa apakah dirinya sedang mencari kebenaran atau hanya mencari alasan untuk mempertahankan keinginannya sendiri.
Refleksi keempat adalah kita harus berhati-hati ketika menilai orang lain. Matius 13:11–15 memang berbicara mengenai orang yang tidak memahami karena keadaan hati mereka, tetapi bagian tersebut tidak memberikan kita kemampuan untuk membaca hati setiap manusia. Kita tidak boleh dengan mudah mengatakan bahwa seseorang tidak memahami Alkitab karena ia pasti keras hati. Bisa jadi ia sedang belajar, mengalami kebingungan, memiliki latar belakang yang berbeda, atau belum memperoleh penjelasan yang memadai. Sikap yang lebih sesuai dengan Injil adalah membantu orang tersebut mencari kebenaran dengan sabar sambil menyerahkan penghakiman akhir kepada Allah.
Refleksi kelima adalah kita perlu menjaga hati agar tidak menjadi keras melalui kebiasaan menolak kebenaran. Pengerasan hati jarang dimulai dengan keputusan besar yang dramatis. Sering kali proses itu dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengabaikan teguran yang berulang, menolak nasihat yang tidak menyenangkan, mencari pembenaran terhadap dosa, atau hanya menerima bagian firman yang sesuai dengan keinginan pribadi. Jika kebiasaan tersebut terus dipelihara, hati dapat menjadi semakin tidak peka terhadap suara Tuhan. Karena itu, ketika firman Tuhan menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki dalam kehidupan kita, respons yang sehat adalah berhenti, mengakuinya, dan meminta pertolongan Tuhan untuk berubah.
Refleksi keenam adalah kita harus berhati-hati terhadap bentuk kekristenan yang hanya mengejar pengetahuan. Pengetahuan Alkitab memang sangat penting, tetapi pengetahuan yang tidak menghasilkan kasih, kerendahan hati, pertobatan, dan ketaatan dapat berubah menjadi kesombongan rohani. Paulus memperingatkan dalam 1 Korintus 8:1 bahwa pengetahuan dapat membuat seseorang menjadi sombong, sedangkan kasih membangun. Karena itu, semakin banyak seseorang memahami firman Tuhan, seharusnya semakin besar pula kerendahan hati dan kasihnya kepada Allah serta sesamanya.
Refleksi ketujuh adalah kita perlu membaca perumpamaan Yesus dengan kesediaan untuk diperiksa oleh firman. Perumpamaan bukan hanya teka-teki yang harus kita pecahkan untuk memperoleh kepuasan intelektual. Perumpamaan juga merupakan cermin yang memperlihatkan bagaimana kita merespons Kerajaan Allah. Ketika membaca perumpamaan penabur, misalnya, pertanyaan terpenting bukan hanya “Tanah yang mana yang dimaksud Yesus?” tetapi “Bagaimana keadaan hati saya ketika menerima firman Tuhan hari ini?”
Refleksi kedelapan adalah kita perlu menyadari bahwa pertumbuhan rohani sering kali berlangsung secara bertahap. Gambaran benih dalam Matius 13 menunjukkan sesuatu yang dimulai kecil tetapi dapat berkembang menjadi besar. Hal ini mengingatkan kita agar tidak meremehkan proses pertumbuhan yang perlahan. Seseorang mungkin belum memahami banyak hal hari ini, tetapi melalui doa, pembelajaran, ketaatan, pengalaman hidup, dan karya Roh Kudus, pemahamannya dapat bertumbuh dari waktu ke waktu.
Refleksi kesembilan adalah kita tidak boleh mengukur pekerjaan Allah hanya berdasarkan apa yang terlihat segera. Dalam perumpamaan tentang benih, pertumbuhan memiliki proses yang tidak selalu dapat diamati manusia secara langsung. Prinsip ini dapat menolong kita ketika melihat pelayanan yang tampaknya kecil, doa yang belum menunjukkan jawaban, atau seseorang yang belum menunjukkan perubahan seperti yang kita harapkan. Kita tetap dipanggil untuk setia menabur, mengajar, mendoakan, dan memberikan teladan, sementara pertumbuhan akhir berada dalam tangan Allah.
Refleksi kesepuluh adalah kita harus belajar menghargai kesempatan mendengar firman Tuhan. Matius 13 memperlihatkan bahwa para murid memiliki kesempatan untuk bertanya lebih jauh kepada Yesus dan menerima penjelasan mengenai perumpamaan. Kesempatan semacam itu seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Ketika kita memiliki kesempatan membaca Kitab Suci, mendengar pengajaran yang sehat, berdiskusi mengenai iman, dan mencari pemahaman yang benar, kita seharusnya menggunakannya dengan penuh syukur.
Refleksi kesebelas berkaitan dengan cara kita menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Jika Yesus dapat menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan realitas Kerajaan Allah, kita pun perlu belajar menyampaikan kebenaran dengan cara yang dapat dipahami tanpa mengurangi kedalaman isinya. Bahasa yang terlalu rumit tidak selalu menunjukkan kedalaman teologi. Sebaliknya, kemampuan menjelaskan sesuatu yang dalam dengan bahasa yang jernih justru dapat membantu lebih banyak orang memahami kebenaran secara bertanggung jawab.
Refleksi keduabelas adalah pentingnya kesabaran dalam membimbing orang yang sedang bertumbuh. Tidak semua orang akan memahami suatu kebenaran pada waktu yang sama. Ada orang yang membutuhkan penjelasan lebih sederhana, ada yang membutuhkan waktu untuk memproses pertanyaan, dan ada pula yang perlu melihat teladan hidup sebelum memahami suatu ajaran secara lebih mendalam. Karena itu, gereja dan setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi komunitas yang menolong orang bertumbuh, bukan lingkungan yang mempermalukan orang hanya karena mereka belum memahami segala sesuatu.
Refleksi ketigabelas adalah kita harus menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan keteguhan. Keterbukaan berarti kita bersedia mendengar pertanyaan, memeriksa pemahaman kita, dan mengakui ketika suatu bagian memang belum kita pahami sepenuhnya. Keteguhan berarti kita tidak dengan mudah meninggalkan kebenaran hanya karena menemukan ayat yang sulit atau pertanyaan yang belum memiliki jawaban sederhana. Kedua sikap ini dapat berjalan bersama karena iman Kristen tidak menuntut kita mengetahui segala sesuatu, tetapi memanggil kita untuk setia kepada Allah sambil terus bertumbuh dalam pengenalan akan-Nya.
Refleksi keempat belas adalah kita perlu menyadari bahwa memahami firman tidak selalu berarti mengetahui seluruh rahasia Allah. Ulangan 29:29 mengingatkan bahwa hal-hal yang tersembunyi adalah bagi Tuhan, sedangkan hal-hal yang dinyatakan menjadi bagian dari tanggung jawab umat-Nya. Ayat ini tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk berhenti belajar, tetapi juga tidak boleh diabaikan seolah-olah manusia mampu memahami seluruh pikiran Allah. Ada batas antara kebenaran yang Allah nyatakan dan kedalaman hikmat-Nya yang melampaui kemampuan manusia.
Refleksi kelima belas adalah kita perlu menghindari dua ekstrem ketika membaca Matius 13:11–15. Ekstrem pertama adalah mengatakan bahwa semua orang yang tidak memahami perumpamaan pasti sengaja menolak Allah. Pandangan tersebut terlalu cepat menghakimi dan tidak memperhitungkan proses pertumbuhan iman yang terlihat dalam kehidupan para murid. Ekstrem kedua adalah mengatakan bahwa perumpamaan sama sekali tidak memiliki fungsi penghakiman, padahal Matius secara jelas menghubungkannya dengan Yesaya 6 dan dengan kondisi orang-orang yang terus menolak penyataan Allah.
Refleksi keenam belas adalah bagian ini mengajak kita untuk memiliki hati yang dapat diajar. Hati yang dapat diajar bukan berarti hati yang menerima semua pendapat tanpa menguji kebenarannya. Sebaliknya, hati yang dapat diajar adalah hati yang bersedia dikoreksi ketika firman Tuhan menunjukkan bahwa pemahaman atau kehidupannya perlu diperbaiki. Sikap semacam ini sangat penting karena bahaya terbesar dalam mempelajari Alkitab bukan hanya tidak mengetahui kebenaran, tetapi merasa sudah mengetahui semuanya sehingga tidak lagi bersedia dikoreksi.
Refleksi ketujuh belas adalah kita perlu membawa pembacaan Alkitab ke dalam doa. Ketika menemukan bagian yang sulit, kita dapat berdoa agar Tuhan memberikan hikmat, kejujuran, dan kerendahan hati. Kita juga dapat meminta agar Tuhan menolong kita membedakan antara apa yang benar-benar dikatakan teks dan apa yang hanya merupakan asumsi kita. Dengan demikian, studi Alkitab tidak menjadi aktivitas intelektual yang terpisah dari kehidupan iman, tetapi menjadi bagian dari hubungan kita dengan Allah.
Refleksi kedelapan belas adalah kita harus membiarkan firman Tuhan menghasilkan buah nyata. Jika kita memahami bahwa Yesus memanggil manusia untuk mendengar dengan sungguh-sungguh, maka pemahaman tersebut seharusnya membuat kita lebih serius dalam menaati-Nya. Jika kita memahami bahaya pengerasan hati, kita seharusnya lebih cepat bertobat ketika ditegur. Jika kita memahami bahwa Kerajaan Allah memiliki nilai yang jauh melampaui segala sesuatu yang kita miliki, kita seharusnya belajar menata kembali prioritas hidup kita.
Refleksi kesembilan belas adalah kita harus memandang orang yang belum percaya atau belum memahami iman Kristen dengan belas kasih, bukan dengan kesombongan. Kita tidak boleh menganggap bahwa kita memahami karena kita lebih pintar atau lebih layak. Jika kita memiliki pengertian mengenai Injil, kita harus mengakui bahwa kita sendiri hidup karena kasih karunia Allah. Kesadaran tersebut seharusnya membuat pemberitaan Injil dilakukan dengan kesabaran, kasih, kebenaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Refleksi terakhir membawa kita kembali kepada perkataan Yesus: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” Kalimat tersebut sederhana, tetapi memiliki tuntutan yang sangat dalam. Yesus tidak hanya meminta manusia memiliki telinga yang dapat menangkap suara, tetapi mengundang mereka untuk membuka diri terhadap kebenaran Kerajaan Allah, mempertimbangkan perkataan-Nya, dan memberikan respons yang nyata. Karena itu, ketika kita membaca Matius 13:11–15, pertanyaan akhirnya bukan sekadar mengapa sebagian orang tidak memahami perumpamaan, tetapi apakah kita sendiri sedang benar-benar mendengar suara Kristus.
Matius 13:11–15 dengan demikian menjadi peringatan sekaligus undangan. Peringatannya adalah bahwa hati manusia dapat menjadi semakin tidak peka ketika terus-menerus menolak kebenaran yang telah diterimanya. Undangannya adalah bahwa kita masih dipanggil untuk mendengar, mencari, bertobat, percaya, dan bertumbuh dalam pengenalan akan Kerajaan Allah. Perumpamaan Yesus bukan sekadar teka-teki kuno yang harus dipecahkan oleh pembaca modern, melainkan bagian dari pemberitaan Kerajaan yang menuntut respons manusia. Pada akhirnya, orang yang membaca bagian ini dengan benar tidak seharusnya keluar dengan perasaan lebih unggul daripada orang lain, tetapi dengan doa yang rendah hati: “Tuhan, berikanlah kepadaku hati yang mau mendengar, memahami, dan melakukan firman-Mu.”
Dengan demikian, jawaban terhadap pertanyaan “Mengapa Yesus menggunakan perumpamaan sehingga sebagian orang tidak memahami?” harus diberikan secara seimbang. Yesus menggunakan perumpamaan untuk menyatakan kebenaran Kerajaan Allah melalui gambaran yang dekat dengan kehidupan manusia, untuk mengajar mereka yang datang dengan hati yang mau mendengar, dan dalam konteks penolakan yang semakin kuat, untuk menyingkapkan serta menjalankan fungsi penghakiman terhadap hati yang terus menolak penyataan Allah. Perumpamaan bukanlah bukti bahwa Yesus tidak menghendaki manusia memahami dan memperoleh keselamatan. Sebaliknya, perumpamaan menunjukkan betapa seriusnya respons manusia terhadap penyataan Allah: kebenaran yang sama dapat menjadi terang bagi orang yang menerimanya dan sekaligus menyingkapkan kebutaan hati orang yang terus-menerus menolaknya.
Karena itu, pembacaan yang paling bertanggung jawab terhadap Matius 13:11–15 harus mempertahankan seluruh unsur tersebut secara bersama-sama. Kita harus mengakui kedaulatan Allah tanpa menghapus tanggung jawab manusia, mengakui fungsi penghakiman tanpa mengubah Allah menjadi pribadi yang sewenang-wenang menyembunyikan keselamatan, dan mengakui keterbatasan manusia dalam memahami tanpa menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk berhenti mencari. Kita juga harus melihat bahwa para murid sendiri bertumbuh melalui proses, sehingga orang percaya masa kini tidak perlu takut mengakui bahwa ada bagian firman yang belum dipahaminya. Yang terpenting bukanlah mengetahui seluruh jawaban dalam satu waktu, melainkan memiliki hati yang terus bersedia mendengar, mencari, dikoreksi, bertobat, dan bertumbuh di hadapan Tuhan.
Pada akhirnya, Matius 13:11–15 tidak terutama mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi orang yang mampu memecahkan semua perumpamaan Yesus. Bagian ini mengajarkan bagaimana seharusnya kita berdiri di hadapan firman Allah. Kita datang bukan sebagai hakim yang menentukan apakah firman itu layak diterima, melainkan sebagai pendengar yang membutuhkan kebenaran. Kita membaca bukan hanya untuk memperoleh informasi, tetapi supaya kehidupan kita dibentuk oleh Kristus, sehingga firman yang telah kita dengar tidak berhenti di dalam pikiran, melainkan menghasilkan buah dalam kehidupan.

Posting Komentar untuk "Mengapa Yesus Menggunakan Perumpamaan sehingga Sebagian Orang Tidak Memahami? [Matius 13:11–15]"